Uncategorized

Perang Senyap Melawan Narkoba: Saat Generasi Muda Ditempa Jadi Garda Terdepan Bela Negara di Jawa Timur

Bagikan

WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Ancaman terhadap bangsa hari ini tidak lagi selalu datang dengan suara dentuman senjata. Ia hadir diam-diam, menyusup ke ruang-ruang kehidupan generasi muda, merusak masa depan tanpa disadari.

Narkoba menjadi wajah nyata dari perang senyap itu menggerogoti moral, melemahkan daya juang, dan perlahan melumpuhkan ketahanan bangsa dari dalam.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi digelarnya kegiatan strategis bertema “Memperkuat Toleransi dan Kebhinekaan sebagai Benteng Generasi Bangsa dalam Mencegah Penyalahgunaan Narkoba dan Menumbuhkan Semangat Bela Negara” di Aula Gedung PPAD Jawa Timur, Surabaya.

Sekitar 120 peserta dari berbagai elemen strategis hadir, mulai dari FKPPI, Resimen Mahasiswa, HIPAKAD, FKPPAL, FKPPAU, KBPP Polri, Pramuka, hingga puluhan pelajar.

Mereka bukan sekadar peserta, tetapi representasi generasi penjaga masa depan bangsa yang hari ini sedang dihadapkan pada ancaman paling berbahaya: kehilangan arah dan jati diri akibat narkoba.

Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Freddy Poernomo, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sosialisasi formal, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif untuk melawan ancaman yang nyata.

“Hari ini kita tidak hanya bicara toleransi dan kebhinekaan, tetapi juga bagaimana kita bersama-sama menyatakan perang terhadap narkoba. Ini adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun kondisi kebhinekaan di Jawa Timur relatif kondusif, masih terdapat sejumlah persoalan di lapangan, terutama terkait penyalahgunaan narkotika yang terus mengintai generasi muda.

“Secara umum sudah baik, tetapi kita tidak boleh lengah. Ancaman narkoba ini nyata dan terus berkembang. Jika tidak dihadapi dengan serius, ini bisa merusak fondasi bangsa,” ujarnya.

Dalam perspektif bela negara, ancaman narkoba tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata. Ia adalah ancaman kolektif yang berdampak langsung pada ketahanan nasional.

Generasi muda yang terjerumus narkoba bukan hanya kehilangan masa depan, tetapi juga melemahkan kekuatan bangsa secara keseluruhan.

Perwakilan Ketua DP PPAD Jawa Timur, Brigjen TNI (Purn) Kusbandi, menekankan bahwa menjaga kebersamaan dan persatuan di tengah keberagaman merupakan kunci utama dalam menghadapi berbagai ancaman, termasuk narkoba.

“Kegiatan ini harus dimaknai sebagai upaya membangun kesadaran bersama. Kita ingin generasi muda memahami wawasan kebangsaan dan bela negara secara utuh, bukan hanya teori, tetapi juga praktik dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan serupa dapat diperluas ke berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya, sehingga pesan tentang bahaya narkoba dan pentingnya bela negara dapat menjangkau lebih luas, terutama di kalangan generasi muda.

Dalam sesi pemaparan, narasumber dari BNN Provinsi Jawa Timur, Dr. Singgih Widi Pratomo, menegaskan bahwa narkotika adalah ancaman nyata yang dapat menghancurkan masa depan generasi muda.

“Hidup ini hanya sekali. Jangan sampai dirusak oleh narkoba. Ini bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi penghancuran diri secara perlahan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun gaya hidup sehat dan lingkungan yang positif sebagai langkah preventif.

Menurutnya, pencegahan jauh lebih efektif daripada penindakan, dan itu harus dimulai dari kesadaran individu.

Sementara itu, akademisi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Surabaya, Dr. Zaenal Abidin, menyoroti pentingnya menjadikan peserta sebagai agen perubahan di lingkungan masing-masing.

“Kami berharap peserta tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mampu menjadi penyampai nilai meneruskan semangat bela negara, toleransi, dan kebhinekaan kepada masyarakat luas,” ujarnya.

Kegiatan ini tidak hanya berisi pemaparan materi, tetapi juga membangun interaksi dan kebersamaan antar peserta.

Dalam suasana yang dinamis, mereka diajak untuk memahami bahwa bela negara bukan sekadar konsep besar, tetapi dimulai dari hal sederhana: menjaga diri dari narkoba, menghargai perbedaan, dan aktif berkontribusi dalam kehidupan sosial.

Di tengah arus globalisasi dan tantangan zaman yang semakin kompleks, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas karakter generasinya.

Dari Surabaya, pesan itu ditegaskan dengan lantang: bahwa perang melawan narkoba adalah bagian dari bela negara, bahwa menjaga toleransi adalah menjaga persatuan, dan bahwa generasi muda adalah benteng terakhir bangsa
yang harus dijaga, diperkuat, dan disadarkan sebelum semuanya terlambat. (Bgn)***


Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wartapenasatu.com @2025