Langit Mendung di Atas Jam’iyyah: Sang Penjaga Memori NU, KH Moch. Chisni Umar Burhan Berpulang
Dunia literasi dan sejarah kearsipan Nahdlatul Ulama (NU) dirundung duka yang mendalam. Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin saat fajar menyingsing pada hari ini, Rabu, 15 April 2026. Almaghfurlah KH Moch. Chisni Umar Burhan dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya dalam perawatan medis di RS Wonosobo. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kepergian beliau bukan sekadar hilangnya seorang tokoh, melainkan tercerabutnya salah satu pilar penjaga memori kolektif organisasi Islam terbesar di dunia ini.
Sosok KH Moch. Chisni Umar Burhan dikenal sebagai pewaris estafet perjuangan ayahandanya, KH Umar Burhan. Dedikasi beliau dalam menjaga warisan sejarah NU melampaui tugas administratif biasa; baginya, setiap lembar kertas adalah amanah peradaban. Di tangannya, dokumen-dokumen rapuh menjadi suara yang lantang bercerita tentang bagaimana para ulama terdahulu meletakkan fondasi kebangsaan dan keagamaan di tanah air.
Kepergian beliau meninggalkan lubang besar dalam khazanah intelektual NU. Beliau adalah sosok yang memastikan bahwa setiap gerak langkah jam’iyyah di masa lalu tidak hilang ditelan zaman. Berkat ketelatenannya, sejarah bukan lagi sekadar dongeng lisan, melainkan bukti fisik yang autentik. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan kegigihan para pendiri NU dengan rasa ingin tahu generasi masa kini dan masa depan.
Warisan yang ditinggalkan beliau beserta keluarganya adalah harta karun yang tak ternilai harganya. Di dalam dekapan kasih sayangnya, tersimpan rapi arsip-arsip yang mencakup embrio berdirinya NU, mulai dari pergerakan Nahdlatul Wathan hingga forum pemikiran Taswirul Afkar. Tidak hanya itu, dokumen krusial seperti catatan Komite Hijaz dan naskah asli Resolusi Jihad yang mengobarkan semangat perjuangan 10 November pun terjaga dengan murni di bawah pengawasannya.
Selama masa hidupnya, Kiai Chisni dikenal sangat aktif melakukan penyelamatan manuskrip bersejarah. Beliau begitu telaten merawat risalah Muktamar periode awal, dari Muktamar ke-1 hingga ke-9, yang menjadi rujukan hukum dan organisasi bagi warga NU. Kecintaan beliau terhadap detail sejarah menunjukkan betapa beliau memahami bahwa organisasi yang besar adalah organisasi yang tidak pernah melupakan akar sejarahnya sendiri.
Upaya penyelamatan yang dilakukan beliau juga menyentuh aspek-aspek personal para pendiri. Koleksi beliau mencakup surat-surat pribadi, tulisan tangan asli, hingga kumpulan naskah pidato dari Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari. Melalui dedikasi ikhlasnya, dokumen-dokumen fisik tersebut tetap terjaga kemurniannya, memberikan kesempatan bagi para peneliti dan santri untuk menyentuh langsung jejak pemikiran Sang Sang Guru Besar.
Pusat pengabdian beliau bermuara di kediamannya yang terletak di Jl. Nyai Ageng Arem-Arem No. 35, Gresik, Jawa Timur. Rumah tersebut bukan sekadar hunian, melainkan “Baitul Arsyif” atau rumah arsip yang menjadi rujukan utama sejarah NU. Di sanalah ribuan dokumen vital tersimpan, menunggu untuk dipelajari oleh siapapun yang ingin menyelami kedalaman samudera sejarah Nahdlatul Ulama secara autentik.

