SOSIAL
MAKI Jatim di Hari ke-12 Berbagi Sebagai Zikir Sosial: Ketika Iman Menjadi Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 2 Maret 2026 — Ramadhan kembali hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai taman ruhani tempat jiwa-jiwa belajar mengenal dirinya dan Tuhannya.
Pada hari kesebelas yang sarat keberkahan itu, denyut kehidupan terasa lebih lembut, seakan semesta ikut berzikir dalam diam.
Hiruk-pikuk dunia meredup, digantikan getar iman yang menyelinap pelan ke relung hati terdalam.
Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya By Pass Juanda, tepat di depan Klinik Sheila Medika, tangan-tangan yang tergerak oleh kasih membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong sayur manisah lengkap dengan tahu, cecek, dan kerupuk; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi blewah; serta 250 paket jajanan jadul yang terbungkus sederhana namun sarat makna.
Namun Ramadhan tak pernah berhenti pada angka dan jumlah. Ia menembus apa yang tak kasat mata.
Setiap paket yang berpindah tangan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan saksi bahwa harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah penjaga sementara dari amanah-Nya.
Memberi dalam bulan suci bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan laku ibadah jalan sunyi menuju makrifat, mengenal bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Puasa melatih sabar dalam menahan lapar dan dahaga; berbagi menumbuhkan ikhlas dalam melepaskan kepemilikan.
Ketika sabar dan ikhlas bersatu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya.
Lapar yang ditahan melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kehidupan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tak lagi berjalan sendiri dalam egonya.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Syukur yang hakiki tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan. Sebab setiap kesempatan untuk berbagi sejatinya adalah panggilan Ilahi bahwa Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa.
Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum, melainkan kegagalan hati menjaga kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Ketika makrifat memudar, keberanian untuk menyimpang tumbuh.
Namun ketika kesadaran ketuhanan berdenyut dalam setiap helaan napas, integritas lahir sebagai buah ketakwaan bukan karena takut padamu manusia, melainkan karena malu kepada-Nya.
Menjelang adzan Maghrib, langit senja menunduk dalam semburat jingga. Doa-doa bergetar di bibir yang berpuasa.
Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang tulus. Yang diterima mungkin hanya makanan sederhana, tetapi yang terasa adalah sentuhan kasih rasa dihargai sebagai sesama makhluk Allah yang dimuliakan.
Pada akhirnya, yang bernilai di sisi-Nya bukanlah banyaknya yang dibagikan, melainkan beningnya niat yang tersembunyi di dalam dada.
Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah menyadari bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan, dan segala yang kita ikhlaskan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kembali.
Di antara derap langkah senja Raya By Pass Juanda Sidoarjo, terselip pesan makrifat yang hening namun agung: kemuliaan manusia tidak terletak pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia relakan demi ridha-Nya. (Bgn)***
MAKI Jatim Merajut Tajalli Ramadhan di Bumi Delta Sidoarjo: Saatnya Nandur Becik Sedekah Menjadi Jalan Makrifat Menuju-Nya
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 1 Maret 2026 – Ramadhan kembali menyapa bumi dengan wajahnya yang teduh. Ia bukan sekadar rentang hari yang dihitung oleh kalender, melainkan musim turunnya rahmat dan terbukanya pintu-pintu kesadaran. Pada hari kesebelas bulan suci 1447 Hijriah, di kota delta yang tenang Sidoarjo denyut kehidupan terasa lebih hening, seolah semesta ikut bersyahadat dalam tasbih yang tak terdengar.
Di depan Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, tepat di hadapan Monumen Jayandaru, seribu paket ta’jil dibagikan oleh relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. 250 Nasi goreng merah lengkap dengan bakso, sosis, irisan telur dan kerupuk; 250 kurma sebagai sunnah yang menghidupkan jejak Nabi; 250 sirup melon berisi blewah yang menyegarkan dahaga; serta 250 jajanan sederhana dalam plastik semuanya berpindah tangan dengan senyum yang bersahaja.
Namun Ramadhan tidak pernah berhenti pada yang kasatmata. Ia adalah jalan batin. Ia adalah mi’raj jiwa menuju kesadaran terdalam bahwa manusia hanyalah hamba, dan segala yang digenggamnya hanyalah titipan sementara.

