SOSIAL
Takwa Tanpa Jeda, Ikhlas Tanpa Tapi: Pondok Ramadan SMPN 2 Kwanyar Ajarkan Ibadah dan Kepedulian Sosial
WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan – SMP Negeri 2 Kwanyar menggelar kegiatan Pondok Ramadan sebagai bagian dari pembinaan karakter religius bagi para siswa selama bulan suci. Kegiatan yang mengusung tema “Takwa Tanpa Jeda, Ikhlas Tanpa Tapi” ini dilaksanakan selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Maret 2026.
Program Pondok Ramadan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran keagamaan yang lebih mendalam kepada para siswa.
Tidak hanya melalui teori di kelas, kegiatan ini juga menekankan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal ibadah dan kepedulian sosial.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti berbagai agenda keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan secara rutin.

Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat meningkatkan kedekatan dengan Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca kitab suci.
Selain tadarus, para siswa juga mendapatkan materi mengenai keutamaan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Materi tersebut disampaikan oleh para guru untuk menanamkan pemahaman tentang makna kesabaran, pengendalian diri, serta nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah puasa.
Pembelajaran tentang ibadah sholat juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Para siswa dibimbing untuk memahami tata cara sholat yang benar serta pentingnya menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah wajib sehari-hari.
Tak hanya itu, para siswa juga dibekali pengetahuan mengenai zakat, khususnya zakat fitrah.
Melalui materi ini, siswa diajak memahami pentingnya berbagi kepada sesama, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan Pondok Ramadan juga diselingi dengan penyampaian hikayat Nabi dan Rasul. Kisah-kisah tersebut disampaikan sebagai sarana pembelajaran moral agar para siswa dapat meneladani sikap sabar, jujur, dan penuh kasih sayang yang dimiliki para Nabi.
Dalam kegiatan yang bersifat praktik, para siswa diajak membuat kreasi parsel Lebaran yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat kurang mampu.
Selain itu, siswa juga terlibat langsung dalam kegiatan berbagi takjil serta pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah.
Kepala SMPN 2 Kwanyar, Rakhmad Adhi Hartyanto, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang makna ketakwaan dan keikhlasan berbagi.
“Sesuai dengan tema, Ramadan kali ini kami fokus memberikan pengalaman belajar tentang ketakwaan ibadah serta indahnya keikhlasan berbagi. Anak-anak belajar membuat kreasi bingkisan Lebaran untuk dibagikan kepada masyarakat tidak mampu, mereka juga belajar mengumpulkan zakat fitrah, mendata masyarakat miskin di sekitar dan mendistribusikannya sendiri dengan didampingi guru,” ujarnya. (Azis)***
Seribu Ta’jil di Hari Ke – 16, Spirit Ramadhan dan Makrifat Kemanusiaan MAKI Jatim di Leces Probolinggo
WARTAPENASATUJATIM | Probolinggo, 6 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pergantian waktu. Ia hadir seperti cahaya yang mengetuk pintu batin manusia, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berlari mengejar dunia, tetapi juga tentang berhenti sejenak untuk menengok ke dalam diri: siapa kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita akan kembali.
Dalam perjalanan spiritual manusia, Ramadhan adalah madrasah sunyi yang mengajarkan makna keikhlasan. Ia melatih manusia menahan yang halal agar hati mampu menjauhi yang haram. Lapar mengajarkan kesabaran. Dahaga menumbuhkan empati. Dan dalam kesunyian itulah jiwa mulai menyadari sebuah kebenaran hakiki: bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Yang Maha Memiliki.