Kedekatan keluarga beliau dengan sejarah begitu kental hingga memunculkan istilah khusus dari tokoh-tokoh besar. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dengan kecerdasannya, pernah menjuluki keluarga ini sebagai “Disket NU”. Julukan tersebut bukanlah isapan jempol belaka, melainkan pengakuan atas kapasitas luar biasa dalam menyimpan data dan informasi sejarah organisasi secara detail dan akurat, seolah-olah seluruh memori NU tersimpan dalam memori mereka.
Kini, Sang “Disket NU”, Sang Dokumentator, dan Sang Arsiparis itu telah kembali ke haribaan Sang Khalik. KH Moch. Chisni Umar Burhan telah menuntaskan tugasnya menjaga “surat-surat cinta” para kiai untuk bangsa ini. Selamat jalan, Kiai. Semoga segala dedikasi dan keikhlasan dalam menjaga muruah sejarah NU menjadi amal jariyah yang terus mengalir, dan semoga muncul generasi-generasi baru yang siap melanjutkan misi mulia ini.
Kru Media Warta Pena Satu Jatim Raya turut hadir dan menyampaikan Belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas berpulangnya Sang Kyai yang juga Paman dari Kaperwil Media Warta Pena Satu Jatim Raya Dewi Shinta. Lahu Al-Fatihah.
DUGAAN KASUS PELECEHAN OLEH 16 MAHASISWA DI FH UI MENJADI ALARM KERAS BAGI DUNIA PENDIDIKAN KHUSUSNYA LINGKUNGAN INSTITUSI KAMPUS
Prof. Dr. Sri Warjiyati, S.H., M.H.
Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) pada bulan April 2026 belakangan ini menjadi sorotan luas publik. Peristiwa yang mencuat melalui beredarnya tangkapan layar percakapan dalam grup digital tersebut tidak hanya memantik kemarahan masyarakat, tetapi juga membuka kembali diskursus penting mengenai keamanan, etika, dan budaya di lingkungan pendidikan tinggi. Dugaan pelecehan yang terjadi disebut berupa tindakan verbal di ruang digital, dengan konten yang merendahkan serta mengobjektifikasi perempuan. Fenomena ini memperlihatkan bahwa kekerasan seksual tidak selalu hadir dalam bentuk fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ruang digital yang sering kali luput dari pengawasan.
Kasus ini mencuat setelah unggahan di media sosial menjadi viral dan memicu reaksi publik yang luas. Banyak pihak mendesak agar institusi kampus bertindak tegas dan transparan dalam menangani persoalan tersebut. Menanggapi hal ini, pihak Universitas Indonesia melalui Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) mengambil langkah awal berupa investigasi internal. Proses ini mencakup verifikasi laporan, pemanggilan pihak-pihak terkait, serta pengumpulan bukti dengan pendekatan yang mempertimbangkan perlindungan terhadap korban. Selain itu, organisasi mahasiswa di tingkat fakultas juga disebut telah mengambil tindakan awal dengan mencabut status keanggotaan beberapa pihak yang diduga terlibat. Apabila terbukti bersalah, para mahasiswa tersebut berpotensi menghadapi sanksi akademik berat hingga pemberhentian sebagai mahasiswa, serta kemungkinan konsekuensi hukum apabila ditemukan unsur pidana.
Namun demikian, kasus ini tidak dapat dilihat semata sebagai tindakan individu yang menyimpang. Peristiwa ini justru mencerminkan adanya persoalan yang lebih luas terkait budaya di lingkungan kampus. Ketika tindakan pelecehan dapat terjadi secara kolektif dalam suatu ruang komunikasi kelompok, hal ini menunjukkan adanya normalisasi atau setidaknya pembiaran terhadap perilaku yang merendahkan martabat orang lain. Lingkungan akademik yang seharusnya menjadi ruang aman untuk berpikir kritis dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan justru tercoreng oleh praktik yang bertentangan dengan prinsip-prinsip tersebut. Terlebih lagi, dugaan pelaku berasal dari lingkungan pendidikan hukum, yang secara normatif mempelajari nilai keadilan, etika, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia. Hal ini menjadi ironi sekaligus pengingat bahwa pemahaman hukum tidak selalu diikuti oleh internalisasi nilai moral dalam praktik sehari-hari.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya memahami kekerasan seksual dalam konteks yang lebih luas, termasuk dalam ruang digital. Di era teknologi saat ini, interaksi sosial tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan juga berlangsung secara intens di dunia maya. Sayangnya, ruang digital sering kali dianggap sebagai area yang “lebih bebas” sehingga batas-batas etika menjadi kabur. Padahal, pelecehan verbal, komentar bernuansa seksual, maupun objektifikasi yang terjadi dalam percakapan daring tetap memiliki dampak nyata, khususnya bagi korban. Dampak tersebut dapat berupa tekanan psikologis, rasa tidak aman, hingga penurunan kepercayaan diri. Oleh karena itu, penting untuk menegaskan bahwa ruang digital tetap merupakan bagian dari ruang sosial yang harus tunduk pada norma hukum dan etika yang berlaku.
Dalam konteks hukum di Indonesia, tindakan pelecehan seksual, termasuk yang dilakukan secara verbal dan digital, telah diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) menjadi landasan utama dalam menangani berbagai bentuk kekerasan seksual. Undang-undang ini mengakui bahwa kekerasan seksual tidak terbatas pada tindakan fisik, tetapi juga mencakup perbuatan yang menyerang martabat dan seksualitas seseorang secara non-fisik. Selain itu, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga dapat digunakan untuk menjerat tindakan yang mengandung muatan melanggar kesusilaan di ruang digital. Dalam lingkup pendidikan tinggi, Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 secara khusus mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di perguruan tinggi, termasuk kewajiban kampus untuk membentuk Satgas PPKS, menyediakan mekanisme pelaporan yang aman, serta menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku.
Keberadaan regulasi tersebut menunjukkan bahwa secara normatif, Indonesia telah memiliki kerangka hukum yang cukup untuk menangani kasus kekerasan seksual. Namun, tantangan terbesar terletak pada implementasi dan pembentukan budaya yang mendukung. Institusi pendidikan tidak hanya berperan sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter. Oleh karena itu, pendekatan terhadap kasus seperti ini tidak boleh berhenti pada penindakan semata, melainkan juga harus mencakup upaya pencegahan yang sistematis. Pendidikan mengenai etika, kesetaraan gender, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia perlu diintegrasikan secara lebih kuat dalam kehidupan akademik.
Selain itu, penguatan budaya kolektif di kalangan mahasiswa juga menjadi hal yang penting. Lingkungan pergaulan yang sehat harus mampu mendorong sikap saling menghargai dan keberanian untuk menegur atau melaporkan tindakan yang tidak pantas. Dalam banyak kasus, fenomena pembiaran atau tekanan kelompok sering kali menjadi faktor yang memperburuk situasi. Ketika individu merasa bahwa perilaku yang salah dianggap “normal” dalam kelompok, maka potensi terjadinya pelanggaran akan semakin besar. Oleh karena itu, membangun kesadaran kolektif menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kampus yang aman.
Dalam hal ini, dugaan kasus pelecehan yang melibatkan 16 mahasiswa FH UI ini harus menjadi momentum refleksi bersama bagi dunia pendidikan di Indonesia. Kasus ini bukan hanya persoalan individu atau institusi tertentu, melainkan cerminan tantangan yang lebih luas dalam menjaga integritas moral di lingkungan akademik. Dunia pendidikan dituntut untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab etis. Ketika nilai-nilai tersebut tidak tertanam dengan kuat, maka risiko terjadinya pelanggaran akan tetap ada, terlepas dari seberapa tinggi reputasi institusi yang bersangkutan.
Dengan demikian, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, adil, dan bermartabat harus dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan seluruh elemen, baik institusi, pendidik, mahasiswa, maupun masyarakat luas. Hanya dengan komitmen bersama, dunia pendidikan dapat benar-benar menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Prof. Dr. Sri Warjiyati, S.H., M.H.
(Guru Besar Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya & Alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI Lemhannas RI Tahun 2025).
HALAL BIHALAL MEMBUKA PINTU MAAF MEMBUKA PINTU REZEKI MEMPERERAT SILATURAHIM LINTAS GENERASI
Surabaya -Acara dibuka dengan sambutan Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh ibu Eka Gandi dan Sari tilawah oleh ibu Salma Yanuar, yang menjaga silaturahmi sebagai fondasi dalam yang solid di Warga Rungkut Asri. Dalam sambutan, ketua panitia ibu Feby Sambutan ketua Rt 004 Ibu Yulia dengan

