Putra Satrio Dwi Athallah Atlet Muda dari Sidoarjo: Mengguncang Hirarki Anggar Nasional
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 30 Desember 2025 — Anggar bukan olahraga yang ramah sorotan. Ia hidup di balik garis lintasan sempit, di antara keheningan, kalkulasi jarak, dan duel mental yang brutal. Namun justru dari ruang sunyi itulah lahir sosok yang kini mulai mengguncang tatanan Anggar nasional: Putra Satrio Dwi Athallah. Rio. Nama yang kian sering disebut dengan nada hormat oleh mereka yang memahami betul kerasnya dunia Anggar.
Rio tidak datang membawa gemuruh. Ia hadir dengan konsistensi. Tusukannya presisi, langkahnya ekonomis, emosinya terkendali.
Atlet Epee asal Kota Sidoarjo ini menjelma menjadi potret ideal generasi baru Anggar Jawa Timur, cerdas membaca situasi, berani mengambil risiko, dan matang jauh melampaui usia.
Bagi komunitas Anggar, Rio bukan sekadar atlet muda berprestasi. Ia adalah indikator perubahan. Bahwa kekuatan baru bisa lahir dari proses panjang yang senyap, bukan dari sensasi instan.

Di balik statusnya sebagai siswa kelas XI-9 SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (Smamda), Rio menjalani kehidupan ganda: pelajar di pagi hari, petarung lintasan di sisa waktunya.
Di bawah bimbingan Coach Ilham, setiap detail teknik Epee diasah tanpa kompromi, mulai dari timing serangan, penguasaan jarak, hingga ketahanan mental saat duel berjalan panjang dan melelahkan.
Puncak terbaru pembuktian itu terjadi di Banyuwangi. Pada Kejuaraan Anggar Antar Pelajar Se-Jawa Bali, 18–20 Desember 2025, Rio tampil dingin di tengah tekanan.
Satu demi satu lawan ia kunci, hingga medali emas Juara 1 Individu Epee tingkat SMA resmi menjadi miliknya. Tak ada selebrasi berlebihan hanya ekspresi atlet yang tahu, kerja kerasnya terbayar.
Namun dominasi Rio tidak lahir dalam semalam. Sebulan sebelumnya, pada Kejuaraan Nasional di Palu, 15–21 November 2025, ia memperlihatkan kualitas langka: keberanian menantang lintas generasi. Rio tidak hanya berjaya di kategori cadet, tetapi juga sanggup menembus podium junior dan senior:
Juara 1 Individu Cadet Senjata Epee
Juara 3 Individu Junior Senjata Epee
Juara 3 Individu Senior Senjata Epee
Di dunia Anggar, pencapaian semacam ini adalah pernyataan keras bahwa usia hanyalah angka ketika teknik, fisik, dan mental bertemu dalam satu paket utuh.
Jejak konsistensi Rio sejatinya telah terpatri sejak Kejurnas Manado, Agustus 2024. Saat itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai atlet komplet: tajam secara individu, kokoh dalam beregu. Empat medali ia bawa pulang, termasuk emas beregu Epee dan perak beregu Foil. Sebuah sinyal awal bahwa Sidoarjo sedang menyiapkan sesuatu yang besar.
Di luar lintasan, Rio adalah putra dari Moch. Budi Prasetyo keluarga yang setia menjadi penopang di balik setiap latihan dan kompetisi. Dukungan juga datang dari lingkungan sekolah.
Kepala SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Zainul Arifin, menegaskan bahwa prestasi Rio adalah bukti nyata potensi siswa Smamda di level nasional.
Sekolah, kata dia, berkomitmen penuh mendukung siswa berprestasi, baik akademik maupun olahraga.
Bagi Rio, semua pencapaian ini bukan tujuan akhir. Ia menyimpannya sebagai bekal menuju mimpi yang lebih tinggi: mengenakan seragam Merah Putih di panggung Asia dan dunia.
“Saya ingin terus berkembang dan membawa nama Indonesia ke level internasional,” ucapnya singkat tanpa retorika, tanpa berlebihan.
Sidoarjo hari ini tidak sekadar mencatat prestasi. Ia sedang menanam fondasi. Dan dari lintasan sunyi bernama Anggar, Rio tengah menajamkan Epee-nya bersiap menembus batas nasional dan menantang dunia. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
Polres Kediri Kota Sidak Sejumlah SPBU Respon Keluhan Warga Soal Kualitas BBM
30 Oktober 2025
MUSOLAH KUBANG DUO SUKSES ADAKAN ACARA KHATAM AL QURAN DI SULIT AIR
9 Juni 2025