SOSIAL

MAKI Jatim 1000 Ta’jil, 1000 Jalan Makrifat di Hari Ke-17: Ketika Tangan Berbagi Menjadi Jalan Hati Mengenal Tuhan

Bagikan

WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 7 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa rahasia yang tidak semua mata mampu melihatnya, tetapi dapat dirasakan oleh hati yang terbuka. Ia bukan sekadar bulan ibadah, bukan pula hanya waktu untuk menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah perjalanan ruhani yang membawa manusia kembali kepada hakikat dirinya sebagai makhluk yang lemah di hadapan Sang Maha Kuasa.

Di bulan inilah manusia diajak untuk memahami satu kebenaran yang paling dalam: bahwa semua yang dimiliki di dunia hanyalah titipan dari Allah SWT. Harta, jabatan, kekuatan, bahkan kehidupan itu sendiri hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya.

Sore itu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani Waru, tepat di depan pos polisi seberang Terminal Bungurasih, suasana Ramadhan terasa hidup dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna. Kendaraan terus melintas, manusia berjalan dengan berbagai urusan dunia mereka. Namun di tengah kesibukan itu, hadir sebuah pemandangan yang menggetarkan hati: tangan-tangan yang terulur untuk berbagi.

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali melaksanakan kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa.

Sebanyak 250 paket mie goreng dengan telur dadar, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah, serta 250 paket gorengan ote-ote besar dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas menjelang waktu berbuka.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan sederhana. Namun bagi mereka yang memahami rahasia Ramadhan, setiap paket ta’jil yang dibagikan sesungguhnya mengandung pelajaran spiritual yang sangat dalam.

Dalam jalan makrifat, memberi bukan hanya sekadar perbuatan sosial. Memberi adalah proses penyadaran diri bahwa manusia hanyalah perantara dari rezeki Tuhan.

Apa yang berada di tangan manusia bukanlah miliknya. Ia hanyalah amanah yang dititipkan oleh Allah agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.

Ketika seseorang memberi dengan hati yang tulus, pada saat itulah ia sedang belajar mengenal sifat Allah yang Maha Pemurah.

Ketika tangan manusia menjadi jalan turunnya kebaikan, di saat itulah hati mulai menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak dalam kehendak Tuhan.

Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Namun syukur sejati, menurutnya, tidak cukup hanya diucapkan dengan kata-kata.

Syukur harus hidup dalam tindakan. Ia terlihat dalam kepedulian terhadap sesama. Ia tumbuh dalam empati terhadap mereka yang membutuhkan.

“Ketika kita berbagi kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang belajar memahami bahwa rezeki yang kita miliki bukan semata-mata karena usaha kita, tetapi karena rahmat Allah,” ungkapnya.

Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang kontemplasi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dengan semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati lahir dari kesadaran spiritual manusia.

Korupsi tidak hanya lahir dari sistem yang lemah, tetapi dari hati yang kehilangan kesadaran kepada Tuhan.

Ketika manusia lupa bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan Allah, keserakahan mulai tumbuh. Namun ketika hati hidup dalam kesadaran Ilahi, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin yang menjaga kehormatan diri.

Menjelang waktu berbuka, langit Waru perlahan berubah warna. Cahaya jingga senja menggantung di ufuk barat, menghadirkan keindahan yang menenangkan jiwa.

Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap. Sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi ketulusan.

Senyum kecil muncul di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Namun ada kebahagiaan yang lahir dari hati yang bersyukur.

Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Ia sering hadir dalam kebaikan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan.

Ta’jil yang dibagikan di Jalan Ahmad Yani Waru sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memiliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.

Ramadhan datang untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan sementara. Semua yang dikumpulkan manusia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan.

Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.

Dan di antara langkah manusia yang melintas di jalan itu, tersimpan sebuah pelajaran yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang atau ibadah yang terlihat besar.

Kadang jalan menuju makrifat justru hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama manusia.

Di situlah rahasia Ramadhan menemukan maknanya. Bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu berada di langit yang jauh, tetapi sering kali hadir di bumi yang kita pijak, dalam tangan yang memberi, dalam hati yang ikhlas, dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wartapenasatu.com @2025