Nandur Becik 1000 Tajil di Hari Ke – 18 MAKI Jatim Antara Lapar dan Kasih, Ramadhan Mengajarkan Manusia Mengenal Tuhan Lewat Sesama
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 7 Maret 2026 — Ramadhan tidak pernah sekadar datang sebagai pergantian bulan dalam penanggalan waktu. Ia hadir seperti bisikan langit yang lembut, mengetuk pintu kesadaran manusia yang sering terlelap dalam hiruk pikuk dunia. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang perjalanan sunyi manusia kembali mengenal dirinya sendiri.
Dalam keheningan Ramadhan, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tenggelam oleh kesibukan dunia: suara hati yang bertanya dengan jujur siapakah aku sebenarnya, dari mana aku berasal, dan kepada siapa kelak aku akan kembali.
Ramadhan adalah madrasah jiwa. Ia mendidik manusia dengan cara yang tidak selalu terasa oleh logika, tetapi sangat dalam dirasakan oleh hati.
Lapar bukan sekadar ujian fisik, tetapi latihan kesabaran. Dahaga bukan hanya rasa kering di tenggorokan, melainkan jalan untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.
Di dalamnya, manusia diajak menyadari satu hakikat yang sering terlupakan: bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap detik, semuanya berasal dari Sang Maha Pemilik yang suatu saat akan memintanya kembali.
Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, roda kehidupan kota Surabaya tetap berputar dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.
Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir sebuah getaran yang lebih lembut dari sekadar suara mesin kendaraan: getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadhan.
Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil bagi masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Sebanyak seribu paket dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas. Paket-paket tersebut terdiri dari 250 porsi nasi capcay bakso dengan oseng ati dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.
Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa.
Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata.
Ia adalah jembatan sunyi yang menghubungkan hati manusia dengan hati manusia lainnya.
Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara.
Rezeki yang berada di tangan seseorang pada hakikatnya adalah amanah Tuhan yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan.
Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah.
Dan ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, jiwanya sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya dikenal melalui doa, tetapi juga melalui perbuatan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Namun menurutnya, syukur sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.
“Syukur bukan sekadar kata-kata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi juga dari kesadaran spiritual manusia.
Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan.
Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas kawasan Waru perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang menenangkan hati.
Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap, sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan keikhlasan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.
Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.
Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama.
Di situlah makrifat menemukan jalannya.
Dalam tangan yang terulur. Dalam hati yang ikhlas. Dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***
Ben Stokes will be big miss
Anda Mungkin Suka Juga
Polisi Tangani Kekeringan di Winongan Pasuruan Sulap Mobil Patroli Jadi Armada Air Bersih
29 September 2025
Mayjen TNI Rudy Saladin Lantik Kolonel Marinir Danuri Jadi Kaskogartap III/Surabaya
23 September 2025