Tata Kelola Kokoh, Kunci Pertumbuhan Industri Urun Dana di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Sebagai alternatif pembiayaan bagi UMKM dan sektor riil, Securities Crowdfunding kian relevan; kemajuan industri harus dibarengi transparansi dan kualitas penerbit agar berkelanjutan
Tata Kelola Kokoh, Kunci Pertumbuhan Industri Urun Dana di Tengah Gejolak Ekonomi Global, Securities Crowdfunding kian relevan; Sebagai alternatif pembiayaan bagi UMKM dan sektor riil, kemajuan industri harus dibarengi transparansi dan kualitas penerbit agar berkelanjutan

http://WARTAPENASATU.COMWARTAPENASATU.COM, Jakarta, 5 Mei 2026 — Di tengah ketidakpastian perekonomian dunia, gejolak pasar keuangan, serta dinamika hubungan antarnegara yang terus berubah, keberadaan Securities Crowdfunding (SCF) atau layanan urun dana di Indonesia kian menunjukkan peran strategisnya. Tak sekadar menjadi kanal pendanaan digital, industri ini kini dipandang sebagai tulang punggung baru dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta memperkuat sektor riil nasional.

Proyeksi lembaga keuangan internasional menggambarkan kondisi yang menantang. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya akan mencapai 3,1 persen pada tahun 2026. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia memproyeksikan angka pertumbuhan dunia berada di kisaran 3,0 persen, melambat dibanding periode sebelumnya. Perlambatan ini dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya risiko geopolitik, fluktuasi nilai aset keuangan, tekanan kenaikan harga barang, hingga lonjakan biaya komoditas utama.

