Bukan Sekadar Simbol, Enok Srie Jadikan Aksi Sosial Laskar Gibran Sebagai Senjata Perubahan
Jakarta wartapenasatu.com
Dobrak Sekat Birokrasi, Enok Srie Pimpin Manuver Kemanusiaan Nasional DPP Laskar Gibran
JAKARTA – Enok Srie telah mengubah wajah bantuan sosial menjadi sebuah manuver taktis yang mematikan bagi ketimpangan. Di bawah komandonya, gerakan kemanusiaan Laskar Gibran kini bukan lagi sekadar bakti sosial musiman, melainkan sebuah aksi nasional yang sistematis, cepat, dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat kelas bawah. Sebagai penggerak utama di tingkat DPP, ia adalah mesin yang memastikan nurani organisasi tetap menderu di jalur yang benar.
Kiprahnya di level nasional dikenal sangat agresif dan tak kenal kompromi dalam urusan kepedulian masyarakat. Enok Srie berhasil mentransformasi agenda sosial Laskar Gibran dari sekadar seremoni menjadi gerakan taktis yang responsif. Di tangannya, mandat organisasi diterjemahkan menjadi aksi cepat tanggap yang mampu menembus sekat-sekat birokrasi demi menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan bantuan di seluruh pelosok negeri.
Bagi Enok, gerakan sosial adalah sebuah “pertempuran” melawan ketidakadilan akses. Ia tidak hanya mengandalkan bantuan logistik, tetapi turun tangan langsung memperkuat strategi pemberdayaan masyarakat. Setiap langkahnya dirancang secara presisi untuk memastikan bahwa kehadiran Laskar Gibran bukan sekadar numpang lewat, melainkan meninggalkan jejak perubahan yang nyata dan terukur di setiap daerah yang disambangi.
Gaya kepemimpinannya yang kolaboratif namun tegas membuat Enok Srie disegani oleh berbagai kalangan. Ia dikenal lihai dalam membangun sinergi lintas sektoral, menyeret berbagai elemen—mulai dari relawan militan hingga pemangku kepentingan tingkat tinggi—untuk masuk ke dalam satu barisan kemanusiaan. Baginya, ego sektoral harus runtuh jika sudah berbicara tentang kepentingan rakyat banyak.
”Gerakan sosial tidak boleh bersifat musiman atau sekadar memadamkan api,” tegas Enok dalam berbagai kesempatan. Prinsip inilah yang ia tanamkan kuat-kuat di internal DPP Laskar Gibran. Ia terus menuntut keberlanjutan program, memaksa organisasi untuk berpikir jauh ke depan tentang bagaimana dampak dari sebuah aksi kemanusiaan dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh generasi mendatang.
Di tengah situasi nasional yang dinamis, Enok Srie memosisikan Laskar Gibran sebagai organisasi yang adaptif dan “haus” akan solusi. Ia tidak membiarkan pengurus bersantai di zona nyaman; ia mendorong seluruh elemen untuk tetap responsif dan waspada terhadap setiap pergeseran kondisi sosial. Kehadiran fisik di tengah masyarakat baginya adalah harga mati bagi sebuah organisasi yang memiliki visi besar bagi bangsa.
Dengan integritas yang tak tergoyahkan, Enok Srie terus mengukuhkan posisinya sebagai benteng kemanusiaan di tingkat nasional. Melalui tangan dinginnya, Laskar Gibran kini bukan lagi sekadar nama di atas kertas, melainkan simbol harapan dan aksi nyata yang kehadirannya selalu dinanti oleh masyarakat di seluruh Indonesia.
Anda Mungkin Suka Juga
Inovasi dan Dedikasi Tujuh Dekade: Ditlantas Polda Kalteng Peringati Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-70
23 September 2025
Babinsa Manyar Dampingi Petani Dalam Kegiatan Serapan Gabah di Desa Gumeno
21 Oktober 2025