Transformasi Desa: Bukti Keberhasilan Program Binaan Yayasan LUBKITA
Sumedang wartapenasatu.com
Indriyani: Pelopor Pemberdayaan Desa yang Mengubah Wacana Menjadi Kenyataan
SUMEDANG – 3-4-2026


Di tengah tantangan pembangunan pedesaan yang kompleks, nama Indriyani kini menjadi sorotan sebagai sosok yang tidak hanya berbicara, tetapi juga bergerak nyata. Sebagai Ketua Yayasan LUBKITA, ia telah membuktikan bahwa ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi desa bukan sekadar slogan, melainkan visi yang bisa diwujudkan melalui kerja keras, inovasi, dan kepedulian yang tulus.
Bagi Ibu Indriyani, perubahan tidak bisa datang dari atas saja. Ia percaya bahwa kekuatan terbesar ada di akar rumput—di tangan para petani, peternak, dan warga desa yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa. Filosofi inilah yang menjadi landasan setiap langkah Yayasan LUBKITA, membawa perubahan nyata di berbagai wilayah, termasuk di Desa Margamukti, Sumedang.
Di bawah kepemimpinannya, program pemberdayaan tidak hanya berhenti pada bantuan fisik atau modal semata. Ia merancang pendekatan holistik yang mencakup transfer teknologi, edukasi manajemen, hingga penguatan mental kewirausahaan. Hasilnya? Petani yang dulu hanya mengandalkan kebiasaan kini telah bertransformasi menjadi pengusaha tani yang cerdas, mandiri, dan berdaya saing.
Sektor perkebunan melon dan edamame, peternakan domba, hingga perikanan yang sebelumnya terbengkalai kini bangkit menjadi sentra produksi yang produktif. Semua ini adalah bukti nyata dari visi dan kepemimpinan Ibu Indriyani yang mampu menyatukan potensi alam dengan kemampuan manusia, menciptakan siklus ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Tidak heran jika kiprahnya mulai mendapat perhatian luas. Ia menjadi contoh nyata bagaimana seorang perempuan bisa menjadi agen perubahan yang kuat, membawa dampak positif bagi ribuan keluarga. Bagi banyak orang, Ibu Indriyani bukan hanya pemimpin lembaga, tetapi juga inspirasi bahwa dengan tekad yang bulat, tidak ada potensi desa yang tidak bisa digali dan dikembangkan.
“Kemandirian adalah kunci. Kami hadir bukan untuk menggantikan peran mereka, tetapi untuk membuka jalan dan memberikan sayap agar mereka bisa terbang sendiri,” ujarnya tegas. Kalimat ini mencerminkan filosofi kepemimpinannya yang mengutamakan keberlanjutan dan kemandirian jangka panjang.
Hari ini, langkah Ibu Indriyani di Desa Margamukti menjadi bukti bahwa satu orang dengan visi yang jelas bisa menggerakkan banyak orang, mengubah satu desa, dan menjadi pelopor bagi perubahan yang lebih besar di negeri ini. Yayasan LUBKITA di bawah komandonya terus menjadi mercusuar harapan, membuktikan bahwa Indonesia yang kuat dimulai dari desa yang sejahtera.
Ramadhan Berkah 2,500 Warga Tiga Kabupaten Terima Bantuan Sembako Dari PT Silva Inhutani
PT Silva Inhutani Lampung memberikan bantuan berupa sembako kepada 2,500 orang kurang lebih yang tinggal di Register 45 Mesuji Tulang Bawang Dan Tulang Bawang Barat.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Pimpinan PT Silva inhutani bersama Uspika dan Kepolisian, KPH, serta Perwakilan Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang bawang Tulang Bawang Barat setempat. Hal itu terpantau oleh awak media saat pembagian bantuan tersebut pada Senin 15/3/2026.
Bantuan yang sudah dikemas oleh panitia lalu diserahkan kepada Karyawan dan Masyarakat, yang dinilai selama ini menjadi pekerja dari perusahaan PT. Silva Inhutani serta panitia juga menyerahkan sembako kepada Masyarakat di lingkungan Register 45.
