Persatuan Masyarakat Sipil Adalah Kunci Asta Cita
Visi Persatuan Sufmi Dasco Ahmad: Membangun Kekuatan Kolektif Masyarakat Sipil Demi Indonesia Maju
BANDUNG – Di tengah dinamika politik yang kerap memanas, Wakil Ketua DPR RI, Prof. DR. Ir. H. Sufmi Dasco Ahmad, S.H., M.H., melontarkan pesan kuat mengenai fundamental kebangsaan. Dalam acara peluncuran buku di Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini, beliau menekankan bahwa masyarakat sipil bukan sekadar penonton dalam proses bernegara, melainkan aktor utama yang memegang kunci persatuan nasional. Pesan ini menjadi alarm bagi seluruh elemen bangsa untuk kembali menoleh pada nilai-nilai luhur kebersamaan.
Dasco menegaskan bahwa perbedaan pandangan politik atau ideologi merupakan keniscayaan dalam demokrasi, namun hal tersebut tidak boleh menjadi celah bagi perpecahan. Baginya, keberagaman pendapat di tengah masyarakat seharusnya tidak memicu fragmentasi yang melemahkan sendi-sendi negara. Sebaliknya, perbedaan tersebut harus dikelola menjadi energi kolektif yang dahsyat untuk mendorong perbaikan besar bagi republik tercinta.
Lebih lanjut, tokoh sentral Partai Gerindra ini mengingatkan bahwa kedaulatan sebuah bangsa sangat bergantung pada daya tahan masyarakat sipilnya. Jika rakyat mudah terprovokasi dan terpecah, maka fondasi stabilitas nasional akan goyah. Oleh karena itu, kesadaran untuk saling menghormati dan menjunjung tinggi kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok menjadi mandat yang tidak bisa ditawar lagi bagi seluruh warga negara Indonesia.
Pernyataan ini mengandung makna filosofis yang dalam: masa depan Indonesia tidak hanya terletak di tangan para elit politik di Jakarta atau di dalam gedung parlemen. Masa depan bangsa ini justru ditentukan oleh denyut nadi kesadaran masyarakat di akar rumput. Tanpa partisipasi aktif dan kedewasaan masyarakat sipil dalam menjaga kerukunan, transformasi menuju Indonesia Maju akan sulit untuk diakselerasi secara optimal.
Semangat yang diusung oleh Dasco sejalan dengan konsep patriotisme gotong royong yang menjadi napas perjuangan bangsa. Beliau memandang bahwa setiap kritik, masukan, bahkan perbedaan tajam sekalipun, merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap jalannya pemerintahan. Tugas negara adalah merajut seluruh aspirasi tersebut menjadi satu kesatuan visi yang solid demi mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur.
Dalam konteks akademik di ITB, pesan ini juga menjadi ajakan bagi kaum intelektual dan mahasiswa untuk berperan sebagai jembatan persatuan. Masyarakat sipil yang tercerahkan harus mampu menjadi penengah di tengah polarisasi, sekaligus motor penggerak inovasi yang inklusif. Transformasi republik memerlukan sinergi antara kebijakan negara yang tepat sasaran dengan dukungan masyarakat sipil yang solid dan bersatu.
Sebagai penutup, gagasan Sufmi Dasco Ahmad ini menjadi refleksi penting bagi kita semua untuk kembali ke jati diri bangsa yang gemar bermusyawarah. Dengan menjadikan perbedaan sebagai modal sosial, Indonesia dipastikan akan memiliki ketahanan nasional yang tak tergoyahkan. Persatuan bukanlah tujuan akhir, melainkan prasyarat mutlak untuk memastikan kejayaan Nusantara tetap tegak berdiri hingga generasi mendatang.
ONT MArketing solutions
Anda Mungkin Suka Juga
Aspers Kasdam V/Brawijaya Beri Pembekalan kepada Persit Yonif Raider 500/Sikatan
7 Oktober 2025
TNI Hadir dan Peduli: Denpom V/1 Madiun Tebar Kepedulian Lewat Bansos
3 Oktober 2025