MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil Bukan Sekadar Ta’jil: Tentang Hati yang Belajar Peduli di Ujung Ramadan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 18 Maret 2026 — Di penghujung Ramadan, waktu seakan tidak lagi sekadar bergerak menuju akhir, melainkan mengajak manusia kembali, kembali pada asal, pada makna, pada kesadaran terdalam tentang siapa diri ini sebenarnya.
Ramadan adalah cermin.
Ia tidak hanya memantulkan lapar dan dahaga, tetapi juga memperlihatkan wajah batin yang sering tersembunyi di balik kesibukan dunia. Dalam diamnya puasa, manusia belajar bahwa yang paling hakiki bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dirasakan dan dibagikan.
Di titik inilah makrifat bersemi ketika ibadah tidak lagi sekadar ritual, tetapi menjelma menjadi kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap denyut kehidupan.
Pada hari ke-28 Ramadan 1447 Hijriah, di tengah hiruk-pikuk Jalan Ahmad Yani Surabaya, sebuah peristiwa sederhana terjadi, namun mengandung makna yang dalam. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat.
Namun sejatinya, yang dibagikan bukan sekadar makanan.
Yang mengalir di sana adalah rasa. Yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain adalah kasih. Yang hadir di antara mereka adalah kesadaran bahwa manusia hidup tidak sendiri.
Di antara deru kendaraan dan langkah-langkah yang tergesa, para relawan berdiri dengan senyum yang tidak dibuat-buat.
Mereka memberi, tanpa merasa lebih. Mereka berbagi, tanpa menghitung kembali.
Sebab dalam makrifat, memberi bukanlah kehilangan. Justru di situlah manusia menemukan dirinya.
Setiap nasi, setiap kurma, setiap teguk minuman berbuka menjadi perantara sunyi antara hamba dan Tuhannya. Sebab bisa jadi, di balik satu paket sederhana itu, ada doa yang terangkat. Ada hati yang disentuh. Ada harapan yang kembali hidup.
Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa rasa syukur harus diwujudkan dalam tindakan. Namun lebih dari itu, syukur sejati adalah ketika hati menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan, dan sebaik-baiknya titipan adalah yang memberi manfaat.
Dalam perspektif makrifat, kepedulian bukan sekadar aksi sosial. Ia adalah jalan penyucian jiwa. Ia adalah cara Tuhan mengajarkan manusia untuk melihat-Nya bukan hanya di langit, tetapi juga di wajah-wajah yang membutuhkan.
Senja pun turun perlahan. Langit Surabaya berpendar jingga, seolah mengisyaratkan bahwa setiap pertemuan akan berujung perpisahan. Ramadan pun demikian ia akan pergi, tetapi nilai yang ditinggalkannya tidak boleh ikut hilang.
Di momen itu, senyum para penerima menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari perhatian yang tulus.
Tanpa panggung. Tanpa sorotan. Hanya hati yang bekerja.
Dan di situlah letak keindahannya. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan, tetapi tentang melepaskan melepaskan ego, keserakahan, dan jarak antar manusia. Ia mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut ia kepada sesama.
Karena pada hakikatnya, perjalanan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh dengan doa, tetapi juga dengan cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Di ujung Ramadan ini, satu pelajaran kembali mengetuk kesadaran:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah cahaya.
Dan cahaya itu tidak pernah padam selama masih ada hati yang mau menghidupkannya. (Bgn)***
200 milijonov v videu facebook ipo
온라인카지노 추천 {최신}
Anda Mungkin Suka Juga
Menteri Wihaji Kunjungi Surabaya, Tingkatkan Gizi Keluarga dan Semangat Lini Lapangan
9 Oktober 2025
Polres Malang Berhasil Amankan Tersangka Jambret Kalung Emas Nenek 85 Tahun di Wonosari
16 September 2025