Dalam pandangan makrifat, memberi bukanlah tentang tangan yang lebih tinggi dari tangan yang menerima. Memberi adalah pengakuan sunyi bahwa tiada kepemilikan sejati selain milik Allah SWT. Setiap paket yang berpindah tangan adalah saksi bahwa rezeki hanyalah amanah; bahwa yang memberi dan yang diberi sesungguhnya sama-sama fakir di hadapan-Nya.
Puasa melatih sabar. Sedekah melatih fana.
Sabar menundukkan nafsu. Fana menundukkan ego.Ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang memperbanyak kepemilikan, tetapi memperdalam penghambaan.
Lapar yang ditahan sepanjang hari melembutkan hati agar peka terhadap derita sesama. Dahaga yang dijaga menjadi cermin bahwa manusia tak pernah benar-benar berdaya tanpa pertolongan-Nya.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur dalam makna terdalam bukan sekadar ucapan hamdalah di bibir, melainkan kesediaan hati untuk menjadi perantara rahmat Ilahi.
Dalam kesadaran itulah MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin agung bagi jiwa. Korupsi, dalam perspektif ruhani, bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit hati yang lahir dari lupa kepada Allah. Ketika muraqabah rasa diawasi oleh-Nya hidup dalam dada, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan, melainkan buah alami dari ketakwaan.
Menjelang adzan Maghrib, langit Sidoarjo berpendar jingga. Angin petang berembus lembut, membawa doa-doa yang meluncur dari bibir orang-orang yang berpuasa. Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang bening. Mungkin yang diterima hanyalah makanan pembuka, tetapi yang dirasakan adalah pengakuan kemanusiaan bahwa mereka dilihat, dihargai, dan dicintai sebagai makhluk Allah yang mulia.
Ramadhan pada akhirnya adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesombongan menuju kerendahan. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari dunia menuju Tuhan.
Dan di antara langkah-langkah senja yang mengiringi beduk Maghrib, terpatri pesan yang agung:
bahwa kemuliaan manusia bukan pada apa yang ia kumpulkan,
melainkan pada apa yang ia ikhlaskan.Sebab segala yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya,
dan hanya hati yang bersihlah yang sampai dengan selamat di hadapan-Nya. (Bgn)***Nandur Becik Hari Kesepuluh MAKI Jatim Bagi 1000 Paket Tajil, Dalam Merajut Berkah Lewat Amanah Sosial
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 28 Februari 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ruhani. Dari syariat menuju hakikat. Dari hakikat menuju makrifat. Dari sekadar memberi menuju benar-benar mengenal siapa Pemberi segala rezeki.
Di Jalan Raya Juanda (Depan Pom Bensin Raya Juanda), langkah-langkah sederhana para relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menjelma menjadi pelajaran batin yang dalam.
Sebanyak 1000 paket ta’jil dibagikan kepada para pengguna jalan. Namun dalam pandangan hakikat, yang bergerak bukan hanya tangan manusia. Yang bekerja adalah kehendak-Nya. Yang mengalir bukan sekadar makanan, tetapi rahmat Allah yang dititipkan melalui hamba kepada hamba.
Secara syariat, kegiatan itu adalah amal sosial. Paket demi paket berpindah tangan: 250 pack bubur sumsum mutiara lengkap, 250 pack kurma, 250 botol es sirup melon dan isian blewah, 250 pack jajan jadul dalam plastik. Semua tampak biasa. Semua tampak sederhana.
Namun syariat hanyalah pintu. Ia adalah bentuk lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dalam hakikat, berbagi bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Semua hanyalah titipan.
Rezeki yang di tangan kita bukan milik kita. Ia hanya singgah. Ketika ia dibagikan, sesungguhnya ia sedang kembali kepada Pemiliknya.
Di titik ini, hati mulai menyadari:
Tidak ada yang benar-benar kaya.
Tidak ada yang benar-benar miskin.
Yang ada hanyalah hamba yang sedang diuji dengan kelapangan atau kekurangan.Ramadhan mengosongkan perut agar manusia memahami satu hal mendasar: ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat lapar terasa, ego melemah. Saat dahaga datang, kesombongan luruh. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita ini fakir di hadapan-Nya.
Makrifat adalah ketika hati tidak lagi melihat amal sebagai kebanggaan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekat.
Ketika paket ta’jil diberikan, hati yang terjaga tidak berkata, “Aku telah memberi.”
Ia berkata, “Allah telah menggerakkan.”Ketika senyum penerima terlihat, hati yang sadar tidak merasa berjasa.