Saat di konfirmasi, Pimpinan PT Silva Inhutani Lampung yaitu Guntur Sinaga Humas mengatakan, “bantuan itu telah di serahkan, banyak dari petani, Karyawan, Warga Register 45 yang jalin kemitraan, Tiga Penyangga Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang Tulang Bawang Barat sembako itu saya harapkan tepat sasaran dan serta dapat meringankan masyarakat linkungan setempat,” harapnya.
”Kami berharap bantuan ini dapat meringankan sebagian masyarakat Register 45 yang bantuan itu kami serahkan pada 2,500 Orang petani masyarakat Mesuji Lampung, Kabupaten Tulang bawang dan Kemitraan di Register 45 Mesuji Lampung. Bantuan sembako itu saya serahakan, saya sebagai Pimpinan PT Silva inhutani dan saya bersama Uspika serta Kepolisian setempat, KPH bahkan Perwakilan dari Kabupaten Mesuji dan Kabupaten Tulang bawang,”
Bantuan yang sudah dikemas oleh panitia diserahkan kepada Karyawan dan Masyarakat, yang di nilai selama ini menjadi Pekerja dari perusahaan PT. Silva Inhutani serta panitia juga ikut menyerahkan sembako tersebut kepada warga Register 45, ujar Guntur.
Salah satu penerima bantuan sembako dari PT Silva Inhutani bernama Sopan, ia mengatakan, “saya merasa berterimakasih banyak pada pihak PT serta para panitia atas bantuan ini, saya sangat terbantu atas bantuan sembako dari perusahaan inhuttani,” jelasnya.
Ramadhan Berkah SPBU 23.346.36 Tol Trans Sumatera KM 208 A Bagikan takjil gratis
Lampung -Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) SPBU 23.346.36 Tol trans sumatera KM 208 A kelurahan warga indah jaya kecamatan banjar agung kabupaten tulang bawang
menggelar kegiatan pembagian takjil kepada masyarakat Dan Pemudik pada Rabu (12/3/2026) sore.Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pertamina Berbagi Ramadan yang diinisiasi oleh PT Pertamina (Persero) sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat, khususnya para pelanggan SPBU selama menjalankan ibadah puasa. Arus Mudik balik Lebaran,
Sejak pukul 15.00 WIB, pengelola dan karyawan SPBU tampak membagikan paket takjil kepada para pelanggan yang datang mengisi bahan bakar. Pembagian dilakukan secara langsung kepada pengendara roda empat yang melakukan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM)di lokasi tersebut.
Pembagian takjil ini untuk wilayah Tol Trans Sumatera, Kabupaten Tulang Bawang Provinsi Lampung , kata Manajer SPBU di Alim, Kamis Manajer SPBU di Tol trans sumatera KM 208 A kelurahan warga indah jaya Kecamatan Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang Lampung.
Ia mengatakan, takjil dibagikan menjelang berbuka puasa di SPBU No 23.346.36 sejak awal Ramadhan dengan menerapkan protokol kesehatan.
Petugas SPBU setelah melakukan pengisian BBM langsung membagikan takjil kepada para pengendara kendaraan roda empat. Arus Mudik dan balik lebaran
Program ini dilakukan selama Ramadhan sebagai wujud terima kasih kepada konsumen setia Pertamina, sekaligus meningkatkan amal ibadah di bulan suci.
Dia juga menyebutkan seluruh karyawan akan bertugas sejak puasa pertama hingga H+15 Idul Fitri.,1447 H.
Persatuan Masyarakat Sipil Adalah Kunci Asta Cita
Visi Persatuan Sufmi Dasco Ahmad: Membangun Kekuatan Kolektif Masyarakat Sipil Demi Indonesia Maju
BANDUNG – Di tengah dinamika politik yang kerap memanas, Wakil Ketua DPR RI, Prof. DR. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H., melontarkan pesan kuat mengenai fundamental kebangsaan. Dalam acara peluncuran buku di Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini, beliau menekankan bahwa masyarakat sipil bukan sekadar penonton dalam proses bernegara, melainkan aktor utama yang memegang kunci persatuan nasional. Pesan ini menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali menoleh pada nilai-nilai luhur kebersamaan.
