Simfoni Agung Dari Tanah Legok: Ruwat Dusun 2026, Perjanjian Suci Leluhur Dan Generasi Penjaga Peradaban
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo – Di bentang tanah yang sarat sejarah di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Desa Suko, Kecamatan Sukodono, Dusun Legok kembali menorehkan jejak peradaban melalui sebuah tradisi sakral yang tak lekang oleh zaman Ruwat Dusun 2026.
Pada Minggu (15/2/2026), denyut kehidupan desa berpadu dalam satu harmoni agung, menjelma peristiwa budaya yang bukan sekadar perayaan, melainkan manifestasi cinta terhadap leluhur, alam, dan kebersamaan.
Ruwat Dusun adalah warisan spiritual yang mengandung makna mendalam. Ia bukan sekadar ritual adat, tetapi pernyataan kolektif tentang kesadaran sejarah dan tanggung jawab moral. Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus menggulung nilai-nilai tradisional, warga Dusun Legok berdiri teguh, memeluk erat akar budaya yang telah ditanamkan oleh para pendahulu.

Sejak fajar menyingsing, Dusun Legok yang terdiri dari tiga RW dan sebelas RT dengan jumlah penduduk sekitar empat ribu jiwa, telah bersolek dalam balutan semangat kebersamaan. Jalan-jalan desa menjadi saksi pertemuan hati yang tulus. Anak-anak melangkah penuh riang, generasi muda bergerak sigap mempersiapkan rangkaian acara, para ibu menghadirkan sajian terbaik dengan sentuhan kasih, sementara para sesepuh menyaksikan dengan khidmat menyadari bahwa nilai yang mereka jaga kini tumbuh subur dalam jiwa generasi penerus.
Perhelatan ini digelar sebagai penghormatan mendalam kepada dua tokoh pembuka peradaban Dusun Legok, Mbah Sari dan Arjo Sungu. Dari tangan-tangan gigih merekalah hutan dibabat, tanah digarap, dan kehidupan ditanamkan. Jejak perjuangan itu kini menjelma menjadi dusun yang hidup, berkembang, dan tetap berakar pada adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun. Ruwatan menjadi jembatan batin antara masa lalu dan masa kini sebuah ikrar bahwa kemajuan tak akan pernah memutus tali sejarah.
Kirab gunungan hasil bumi menjadi puncak simbol rasa syukur. Gunungan yang menjulang megah dihiasi padi emas, sayuran segar, buah-buahan ranum, serta aneka jajanan tradisional. Setiap butir padi dan setiap hasil bumi adalah lambang kerja keras, doa, dan harapan yang terwujud. Arak-arakan berlangsung khidmat namun semarak, diiringi dentuman musik horeg yang berpadu dengan irama tradisional, menghadirkan harmoni unik antara energi modern dan kearifan lokal.
Saat malam tiba, gemerlap panggung hiburan rakyat menyempurnakan suasana. Kelompok Ludruk Citra Baru dari Surabaya akan tampil memukau, penuh humor, kritik sosial yang tajam namun santun, serta pesan moral yang membumi. Tawa yang meledak di antara penonton bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi tentang kehidupan bersama. Penampilan istimewa dari Rena KDI dan Lilin Herlina semakin menghangatkan malam, menyatukan generasi dalam irama kebahagiaan tanpa sekat.
Namun sejatinya, Ruwat Dusun Legok bukan hanya tentang kirab dan hiburan. Ia adalah momentum spiritual yang sakral. Doa-doa dipanjatkan bersama agar dusun senantiasa dalam lindungan Tuhan, dijauhkan dari marabahaya, serta dilimpahi kesejahteraan dan kedamaian. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan hidup tercipta dari harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai luhur yang dipegang teguh.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Suko, Yusuf Kurniawan Hady, menyampaikan apresiasi mendalam atas partisipasi aktif seluruh warga. Semangat gotong royong yang tercermin sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan menjadi bukti nyata bahwa kekuatan desa terletak pada persatuan. Ruwat Dusun, menurutnya, adalah fondasi sosial yang menjaga identitas dan memperkokoh solidaritas antarwarga.
Ruwat Dusun Legok 2026 telah menjelma menjadi simfoni kebudayaan yang utuh menggabungkan sejarah, spiritualitas, seni, dan kebersamaan dalam satu tarikan napas panjang peradaban. Di bawah langit Sukodono yang teduh, warga Legok kembali menegaskan sumpahnya: selama budaya dijaga dengan kesungguhan dan keharmonisan dirawat dengan cinta, maka dusun ini akan terus tumbuh sebagai ruang hidup yang damai dan bermartabat.
Di tanah yang dahulu dirintis dengan keberanian dan doa, kini berdiri generasi penjaga warisan. Dan melalui Ruwat Dusun, Legok mengirimkan pesan kepada zaman: bahwa tradisi bukan beban masa lalu, melainkan cahaya yang menuntun masa depan abadi, kokoh, dan penuh makna. (Bgn)***
Anda Mungkin Suka Juga
Bersama Membangun Palangka Raya: Kapolresta Jalin Sinergi dalam Perayaan Hari Jadi ke-68
18 Juni 2025
RATUSAN KELUARGA NAGARI SICINCIN RAMAIKAN HALAL BIHALAL IKESDA 2025 DI BEKASI TIMUR
1 Juni 2025