Sore itu, di sepanjang Jalan Raya Leces, Kabupaten Probolinggo, denyut kemanusiaan terasa hidup dalam kesederhanaan yang penuh makna. Lalu lintas tetap berjalan seperti biasa, kendaraan berlalu-lalang, masyarakat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun di antara hiruk pikuk itu, ada getaran yang lebih lembut getaran kepedulian yang lahir dari hati yang tersentuh oleh spirit Ramadhan.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Sebanyak 250 paket nasi rawon lengkap dengan daging dan tempe disiapkan sebagai hidangan berbuka. Selain itu, 250 paket kurma turut dibagikan, bersama 250 botol es sirup melon yang menyegarkan dengan isian blewah, serta 250 paket berisi lima jenis kue basah yang menambah kehangatan suasana berbuka di penghujung hari ke-16 Ramadhan.
Bagi mereka yang menerima, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk berbuka. Namun dalam pandangan yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tak terucap. Ia adalah bentuk kepedulian yang menjembatani hati manusia satu dengan yang lain.
Sebab dalam hakikat makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah cara manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara. Bahwa rezeki yang ia genggam bukanlah miliknya, melainkan amanah yang dititipkan Tuhan agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.
Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal sifat Tuhan Yang Maha Pemurah. Ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, di saat itulah jiwa sedang berjalan mendekati cahaya makrifat.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Namun syukur sejati tidak pernah berhenti pada kata-kata. Syukur adalah tindakan nyata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat dalam kesediaan manusia untuk menjadi jalan turunnya rahmat bagi sesama.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang mendalam. Sebagai lembaga yang berdiri dalam semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kesadaran spiritual.
Korupsi lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika makrifat memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran Ilahi tumbuh dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Amanah bukan lagi sekadar tanggung jawab, tetapi kehormatan yang dijaga dengan sepenuh kesadaran bahwa setiap langkah manusia berada dalam pandangan Allah.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas Probolinggo perlahan berubah warna. Jingga senja menggantung indah di ufuk barat, seolah menjadi lukisan alam yang menenangkan hati. Waktu terasa melambat. Orang-orang yang berpuasa menunggu dengan penuh harap, sementara para relawan membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi keikhlasan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana, namun ada kebahagiaan yang tulus. Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di Jalan Raya Leces sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, semua perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan menetap sebagai cahaya yang abadi.
Di antara langkah manusia yang melintas di Jalan Raya Leces Probolinggo, sore itu terselip pelajaran sunyi yang sangat dalam:
bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang,
tetapi bisa melalui satu tindakan sederhana
memberi makan orang yang lapar,
menghapus dahaga orang yang berpuasa,
dan menebarkan kasih kepada sesama.Di situlah makrifat menemukan jalannya.
Dalam tangan yang terulur,
dalam hati yang ikhlas,
dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***MAKI Jatim dan Ormas Laskar Jahanam Menebar Ta’jil, Menuai Rahmat: Perjalanan Makrifat Ramadhan di Kota Jember
WARTAPENASÀTUJATIM | Jember, 5 Maret 2026 — Di setiap datangnya Ramadhan, langit seakan menurunkan tirai kelembutan yang tak kasatmata. Ia bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan pulang bagi jiwa-jiwa yang lama tersesat dalam riuh dunia.
Ramadhan adalah madrasah sunyi, tempat manusia diajak menyelami dirinya sendiri, hingga akhirnya menemukan Tuhannya dalam cahaya makrifat.
Di jantung Jember, tepatnya di kawasan Jalan Pierre Tendean Sumbersari Jember (Depan Kantor Ormas Laskar Jahanam Jember) denyut kemanusiaan bergetar dalam irama yang khusyuk.
Kendaraan melintas seperti biasa, manusia berlalu-lalang dalam kesibukan masing-masing. Namun di balik itu semua, ada getar yang lebih dalam getar cinta yang menjelma menjadi amal.
Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang menanti adzan maghrib.Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong dan soto ayam, lengkap dengan kentang goreng, bihun dan irisan gobis plus sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon isian blewah, serta 250 paket 2 jenis kue basah.
