Diduga Lemahnya Kontrol dan Sangsi Tegas terhadap Pengelola SPPG di Bangkalan, Menu Tak Sesuai Standar Gizi dan Anggaran
WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk mendukung lahirnya generasi emas justru menuai keluhan di sejumlah sekolah di Kabupaten Bangkalan.
Sejumlah siswa dan guru menilai menu yang diterima tidak mencerminkan standar gizi yang layak, bahkan diduga tidak sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pantauan media di tiga kecamatan, ditemukan dugaan ketidaksesuaian menu dari beberapa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Di antaranya berasal dari Desa Alas Kembang, Kecamatan Burneh.
Seorang guru di Desa Alas Kembang mengungkapkan kekecewaannya saat menunjukkan menu yang diterima siswa.
“Hanya ini yang diperoleh siswa kelas 1, 2, dan 3. Untuk kelas 4, 5, 6 hanya ditambah dua jeruk. Kalau dihitung, susu kotak sekitar tiga ribu lima ratus, roti dua ribu, jeruk seribu lima ratus, ini sangat jauh dari harapan,” ujarnya, Selasa (24/2).
Keluhan serupa muncul di Kecamatan Tanah Merah. Salah satu sekolah dasar yang menerima distribusi dari SPPG Desa Pangeleyan menilai menu yang diberikan tidak relevan dengan anggaran yang ada untuk per siswa.
“Tiga jenis makanan itu kalau dihitung paling sekitar enam ribuan. Rasanya tidak sesuai dengan yang dianggarkan,” kata seorang guru, Selasa (24/2).
Guru tersebut bahkan menilai, jika pengawasan lemah, program ini berpotensi disalahgunakan. Padahal, menurutnya, tujuan awal program MBG adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk menunjang kesehatan dan fungsi otak lebih optimal.
“Alhamdulillah menu hari ini dari Yayasan Anzelna Ghaniaya Asyari cukup roti satu, susu, kurma tiga biji dan Jeruk satu biji yang sudah busuk,” sindir nya. Rabu, (25/2).
Tak hanya itu, keluhan juga datang dari wilayah Kelurahan Pangeranan, Kecamatan Kota Bangkalan. Seorang siswi mengaku kecewa dengan menu yang diterimanya.
“Saya ingin menu MBG dikirim dari Kodim lagi karena enak-enak. Setelah dialihkan ke dapur lain, rasa dan menunya saya tidak suka,” ujarnya.
Keesokan harinya, siswi tersebut kembali mengeluh. Ia menunjukkan satu buah salak yang diterimanya dalam kondisi busuk dan berulat.
“Hari ini menunya hanya telur rebus, kacang, roti, dan satu salak. Tapi salaknya berulat,” keluhnya, Rabu (25/2).
Hingga kini Korwil SPPG Kabupaten Bangkalan, Ivan, belum pernah memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dilayangkan media. Padahal, peran koordinator wilayah sangat penting dalam pengawasan kualitas menu dan pemenuhan standar gizi.
Minimnya respons dari pihak terkait menimbulkan pertanyaan soal fungsi kontrol dan pengawasan program ini di lapangan. Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memberikan teguran atau sanksi bila ditemukan pelanggaran prosedur. (Azis)***
Review Lengkap Game Running Animals
Anda Mungkin Suka Juga
Babinsa Kedamean Dampingi Penyaluran Perdana Makanan Bergizi Gratis di SMP Al Musthofa
18 September 2025
Operasi Patuh Telabang 2025 Resmi Ditutup
29 Juli 2025