Dasco menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik atau ideologi merupakan keniscayaan dalam demokrasi, namun hal tersebut tidak boleh menjadi celah bagi perpecahan. Baginya, keberagaman pendapat di tengah masyarakat seharusnya tidak memicu fragmentasi yang melemahkan sendi-sendi negara. Sebaliknya, perbedaan tersebut harus dikelola menjadi energi kolektif yang dahsyat untuk mendorong perbaikan besar bagi republik tercinta.
Lebih lanjut, tokoh sentral Partai Gerindra ini mengingatkan bahwa kedaulatan sebuah bangsa sangat bergantung pada daya tahan masyarakat sipilnya. Jika rakyat mudah terprovokasi dan terpecah, maka fondasi stabilitas nasional akan goyah. Oleh karena itu, kesadaran untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok menjadi mandat yang tidak bisa ditawar lagi bagi seluruh warga negara Indonesia.
Pernyataan ini mengandung makna filosofis yang dalam: masa depan Indonesia tidak hanya terletak di tangan para elit politik di Jakarta atau di dalam gedung parlemen. Masa depan bangsa ini justru ditentukan oleh denyut nadi kesadaran masyarakat di akar rumput. Tanpa partisipasi aktif dan kedewasaan masyarakat sipil dalam menjaga kerukunan, transformasi menuju Indonesia Maju akan sulit untuk diakselerasi secara optimal.
Semangat yang diusung oleh Dasco sejalan dengan konsep patriotisme gotong royong yang menjadi napas perjuangan bangsa. Beliau memandang bahwa setiap kritik, masukan, bahkan perbedaan tajam sekalipun, merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Tugas negara adalah merajut seluruh aspirasi tersebut menjadi satu kesatuan visi yang solid demi mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.
Dalam konteks akademik di ITB, pesan ini juga menjadi ajakan bagi kaum intelektual dan mahasiswa untuk berperan sebagai jembatan persatuan. Masyarakat sipil yang tercerahkan harus mampu menjadi penengah di tengah polarisasi, sekaligus motor penggerak inovasi yang inklusif. Transformasi republik memerlukan sinergi antara kebijakan negara yang tepat sasaran dengan dukungan masyarakat sipil yang solid dan bersatu.
Sebagai penutup, gagasan Sufmi Dasco Ahmad ini menjadi refleksi penting bagi kita semua untuk kembali ke jati diri bangsa yang gemar bermusyawarah. Dengan menjadikan perbedaan sebagai modal sosial, Indonesia dipastikan akan memiliki ketahanan nasional yang tak tergoyahkan. Persatuan bukanlah tujuan akhir, melainkan prasyarat mutlak untuk memastikan kejayaan Nusantara tetap tegak berdiri hingga generasi mendatang.