Sebab Ramadhan tidak pernah berbicara tentang kemewahan. Ia berbicara tentang kesadaran. Tentang bagaimana setiap butir nasi yang berpindah tangan adalah pengingat bahwa rezeki hanyalah titipan. Setiap teguk yang membasahi dahaga adalah pesan lembut bahwa segala nikmat bersumber dari Yang Maha Memberi. Dan setiap senyum yang merekah di wajah penerima adalah cermin rahmat-Nya yang mengalir melalui tangan-tangan hamba.
Puasa adalah latihan ruhani: menahan diri dari yang halal agar jiwa mampu menjauhi yang haram. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, melainkan ruang hening tempat hati belajar mendengar bisikan Tuhan. Dahaga bukan sekadar keringnya tenggorokan, melainkan madrasah empati agar manusia merasakan getir kehidupan saudaranya. Dari sanalah makrifat tumbuh kesadaran bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga dalam naungan kasih Ilahi.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur sejati bukanlah kalimat yang berhenti di lisan. Ia adalah gerak. Ia adalah amal. Ia adalah kesediaan menjadi perantara turunnya rahmat bagi sesama. Ketika tangan memberi dengan ikhlas, sejatinya ia sedang menerima cahaya yang lebih besar di dalam dadanya.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas, MAKI memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai momentum sosial, tetapi juga cermin makrifat.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kaburnya kesadaran akan pengawasan Ilahi. Ketika manusia lupa bahwa Allah Maha Melihat, ia berani menyimpang.
Namun ketika makrifat tumbuh ketika setiap napas disadari berada dalam penglihatan-Nya maka kejujuran bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Amanah bukan sekadar tanggung jawab, melainkan kehormatan.
Menjelang azan maghrib, langit senja di atas Kaliwates memerah dalam semburat jingga yang syahdu. Waktu seakan melambat. Doa-doa terangkat dalam diam. Hati-hati yang berpuasa bergetar oleh harap.
Ta’jil yang sederhana itu menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan gemerlap untuk bermakna. Yang kecil di mata dunia bisa menjadi besar dalam timbangan langit.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan menuju kesadaran. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan. Pulang dari lupa menuju ingat.
Segala yang digenggam dunia akan terlepas, namun segala yang diikhlaskan karena-Nya akan menetap sebagai cahaya abadi.
Di antara derap langkah senja Kota Jember, terselip pesan yang tak terucap namun terasa: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya dan seberapa luas ia mencintai sesamanya.
Dan di situlah makrifat bertemu kemanusiaan
dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur,
dalam zikir yang lirih dan kasih yang mengalir,
dalam iman yang bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi. (Bgn)***- AGAMA, Artikel, Bisnis, Daerah, Ekonomi, Hiburan, Nasional, Opini, Pendidikan, Seni dan Budaya, SOSIAL, Wisata
Puncak Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili Menghadirkan Perpaduan Budaya yang Meriahkan Jakarta

Warta Pena Satu, Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar perayaan Cap Go Meh pada Selasa, 3 Maret 2026. Acara yang berlangsung di kawasan Pancoran Cinatown Point Mall, Taman Sari, Jakarta Barat, ini berlangsung meriah dengan menampilkan keharmonisan budaya Tionghoa dan Betawi. Ratusan masyarakat khususnya warga Tionghoa mulai memadati kawasan Glodok Pancoran, sejak pukul 15.00 WIB. Acara puncak yang di mulai pukul 16.30 WIB ini dibuka dengan akulturasi budaya yang apik,menampilkan tari seni khas budaya Betawi dan Ondel-ondel dan atraksi egrang yang dipadukan dengan pertunjukan naga (liong) serta atraksi barongsai.
Perayaan Cap Go Meh di Jakarta tahun ini menjadi simbol tradisi keberagaman dan toleransi dikemas secara istimewa dengan menghadirkan akulturasi budaya yang harmonis. Kolaborasi budaya ini menjadi simbol persatuan sekaligus upaya merawat keberagaman masyarakat di Ibu Kota.