Meski menghadapi arus deras tantangan eksternal, perekonomian Indonesia tetap memperlihatkan ketahanan yang baik. Lembaga-lembaga ekonomi nasional memperkirakan pertumbuhan domestik pada tahun ini akan bertengger di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, ditopang kuatnya permintaan dari dalam negeri dan sinergi kebijakan yang terarah. Di sinilah peran industri urun dana menjadi sangat krusial sebagai salah satu penyangga laju pertumbuhan tersebut.
Fondasi Pertumbuhan: Tata Kelola dan Kepercayaan
Dalam acara puncak industri bertajuk SCF Days 2026: Governance to Growth for Securities Crowdfunding in the Capital Market Industry yang diselenggarakan Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia (ALUDI) di Aula Utama Bursa Efek Indonesia, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa kemajuan sektor ini tidak bisa dibangun secara instan. Pertumbuhan yang berarti harus bersandar pada pondasi tata kelola yang kuat, transparansi yang konsisten, perlindungan hak pemodal, serta kualitas usaha yang didanai yang kian terjaga.
Wakil Ketua Umum I Bidang Pengembangan ALUDI sekaligus Pendiri dan Direktur Utama Bizhare, Heinrich Vincent, menegaskan bahwa SCF harus diposisikan bukan semata sebagai wadah pencarian dana, melainkan bagian tak terpisahkan dari ekosistem pasar modal yang bertugas mendanai kegiatan ekonomi yang produktif.
“Di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, keberadaan SCF menjadi sangat relevan. Seluruh kegiatannya berakar pada sektor riil, sehingga memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari usaha-usaha yang terbukti layak dan menguntungkan. Lebih dari itu, keberhasilannya akan memberikan dampak yang luas bagi kemajuan perekonomian seluruh rakyat Indonesia,” ujar Vincent.
Ia menambahkan, kecepatan pertumbuhan jumlah transaksi dan nilai pendanaan harus selalu diimbangi dengan pengawasan yang ketat. Prinsip tata kelola yang baik, keterbukaan informasi, dan proses penyaringan calon penerbit dana yang disiplin menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko kerugian bagi para penanam modal.
“Pemodal harus semakin cermat melihat potensi usaha. Mulai dari kualitas pengelolaan, jenis sektor usaha, aliran kas, rekam jejak manajemen, prospek ke depan, hingga kemampuan usaha tersebut memenuhi kewajibannya secara berkelanjutan. Pemilihan sektor yang tepat juga penting, misalnya industri kendaraan listrik, sektor pangan dan kebutuhan pokok, hingga proyek yang terhubung dengan rantai pasok korporasi besar—sektor-sektor ini cenderung lebih stabil di tengah gejolak ekonomi,” jelasnya.
Catatan Positif dan Tren Pertumbuhan
Perkembangan industri ini dalam kurun waktu satu tahun terakhir menunjukkan grafik yang menanjak signifikan. Data ALUDI mencatat, total nilai dana yang berhasil dihimpun melonjak dari sekitar Rp1,53 triliun pada akhir Desember 2024 menjadi lebih dari Rp2,1 triliun per April 2026.
Pertumbuhan juga terlihat dari sisi pelaku usaha. Jumlah penerbit dana meningkat sebesar 38 persen, dari 804 entitas menjadi 1.115 entitas. Sementara itu, jumlah masyarakat yang berpartisipasi sebagai pemodal telah menembus angka 198.000 orang, menandakan bahwa kesadaran dan kepercayaan publik terhadap instrumen investasi ini kian menguat.
Catatan menarik lainnya datang dari segmen keuangan syariah. Instrumen berbasis prinsip syariah berhasil menghimpun dana mencapai Rp1,14 triliun, atau setara lebih dari separuh total keseluruhan pendanaan industri. Angka ini menggambarkan tingginya minat masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis proyek riil yang sesuai dengan nilai-nilai syariah.
Komitmen Seluruh Pihak
Ketua Dewan Pembina ALUDI sekaligus mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2017–2022, Profesor Wimboh Santoso, mengingatkan bahwa keberhasilan SCF bukan sekadar soal kemajuan teknologi, melainkan bagian dari upaya besar menciptakan pasar modal yang lebih inklusif dan merata.
“Industri urun dana ini bukan sekadar tren sesaat di dunia digital, melainkan bagian dari transformasi struktur keuangan nasional. Oleh karena itu, kemajuannya harus senantiasa dikawal. Standar tata kelola yang seragam, sistem pengawasan yang ketat, dan jaminan perlindungan bagi pemodal adalah syarat mutlak agar industri ini dapat bertahan dan berkembang dalam jangka panjang,” tegasnya.
Sementara itu, dari sisi pengatur dan pengawas, Direktur Perizinan Perorangan, Profesi Penunjang, dan Lembaga Penunjang Pasar Modal OJK, Muhammad Adi Wijoyo, menyatakan bahwa pemerintah dan otoritas berkomitmen penuh menciptakan ekosistem yang sehat.
“Peran kami adalah memastikan setiap aktivitas berjalan sesuai koridor aturan yang berlaku. Ketika ekosistemnya sehat, transparan, dan adil, maka potensi SCF untuk menjadi solusi utama pembiayaan UMKM di Indonesia akan terwujud sepenuhnya,” ungkap Adi.
Sebagai bentuk penguatan ekosistem, saat ini tengah digalakkan kolaborasi antara PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), OJK, dan ALUDI untuk membangun infrastruktur data yang lebih andal. Sistem ini diharapkan mampu menyajikan informasi industri yang terstandar, akurat, dan mudah diakses—sehingga makin memperkuat kepercayaan publik dan perlindungan bagi seluruh pelaku.
Arah Masa Depan Industri
Ke depannya, ALUDI menilai bahwa industri ini masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas. Namun, seluruh elemen sepakat bahwa fokus pengembangan tidak lagi hanya pada seberapa besar nilai dana yang dihimpun atau seberapa banyak usaha yang terdaftar, melainkan pada kualitas pertumbuhan itu sendiri.
“Kemajuan yang kita capai saat ini harus dijaga dengan tiga prinsip utama: tata kelola yang kokoh sebagai fondasi, keterbukaan informasi sebagai bahasa komunikasi seluruh pelaku, dan kolaborasi dengan seluruh lembaga jasa keuangan di pasar modal—seperti perusahaan sekuritas dan manajer investasi—sebagai jalan menuju pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Vincent menutup rangkaian acara.
Dengan fondasi yang semakin kuat, Securities Crowdfunding diharapkan terus menjadi jembatan yang menghubungkan potensi usaha dengan modal masyarakat, sekaligus menjadi salah satu pilar penyangga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak perekonomian global.
by: mardian.,SE
10 στιγμές που καθόρισαν την καριέρα του
Anda Mungkin Suka Juga
PCNU Jakarta Utara Gelar Koordinasi dan Konsolidasi Lembaga
22 Mei 2025
OPS PATUH KARAKKATAU 2025 TULANG BAWANG BARAT FOKUS PADA KESELAMATAN DAN DISIPLIN BERLALU LINTAS
25 Juli 2025