dihadiri ketua Rw 009 Bapak H.M SAMA,UN SETYO AGUS BA dengan beliau juga mengajak Warga Rungkut Asri dan berkontribusi secara positif bagi perkembangan institusi.
Selanjutnya, sambutan turut disampaikan oleh Bapak Ahmad Zahid S.Pd.l Dalam pesannya, beliau menekankan pentingnya penguatan sinergi antarunit usaha serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dalam menghadapi tantangan dan peluang ke depan.

Suasana hangat pasca Hari Raya Idulfitri terasa kental dalam kegiatan Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh pada hari Minggu 12 April 2026. Mengusung tema “Bersinergi dalam Silaturahmi dan Bertumbuh dalam Keberkahan”, acara ini berlangsung dengan khidmat, lancar, dan penuh kebersamaan.

Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah yang hangat, dengan menikmati Hidangan dilengkapi dengan hiburan musik mata hati yang menambah semarak suasana. Para peserta memanfaatkan momen ini untuk saling bermaafan, memperkuat silaturahmi, serta membangun energi positif dalam menjalani aktivitas

Melalui kegiatan Halal Bihalal ini, berharap seluruh insan di dalamnya dapat terus memperkuat sinergi, menjaga kebersamaan, dan bertumbuh dalam keberkahan demi kemajuan bersama.(Yahya sunardi)
O P I N I : Lumpuhnya Hukum dalam Prahara Iran
Prof. Dr. Sri Warjiyati, S.H., M.H.
Guru Besar Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya & Alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI Lemhannas RI Tahun 2025Dunia hari ini seolah sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam. Memasuki hari ke-31 sejak pecahnya eskalasi besar-besaran antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, kita tidak hanya menyaksikan deru mesin perang dan kilatan rudal di langit Timur Tengah. Lebih dari itu, kita sedang menonton prosesi pemakaman perlahan dari tatanan hukum internasional yang selama ini kita agungkan. Perang ini bukan sekadar adu kekuatan militer antara poros Washington-Tel Aviv dengan Teheran, melainkan sebuah manifestasi dari kegagalan kolektif manusia dalam merawat perdamaian global. Krisis ini menghadirkan realitas pahit bahwa norma-norma yang disepakati pasca-Perang Dunia II kini tampak seperti naskah kuno yang mulai dilupakan dan kehilangan taringnya di hadapan kepentingan nasional yang pragmatis.
Erosi Norma dan Krisis Kemanusiaan
Keterbatasan hukum internasional yang paling mendasar adalah absennya mekanisme penegakan yang kuat. Saat ini, Resolusi Dewan Keamanan PBB sering kali hanya berakhir sebagai tumpukan kertas tanpa makna, sementara Piagam PBB lebih sering dipidatokan daripada dijalankan. Jika kita menelisik kembali, Pasal 1 Piagam PBB secara prinsipiel melarang perang demi menjaga perdamaian dan keamanan global. Lebih spesifik lagi, Pasal 2 ayat (4) menegaskan bahwa setiap negara harus menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial negara lain. Namun, apa yang kita saksikan di lapangan adalah akrobatik hukum yang memuakkan. Konsep self-defense atau membela diri yang diatur dalam piagam tersebut kini didefinisikan ulang secara sepihak menjadi pre-emptive strike atau serangan pendahuluan.
Pergeseran definisi ini sangat berbahaya. Membela diri kini bukan lagi berarti bertahan dari serangan yang datang, melainkan menyerang negara lain dengan alasan mencegah ancaman di masa depan. Akibatnya, garis pembatas antara kombatan dan warga sipil menjadi kabur. Berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahannya, warga sipil harus mendapatkan perlindungan mutlak. Namun, kenyataan di Teheran menunjukkan hal yang sebaliknya. Tragedi di Minab School, di mana lebih dari 160 anak perempuan tewas akibat misil Tomahawk, adalah bukti nyata bahwa hukum humaniter internasional sedang mengalami kelumpuhan total. Gedung sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik yang seharusnya menjadi zona terlarang kini justru menjadi sasaran dalam logika perang teknologi yang presisi namun nir-empati.
Gejala ini semakin diperparah dengan munculnya fenomena imperial presidency atau pemimpin-pemimpin kuat yang mendikte hukum sesuai keinginan mereka. Di tangan para pemimpin otoritarian dan illiberal, parlemen sering kali hanya menjadi stempel pembenaran atas agresi militer. Meskipun Konstitusi Amerika Serikat pada Pasal 1 Bagian 8 mewajibkan persetujuan Kongres untuk menyatakan perang, doktrin pre-existing authorization sering digunakan untuk menyiasati persyaratan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, hukum nasional maupun internasional tidak lagi berfungsi sebagai pengendali, melainkan sebagai alat legitimasi bagi kekuasaan yang kasar dan brutal. Kita sedang menapaki senja kala hukum internasional di mana kekuatan otot lebih dihargai daripada kekuatan argumen hukum.
Deterensi Runtuh di Selat Hormuz
Di sisi lain, Iran kini menghadapi apa yang disebut sebagai strategic loneliness atau kesendirian strategis. Selama puluhan tahun, Iran membangun doktrin forward defense dengan memproyeksikan kekuatan melalui jaringan proksi seperti Hizbullah, Houthi, dan berbagai milisi di kawasan. Namun, strategi yang mereka anggap sebagai pertahanan ini justru dibaca sebagai ancaman oleh negara-negara tetangganya. Akibatnya, ketika rudal Israel dan Amerika Serikat menghantam fasilitas mereka, dunia Islam cenderung diam. Rusia dan China, yang selama ini menjadi mitra strategis, juga memilih untuk menjaga jarak demi kepentingan nasional masing-masing. Kepentingan ekonomi China di Teluk dan keterlibatan Rusia di Ukraina membuat mereka tidak ingin terjun ke dalam tungku api yang bisa membakar diri mereka sendiri.