Sejumlah tokoh penting ikut menghadiri perayaan tersebut. Selain para tokoh adat Tionghoa, acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Turut hadir mendampingi unsur Forkopimda DKI, yakni Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Deddy Suryadi, serta tampak para mantan gubernur hadir Fauzi Bowo, Sutiyoso, hingga Anies Baswedan. Hadir pula Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan serta Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Irene Umar yang duduk bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta lainnya untuk menikmati kemeriahan pesta rakyat tersebut.
Dalam sambutannya, Pramono Anung memberikan apresiasi tinggi kepada panitia penyelenggara dan komunitas Tionghoa atas kontribusinya terhadap perkembangan Jakarta. Ia juga menilai perayaan Cap Go Meh ini menunjukkan kehidupan harmonisasi keberagaman di Jakarta yang berjalan baik. Karena itu, ia pun mengajak seluruh masyarakat Jakarta untuk bersama-sama menjaga Jakarta.
“Saya yakin sebentar lagi wajah jakarta mudah-mudahan akan menjadi lebih baik,”ujarnya, kembali Pramono menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai pekerjaan yang belum tuntas di pemerintahan sebelumnya.
Gubernur pun mendoakan, perayaan Cap Go Meh di Tahun Kuda Api ini dapat membawa keberuntungan, keamanan, dan kedamaian.
Sementara Ketua Panitia Penyelenggara Cap Go Meh, Anwar Budiman menyampaikan apresiasi kepada Pemprov DKI atas dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Menurutnya, perayaan Cap Go Meh bukan hanya sekadar tradisi, melainkan juga simbol keberagaman, toleransi, dan kolaborasi.
“Kami berharap perayaan Cap Go Meh tahun ini membawa keberkahan, kemajuan ekonomi masyarakat, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga,” tandasnya.
Selamat merayakan Cap Go Meh tahun 2026. Semoga perayaan ini membawa kedamaian, kebahagiaan, kesehatan, keberuntungan bagi kita semua.
MAKI Jatim Bagikan 1000 Tajil Hari Ke-14 di Kota Jember Saat Cahaya Makrifat di Senja Ramadhan Ketika Tangan Memberi Menjadi Jalan Menuju Ridha Ilahi
WARTAPENASATUJATIM | Jember, 4 Maret 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang lalu pergi dalam hitungan waktu. Ia adalah panggilan langit yang mengetuk pintu hati, mengajak manusia kembali kepada asalnya: sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Di bulan suci inilah tabir dunia disingkap perlahan, dan jiwa diajak menyelami samudra makrifat mengenal diri, mengenal Tuhan, dan memahami bahwa hidup hanyalah perjalanan menuju-Nya.
Di kawasan Kaliwates, Kabupaten Jember, menjelang belokan ke Roxy Mall Jember, suasana senja Ramadhan menghadirkan pemandangan yang sarat makna. Di tengah lalu lintas yang tetap berdenyut, ada denyut lain yang lebih dalam: denyut keikhlasan. Tangan-tangan terulur bukan sekadar membagikan makanan, tetapi membagikan doa, harapan, dan cinta yang lahir dari kesadaran Ilahiah.
Sebanyak seribu paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. Paket sederhana—mie goreng dengan telur dadar, kurma, es sirup melon berisi blewah, dan jajanan tradisional menjadi simbol bahwa kebaikan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari keikhlasan niat. (Bgn)***
MAKI Jatim Nandur Becik 1000 Tajil Menuju Makrifat Dalam Gerak Kemanusiaan: Menyibak Rahasia Ilahi di Bulan Ramadhan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 3 Maret 2026 — Ramadhan tidak pernah sekadar hadir sebagai pergantian bulan dalam hitungan kalender. Ia turun laksana embun cahaya, menyentuh dedaunan jiwa yang lama merindukan kesegaran Ilahi.
Di bulan inilah manusia diajak menyelami samudra makrifat mengenal dirinya sebagai hamba, dan mengenal Tuhannya sebagai Sumber dari segala yang ada.