Emak-Emak Militan 08 Harapkan Silaturahmi Lebaran dengan Presiden Prabowo
Jakarta wartapenasatu.com
Sinergi Srikandi Nusantara: PPN dan Emak-Emak Militan 08 Kawal Asta Cita hingga 2029JAKARTA – Gelora semangat perjuangan perempuan Indonesia kembali membuncah di tengah suasana suci Ramadan. Bertempat di Rumah Aspirasi Habiburokhman, Utan Kayu, Selasa (10/3), organisasi Perempuan Peduli Nusantara (PPN) bersama jajaran Ketua Umum Emak-Emak Militan 08 menggelar acara buka puasa bersama yang penuh khidmat sekaligus membakar semangat persatuan. Momen ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan manifestasi kesetiaan tanpa batas dari para pejuang perempuan yang selama ini menjadi garda terdepan pendukung Presiden Prabowo Subianto.Inge Mangundap, S.H., sosok sentral di balik PPN sekaligus kader senior DPP Gerindra sejak 2009, menegaskan bahwa kekuatan mereka bergerak dalam satu komando yang terstruktur. Beliau mengungkapkan bahwa gerak langkah para Ketua Umum Emak-Emak 08 senantiasa dimonitor langsung oleh tokoh kunci nasional, Prof. DR. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H. Ketua Harian DPP Gerindra dan Wakil Ketua DPR RI Hal ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam stabilitas politik nasional bukanlah sekadar pelengkap, melainkan pilar utama yang diperhitungkan secara strategis oleh pimpinan pusat Gerindra.Kedekatan Inge Mangundap dengan jajaran elit partai juga tercermin dari kepercayaan besar yang diberikan oleh DR. H. Habiburokhman, S.H., M.H., untuk melibatkan beliau dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) sejak 2016. Dengan posisi strategis tersebut, Inge bukan hanya sekadar pendukung, tetapi juga petarung di lapangan yang membidani kemenangan di Dapil Jakarta Timur. Maka tak heran, jika Rumah Aspirasi Habiburokhman kini berdiri tegak sebagai “Posko Perjuangan” PPN yang menjadi pusat komando aspirasi perempuan di ibu kota.Di tengah kehangatan berbuka puasa, sebuah asa besar diapungkan oleh para Ketua Umum Emak-Emak Militan 08. Dengan penuh rasa hormat, mereka menitipkan harapan agar dapat bersilaturahmi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto pada momentum Halal Bil Halal Idul Fitri mendatang. Keinginan ini lahir dari kerinduan yang mendalam untuk menyapa pemimpin yang mereka perjuangkan, sekaligus mempererat ikatan batin antara rakyat dan pemimpinnya di hari kemenangan yang fitri.Tak lupa, seruan doa dan ucapan “Bapak Presiden kita Di beri keberkahan selalu Dan kesehatan
” bergema dari bibir para srikandi ini untuk Presiden Prabowo serta seluruh jajaran pengurus Partai Gerindra. Ucapan ini bukan sekadar basa-basi Idul Fitri, melainkan simbol pembersihan jiwa demi menyongsong perjuangan yang lebih besar di masa depan. Semangat saling memaafkan ini menjadi bahan bakar baru bagi mereka untuk tetap solid dalam satu barisan yang tak tergoyahkan.Menyala dengan tekad yang bulat, PPN dan Emak-Emak Militan 08 secara tegas menyatakan janji setia untuk mengawal tuntas seluruh program kerja Asta Cita. Mereka menyadari bahwa tugas mengawal pemerintahan bukan hanya saat kampanye, melainkan memastikan setiap kebijakan Presiden Prabowo berdampak nyata bagi kesejahteraan Nusantara. Bagi mereka, keberhasilan Asta Cita adalah harga mati yang harus dijaga demi martabat bangsa di mata dunia.Menutup rangkaian acara dengan penuh optimisme, para emak-emak hebat ini memancangkan target tinggi untuk tahun 2029. Dengan pekik semangat yang menggetarkan ruangan, mereka berkomitmen untuk bersatu padu memastikan kemenangan Prabowo Subianto kembali pada Pemilihan Presiden mendatang. “Aamiin,” menjadi penutup doa yang mengiringi langkah mereka untuk terus bergerak, bekerja, dan berjuang demi Indonesia Raya yang berdaulat.”Bantu Ibu Rumah Tangga & Mekanik Nganggur, Yayasan Lumbung Kita Sodorkan Aplikasi Sakti ke Meja Wakil Presiden
Jakarta wartapenasatu.com
Sowan ke Mas Wapres, Yayasan Lumbung Kita & Laskar Gigih Berani Sodorkan Aplikasi ‘Sakti’ Lawan Pengangguran!
