Ketika Kritik Menjadi Ibadah: Tajalli Ramadan Dalam Jejak Perjuangan MAKI Jatim
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 1 Maret 2026 – Ramadhan 1447 Hijriah kembali menyingkap tabir batin umat manusia. Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan seperti Surabaya, bulan suci tidak sekadar menjadi ruang ibadah personal, tetapi juga medan pembuktian nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sosial.
Di antara denyut itu, eksistensi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan warna yang berbeda keras dalam prinsip, lembut dalam kepedulian.
Bambang Gunawan Bagian Humas DPW PW-FAST RESPON Jawa Timur memberikan pernyataan bahwa selama ini, MAKI Jatim dikenal lantang dan tajam di panggung demokrasi.
Orasi-orasinya tegas, kritiknya cadas, dan sikapnya tak gentar terhadap praktik korupsi yang mencederai amanah rakyat.
Namun Ramadhan memperlihatkan dimensi lain: bahwa perjuangan melawan korupsi bukan sekadar gerakan hukum dan moral, melainkan juga perjalanan makrifat, perjalanan menyadari kehadiran Allah dalam setiap gerak dan niat.
Setiap tahun di bulan suci, MAKI Jatim menebar seribu hingga seribu lima ratus paket ta’jil kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
Bagi sebagian kalangan, konsistensi ini menjadikan MAKI layak disebut sebagai role model bagi LSM lain di Jawa Timur. Akan tetapi, bagi Ketua MAKI Jatim, Heru Satriyo, penilaian itu bukan tujuan utama.
“Sah-sah saja masyarakat memberi penilaian seperti itu. Namun bagi MAKI Jatim apa yang dilakukan semata-mata berbagi kepada masyarakat yang sedang menunaikan ibadah puasa,”.
Dalam perspektif makrifat, amal bukanlah panggung untuk mencari pengakuan, melainkan jalan sunyi menuju ridha Allah SWT.
Memberi bukan tentang dilihat manusia, tetapi tentang dilihat oleh Dia yang Maha Melihat.
Di sinilah letak kedalaman makna kegiatan berbagi ta’jil itu: ia bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang menumbuhkan kesadaran kehambaan.
Sementara Heru Satriyo Ketua MAKI Jatim saat dimintai pernyataannya lewat WhatsApp, ia menegaskan bahwa kegiatan tahunan tersebut dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, sekaligus memberi teladan kepada anggota MAKI serta keluarganya.
“Saya katakan kepada mereka bahwa nandur becik pasti akan menuai sesuai apa yang kita tanam. Dan merajut tajalli itu tidak gampang, tentu harus istiqomah,” tuturnya.
Heru juga menerangkan bahwa istilah tajalli dalam khazanah tasawuf merujuk pada penyingkapan cahaya Ilahi dalam kehidupan seorang hamba.
Ia tidak lahir dari sekali amal, tetapi dari kesinambungan niat yang lurus dan keteguhan langkah. Istiqomah menjadi kunci.
Tanpa konsistensi, amal hanya menjadi kilatan sesaat; dengan istiqomah, ia menjelma cahaya yang menerangi jalan panjang perjuangan.
Dalam konteks sosial, gerakan ini menyampaikan pesan kuat: bahwa pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari pembenahan hati. Korupsi pada hakikatnya bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi penyakit ruhani lahir dari hati yang lupa bahwa Allah Maha Mengawasi.
Ketika kesadaran ketuhanan hidup, integritas tumbuh secara alami. Ia bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan konsekuensi iman.
Di jalanan Surabaya yang dipenuhi kendaraan menjelang Maghrib, paket-paket ta’jil berpindah tangan. Senyum penerima mungkin sederhana, tetapi di baliknya tersimpan rasa diperhatikan dan dihargai.
Lapar yang ditahan sepanjang hari menjadi pelajaran empati; sedekah yang diberikan menjadi latihan melepaskan keterikatan dunia.
Heru pun menegaskan bahwa sambutan positif masyarakat adalah hak mereka. Bahkan jika ada penilaian negatif, itu pun ia terima sebagai bagian dari dinamika kehidupan.
“Saya lebih fokus pada perjalanan giat berbagi ta’jil ini dengan istiqomah. Soal atensi dan apresiasi bahwa MAKI Jatim bisa menjadi role model bagi LSM lain, itu terserah,” pungkasnya.
Sikap ini mencerminkan ajaran makrifat: tidak terpaut pada pujian, tidak goyah oleh celaan. Hamba yang berjalan menuju Allah tidak menoleh pada riuh tepuk tangan ataupun bisik penolakan. Ia hanya memastikan niatnya lurus dan langkahnya konsisten.
Ramadhan pada akhirnya adalah madrasah kejujuran batin. Ia mengajarkan bahwa perjuangan sosial harus bertumpu pada kesucian hati.
Bahwa keberanian melawan korupsi harus lahir dari ketakwaan. Dan bahwa amal sekecil apa pun, bila dilakukan dengan niat yang bersih, dapat menjadi jalan tajalli cahaya Ilahi yang memancar dalam tindakan nyata.
Di bawah langit Surabaya yang memerah saat senja, terpatri pesan yang mendalam: bahwa kerasnya perjuangan tidak harus menghilangkan kelembutan hati; bahwa tajamnya kritik tidak boleh memadamkan kasih sayang; dan bahwa kemuliaan seorang pejuang sejati terletak pada kemampuannya menyatukan iman, integritas, dan kepedulian dalam satu tarikan napas penghambaan.
Ramadhan mengajarkan satu kebenaran hakiki:
melawan kebatilan adalah jihad sosial, berbagi adalah jihad spiritual, dan istiqomah adalah jembatan menuju ridha-Nya. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
BRI KC Serang Gelar BRI Sportartcular dalam Semangat HUT ke-130 BRI
24 Desember 2025
Polresta Palangka Raya Jaga Ketertiban “Tumbuk Hatampat Street War Vol. 2”
1 Desember 2025