Di jantung kota Sidoarjo, tepat di kawasan Alun-Alun Sidoarjo, di hadapan Monumen Jayandaru, denyut kemanusiaan bergetar dalam irama yang khusyuk.
Langkah-langkah manusia bersilang di antara kendaraan yang melintas, namun di atas semuanya, ada getar sunyi yang lebih dalam: getar cinta yang menjelma dalam tindakan.
1000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang tengah bersiap menyambut maghrib. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket nasi campur lengkap, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon berisi blewah, serta 250 paket jajanan tradisional. Sederhana dalam rupa, namun agung dalam makna.
Sebab pada hakikatnya, Ramadhan bukan tentang apa yang tampak oleh mata, melainkan tentang apa yang bergetar dalam dada.
Setiap nasi yang berpindah tangan adalah saksi bahwa rezeki hanyalah titipan. Setiap teguk yang melepas dahaga adalah pengingat bahwa segala nikmat berasal dari Yang Maha Memberi.
Dan setiap senyum yang terbit di wajah penerima adalah cermin rahmat-Nya yang mengalir melalui tangan-tangan hamba.
Puasa adalah latihan menahan diri dari yang halal, agar jiwa mampu menolak yang haram. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, melainkan ruang sunyi tempat hati belajar mendengar bisikan Tuhan.
Dahaga bukan sekadar keringnya kerongkongan, melainkan madrasah kesadaran agar manusia merasakan getirnya kehidupan saudaranya.
Dari sanalah lahir empati buah dari makrifat yang menyadari bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga dalam naungan kasih Ilahi.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Namun syukur sejati bukan hanya ucapan yang terucap, melainkan amal yang bergerak. Syukur adalah kesadaran bahwa kita hanyalah perantara bahwa Allah memilih sebagian tangan untuk menjadi jalan turunnya rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas, MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin makrifat yang jernih.
Korupsi tidak sekadar pelanggaran hukum, melainkan kaburnya kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.
Ketika manusia lupa akan pengawasan Ilahi, ia berani menyimpang. Namun ketika makrifat tumbuh dalam hati ketika setiap helaan napas disadari berada dalam penglihatan-Nya maka integritas bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Kejujuran menjadi ibadah. Amanah menjadi kehormatan.
Menjelang adzan maghrib, langit senja memerah dalam semburat jingga yang syahdu.Waktu seakan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat dalam diam, dan hati-hati yang berpuasa menggigil oleh harap.
Ta’jil yang sederhana menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan kemewahan untuk bermakna. Yang kecil dalam pandangan dunia bisa menjadi besar dalam timbangan langit.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan dunia menuju kesadaran ruhani. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan.
Pulang dari lupa menuju ingat. Segala yang kita genggam akan lepas, dan segala yang kita ikhlaskan akan menetap sebagai cahaya.
Di antara derap langkah senja Alun-Alun Kota Sidoarjo, terselip pesan yang tak terucap namun terasa: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya dan seberapa luas ia mencintai sesamanya.
Dan di situlah makrifat bertemu kemanusiaan dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur; dalam zikir yang lirih dan kasih yang mengalir; dalam iman yang bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi. (Bgn)***
MAKI Jatim di Hari ke-12 Berbagi Sebagai Zikir Sosial: Ketika Iman Menjadi Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 2 Maret 2026 — Ramadhan kembali hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai taman ruhani tempat jiwa-jiwa belajar mengenal dirinya dan Tuhannya.
Pada hari kesebelas yang sarat keberkahan itu, denyut kehidupan terasa lebih lembut, seakan semesta ikut berzikir dalam diam.
Hiruk-pikuk dunia meredup, digantikan getar iman yang menyelinap pelan ke relung hati terdalam.
Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya By Pass Juanda, tepat di depan Klinik Sheila Medika, tangan-tangan yang tergerak oleh kasih membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong sayur manisah lengkap dengan tahu, cecek, dan kerupuk; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi blewah; serta 250 paket jajanan jadul yang terbungkus sederhana namun sarat makna.