JAKARTA – Gerakan nyata menuju Indonesia Emas 2045 makin kencang ditiupkan dari markas Wakil Presiden RI. Pada Jumat (6/3/2026), Ketua Umum Yayasan Lumbung Kita Sejahtera, Bapak Stenly Wolf, bersama Ketua Koperasi Lubkita, Ibu Indriyani, bertandang langsung menemui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pertemuan strategis ini juga memboyong organisasi Laskar Gigih Berani di bawah komando Bapak Leonardo Sirait untuk mempresentasikan program pemberdayaan berbasis aplikasi digital.
Audiensi ini menjadi momentum krusial untuk memperkenalkan sebuah platform yang bukan sekadar aplikasi biasa, melainkan jembatan harapan bagi masyarakat yang haus akan peluang kerja. Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka menyambut positif inisiatif ini, menilai bahwa inovasi digital yang menyentuh akar rumput adalah kunci untuk menggerakkan roda ekonomi rakyat secara masif di seluruh penjuru negeri.
Aplikasi ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan sosial yang nyata di lapangan. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara ekonomi namun tetap ingin memprioritaskan waktu bagi sang buah hati. Melalui sistem ini, peluang usaha mikro bisa dijalankan dari rumah, memberikan ruang bagi para ibu untuk berdaya tanpa harus meninggalkan peran utama mereka di keluarga.
Tak hanya itu, aplikasi ini juga membidik para kepala keluarga yang memiliki keahlian teknis namun minim peluang. Sosok-sosok dengan skill otomotif mumpuni yang selama ini “menganggur” karena keterbatasan akses, kini diberikan panggung untuk mendapatkan proyek atau pekerjaan tambahan. Program ini memastikan bahwa keahlian terpendam masyarakat tidak lagi sia-sia hanya karena kurangnya ruang dan koneksi.
Sinergi antara Yayasan Lumbung Kita, Koperasi Lubkita, dan Laskar Gigih Berani menciptakan kekuatan tempur ekonomi yang unik. Leonardo Sirait menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya siap menjadi mesin penggerak yang memastikan teknologi ini tidak hanya berhenti di layar ponsel, tapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kelas bawah yang selama ini sulit menembus pasar kerja formal.
Target yang dipasang pun sangat ambisius dan berani: Aplikasi ini direncanakan akan menyisir 32 provinsi di seluruh Indonesia! Dengan cakupan nasional yang luas, gerakan ini diprediksi akan menjadi salah satu pilar penting dalam menekan angka pengangguran dan menciptakan kemandirian ekonomi yang merata dari Sabang sampai Merauke.
Dukungan hangat dari Mas Wapres Gibran menjadi bahan bakar tambahan bagi tim Lumbung Kita untuk segera tancap gas. Kolaborasi ini membuktikan bahwa ketika teknologi bertemu dengan empati dan dukungan pemerintah, visi Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar slogan, melainkan langkah nyata yang sedang dibangun hari ini demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.


GEN Z TIDAK GENGSI, SAATNYA JADI RAJA PANGAN DIGITAL BERSAMA LASKAR GIBRAN
Jakarta wartapenasatu.comGebrakan ‘LASKAR GIBRAN’ di Istana: Lawan Pengangguran Gen Z Lewat Digitalisasi Kebun & Ternak!
JAKARTA 6 Maret 2026 – Sebuah gerakan revolusioner baru saja diledakkan dari jantung pemerintahan. Bertempat di lingkungan Sekretariat Negara RI, Ketua Umum Laskar Gibran Leonardo Sirait berkolaborasi bersama Ketua Umum Koperasi Lumbung Kita, Indriyani, bersama Ketua Umum Yayasan Lumbung Kita Sejahtera, Stenly Wolf, resmi menggodok proyek besar: sebuah aplikasi digital yang dirancang khusus untuk menyulap sektor perkebunan dan peternakan menjadi “tambang emas” baru bagi Generasi Z.
Bukan sekadar wacana di atas kertas, pertemuan strategis ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pangan sedang dipersiapkan sebagai mesin tempur utama melawan angka pengangguran. Gagasan segar ini pun langsung disodorkan sebagai masukan krusial bagi Wakil Presiden RI, MAS GIBRAN RAKA BUMING RAKA,menekankan bahwa masa depan kedaulatan pangan nasional ada di tangan anak muda yang melek teknologi.
