SOSIAL

MAKI Jatim Bagi Seribu Ta’jil, Sejuta Cahaya: Jejak Cinta Menuju Ridha Allah

Bagikan

WARTAPENASATUJATIM | Surabaya — Pada hari kedua bulan suci Ramadhan, ketika matahari condong ke barat dan langit Kota Surabaya berpendar keemasan, suasana di Jalan A. Yani, tepat di depan Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, menjadi saksi bagi sebuah gerak sunyi yang berakar pada iman.

Di sana, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat. Terdiri dari 250 paket donat dan aneka gorengan, 250 paket kurma, 250 mangkuk kolak gula merah bersantan lengkap dengan ubi, pohong, dan pisang, serta 250 paket jajanan tradisional semuanya berpindah tangan dengan senyum yang teduh dan doa yang lirih.

Namun bagi hati yang menempuh jalan makrifat, Ramadhan bukanlah peristiwa sosial semata.

Ia adalah mi‘raj batin, pendakian ruh menuju kesadaran terdalam bahwa tiada daya dan upaya selain dari Allah.

Lapar dan dahaga hanyalah pintu; di baliknya ada penyadaran bahwa manusia pada hakikatnya faqir miskin di hadapan Yang Maha Kaya.

Dalam pandangan ruhani, memberi bukan sekadar memindahkan makanan dari satu tangan ke tangan lain.

Memberi adalah melepaskan sebagian keterikatan dunia yang selama ini diam-diam membelenggu jiwa.

Setiap paket ta’jil yang dibagikan sejatinya adalah latihan fana mengikis rasa memiliki, menumbuhkan kesadaran bahwa semua yang ada hanyalah titipan.

Ramadhan mendidik manusia untuk menyelami muraqabah: merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan niat.

Ketika tangan terulur untuk berbagi, hati diajak untuk jujur kepada dirinya sendiri apakah ini karena pujian, atau karena cinta kepada-Nya?

Di situlah makrifat diuji, bukan dalam keramaian, melainkan dalam keheningan niat.

Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur dan penghayatan nilai Ramadhan.

Tetapi lebih dalam dari itu, syukur sejati adalah menyadari bahwa kesempatan memberi pun adalah karunia.

Allah-lah yang menggerakkan hati, Allah-lah yang mempertemukan tangan pemberi dan penerima dalam satu takdir yang indah.

Bagi MAKI, yang dikenal konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, Ramadhan adalah cermin untuk membersihkan batin.

Sebab korupsi bukan semata pelanggaran hukum; ia berakar pada penyakit hati pada jiwa yang tak pernah merasa cukup, pada hati yang lupa bahwa Allah Maha Melihat bahkan bisikan paling tersembunyi.

Makrifat menuntun manusia memahami bahwa amanah bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan perjanjian ruhani.

Setiap jabatan akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap rupiah akan ditanya dari mana datang dan ke mana pergi.

Kesadaran inilah yang melahirkan integritas yang sejati integritas yang tumbuh bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kehilangan ridha-Nya.

Menjelang azan Maghrib, di antara deru kendaraan dan hembusan angin senja, wajah-wajah yang menerima ta’jil memancarkan rasa syukur sederhana.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sekantong makanan. Namun bagi yang menatap dengan mata hati, itu adalah tanda bahwa rahmat Allah selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang bersedia menjadi perantara.

Pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah jumlah paket yang dibagikan, melainkan kejernihan niat dan ketulusan hati.

Ramadhan adalah jalan pulang jalan kembali kepada fitrah, kepada kesadaran bahwa kita hanyalah hamba.

Dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, sekecil apa pun, adalah satu langkah sunyi menuju cahaya-Nya. (Bgn)***


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wartapenasatu.com @2025