Langit Mendung di Atas Jam’iyyah: Sang Penjaga Memori NU, KH Moch. Chisni Umar Burhan Berpulang
Dunia literasi dan sejarah kearsipan Nahdlatul Ulama (NU) dirundung duka yang mendalam. Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin saat fajar menyingsing pada hari ini, Rabu, 15 April 2026. Almaghfurlah KH Moch. Chisni Umar Burhan dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya dalam perawatan medis di RS Wonosobo. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kepergian beliau bukan sekadar hilangnya seorang tokoh, melainkan tercerabutnya salah satu pilar penjaga memori kolektif organisasi Islam terbesar di dunia ini.
Sosok KH Moch. Chisni Umar Burhan dikenal sebagai pewaris estafet perjuangan ayahandanya, KH Umar Burhan. Dedikasi beliau dalam menjaga warisan sejarah NU melampaui tugas administratif biasa; baginya, setiap lembar kertas adalah amanah peradaban. Di tangannya, dokumen-dokumen rapuh menjadi suara yang lantang bercerita tentang bagaimana para ulama terdahulu meletakkan fondasi kebangsaan dan keagamaan di tanah air.
Kepergian beliau meninggalkan lubang besar dalam khazanah intelektual NU. Beliau adalah sosok yang memastikan bahwa setiap gerak langkah jam’iyyah di masa lalu tidak hilang ditelan zaman. Berkat ketelatenannya, sejarah bukan lagi sekadar dongeng lisan, melainkan bukti fisik yang autentik. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan kegigihan para pendiri NU dengan rasa ingin tahu generasi masa kini dan masa depan.
Warisan yang ditinggalkan beliau beserta keluarganya adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Di dalam dekapan kasih sayangnya, tersimpan rapi arsip-arsip yang mencakup embrio berdirinya NU, mulai dari pergerakan Nahdlatul Wathan hingga forum pemikiran Taswirul Afkar. Tidak hanya itu, dokumen krusial seperti catatan Komite Hijaz dan naskah asli Resolusi Jihad yang mengobarkan semangat perjuangan 10 November pun terjaga dengan murni di bawah pengawasannya.
Selama masa hidupnya, Kiai Chisni dikenal sangat aktif melakukan penyelamatan manuskrip bersejarah. Beliau begitu telaten merawat risalah Muktamar periode awal, dari Muktamar ke-1 hingga ke-9, yang menjadi rujukan hukum dan organisasi bagi warga NU. Kecintaan beliau terhadap detail sejarah menunjukkan betapa beliau memahami bahwa organisasi yang besar adalah organisasi yang tidak pernah melupakan akar sejarahnya sendiri.
Upaya penyelamatan yang dilakukan beliau juga menyentuh aspek-aspek personal para pendiri. Koleksi beliau mencakup surat-surat pribadi, tulisan tangan asli, hingga kumpulan naskah pidato dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Melalui dedikasi ikhlasnya, dokumen-dokumen fisik tersebut tetap terjaga kemurniannya, memberikan kesempatan bagi para peneliti dan santri untuk menyentuh langsung jejak pemikiran Sang Sang Guru Besar.
Pusat pengabdian beliau bermuara di kediamannya yang terletak di Jl. Nyai Ageng Arem-Arem No. 35, Gresik, Jawa Timur. Rumah tersebut bukan sekadar hunian, melainkan “Baitul Arsyif” atau rumah arsip yang menjadi rujukan utama sejarah NU. Di sanalah ribuan dokumen vital tersimpan, menunggu untuk dipelajari oleh siapapun yang ingin menyelami kedalaman samudera sejarah Nahdlatul Ulama secara autentik.

Kedekatan keluarga beliau dengan sejarah begitu kental hingga memunculkan istilah khusus dari tokoh-tokoh besar. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan kecerdasannya, pernah menjuluki keluarga ini sebagai “Disket NU”. Julukan tersebut bukanlah isapan jempol belaka, melainkan pengakuan atas kapasitas luar biasa dalam menyimpan data dan informasi sejarah organisasi secara detail dan akurat, seolah-olah seluruh memori NU tersimpan dalam memori mereka.
Kini, Sang “Disket NU”, Sang Dokumentator, dan Sang Arsiparis itu telah kembali ke haribaan Sang Khalik. KH Moch. Chisni Umar Burhan telah menuntaskan tugasnya menjaga “surat-surat cinta” para kiai untuk bangsa ini. Selamat jalan, Kiai. Semoga segala dedikasi dan keikhlasan dalam menjaga muruah sejarah NU menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan semoga muncul generasi-generasi baru yang siap melanjutkan misi mulia ini.
Kru Media Warta Pena Satu Jatim Raya turut hadir dan menyampaikan Belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sang Kyai yang juga Paman dari Kaperwil Media Warta Pena Satu Jatim Raya Dewi Shinta. Lahu Al-Fatihah.
Anda Mungkin Suka Juga
MAKi Jatim Siap Hadapi Komunitas Salam Lima Jari Terkait Tuduhan Pungli yang Dialamatkan ke Pihak Sekolah SMK di Nganjuk
16 Maret 2026
Polrestabes Surabaya Amankan Tersangka Penganiayaan Berujung Maut di Simpang Dukuh
2 Desember 2025