Namun Ramadhan tak pernah berhenti pada angka dan jumlah. Ia menembus apa yang tak kasat mata.
Setiap paket yang berpindah tangan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan saksi bahwa harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah penjaga sementara dari amanah-Nya.
Memberi dalam bulan suci bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan laku ibadah jalan sunyi menuju makrifat, mengenal bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Puasa melatih sabar dalam menahan lapar dan dahaga; berbagi menumbuhkan ikhlas dalam melepaskan kepemilikan.
Ketika sabar dan ikhlas bersatu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya.
Lapar yang ditahan melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kehidupan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tak lagi berjalan sendiri dalam egonya.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Syukur yang hakiki tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan. Sebab setiap kesempatan untuk berbagi sejatinya adalah panggilan Ilahi bahwa Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa.
Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum, melainkan kegagalan hati menjaga kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Ketika makrifat memudar, keberanian untuk menyimpang tumbuh.
Namun ketika kesadaran ketuhanan berdenyut dalam setiap helaan napas, integritas lahir sebagai buah ketakwaan bukan karena takut padamu manusia, melainkan karena malu kepada-Nya.
Menjelang adzan Maghrib, langit senja menunduk dalam semburat jingga. Doa-doa bergetar di bibir yang berpuasa.
Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang tulus. Yang diterima mungkin hanya makanan sederhana, tetapi yang terasa adalah sentuhan kasih rasa dihargai sebagai sesama makhluk Allah yang dimuliakan.
Pada akhirnya, yang bernilai di sisi-Nya bukanlah banyaknya yang dibagikan, melainkan beningnya niat yang tersembunyi di dalam dada.
Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah menyadari bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan, dan segala yang kita ikhlaskan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kembali.
Di antara derap langkah senja Raya By Pass Juanda Sidoarjo, terselip pesan makrifat yang hening namun agung: kemuliaan manusia tidak terletak pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia relakan demi ridha-Nya. (Bgn)***
MAKI Jatim Merajut Tajalli Ramadhan di Bumi Delta Sidoarjo: Saatnya Nandur Becik Sedekah Menjadi Jalan Makrifat Menuju-Nya
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 1 Maret 2026 – Ramadhan kembali menyapa bumi dengan wajahnya yang teduh. Ia bukan sekadar rentang hari yang dihitung oleh kalender, melainkan musim turunnya rahmat dan terbukanya pintu-pintu kesadaran. Pada hari kesebelas bulan suci 1447 Hijriah, di kota delta yang tenang Sidoarjo denyut kehidupan terasa lebih hening, seolah semesta ikut bersyahadat dalam tasbih yang tak terdengar.
Di depan Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, tepat di hadapan Monumen Jayandaru, seribu paket ta’jil dibagikan oleh relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. 250 Nasi goreng merah lengkap dengan bakso, sosis, irisan telur dan kerupuk; 250 kurma sebagai sunnah yang menghidupkan jejak Nabi; 250 sirup melon berisi blewah yang menyegarkan dahaga; serta 250 jajanan sederhana dalam plastik semuanya berpindah tangan dengan senyum yang bersahaja.
Namun Ramadhan tidak pernah berhenti pada yang kasatmata. Ia adalah jalan batin. Ia adalah mi’raj jiwa menuju kesadaran terdalam bahwa manusia hanyalah hamba, dan segala yang digenggamnya hanyalah titipan sementara.

Dalam pandangan makrifat, memberi bukanlah tentang tangan yang lebih tinggi dari tangan yang menerima. Memberi adalah pengakuan sunyi bahwa tiada kepemilikan sejati selain milik Allah SWT. Setiap paket yang berpindah tangan adalah saksi bahwa rezeki hanyalah amanah; bahwa yang memberi dan yang diberi sesungguhnya sama-sama fakir di hadapan-Nya.
Puasa melatih sabar. Sedekah melatih fana.
