AGAMA

Kasih, Pengampunan, Harapan: Makna Suci dan Refleksi Jumat Agung Bagi Kemanusiaan

Bagikan

WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Dalam keheningan yang sarat makna, segenap jajaran Direktur, Pemimpin Redaksi, serta seluruh wartawan Media Warta Pena Satu Jatim menyampaikan ucapan selamat memperingati Kamis Putih, Jumat Agung, dan Minggu Paskah.

Rangkaian hari suci ini bukan sekadar peringatan tahunan, melainkan sebuah perjalanan batin yang mengajak setiap insan untuk menelusuri jejak pengorbanan, kasih tanpa batas, serta pengampunan yang agung.

Jumat Agung hadir sebagai titik terdalam dari permenungan iman sebuah momen ketika dunia seakan berhenti sejenak untuk mengenang wafatnya Sang Juru Selamat di kayu salib.

Di Golgota, cinta mencapai puncaknya, bukan dalam kemegahan, melainkan dalam penderitaan yang dipeluk dengan ketulusan.

Dari sanalah manusia diajak belajar bahwa kasih sejati tidak menuntut, melainkan memberi; tidak membalas, melainkan mengampuni.

Dalam suasana yang khidmat, gereja-gereja dipenuhi umat yang datang dengan hati yang hening.

Doa-doa terangkat dalam lirih, pujian mengalun dengan penuh penghayatan, dan setiap jiwa larut dalam refleksi mendalam.

Air mata yang jatuh bukan sekadar kesedihan, melainkan ungkapan syukur atas cinta yang tak terukur.

Ketua Kaperwil Warta Pena Satu Jatim , Yuyun Ary Soekadi, turut menyampaikan pesan yang sarat makna bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Jumat Agung sejatinya melampaui batas ritual keagamaan.

Pengorbanan, integritas, dan kepedulian adalah panggilan universal bagi setiap manusia, terlebih bagi mereka yang mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat.

Dalam dunia yang kerap diwarnai kepentingan dan ego, semangat pengorbanan menjadi cahaya yang menuntun pada kebenaran.

Ia menegaskan bahwa keteladanan Sang Juru Selamat adalah fondasi moral yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Baik dalam ranah pribadi maupun profesional, nilai kasih dan pengorbanan menjadi kompas yang menjaga manusia tetap berjalan di jalan yang benar.

Lebih dari itu, Jumat Agung juga menjadi pengingat akan pentingnya merawat harmoni dalam keberagaman.

Di tengah perbedaan yang ada, semangat saling menghormati dan toleransi menjadi bukti nyata bahwa nilai kemanusiaan dapat menyatukan.

Di Jawa Timur, suasana peringatan berlangsung dengan damai dan tertib, mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam merajut persaudaraan lintas iman.

Akhirnya, Jumat Agung 2026 diharapkan bukan hanya menjadi peringatan seremonial, tetapi momentum perenungan yang membaharui hati.

Dari salib yang sunyi, lahir harapan yang hidup bahwa kasih akan selalu menang, bahwa pengorbanan tidak pernah sia-sia, dan bahwa kemanusiaan akan terus menemukan jalannya menuju terang. (Red)***


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wartapenasatu.com @2025