Plastik Langka Setiap Hari Harga Merangkak Naik, Dampak Terasa Hingga Daerah

Wartapena Satu. Com. Jakarta, 4 April 2026 –Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/4), Menteri Perdagangan (Mendag) Budi santoso mengangkat bicara terkait lonjakan harga plastik yang tengah dirasakan masyarakat dan pelaku industri di seluruh Indonesia. Budi menjelaskan bahwa kenaikan ini merupakan dampak langsung dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku utama plastik, yaitu nafta. “Kita sangat bergantung pada impor nafta dari Timur Tengah, sekitar 60 persen kebutuhan nasional berasal dari kawasan tersebut. Ketika ada gangguan pasokan akibat konflik, dampaknya langsung terasa pada harga di dalam negeri,” ujarnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Iran, menjadi faktor utama terganggunya distribusi komoditas energi dan petrokimia dunia. Iran sebagai salah satu produsen petrokimia terbesar di kawasan memiliki peran penting dalam pasokan bahan baku plastik internasional. Selain itu, escalasi konflik juga berdampak pada kenaikan biaya premi asuransi pengiriman laut melalui Selat Hormuz, jalur krusial untuk perdagangan energi global. “Gangguan ini tidak hanya mempengaruhi pasokan, tetapi juga meningkatkan biaya logistik yang akhirnya berdampak pada harga akhir produk plastik,” jelas Budi.
Pantauan menunjukkan harga plastik berbagai jenis mengalami kenaikan signifikan, bahkan hingga dua kali lipat di beberapa pasar. Di Pasar Minggu Jakarta, misalnya, harga plastik jinjing yang sebelumnya Rp18.000 per pak kini menjadi Rp28.000, sedangkan wadah plastik naik hingga 80% dari harga normal. Dampaknya juga telah menyebar ke daerah, seperti di Jember Jawa Timur, di mana pelaku usaha makanan dan minuman mulai merasakan beban produksi yang membengkak. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kemasan Makanan Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengakui industri dalam negeri merasakan tekanan berat akibat kenaikan biaya bahan baku, energi, dan fluktuasi nilai tukar.
Untuk mengatasi masalah ini, Kementerian Perdagangan tengah gencar mencari sumber impor alternatif dari negara lain, termasuk Afrika, India, dan Amerika Serikat. Budi menyebutkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan perwakilan pemerintah dan pelaku industri di negara-negara tersebut untuk menjalin kerja sama baru. “Kita tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber pasokan. Diversifikasi adalah kunci untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di masa depan,” ucapnya. Namun, dia juga mengakui bahwa proses pengalihan sumber pasokan tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan rantai distribusi serta memastikan kualitas bahan baku.
Selain mencari pemasok baru, pemerintah juga terus memperkuat koordinasi dengan asosiasi industri dan pelaku usaha plastik dalam negeri. Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dan mencari solusi bersama dalam menghadapi tantangan saat ini. Perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri juga telah ditugaskan untuk aktif mencari supplier baru yang dapat memenuhi kebutuhan bahan baku plastik nasional. “Kami optimistis bahwa dengan langkah-langkah ini, pasokan bahan baku akan kembali stabil dan harga dapat kembali normal dalam waktu dekat,” pungkas Budi.
Budi menegaskan bahwa kenaikan harga plastik bukan hanya masalah yang dihadapi Indonesia, melainkan juga menjadi fenomena global yang mengganggu sektor industri di sejumlah negara Asia seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi adalah bagian dari dinamika ekonomi global yang dipengaruhi oleh situasi geopolitik.Kenaikan harga plastik dirasakan secara luas dan menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga barang kebutuhan masyarakat
Anda Mungkin Suka Juga
Dorong Pertumbuhan Ekonomi Dan Pariwisata Lewat Kolaborasi, Aston Madiun Gelar Forum Bisnis di Lumajang
24 September 2025
MAKI Jatim di Hari Ke – 20 Istiqomah di Persimpangan Jalan dan Persimpangan Hati: Rajut Keberkahan Ramadan Raih Maghfirah
10 Maret 2026