MAKI Jatim Merajut dan Jalin 1000 Paket Tajil di Hari Ke – 24, Raih Keberkahan dan Kemenangan Menuju Idul Fitri 1447 H
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 14 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah datang sekadar sebagai pergantian bulan dalam hitungan kalender. Ia hadir sebagai cahaya yang lembut, mengetuk hati manusia yang kerap terjebak dalam hiruk pikuk kehidupan dunia.
Bulan suci ini seperti undangan Ilahi yang mengajak manusia berhenti sejenak dari perjalanan panjang mengejar ambisi, harta, dan kepentingan pribadi.
Ramadan mengingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, tetapi tentang seberapa besar manusia mampu menghadirkan manfaat bagi sesamanya.
Puasa mengajarkan makna kesederhanaan yang sering kali terlupakan. Ketika lapar dan dahaga ditahan sepanjang hari, manusia belajar merasakan apa yang mungkin setiap hari dirasakan oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Dari sanalah empati lahir. Dari sanalah hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasanya di kawasan Jalan Kolonel Sugiono, Kepuh Kiriman, Waru. Deru kendaraan silih berganti melintas di tengah kepadatan lalu lintas. Para pekerja bergegas pulang, sementara pengendara terus melaju mengejar waktu berbuka puasa.
Namun di tengah arus kehidupan kota yang sibuk itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna kemanusiaan yang begitu dalam.
Masyarakat Anti Korupsi7 Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.
Para relawan berdiri di tepi jalan dengan senyum hangat dan tangan terbuka. Satu per satu paket ta’jil diberikan kepada pengendara motor, pekerja jalanan, hingga warga yang kebetulan melintas sambil menanti waktu berbuka puasa.
Isi paketnya mungkin terlihat sederhana, namun sarat dengan ketulusan:
– 250 paket nasi telur bali dan tahu bali
– 250 paket kurma
– 250 botol es melon sirup dengan irisan blewah segar
– 250 paket gorengan berisi donat coklat, dadar jagung, ote-ote, dan tahu isi.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk mengawali berbuka puasa.
Namun bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan bukan sekadar hidangan pelepas dahaga. Ia adalah simbol kepedulian, tanda bahwa di tengah kesibukan dunia yang sering terasa keras, masih ada hati yang memilih untuk berbagi.
Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali tampak kecil dan sederhana. Padahal justru di sanalah kemanusiaan menemukan maknanya.
Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diserahkan, melainkan tentang kelapangan hati untuk peduli terhadap orang lain.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Syukur sejati harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
“Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.
Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang selama ini dikenal aktif dalam gerakan melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari penegakan hukum semata.
Perubahan juga tumbuh dari kesadaran moral masyarakat.
Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Dari nilai-nilai itulah akan lahir masyarakat yang lebih adil, jujur, dan bermartabat.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan nuansa yang tenang dan damai.
Di bawah langit senja itu, para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas.
Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima. Tidak ada panggung megah. Tidak ada perayaan besar.
Namun ada kebahagiaan yang tulus.
Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling jujur justru lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.
Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu seakan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat. Bahwa di balik kerasnya dinamika kota, selalu ada ruang bagi kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi antara manusia dan Tuhannya. Ramadan juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Karena kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Kolonel Sugiono Kepuh Kiriman Waru, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.
Sebab ketika manusia saling peduli,
di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bgn)***
Answers about Math and Arithmetic
Anda Mungkin Suka Juga
POLISI PADAMKAN KEBAKARAN DI TASIK
12 Juni 2025
Pangdam V/Brawijaya Hadiri Persit Manunggal Posyandu dan Resmikan Website SiDuDu Kodam
23 Oktober 2025