Runtuhnya daya tangkal atau deterensi Iran ini menjadi titik balik krusial. Deterensi, menurut teori pertahanan, sangat bergantung pada kapabilitas dan kredibilitas. Iran mungkin memiliki kapabilitas berupa ribuan rudal balistik, namun kredibilitasnya untuk membalas secara efektif mulai diragukan oleh lawan. Ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan Operasi Epic Fury dan Roaring Lion, mereka telah mengalkulasi bahwa risiko pembalasan dari Iran berada dalam batas yang dapat diterima. Namun, Iran bukanlah lawan yang mudah menyerah. Mereka memilih strategi perang atrisi atau perang berlarut yang bertujuan untuk menguras ekonomi lawan. Dengan menggunakan drone murah namun mematikan, Iran memaksa Israel dan Amerika mengeluarkan biaya pertahanan yang sangat mahal, seperti penggunaan rudal Patriot yang harganya ribuan kali lipat dari drone yang dicegatnya.
Salah satu tuas penekan paling strategis yang dimiliki Iran adalah penutupan Selat Hormuz. Selat sempit ini adalah urat nadi energi dunia, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak global atau 20 juta barel per hari melintas di sana. Gangguan pada jalur ini secara otomatis memicu lonjakan harga minyak dunia yang bisa menembus angka 150 dolar AS per barel. Bagi Iran, mengunci Selat Hormuz adalah senjata pamungkas, meskipun itu berarti memutus jalur ekspor mereka sendiri. Di sinilah letak dilema global: sebuah konflik regional di Timur Tengah dengan cepat berubah menjadi krisis energi yang mencekik ekonomi dunia, termasuk Indonesia yang sangat bergantung pada stabilitas jalur energi ini.
Resiliensi Inovasi di Ambang Kehancuran
Meskipun dalam kondisi terkepung dan di bawah sanksi yang sangat ketat selama empat dekade, Iran menunjukkan resiliensi intelektual yang mengejutkan. Sebagai ahli waris peradaban Persia yang melahirkan pemikir besar seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi, Iran mampu mengembangkan teknologi militer modern secara mandiri. Penggunaan rudal hipersonik Fattah-2 yang mampu melesat hingga Mach-15 menunjukkan bahwa sanksi internasional justru mempercepat proses kemandirian teknologi mereka. Namun, kemajuan teknologi ini harus dibayar dengan biaya sosial yang sangat mahal. Fenomena brain drain atau pelarian intelektual menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa tersebut, di mana banyak talenta terbaik mereka memilih untuk berkarier di luar negeri demi menghindari keterbatasan ekonomi dan politik.
Bagi Indonesia, prahara di Iran adalah alarm operasional yang sangat nyata. Dampaknya terasa langsung pada ketahanan energi nasional. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia memiliki kerentanan struktural yang mengkhawatirkan. Data menunjukkan bahwa cadangan strategis minyak kita hanya mampu bertahan untuk sekitar 20 hingga 23 hari konsumsi nasional. Setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar 1 dolar AS berpotensi menambah beban anggaran negara hingga Rp 10,3 triliun. Jika perang ini terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap tertutup, Indonesia bisa terperosok ke dalam situasi darurat energi yang dalam. Ketergantungan pada impor, ditambah dengan defisit produksi domestik yang mencapai 1 juta barel per hari, membuat kita sangat rapuh terhadap guncangan geopolitik.
Oleh karena itu, Indonesia perlu segera melakukan langkah-langkah strategis. Diversifikasi sumber impor dari wilayah non-Timur Tengah seperti Afrika Barat atau Amerika Latin menjadi sebuah keniscayaan. Selain itu, optimalisasi Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebagai jalur perdagangan alternatif harus segera ditingkatkan. Secara diplomatis, Indonesia melalui mekanisme PBB harus lebih vokal mendorong penghentian permusuhan. Kita tidak boleh lupa bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian kita, Kontingen Garuda yang bertugas di bawah mandat UNIFIL, kini berada dalam risiko tinggi akibat melubernya front pertempuran ke Lebanon selatan. Netralitas mandat PBB tidak lagi memberikan jaminan keselamatan otomatis di medan yang dipenuhi oleh teknologi drone dan artileri berat.
Sebagai penutup, perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran ini adalah cermin buram bagi peradaban modern. Kita menyaksikan bagaimana manusia membakar bumi untuk menguasai sumber daya fosil yang pada akhirnya justru memperburuk krisis iklim. Emisi karbon yang dilepaskan dalam dua pekan perang ini setara dengan emisi tahunan puluhan negara kecil. Keamanan nasional tidak boleh lagi hanya dipandang dari jumlah pangkalan militer atau kecanggihan rudal, melainkan harus dibangun di atas fondasi hukum yang dihormati dan lingkungan yang layak huni. Jika tatanan hukum internasional terus dibiarkan lumpuh, maka masa depan yang kita wariskan hanyalah sebuah dunia yang penuh dengan guncangan ketidakpastian dan ketidakadilan. Sudah saatnya kita menuntut ulang makna keamanan yang sesungguhnya—keamanan yang lahir dari kepatuhan terhadap hukum, bukan dari ujung laras senjata.
Prof. Dr. Sri Warjiyati, S.H., M.H., Guru Besar Ilmu Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya & Alumni Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) Angkatan XXVI Lemhannas RI Tahun 2025.
warjiyatisri@uinsa.ac.id
Fakultas Syariah dan Hukum.
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya
Sinergi Kasih dan Edukasi: Momen Hangat Halal Bihalal Keluarga Besar Wonder Woman Bersama PKBI Gresik