Indriyani menegaskan, selama ini ada tembok besar yang membuat Gen Z enggan melirik sektor pertanian. Melalui aplikasi yang tengah dikembangkan, ia ingin merobohkan stigma “kotor dan melelahkan” tersebut. “Sudah saatnya generasi muda melihat sektor perkebunan dan peternakan sebagai peluang masa depan. Jika dikelola dengan teknologi dan manajemen modern, sektor ini bisa menjadi sumber ekonomi yang sangat kuat,” tegas Indriyani dengan nada optimis.
Ekosistem digital ini diproyeksikan bakal menjadi jembatan canggih yang mengintegrasikan lahan, pemilik modal, peternak, hingga tenaga kerja muda dalam satu genggaman. Dengan sentuhan teknologi, profesi petani dan peternak bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional, melainkan karier profesional yang bergengsi dan memiliki nilai tawar ekonomi tinggi di pasar global.
Di sisi lain, Stenly Wolf menyoroti bahwa kunci dari ledakan gerakan ini adalah kolaborasi lintas organisasi. Ia menilai, tanpa sinergi yang solid, inovasi digital hanya akan menjadi pajangan. Stenly percaya bahwa keterlibatan berbagai elemen akan mempercepat lahirnya gerakan ekonomi berbasis pangan yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru dalam waktu singkat.
Untuk memastikan gerakan ini tak sekadar menjadi tren di dunia maya, mereka Berkolaborasi Yayasan Lumbung sejahtera Kita dan Koperasi LUBKITA organisasi kepemudaan LASKAR GIBRAN (Laskar Gagah Berani) yang dikomandoi oleh Leonardo Sirait. Organisasi ini dipasang sebagai “motor penggerak” di lapangan yang bertugas membakar semangat para pemuda untuk terjun langsung ke sektor produktif dan mengaplikasikan teknologi pertanian secara nyata.
Gerakan ini merupakan respons konkret atas tantangan bonus demografi Indonesia. Dengan mengawinkan semangat militan anak muda dan kecanggihan teknologi, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi yang selama ini diidam-idamkan. Gen Z kini ditantang untuk tidak lagi hanya menjadi konsumen, melainkan pemain kunci di sektor pangan nasional.
Visi besar ini bermuara pada satu titik: Indonesia Emas 2045. Jika ekosistem perkebunan dan peternakan berbasis digital ini berjalan mulus, pengangguran bukan lagi menjadi momok menakutkan, melainkan batu loncatan bagi lahirnya sumber daya manusia unggul yang siap membawa Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia.
SPBU 24.345.81Desa Jaya Sakti Berbagi Takjil di Bulan Ramadhan Yang Penuh Berkah
Lampung – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Desa Jaya Sakti Kecamatan Simpang Pematang, Kabupaten Mesuji, Lampung membagikan Ratusan takjil berbuka puasa kepada para pembeli bahan bakar minyak (BBM) di SPBU itu dengan menerapkan protokol kesehatan.
Pembagian takjil ini untuk wilayah Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung hingga perbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan, kata Manajer SPBU di Desa Jaya Sakti, Alim, Sabtu
Ia mengatakan, takjil dibagikan menjelang berbuka puasa di SPBU No 24.345.81 sejak awal Ramadhan dengan menerapkan protokol kesehatan.
Petugas SPBU setelah melakukan pengisian BBM langsung membagikan takjil kepada para pengendara kendaraan roda dua dan roda empat.
Program ini dilakukan selama Ramadhan sebagai wujud terima kasih kepada konsumen setia Pertamina, sekaligus meningkatkan amal ibadah di bulan suci.
Dia juga menyebutkan seluruh karyawan akan bertugas sejak puasa pertama hingga H+15 Idul Fitri.,1447 H.
”Bukan Warga, Tapi Massa: Enok Srie Gugat ‘Kegilaan’ Politik Digital!”
