MAKI Jatim Bagi 1.000 Ta’jil di Bulan Suci: Ketika Kepedulian Menjadi Bahasa Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 11 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah datang sekadar sebagai pergantian bulan dalam hitungan kalender. Ia hadir membawa cahaya yang lembut, mengetuk hati manusia yang sering kali terlena oleh hiruk pikuk kehidupan dunia.
Bulan suci ini adalah undangan Ilahi untuk berhenti sejenak dari perjalanan panjang mengejar ambisi, harta, dan kepentingan pribadi. Ramadan mengajak manusia kembali menatap dirinya sendiri dengan jujur, merenungi hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan tentang seberapa besar manusia mampu menghadirkan manfaat bagi sesamanya.
Puasa mengajarkan manusia makna kesederhanaan yang kerap terlupakan. Ketika lapar dan dahaga ditahan sepanjang hari, manusia belajar merasakan apa yang mungkin setiap hari dirasakan oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Di sanalah empati lahir.
Di sanalah hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Ramadan seakan mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Setiap jiwa terhubung oleh benang kemanusiaan yang sama, oleh nilai kasih sayang yang menjadi inti dari ajaran Ilahi.
Apa yang dimiliki manusia hari ini pada hakikatnya hanyalah titipan. Rezeki, kesehatan, kesempatan, bahkan waktu semuanya adalah amanah dari Allah SWT yang suatu hari kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bagaimana manusia menggunakannya.
Untuk dirinya sendiri, atau juga untuk kebaikan orang lain.
Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasanya di Jalan Ahmad Yani, tepat di sebelah CITO Mall Bundaran Waru, Surabaya. Kendaraan melintas tanpa henti. Deru mesin bersahutan. Para pengendara bergegas pulang setelah seharian beraktivitas.
Kota bergerak dalam ritmenya yang sibuk.
Namun di tengah arus lalu lintas yang padat itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas biasa.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Para relawan berdiri di tepi jalan, dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Paket-paket itu diberikan kepada pengendara, pekerja jalanan, hingga masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.
Isi paketnya sederhana, namun penuh kehangatan:
– 250 pack bihun goreng bakso dengan irisan telur dadar
– 250 pack kurma
– 250 mangkuk mika kolak kacang hijau dan kolang-kaling
– 250 pack paket gorengan berupa lumpia dan tahu bakso Mbak( Pipin Waru).
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk berbuka.
Namun bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan bukan sekadar hidangan pelepas dahaga. Ia adalah simbol kepedulian, bukti bahwa di tengah kesibukan dunia yang sering terasa keras, masih ada hati yang memilih untuk berbagi.
Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali terlihat kecil dan sederhana.
Namun justru di sanalah kemanusiaan menemukan maknanya.
Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diserahkan. Memberi adalah tentang kelapangan hati untuk peduli terhadap orang lain.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Syukur sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
“Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.
Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang bergerak dalam semangat melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada penegakan hukum semata.
Perubahan juga lahir dari kesadaran moral masyarakat.
Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari, sebab dari situlah lahir masyarakat yang adil dan bermartabat.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan nuansa yang tenang dan damai.
Di bawah langit itu, para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas.
Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima. Tidak ada panggung megah.
Tidak ada perayaan besar.
Namun ada kebahagiaan yang tulus.
Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling jujur justru lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.
Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu seakan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Bahwa di balik kerasnya dinamika kota, masih ada ruang bagi kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi antara manusia dan Tuhannya.
Ramadan juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Karena kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Ahmad Yani sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.
Sebab ketika manusia saling peduli,
di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
Dandim 0808/Blitar Hadiri Rapat Koordinasi Survei Monitoring dan Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
30 Oktober 2025
Rahmat Ramadhan raih mimpi, harumkan nama sdn 1 jeungjing
6 Juli 2025