Merajut Keberuntungan Dalam Perayaan Imlek 2026 di NSA Dalam Kebersamaan Rasa, Nada dan Makna
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 3 Februari 2026 — Nuansa hangat dan penuh makna menyelimuti perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di NSA. Lebih dari sekadar perayaan kalender, Imlek dihadirkan sebagai ruang perjumpaan nilai, tradisi, dan kebersamaan lintas budaya yang dirayakan dengan rasa, gerak, dan harmoni.
Tahun ini, dua hidangan khas menjadi simbol utama perayaan: Dumpling (Jiaozi) dan Ronde. Dalam tradisi Tiongkok, dumpling melambangkan keberuntungan dan kelimpahan, menyerupai bentuk uang kuno yang menjadi doa akan rezeki dan harapan baik di tahun yang baru.
Sementara itu, ronde menghadirkan makna kehangatan keluarga dan kebersamaan yang utuh. Secara tradisional, ronde disantap dua kali dalam setahun menjelang musim dingin dan pada hari ke-15 setelah Imlek sebagai simbol penutup rangkaian perayaan dan doa agar kebersamaan senantiasa terjaga.
Menariknya, kedua sajian ini telah lama berakar dan menyatu dalam khazanah kuliner Indonesia, menjadi bukti bagaimana budaya dapat bertemu, saling mengisi, dan tumbuh bersama.

Namun perayaan Imlek di NSA tidak berhenti pada sajian. Ia hidup melalui ekspresi seni para siswa. Acara dibuka dengan pertunjukan Wushu yang memadukan ketegasan dan kelenturan, mencerminkan disiplin, keseimbangan, serta ketangguhan karakter.
Energi tersebut kemudian mengalir ke modern dance yang dinamis sebuah jembatan kreatif antara tradisi dan ekspresi generasi masa kini.
Suasana semakin syahdu saat alunan musik memenuhi ruang. Kolaborasi Guzheng, biola, dan violin menghadirkan harmoni lembut yang menenangkan. Petikan senar yang mengalun perlahan seolah mengajak seluruh hadirin berhenti sejenak, meresapi kebersamaan, dan merayakan momen dalam keheningan yang indah.
Kemeriahan mencapai puncaknya dengan hadirnya pertunjukan barongsai. Gerakannya yang lincah, diiringi dentuman tambur yang ritmis, memancing sorak kegembiraan para siswa. Di balik kemeriahan tersebut, barongsai menyampaikan pesan tentang kerja sama, keberanian, dan penghormatan terhadap tradisi.
Antusiasme tampak dari siswa-siswi mulai tingkat preschool hingga SMA, termasuk saat mengikuti tradisi memasukkan angpao ke dalam mulut barongsai sebuah simbol doa, harapan, dan keberuntungan.
Melalui rangkaian seni, budaya, dan kebersamaan ini, para siswa diajak memahami Imlek bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi nilai: harapan baru, doa kebaikan, serta kehangatan keluarga.
Anak-anak dari beragam latar belakang belajar untuk saling menghargai, merayakan perbedaan, dan menemukan sukacita dalam keberagaman.
Melalui perayaan Imlek 2026 ini, NSA menegaskan perannya sebagai sekolah SPK yang tidak hanya mempersiapkan generasi unggul dan berdaya saing global, tetapi juga menumbuhkan insan yang mampu hidup berdampingan secara harmonis dalam dunia multikultural dengan toleransi, empati, dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Perayaan ini menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan, selalu ada ruang untuk berkumpul, berbagi, dan merayakan kebersamaan dengan hati yang hangat. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
Audensi WPK Dengan Kapolres Bangkalan Berkomitmen Kawal Isu Krusial Terkait Hukum
26 Januari 2026
Gunung Gambir: Permata Hijau Jember yang Menjadi Kunjungan MAKI Jatim Pasca Deklarasi Anti-Bullying
16 November 2025