Jakarta wartapenasatu.com
Melawan ‘Kegilaan Kolektif’: Manifesto Enok Srie untuk Nalar dan Adab di Jantung Politik Indonesia
JAKARTA – Di era di mana kebenaran sering kali kalah oleh viralitas, Enok Srie, Penggerak Kemanusiaan dan Adab dari DPP Laskar Gibran, melontarkan kritik filosofis yang menghentak kesadaran publik. Dengan membedah realitas politik Indonesia melalui lensa Friedrich Nietzsche, Enok menegaskan bahwa bangsa ini sedang terancam oleh “kegilaan kolektif”. Ia memperingatkan bahwa ketika individu berhenti berpikir sebagai subjek mandiri dan melebur ke dalam histeria massa atau dogma partai, maka kegilaan bukan lagi sebuah anomali, melainkan sebuah aturan yang menakutkan.
Dalam narasinya, Enok mengutip langsung kegelisahan Nietzsche: “Im Individuum ist der Wahnsinn etwas Seltenes…”—bahwa kegilaan pada individu itu langka, namun dalam kelompok dan bangsa, ia adalah kaidah. Baginya, politik Indonesia hari ini sedang mengalami “penangguhan nalar”, di mana loyalitas buta dan rasa aman semu telah menggantikan keberanian untuk mempertanyakan kekuasaan. Politik tidak lagi dijalankan dengan argumen yang sehat, melainkan melalui sugesti berulang yang mematikan daya kritis warga negara.
Menilik anatomi psikologi massa, Enok merujuk pada Gustave Le Bon untuk menjelaskan bagaimana individu yang larut dalam kerumunan mengalami regresi mental. Di ruang digital yang riuh, rakyat sering kali tidak lagi menimbang kebenaran, melainkan hanya menelan simbol dan slogan yang disuapkan secara masif. Akibatnya, kesadaran kritis melemah dan digantikan oleh naluri kolektif yang reaktif, membuat ruang publik kita kehilangan kedalaman dan hanya menyisakan kebisingan yang dangkal.
Enok juga memberikan peringatan keras terhadap pemujaan berlebihan pada narasi “stabilitas”. Mengambil pemikiran Hannah Arendt tentang banality of evil, ia menyoroti bahwa bahaya terbesar bukanlah kekerasan terbuka, melainkan “kepatuhan tanpa refleksi”. Ia melihat adanya kecenderungan di mana stabilitas dijadikan tameng untuk menunda kritik dan membungkai perbedaan pendapat sebagai gangguan, memaksa individu menjadi “normal secara mengerikan” dengan hanya menjalankan peran tanpa pertimbangan moral.
Di tengah kepungan teknologi, Enok menilai kekuasaan kini bekerja melalui “administrasi kesadaran”. Melalui kacamata Michel Foucault, ia melihat bagaimana buzzer dan influencer partisan bertindak sebagai operator sugesti yang mengatur apa yang layak muncul di layar ponsel rakyat. Strateginya bukan lagi membantah fakta, melainkan mengaburkannya dengan pengulangan narasi hingga wacana tertentu dianggap sebagai kebenaran tunggal, sementara suara-suara jernih disingkirkan secara sistemik.
Kondisi ini, menurut Enok, telah mengubah ruang publik yang seharusnya menjadi arena debat rasional versi Jürgen Habermas, menjadi sekadar “pasar atensi”. Kelas menengah digital yang diharapkan menjadi penjaga nalar justru sering terjebak dalam aktivisme simbolik yang jinak secara struktural. Mereka lantang di permukaan, namun jarang berani menyentuh jantung persoalan kekuasaan, sehingga energi publik habis dalam kegaduhan yang tidak mengubah kebijakan apa pun.
Lebih dalam, Enok menegaskan bahwa stabilitas yang sejati harus lahir dari rahim keadilan dan nalar, bukan dari pembungkaman atau manajemen persepsi. Ia menantang nurani setiap warga untuk merenung: apakah kita masih berfungsi sebagai warga negara yang berdaulat secara pikiran, atau hanya menjadi bidak yang bereaksi secara insting sebagai massa? Baginya, membiarkan stabilitas menggantikan pikiran adalah langkah awal menuju keruntuhan peradaban hukum dan adab.
