SOSIAL

MAKI Jatim Nandur Becik Bagi 1000 Tajil di By Pass Juanda Sidoarjo

Bagikan

WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 26 Februari 2026 – Ramadhan adalah musim di mana langit terasa lebih dekat dan doa-doa melayang lebih ringan. Ia hadir bukan sekadar mengganti nama bulan, melainkan menggugah kesadaran terdalam manusia: bahwa hidup adalah amanah, dan setiap detiknya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pada hari kedelapan yang penuh keberkahan, nilai itu menjelma menjadi gerak nyata. Di Jalan Raya By Pass Juanda, di depan Klinik Sheila Medika, relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri menyapa para pengguna jalan dengan senyum dan doa. Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang melintas, menjadi oase kecil di tengah perjalanan panjang menjelang waktu berbuka.

Sore itu, yang terlihat bukan sekadar aktivitas sosial. Yang terasa adalah denyut keikhlasan. Satu per satu bingkisan berpindah tangan: lontong balap petis lengkap dengan tahu dan lento, kurma manis pengingat sunnah, es sirup melon dengan blewah yang menyegarkan, serta aneka gorengan sederhana yang akrab di lidah rakyat. Namun sesungguhnya, yang berpindah bukan hanya makanan melainkan doa dan harapan.

Ramadhan mengajarkan bahwa tangan yang memberi dan tangan yang menerima sama-sama dimuliakan. Yang satu belajar tentang syukur dalam kecukupan, yang lain belajar tentang syukur dalam penerimaan. Di antara keduanya, Allah menghadirkan keberkahan yang tak kasat mata.

Puasa adalah jalan sunyi untuk membersihkan jiwa. Ia melatih kesabaran, mengikis kesombongan, dan menumbuhkan empati. Saat perut terasa kosong, hati justru diisi dengan kesadaran bahwa segala nikmat bersumber dari-Nya. Saat tenggorokan mengering, jiwa diingatkan bahwa tanpa rahmat-Nya, manusia tak memiliki apa-apa.

Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT. Baginya, berbagi adalah bentuk ibadah sosial ikhtiar kecil untuk menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya bersih dalam ibadah pribadi, tetapi juga jujur dan peduli dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang konsisten menyerukan integritas dan perlawanan terhadap korupsi, MAKI memandang bulan suci sebagai momentum muhasabah bersama. Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran nurani. Ia mencederai amanah dan merusak kepercayaan dua hal yang dalam Islam dijunjung sebagai nilai suci.

Ramadhan adalah madrasah takwa. Di dalamnya, manusia diajak menghidupkan muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi. Ketika kesadaran itu bersemayam dalam dada, kejujuran tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Integritas tidak lagi dipaksakan oleh aturan, tetapi tumbuh dari iman.

Menjelang Maghrib, langit memancarkan cahaya keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Beberapa pengendara menengadahkan tangan, memanjatkan doa sebelum berbuka. Dalam hening yang singkat itu, seolah-olah waktu ikut bersaksi: bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia.

Barangkali yang dibagikan hanyalah makanan sederhana. Namun yang ditebar adalah kasih sayang. Yang dihidupkan adalah persaudaraan. Dan yang dicari hanyalah ridha Allah SWT.

Ramadhan mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada jabatan atau harta, tetapi pada ketakwaan. Bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan pada seberapa tulus yang disalurkan.

Di hari kedelapan itu, seribu paket ta’jil menjadi simbol bahwa ketika iman menyala, kepedulian pun menyebar. Bahwa di tengah dunia yang sering gaduh oleh kepentingan, masih ada hati-hati yang memilih untuk memberi.

Dan pada akhirnya, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah jejak menuju ampunan-Nya. (Bgn)***


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wartapenasatu.com @2025