Ia justru merasa ditolong untuk membersihkan diri dari cinta dunia.Di sanalah makrifat tumbuh:
Saat amal tidak lagi menjadi panggung diri, tetapi menjadi jalan sunyi menuju ridha Ilahi.Sebagai gerakan yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan ritual, tetapi sebagai madrasah kesadaran.
Korupsi lahir dari hati yang merasa memiliki.
Kejujuran lahir dari hati yang merasa diawasi.Dalam maqam makrifat, manusia hidup dalam muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, bahkan atas bisikan terdalam.
Jika kesadaran ini bersemayam, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan hukum. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ia menjadi napas kehidupan.
Menjelang Maghrib, langit memerah keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat tanpa suara.
Barangkali yang terlihat hanyalah pembagian makanan di tepi jalan.
Namun yang terjadi sesungguhnya adalah latihan jiwa.Latihan untuk tidak melekat pada dunia.
Latihan untuk mencintai tanpa pamrih.
Latihan untuk menyadari bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah perjalanan pulang.Karena pada akhirnya, hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi pada seberapa bersih hati saat kembali kepada-Nya.
Dan makrifat adalah saat kita mengerti:
Tidak ada amal yang sampai kepada Allah, kecuali yang lahir dari hati yang mengenal-Nya.Di tepi Jalan Raya Juanda itu, 1000 paket ta’jil mungkin telah habis terbagi.
Namun cahaya yang ditanam cahaya kesadaran, cahaya keikhlasan, cahaya tauhid semoga terus menyala, bahkan setelah Ramadhan berlalu. (Bgn)***Berbagi Berkah Ramadan, Danlanal Batuporon Bagikan Takjil Gratis di Tanean Suramadu
WARTAPENASATUJATIM | BANGKALAN – Berbagi Berkah Ramadan, Danlanal Batuporon Bagikan Takjil Gratis di Tanean Suramadu
Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Batuporon, Letkol Laut (P) Ari Wibowo, S.E., M.Tr.Opsla., menggelar aksi kemanusiaan berupa pembagian takjil gratis.
Kegiatan ini berlangsung di kawasan Tanean Suramadu arah menuju Madura pada Jumat (27/02/2026).
Didampingi Ketua Cabang 5 Daerah Jalasenastri Kodaeral V, Ny. Marissa Ari, Danlanal Batuporon turun langsung menyapa pengendara dan masyarakat yang melintas untuk membagikan paket makanan berbuka puasa.
Letkol Laut (P) Ari Wibowo menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur serta upaya untuk meraih pahala di bulan yang penuh kemuliaan.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum emas untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT melalui aksi nyata membantu sesama.
“Kami ingin memanfaatkan kesempatan di bulan suci ini untuk berbagi kebahagiaan. Sebagaimana teladan Rasulullah SAW, betapa mulianya tangan yang bergerak untuk memberikan kenyamanan bagi saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa,” ujar Danlanal di sela-sela kegiatan.
Ia juga menekankan pentingnya motivasi spiritual dalam berbagi. Mengutip nilai-nilai religius, ia menyebutkan bahwa memberi makan orang yang berpuasa memiliki keutamaan pahala yang besar, setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala aslinya.
Lebih lanjut, Danlanal memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Perwira Staf, prajurit, serta pengurus Jalasenastri Lanal Batuporon yang telah menyukseskan acara ini dengan penuh antusias.
“Kegiatan ini terselenggara berkat semangat kolektif jajaran Lanal Batuporon. Ini adalah bukti konkret bahwa TNI Angkatan Laut selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, memberikan manfaat, dan senantiasa diterima dengan baik oleh rakyat,” tegasnya.
Aksi pembagian takjil ini mendapat respons positif dari para pengguna jalan yang merasa terbantu, terutama bagi mereka yang masih dalam perjalanan saat waktu berbuka puasa tiba. (Azis)***
MAKI Jatim Tak Kan Lelah Mengejar Matahari: Dari Syariat Menuju Hakikat, Dari Berbagi Menuju Makrifat Lewat Nandur Becik
WARTAPENASATUJATIM | Gresik, 27 Februari 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ruhani. Dari syariat menuju hakikat. Dari hakikat menuju makrifat. Dari sekadar memberi menuju benar-benar mengenal siapa Pemberi segala rezeki.
Di Jalan Raya Menganti, depan Perum Menganti Permai, Kelurahan Hulakan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, langkah-langkah sederhana para relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menjelma menjadi pelajaran batin yang dalam.