Sebagai penutup, Enok Srie mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani “berpikir kembali” sebagai bentuk perlawanan terhadap kegilaan zaman. Ia menekankan bahwa adab dan kemanusiaan tidak boleh dikorbankan demi efisiensi politik sesaat. Hanya dengan memulihkan nalar publik dan memperkuat integritas moral, Indonesia dapat melangkah keluar dari lingkaran gelap manipulasi menuju politik yang benar-benar memanusiakan manusia
”Bukan Drama Politik! Ismi Soemantri Desak UU Perampasan Aset Jadi Harga Mati
Jakarta wartapenasatu.com
Jakarta, 14 Februari 2026 — Pernyataan yang ditulis Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di media sosialnya mendapat tanggapan penuh haru dari Ismi Soemantri, Wakabendum Aliansi Laskar Gibran. Ia mengaku bangga sekaligus terharu karena kegelisahan yang selama ini ia suarakan bersama rekan-rekannya—bahkan hingga menggelar aksi tiga jilid—akhirnya terasa sampai ke pusat kekuasaan.
“Saya menyambut ini dengan dada sesak dan mata basah. Bangga sekaligus terharu. Di tengah jutaan hujatan, caci maki, dan teriakan kebencian di media sosial, kegelisahan saya ternyata bisa sampai juga. Saat banyak orang memilih ribut tanpa arah, saya justru melihat keberanian Mas Wapres yang tetap melangkah, berdiri tegak, dan tidak tenggelam dalam kebisingan,” ujar Ismi.
Menurutnya, hiruk-pikuk opini publik tak akan berarti apa-apa bila tak memberi dampak nyata bagi masa depan bangsa. Informasi mainstream boleh beraksi, opini liar boleh berseliweran, namun jika ujungnya hanya saling menjatuhkan, semua itu tidak membawa Indonesia ke mana-mana. “Kita butuh ketenangan berpikir, keberanian bersikap, dan keteguhan menata arah,” tegasnya.
Ismi juga menyoroti minimnya politisi yang secara lantang mengedukasi rakyat tentang pentingnya pengesahan UU Perampasan Aset. Yang lebih sering terdengar justru debat kusir, drama personal, dan manuver kepentingan. Padahal, menurutnya, inti persoalan bangsa ada pada keberanian membangun sistem hukum yang kuat—bukan sekadar panggung sensasi.
Ia menekankan bahwa bangsa ini harus memiliki arah yang jelas: regulasi tertata, dasar hukum kokoh, dan keberpihakan nyata kepada rakyat. “Kekuasaan boleh berganti, jabatan boleh berpindah. Tapi kalau korupsi tetap dibiarkan, yang diwariskan hanyalah luka bagi generasi berikutnya,” katanya.
Lebih jauh, Ismi menegaskan bahwa koruptor tidak cukup hanya ditangkap. Harus ada efek jera nyata melalui perampasan aset hasil kejahatan. Tanpa itu, korupsi akan terus menjadi ‘bisnis menguntungkan’, dan hukum hanya menjadi formalitas.
“Di sinilah saya merasa satu frekuensi—ketika suara dari istana mulai seirama dengan jeritan rakyat. Ketika Presiden Prabowo Subianto dan wapres muda menunjukkan satu komando untuk melawan korupsi secara sistemik. Ini bukan soal siapa paling populer, tapi siapa yang paling berani mengambil risiko politik demi masa depan Indonesia,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Ismi mengajak masyarakat untuk bersatu melawan korupsi, bukan saling hujat atau saling curiga. “Kita harus bergandeng tangan membangun kesadaran kolektif. Karena hanya dengan persatuan, regulasi yang kuat, dan keberanian moral, lingkaran gelap ini bisa dihentikan. Saya percaya, ketika niat baik dijaga, Tuhan akan membuka jalan—dan Indonesia akan melangkah lebih tegap.
