RABU ABU : Manusia Berasal Dari Abu Dan Akan Kembali Menjadi Abu, Bertobatlah Dan Percayalah Kepada Injil
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya Metropolitan – Pada hari Rabu 18/02/2026) Gereja Katolik di seluruh dunia memasuki Masa Prapaskah yang ditandai dengan merayakan Perayaan Rabu Abu.
Begitu juga dengan umat Katolik di Gereja Katolik Paroki Sakramen Maha Kudus Pagesangan Surabaya, sore itu ditengah hujan yang lumayan deras. Sore itu ada sebanyak 1.300 orang umat Katolik setempat yang datang.
Mereka berduyun duyun datang dengan tertib dan khusyuk ke gereja yang terletak di area samping kiri sebelah Masjid Al Akbar Kota Surabaya.
Rabu Abu menjadi awal dari perjalanan rohani seorang Katolik selama 40 hari ke depan untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah, yang mengenang atau mengisahkan akan sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus.

Bagi umat Katolik, perayaan Rabu Abu mengingatkan akan kerapuhan dan keterbatasan manusia dalam hidup di dunia. Saat mengoleskan abu ke dahi umat, seorang imam atau pembantu imam akan mengucapkan, “ Ingatlah bahwa engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” atau juga bisa mengatakan ,“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.
Begitulah ucapan yang didengar awak media saat masuk dalam antrian untuk mengikuti prosesi pengolesan abu.
Abu yang ditandakan di dahi seorang Katolik menjadi simbol pertobatan, kerendahan hati, dan kesadaran akan kasih Allah yang selalu mengundang semua umat-Nya untuk kembali kepada-Nya.
Dalam kotbahnya, RD Ferdinandus Eltyson Prayudi yang mempersembahkan Misa Kudus Perayaan Rabu Abu mengatakan bahwa Masa Prapaskah ini, Gereja Katolik mengajak untuk memperdalam hidup rohani melalui tiga pilar utama, yaitu Doa, Puasa, dan Amal Kasih.
Mengapa Doa ? Karena doa membantu seseorang semakin dekat dengan Tuhan, sedangkan Puasa melatih pengendalian diri serta solidaritas dengan sesama, adapun Amal Kasih senantiasa menggerakkan hati seseorang untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.
Perayaan Rabu Abu juga merupakan hari puasa dan pantang bagi semua orang Katolik, saat saat dimana seorang umat Katolik diajak untuk menahan diri sebagai ungkapan pertobatan dan tentunya penyesalan atas dosa dosanya.
Lebih dari sekadar aturan lahiriah, arti dari puasa dan pantang hendaknya menjadi sarana seorang Katolik untuk membarui hatinya, sehingga semakin mampu mengasihi Tuhan dan sesama dengan tulus, sehingga dalam perjalanan Masa Prapaskah ini, semua umat Katolik diajak untuk tidak hanya berfokus pada pengorbanan lahiriah, tetapi juga pembaruan batin.
Tuhan Yesus menghendaki hati yang bertobat, hati yang terbuka, dan hati yang siap untuk diubah oleh kasih-Nya.
Jadi semua umat Katolik yang hadir memiliki tanggung jawab untuk dengan penuh kesadaran membangun sikap batin dan suasana khidmat saat mengikuti perayaan ini. (Houget)***
Anda Mungkin Suka Juga
Polres Bangkalan Tangani Laka Lantas Dua Truk Box di KM 5.300 Suramadu
26 Oktober 2025
Mercusuar yang Meredup: Gugatan MAKI, Nama Bobby, dan Rp 2,8 Miliar yang Tak Tercatat
7 Desember 2025