GRESIK – Suasana penuh kehangatan menyelimuti kediaman di Jl. Baja IX No. 15, PPI Gresik, pada Selasa, 07 April 2026. Keluarga Besar Wonder Woman menggelar acara Halal Bihalal yang bekerja sama dengan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Gresik. Pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi pasca-Lebaran, melainkan sebuah manifestasi dari semangat pemberdayaan perempuan dan kepedulian sosial yang menjadi napas utama kedua organisasi tersebut.


Ketua Panitia, Dewi Shinta, SF, bersama Ketua Wonder Woman sekaligus Ketua PKBI Kabupaten Gresik Hj. Sibiyanah Zubaidah Sabar, S.Sos. dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menyelaraskan visi antaranggota. Menurutnya, kolaborasi dengan PKBI merupakan langkah strategis untuk membawa misi kemanusiaan yang lebih luas, terutama dalam isu kesehatan dan kesejahteraan keluarga. Dedikasi kepanitiaan di bawah arahan Dewi Shinta memastikan acara berjalan khidmat dengan sentuhan kekeluargaan yang kental.
Acara ini terasa kian istimewa dengan kehadiran Wakil Bupati Gresik, dr. H. Asluchul Alif, M.Kes., M.M., M.H.P. Kehadiran beliau memberikan suntikan semangat bagi para anggota komunitas yang didominasi oleh kaum perempuan penggerak sosial. Dalam sambutannya, dr. Alif menekankan pentingnya peran komunitas seperti Wonder Woman dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam menjaga ketahanan keluarga dan kesehatan masyarakat di wilayah Kabupaten Gresik.

Selain sebagai wadah saling memaafkan, momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi antara Wonder Woman dan PKBI Gresik. Keduanya sepakat bahwa edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga adalah pilar penting bagi kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa gerakan sosial yang inklusif mampu menjangkau lapisan masyarakat hingga ke tingkat akar rumput dengan pendekatan yang lebih humanis dan edukatif.

Puncak acara diisi dengan siraman rohani yang mencerahkan dari Dr. H. Mohammad Qosim, M.Si. Sebagai sosok yang pernah menjabat sebagai Wakil Bupati Gresik selama dua periode (2010–2021), kehadirannya membawa kerinduan tersendiri bagi warga. Dalam tausiyahnya, beliau mengupas makna mendalam dari halal bihalal sebagai jembatan untuk menyambung tali persaudaraan yang sempat merenggang dan membersihkan hati dari segala prasangka.
Dr. Qosim menyampaikan bahwa keberkahan sebuah daerah sangat bergantung pada sejauh mana masyarakatnya mampu menjaga kerukunan dan saling menolong. Beliau memuji konsistensi komunitas Wonder Woman dan PKBI yang terus bergerak menebar manfaat tanpa lelah. Pesan-pesan yang disampaikan dengan gaya bahasa yang santun dan penuh kearifan, membuat suasana tausiyah terasa sangat interaktif, inspiratif, sekaligus menyentuh sisi spiritual para undangan yang hadir.

Diskusi hangat juga mengalir di sela-sela acara yang diiringi oleh Qasidah Al Ikhlas Nada, di mana para pengurus PKBI Gresik memberikan literasi singkat mengenai pentingnya perencanaan hidup bagi generasi muda. Hal ini sejalan dengan visi “Wonder Woman” yang tidak hanya fokus pada aksi sosial, tetapi juga kecerdasan dalam mengelola dinamika keluarga yang sehat. Edukasi ini menjadi nilai tambah yang membedakan acara ini dari sekadar seremoni formal lainnya, memberikan bekal pengetahuan praktis bagi setiap hadirin.
Antusiasme peserta terlihat jelas dari dialog yang terbangun selama acara berlangsung. Banyak dari mereka yang merasa mendapatkan pencerahan baru mengenai bagaimana menyeimbangkan peran sosial dengan tanggung jawab domestik. Kesadaran kolektif ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi tumbuh kembang generasi masa depan di Gresik, selaras dengan semangat kolaborasi yang diusung oleh pemerintah daerah saat ini.