Sabar menundukkan nafsu. Fana menundukkan ego.Ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang memperbanyak kepemilikan, tetapi memperdalam penghambaan.
Lapar yang ditahan sepanjang hari melembutkan hati agar peka terhadap derita sesama. Dahaga yang dijaga menjadi cermin bahwa manusia tak pernah benar-benar berdaya tanpa pertolongan-Nya.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur dalam makna terdalam bukan sekadar ucapan hamdalah di bibir, melainkan kesediaan hati untuk menjadi perantara rahmat Ilahi.
Dalam kesadaran itulah MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin agung bagi jiwa. Korupsi, dalam perspektif ruhani, bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit hati yang lahir dari lupa kepada Allah. Ketika muraqabah rasa diawasi oleh-Nya hidup dalam dada, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan, melainkan buah alami dari ketakwaan.
Menjelang adzan Maghrib, langit Sidoarjo berpendar jingga. Angin petang berembus lembut, membawa doa-doa yang meluncur dari bibir orang-orang yang berpuasa. Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang bening. Mungkin yang diterima hanyalah makanan pembuka, tetapi yang dirasakan adalah pengakuan kemanusiaan bahwa mereka dilihat, dihargai, dan dicintai sebagai makhluk Allah yang mulia.
Ramadhan pada akhirnya adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesombongan menuju kerendahan. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari dunia menuju Tuhan.
Dan di antara langkah-langkah senja yang mengiringi beduk Maghrib, terpatri pesan yang agung:
bahwa kemuliaan manusia bukan pada apa yang ia kumpulkan,
melainkan pada apa yang ia ikhlaskan.Sebab segala yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya,
dan hanya hati yang bersihlah yang sampai dengan selamat di hadapan-Nya. (Bgn)***Nandur Becik Hari Kesepuluh MAKI Jatim Bagi 1000 Paket Tajil, Dalam Merajut Berkah Lewat Amanah Sosial
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 28 Februari 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ruhani. Dari syariat menuju hakikat. Dari hakikat menuju makrifat. Dari sekadar memberi menuju benar-benar mengenal siapa Pemberi segala rezeki.
Di Jalan Raya Juanda (Depan Pom Bensin Raya Juanda), langkah-langkah sederhana para relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menjelma menjadi pelajaran batin yang dalam.
Sebanyak 1000 paket ta’jil dibagikan kepada para pengguna jalan. Namun dalam pandangan hakikat, yang bergerak bukan hanya tangan manusia. Yang bekerja adalah kehendak-Nya. Yang mengalir bukan sekadar makanan, tetapi rahmat Allah yang dititipkan melalui hamba kepada hamba.
Secara syariat, kegiatan itu adalah amal sosial. Paket demi paket berpindah tangan: 250 pack bubur sumsum mutiara lengkap, 250 pack kurma, 250 botol es sirup melon dan isian blewah, 250 pack jajan jadul dalam plastik. Semua tampak biasa. Semua tampak sederhana.
Namun syariat hanyalah pintu. Ia adalah bentuk lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dalam hakikat, berbagi bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Semua hanyalah titipan.
Rezeki yang di tangan kita bukan milik kita. Ia hanya singgah. Ketika ia dibagikan, sesungguhnya ia sedang kembali kepada Pemiliknya.
Di titik ini, hati mulai menyadari:
Tidak ada yang benar-benar kaya.
Tidak ada yang benar-benar miskin.
Yang ada hanyalah hamba yang sedang diuji dengan kelapangan atau kekurangan.Ramadhan mengosongkan perut agar manusia memahami satu hal mendasar: ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat lapar terasa, ego melemah. Saat dahaga datang, kesombongan luruh. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita ini fakir di hadapan-Nya.
Makrifat adalah ketika hati tidak lagi melihat amal sebagai kebanggaan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekat.
Ketika paket ta’jil diberikan, hati yang terjaga tidak berkata, “Aku telah memberi.”
