Hari Ke – 29 MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil, Merajut dan Meraih Kemenangan Sejati Idul Fitri
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 19 Maret 2026 — Di penghujung bulan suci Ramadan, waktu seakan melambat, memberi ruang bagi manusia untuk merenung lebih dalam.
Bukan sekadar menghitung hari menuju akhir, tetapi menyelami makna perjalanan spiritual yang telah dilalui. Ramadan tidak hanya hadir sebagai rutinitas ibadah, melainkan sebagai cermin kehidupan memantulkan kembali siapa diri kita, sejauh mana hati telah dibersihkan, dan seberapa tulus kita dalam mencintai sesama.
Ramadan adalah ruang sunyi yang berbicara. Ia mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar menahan, tetapi memahami.
Bahwa dahaga bukan sekadar menunggu, tetapi merasakan. Dan dari sanalah lahir kesadaran terdalam: bahwa hidup bukan tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang apa yang mampu dibagikan.
Pada hari ke-29 Ramadan 1447 Hijriah, di tengah denyut kehidupan yang tak pernah berhenti di Jalan Ahmad Yani Surabaya, tepat di depan Kantor Dinas Perhubungan Jawa Timur, sebuah peristiwa sederhana berlangsung. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna yang begitu dalam dan menyentuh.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar aksi berbagi dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.
Tetapi sejatinya, yang dibagikan hari itu bukan hanya makanan untuk berbuka.
Yang mengalir dari tangan ke tangan adalah kepedulian. Yang berpindah bukan sekadar bungkusan, melainkan rasa. Dan yang hadir di tengah hiruk-pikuk kota adalah kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri selalu ada ruang untuk berbagi, selalu ada kesempatan untuk peduli.
Di antara deru kendaraan dan langkah yang tergesa, para relawan berdiri dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Mereka memberi tanpa merasa lebih tinggi, berbagi tanpa mengharap kembali. Sebab dalam kedalaman makna Ramadan, memberi bukanlah kehilangan melainkan menemukan.
Menemukan makna diri. Menemukan ketenangan.
Menemukan Tuhan dalam wajah-wajah yang mungkin selama ini terlewatkan.
Setiap paket ta’jil yang dibagikan setiap butir nasi, setiap kurma, setiap teguk minuman menjadi jembatan sunyi antara manusia dan Sang Pencipta. Bisa jadi, dari satu paket sederhana itu, lahir doa yang tulus. Ada hati yang kembali hangat. Ada harapan yang kembali menyala setelah hampir padam.
Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun lebih dari itu, syukur sejati adalah kesadaran bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan, dan sebaik-baik titipan adalah yang memberi manfaat bagi sesama.
Dalam sudut pandang yang lebih dalam, kepedulian sosial bukan sekadar aktivitas berbagi. Ia adalah jalan penyucian jiwa. Ia adalah cara Tuhan menghadirkan diri-Nya bukan hanya dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam setiap tindakan kebaikan yang dilakukan dengan tulus.
Senja perlahan turun, langit Surabaya berpendar jingga, seakan memberi isyarat bahwa setiap pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Ramadan pun demikian ia akan pergi, meninggalkan kenangan, pelajaran, dan nilai yang tak ternilai.
Namun yang terpenting, nilai itu tidak boleh ikut pergi.
Di momen itulah, senyum para penerima menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang, ia hadir dari hal sederhana dari perhatian kecil, dari uluran tangan, dari rasa yang tulus.
Tanpa panggung. Tanpa gemerlap. Tanpa sorotan. Hanya hati yang bekerja. Dan justru di situlah letak keindahan sejatinya. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang melepaskan melepaskan ego, keserakahan, dan jarak antar manusia. Ia mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut hatinya kepada sesama.
Karena perjalanan menuju Ilahi tidak hanya ditempuh melalui doa yang dipanjatkan, tetapi juga melalui cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.
Di ujung Ramadan ini, satu pelajaran kembali mengetuk kesadaran kita:
Bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah cahaya.
Dan cahaya itu tidak akan pernah padam, selama masih ada hati yang rela menyalakannya untuk sesama, untuk kehidupan, dan untuk Tuhan. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
HUT BAYANGKARA RI KE 79
1 Juli 2025
Marwah pers oleh Hartany Soekarno sebagai jurnalis senior Kalimantan Tengah.
8 Desember 2025