Sebagai penutup, acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh Dr. Qosim, memohon keberkahan untuk seluruh warga agar tetap rukun dan sejahtera. Sesi ramah tamah dan foto bersama menjadi penutup yang manis, memperlihatkan wajah-wajah penuh optimisme dari para penggerak “Wonder Woman” dan jajaran PKBI yang siap melanjutkan perjuangan sosial mereka. Sinergi ini membuktikan bahwa dengan kebersamaan, setiap tantangan pembangunan manusia di Kabupaten Gresik akan lebih mudah teratasi.

Sinergi Apmiso dan Unitomo: Perkuat Ekonomi Kerakyatan Melalui Kolaborasi Strategis dan Inovasi Perbankan Syariah

SURABAYA – Suasana hangat penuh kekeluargaan menyelimuti Auditorium Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya dalam gelaran Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso (Apmiso) Jawa Timur, Selasa, 07 April 2026. Acara yang menggandeng Unitomo sebagai mitra strategis ini didukung penuh oleh Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai sponsor utama, menjadi momentum penting bagi kebangkitan UMKM sektor kuliner di Jawa Timur.
Mengawali rangkaian acara, Ketua Panitia, Santa Benedekta, menyampaikan laporan dengan nada penuh apresiasi. Beliau menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kerja keras dan dedikasi seluruh jajaran panitia yang telah mempersiapkan acara ini dengan matang. Menurutnya, keberhasilan acara ini bukan hanya soal seremonial, melainkan wujud nyata soliditas antaranggota dalam menjaga marwah organisasi.

Ketua DPW Apmiso Jawa Timur, Deky Sugeng A., SE., dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan struktur organisasi di tingkat wilayah. Beliau menegaskan bahwa DPW akan terus menjadi garda terdepan dalam mendampingi para pedagang mie dan bakso agar mampu naik kelas melalui berbagai program pemberdayaan dan kemitraan strategis yang berkelanjutan.
Semangat kerakyatan semakin terasa saat Ketua Umum DPP Apmiso, Drs. Lasiman, S.Pd., memberikan pidatonya. Beliau mengingatkan bahwa mie dan bakso adalah makanan sejuta umat yang menjadi urat nadi ekonomi rakyat kecil. Dengan mengusung tema “Apmiso Bersatu, Ekonomi Kuat, Rakyat Sejahtera”, Lasiman mengajak seluruh anggota untuk tetap kompak di bawah naungan asosiasi demi menghadapi tantangan ekonomi global.

Kehadiran Pembina DPP Apmiso, Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., M.H., memberikan suntikan moral yang luar biasa bagi para hadirin. Beliau memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap agar Apmiso tidak hanya menjadi wadah dagang, tetapi juga instrumen untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa melalui kemandirian ekonomi.
Salah satu momen monumental dalam acara ini adalah penandatanganan Nota Kesepahaman (MOU) antara DPW Apmiso Jatim dengan Universitas Dr. Soetomo. Kerjasama ini dirancang untuk menjembatani dunia usaha dengan akademisi, di mana Unitomo akan memberikan pendampingan riset, inovasi produk, hingga pelatihan manajemen bagi para anggota Apmiso guna meningkatkan daya saing di pasar modern.

Sebagai pendukung utama, Bank Syariah Indonesia (BSI) turut mengambil peran edukatif melalui sesi sosialisasi program khusus. BSI memaparkan berbagai solusi perbankan syariah yang dapat diakses oleh para pelaku UMKM, mulai dari pembiayaan modal usaha yang ringan hingga sistem pembayaran digital yang memudahkan transaksi harian para pedagang mie dan bakso.
Integrasi antara praktisi lapangan, akademisi, dan lembaga keuangan dalam satu forum ini menunjukkan adanya ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan ekonomi mikro. Edukasi mengenai tata kelola keuangan syariah dan literasi perguruan tinggi diharapkan mampu mengubah pola pikir pedagang tradisional menjadi pengusaha yang lebih modern dan adaptif terhadap teknologi.
Dewi Shinta, SS yang saat ini menjabat sebagai Kepala Perwakilan Media Warta Pena Satu Jatim Raya bersama Agung Budi Utomo, SP sebagai Sekretaris Wilayah dan Yahya Sunardi sebagai Redaktur turut serta menghadiri dan meliput acara yang bergengsi tersebut.
Acara ditutup dengan ramah tamah dan diskusi santai, mempertegas bahwa sinergi lintas sektor adalah kunci utama kesejahteraan. Dengan dukungan tokoh nasional, institusi pendidikan, dan perbankan, Apmiso Jawa Timur optimistis bahwa mie dan bakso akan terus menjadi pilar utama yang menjaga stabilitas ekonomi rakyat Indonesia.
RAMADHAN ADALAH MOMEN BERBAGI KEBAIKAN MELALUI KEGIATAN BERBAGI BANSOS KEPEDULIAN MASYARAKAT
Bansos sembako memberikan manfaat langsung bagi keluarga penerima Ketua grup panitia BPK Suroto mengatakan aksi merupakan bantuan bansos kepedulian terhadap masyarakat
Pembagian BANSOS
Lokasi RT 06 RW 02
Kelurahan Kalisari
Kecamatan MulyorejoWarga Manyar sabrangan GG 1 no 37 RT 02 RW 01
Jln mulyorejo utara RT 01 RW 02
Ketua panitia pelaksana BPK Suroto mengatakan aksi merupakan bantuan bansos kepedulian terhadap masyarakat
Bansos sembako merupakan bantuan sosial yang berikan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
Grup semar menjalankan program ini secara nasional dan menyalurkannya secara berkala sesuai kebijakan anggaran.
Bantuan ini membantu keluarga mengakses pangan dengan lebih mudah. menyesuaikan mekanisme bantuan agar masyarakat dapat memanfaat secara efektif.

Masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan pokok dan mengurangi beban pengeluaran rumah tangga.
Grup semar berharap bantuan ini dapat meningkatkan ketahanan pangan keluarga dan menjaga stabilitas sosial.


Program bansos sembako menjadi bagian penting dari upaya Grup semar meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan
“Sangat bermanfaat, apalagi bagi kami yang masih dalam perjalanan. Terima kasih kepada grup semar yang telah berbagi,semoga berkah dan semakin jaya.(MWPS)
BGR Santuni 42 Anak Yatim dan 31 Janda pada HUT Ke-4 di Surabaya
Surabaya – Komunitas BGR menggelar kegiatan santunan kepada 42 anak yatim dan 31 janda dhuafa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-4. Kegiatan sosial tersebut dilaksanakan pada Jumat, 13 Maret 2026 di Warung Prasmanan Bu Ais, Jalan Progo No. 10 Surabaya.

Acara yang berlangsung penuh kebersamaan ini dihadiri anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Sukadar, serta pembina BGR, Prof. Siswanto. Dalam kesempatan tersebut, para tamu undangan memberikan motivasi kepada anak-anak yatim yang hadir agar tetap semangat menjalani kehidupan dan pendidikan.
Dalam sambutannya, Sukadar membagikan kisah perjalanan hidupnya yang pernah mengalami kondisi serupa dengan anak-anak yatim. Ia mengungkapkan bahwa saat masih duduk di bangku sekolah dasar dirinya telah ditinggal ibunda, dan ketika memasuki bangku SMP juga harus kehilangan sang ayah.
“Namun kondisi tersebut tidak membuat saya patah semangat. Saya tetap berusaha belajar dan berjuang hingga akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan sampai sarjana dan saat ini dipercaya menjadi anggota DPRD Kota Surabaya selama tiga periode,” ujarnya di hadapan para peserta.

Sementara itu, Prof. Siswanto selaku pembina BGR juga menyampaikan pesan penuh semangat kepada para anak yatim. Ia menegaskan bahwa keberadaan mereka sangat berarti dan harus mendapat perhatian bersama.
“Adik-adik semua adalah bagian dari keluarga besar kita. Kami di BGR menganggap kalian sebagai anak-anak kita sendiri.
Semoga kegiatan ini bisa memberi semangat agar terus belajar dan meraih cita-cita,” tuturnya.
Ketua BGR, Agus Sutikno, mengatakan kegiatan santunan ini merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus rasa syukur atas perjalanan organisasi yang telah memasuki usia empat tahun.
Menurutnya, kegiatan berbagi dengan anak yatim dan janda dhuafa diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan serta mengajak lebih banyak pihak untuk turut serta dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Acara berlangsung dengan penuh kehangatan, diisi dengan doa bersama, sholawat, serta penyerahan santunan kepada para penerima manfaat. Melalui kegiatan ini, BGR berharap dapat terus menebarkan kebaikan dan memperkuat kepedulian sosial di tengah masyarakat.(Hdyt)GRUP BUMM TEBAR KEBAIKAN BAGI TAKJIL MEWARNAI KAWASAN TAMAN MAKAM PAHLAWAN NGAGEL REJO SURABAYA
Kegiatan ini sebagai wujud kepedulian kami kepada masyarakat. Semoga apa yang kami berikan dapat bermanfaat bagi para pengguna jalan yang sedang menjalankan ibadah puasa,” ujarnya.

Para anggota BUMM tampak antusias turun langsung ke jalan untuk membagikan takjil kepada para pengendara motor, sopir angkutan, hingga masyarakat sekitar yang melintas di Taman makam pahlawan Jalan NGAGEL REJO
Kegiatan berbagi takjil tersebut berlangsung dengan tertib dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Diharapkan kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilakukan untuk masyarakat.
Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan kembali terpancar di sudut Kota Pahlawan. Kali ini, Grup Bumm menunjukkan kepedulian sosialnya dengan menggelar aksi “Ramadhan Berkah” berupa pembagian takjil gratis bagi para pengguna jalan yang melintas di kawasan strategis Taman makam pahlawan Jalan NGAGEL REJO, atau yang lebih dikenal dengan kawasan Taman makam pahlawan NGAGEL REJO, Surabaya.