Ia berkata, “Allah telah menggerakkan.”Ketika senyum penerima terlihat, hati yang sadar tidak merasa berjasa.
Ia justru merasa ditolong untuk membersihkan diri dari cinta dunia.Di sanalah makrifat tumbuh:
Saat amal tidak lagi menjadi panggung diri, tetapi menjadi jalan sunyi menuju ridha Ilahi.Sebagai gerakan yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan ritual, tetapi sebagai madrasah kesadaran.
Korupsi lahir dari hati yang merasa memiliki.
Kejujuran lahir dari hati yang merasa diawasi.Dalam maqam makrifat, manusia hidup dalam muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, bahkan atas bisikan terdalam.
Jika kesadaran ini bersemayam, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan hukum. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ia menjadi napas kehidupan.
Menjelang Maghrib, langit memerah keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat tanpa suara.
Barangkali yang terlihat hanyalah pembagian makanan di tepi jalan.
Namun yang terjadi sesungguhnya adalah latihan jiwa.Latihan untuk tidak melekat pada dunia.
Latihan untuk mencintai tanpa pamrih.
Latihan untuk menyadari bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah perjalanan pulang.Karena pada akhirnya, hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi pada seberapa bersih hati saat kembali kepada-Nya.
Dan makrifat adalah saat kita mengerti:
Tidak ada amal yang sampai kepada Allah, kecuali yang lahir dari hati yang mengenal-Nya.Di tepi Jalan Raya Juanda itu, 1000 paket ta’jil mungkin telah habis terbagi.
Namun cahaya yang ditanam cahaya kesadaran, cahaya keikhlasan, cahaya tauhid semoga terus menyala, bahkan setelah Ramadhan berlalu. (Bgn)***Berbagi Berkah Ramadan, Danlanal Batuporon Bagikan Takjil Gratis di Tanean Suramadu
WARTAPENASATUJATIM | BANGKALAN – Berbagi Berkah Ramadan, Danlanal Batuporon Bagikan Takjil Gratis di Tanean Suramadu
Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Batuporon, Letkol Laut (P) Ari Wibowo, S.E., M.Tr.Opsla., menggelar aksi kemanusiaan berupa pembagian takjil gratis.
Kegiatan ini berlangsung di kawasan Tanean Suramadu arah menuju Madura pada Jumat (27/02/2026).
Didampingi Ketua Cabang 5 Daerah Jalasenastri Kodaeral V, Ny. Marissa Ari, Danlanal Batuporon turun langsung menyapa pengendara dan masyarakat yang melintas untuk membagikan paket makanan berbuka puasa.
Letkol Laut (P) Ari Wibowo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur serta upaya untuk meraih pahala di bulan yang penuh kemuliaan.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum emas untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT melalui aksi nyata membantu sesama.
“Kami ingin memanfaatkan kesempatan di bulan suci ini untuk berbagi kebahagiaan. Sebagaimana teladan Rasulullah SAW, betapa mulianya tangan yang bergerak untuk memberikan kenyamanan bagi saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa,” ujar Danlanal di sela-sela kegiatan.
Ia juga menekankan pentingnya motivasi spiritual dalam berbagi. Mengutip nilai-nilai religius, ia menyebutkan bahwa memberi makan orang yang berpuasa memiliki keutamaan pahala yang besar, setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala aslinya.
Lebih lanjut, Danlanal memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Perwira Staf, prajurit, serta pengurus Jalasenastri Lanal Batuporon yang telah menyukseskan acara ini dengan penuh antusias.
“Kegiatan ini terselenggara berkat semangat kolektif jajaran Lanal Batuporon. Ini adalah bukti konkret bahwa TNI Angkatan Laut selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, memberikan manfaat, dan senantiasa diterima dengan baik oleh rakyat,” tegasnya.
Aksi pembagian takjil ini mendapat respons positif dari para pengguna jalan yang merasa terbantu, terutama bagi mereka yang masih dalam perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba. (Azis)***