Sejak pukul 16.30 WIB, para anggota Grup Bumm sudah mulai berkumpul dan melakukan persiapan di bahu jalan. Dengan seragam khas dan senyum ramah, mereka menata ratusan paket takjil yang siap didistribusikan kepada masyarakat. Antusiasme anggota terlihat sangat tinggi, mencerminkan nilai kekeluargaan dan solidaritas yang menjadi fondasi utama grup ini.
Tepat pukul 17.00 WIB, aksi pembagian dimulai. Arus lalu lintas yang cukup padat di sore hari membuat keberadaan posko takjil ini menjadi magnet bagi para pengendara, mulai dari pengemudi ojek online, buruh pabrik yang pulang kerja, hingga keluarga yang sedang dalam perjalanan. Meski jalanan cukup ramai, pembagian tetap berjalan tertib dan teratur.
Ketua Panitia Pelaksana, Nyak tin, turun langsung memimpin jalannya kegiatan di lapangan. Beliau memastikan setiap paket tersampaikan dengan baik kepada mereka yang membutuhkan. Menurutnya, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk nyata kehadiran Grup Bumm di tengah masyarakat untuk berbagi kebahagiaan di bulan yang penuh ampunan.
“Kami memilih lokasi Taman makam pahlawan NGAGEL REJO karena mobilitas masyarakat di sini sangat tinggi menjelang waktu berbuka. Banyak saudara kita yang masih terjebak di jalan saat adzan maghrib berkumandang, sehingga paket takjil ini diharapkan bisa membantu mereka membatalkan puasa tepat waktu,” ujar Nyak tin di sela-sela kesibukannya.
Suasana hangat begitu terasa saat para anggota Grup Bumm menyapa satu per satu pengendara yang menepi. Tak butuh waktu lama, ratusan paket yang berisi penganan manis dan minuman segar tersebut ludes dibagikan. Kecepatan dan ketepatan koordinasi panitia di bawah arahan NYAK TIN membuat acara ini berlangsung efektif namun tetap berkesan.
Respon positif pun mengalir deras dari para pengguna jalan. Banyak pengendara yang menyempatkan diri berhenti sejenak untuk menerima pemberian dengan raut wajah syukur. Kehadiran aksi sosial seperti ini dianggap sangat membantu, terutama bagi mereka yang menempuh jarak jauh dan tidak sempat mencari warung untuk berbuka.
Salah seorang pengendara motor yang melintas memberikan apresiasinya dengan tulus. “Sangat bermanfaat, apalagi bagi kami yang masih dalam perjalanan.

Terima kasih kepada Grup BUMM yang telah berbagi, semoga berkah dan semakin jaya,” ucapnya sembari melanjutkan perjalanan dengan senyum mengembang.
Aksi pembagian takjil ini berakhir sesaat sebelum waktu berbuka puasa tiba.
Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa kepedulian kolektif dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Grup BUMM berharap kegiatan “Ramadhan Berkah” ini dapat terus berlanjut di masa depan dan menginspirasi komunitas lain untuk melakukan hal serupa demi kemaslahatan bersama.(Hdyt)
Bupati Samosir Pimpin Upacara Kenegaraan Pemakaman Camat Palipi Roberd Sinaga
Samosir, Sumatera
Bupati Samosir, Vandiko T. Gultom, memimpin langsung upacara kenegaraan pemakaman Camat Palipi, Roberd Sinaga, yang digelar di Huta Simanampang, Desa Sinaga Uruk, Kecamatan Nainggolan, Sabtu ( 7/3/2026 ).
Turut hadir Anggota DPRD Samosir Eben Ezer Situmorang, Sekdakab. Samosir Marudut Tua Sitinjak, para SAB, para Asisten Sekdakab. Samosir, seluruh pimpinan OPD Kab. Samosir.
Upacara pemakaman berlangsung khidmat. Prosesi penghormatan terakhir diawali dengan pembentangan bendera merah putih di atas peti jenazah oleh para kepala desa. Selanjutnya, para camat se-Kabupaten Samosir bertugas mengusung jenazah menuju liang lahat.
Dalam upacara tersebut, Bupati Samosir selaku inspektur upacara membacakan teks Apel Persada sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum. Vandiko kemudian menaburkan tanah dan bunga ke liang kubur sebagai tanda perpisahan terakhir.Bupati Samosir Vandiko T. Gultom menyampaikan duka cita mendalam atas berpulangnya Camat Palipi Roberd Sinaga. Ia mengaku kehilangan sosok aparatur yang memiliki dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.
Atas nama jajaran Pemerintah Kabupaten Samosir kami turut berduka cita. Kami sangat terkejut atas kepergian beliau. Almarhum adalah sosok pamong yang memiliki tanggung jawab besar terhadap pekerjaannya. Bahkan dalam keadaan sakit, beliau tetap berupaya memberikan pikiran dan kontribusi bagi kemajuan Samosir, ujar Vandiko.
Vandiko menilai almarhum merupakan sosok pemimpin yang mampu menjadi panutan dan mengayomi masyarakat khususnya di Kecamatan Palipi. Selama bertugas, beliau menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab dan berusaha semaksimal mungkin melayani masyarakat. Kami hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Beliau telah menuntaskan tugas pengabdiannya sebagai pemimpin pelayanan di Kecamatan Palipi, katanya.
Ia juga berharap seluruh dedikasi dan pengabdian almarhum selama melayani masyarakat dapat diterima oleh Tuhan. Semoga seluruh kebaikan dan ketulusan beliau diterima Tuhan, diampuni segala dosa-dosanya dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya, ucap Vandiko.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, Vandiko mengharapkan agar tetap tabah dan kuat menghadapi cobaan tersebut. Ia juga berpesan agar anak-anak almarhum dapat meneladani semangat pengabdian yang telah ditunjukkan orang tua mereka. Kami berharap keluarga yang ditinggalkan tetap kuat dan tabah. Semoga anak-anak almarhum dapat membanggakan keluarga dengan meneladani semangat pelayanan yang telah ditunjukkan almarhum kepada masyarakat, katanya.
Diketahui, Camat Palipi Roberd Sinaga lahir pada 16 September 1968 dan meninggal dunia pada 3 Maret 2026 dalam usia 58 tahun setelah menjalani perawatan akibat sakit.
(Marlen s)