Sebanyak 1.250 paket ta’jil dibagikan kepada para pengguna jalan. Namun dalam pandangan hakikat, yang bergerak bukan hanya tangan manusia. Yang bekerja adalah kehendak-Nya. Yang mengalir bukan sekadar makanan, tetapi rahmat Allah yang dititipkan melalui hamba kepada hamba.
Secara syariat, kegiatan itu adalah amal sosial. Paket demi paket berpindah tangan: mie goreng, kurma, es sirup melon berisi blewah, jajanan jadul, dan aneka gorengan yang akrab di lidah rakyat.
Semua tampak biasa. Semua tampak sederhana.
Namun syariat hanyalah pintu. Ia adalah bentuk lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Dalam hakikat, berbagi bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Semua hanyalah titipan.
Rezeki yang di tangan kita bukan milik kita. Ia hanya singgah. Ketika ia dibagikan, sesungguhnya ia sedang kembali kepada Pemiliknya.
Di titik ini, hati mulai menyadari:
Tidak ada yang benar-benar kaya.
Tidak ada yang benar-benar miskin.
Yang ada hanyalah hamba yang sedang diuji dengan kelapangan atau kekurangan.Ramadhan mengosongkan perut agar manusia memahami satu hal mendasar: ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat lapar terasa, ego melemah. Saat dahaga datang, kesombongan luruh. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita ini fakir di hadapan-Nya.
Makrifat adalah ketika hati tidak lagi melihat amal sebagai kebanggaan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekat.
Ketika paket ta’jil diberikan, hati yang terjaga tidak berkata, “Aku telah memberi.”
Ia berkata, “Allah telah menggerakkan.”Ketika senyum penerima terlihat, hati yang sadar tidak merasa berjasa.
Ia justru merasa ditolong untuk membersihkan diri dari cinta dunia.Di sanalah makrifat tumbuh:
Saat amal tidak lagi menjadi panggung diri, tetapi menjadi jalan sunyi menuju ridha Ilahi.Sebagai gerakan yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan ritual, tetapi sebagai madrasah kesadaran.
Korupsi lahir dari hati yang merasa memiliki.
Kejujuran lahir dari hati yang merasa diawasi.Dalam maqam makrifat, manusia hidup dalam muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, bahkan atas bisikan terdalam.
Jika kesadaran ini bersemayam, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan hukum. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ia menjadi napas kehidupan.
Menjelang Maghrib, langit memerah keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat tanpa suara.
Barangkali yang terlihat hanyalah pembagian makanan di tepi jalan.
Namun yang terjadi sesungguhnya adalah latihan jiwa.Latihan untuk tidak melekat pada dunia.
Latihan untuk mencintai tanpa pamrih.
Latihan untuk menyadari bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah perjalanan pulang.Karena pada akhirnya, hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi pada seberapa bersih hati saat kembali kepada-Nya.
Dan makrifat adalah saat kita mengerti:
Tidak ada amal yang sampai kepada Allah, kecuali yang lahir dari hati yang mengenal-Nya.Di tepi Jalan Menganti itu, 1.250 paket ta’jil mungkin telah habis terbagi.
Namun cahaya yang ditanam cahaya kesadaran, cahaya keikhlasan, cahaya tauhid semoga terus menyala, bahkan setelah Ramadhan berlalu. (Bgn)***MAKI Jatim Nandur Becik Bagi 1000 Tajil di By Pass Juanda Sidoarjo
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 26 Februari 2026 – Ramadhan adalah musim di mana langit terasa lebih dekat dan doa-doa melayang lebih ringan. Ia hadir bukan sekadar mengganti nama bulan, melainkan menggugah kesadaran terdalam manusia: bahwa hidup adalah amanah, dan setiap detiknya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Pada hari kedelapan yang penuh keberkahan, nilai itu menjelma menjadi gerak nyata. Di Jalan Raya By Pass Juanda, di depan Klinik Sheila Medika, relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri menyapa para pengguna jalan dengan senyum dan doa. Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang melintas, menjadi oase kecil di tengah perjalanan panjang menjelang waktu berbuka.
Sore itu, yang terlihat bukan sekadar aktivitas sosial. Yang terasa adalah denyut keikhlasan. Satu per satu bingkisan berpindah tangan: lontong balap petis lengkap dengan tahu dan lento, kurma manis pengingat sunnah, es sirup melon dengan blewah yang menyegarkan, serta aneka gorengan sederhana yang akrab di lidah rakyat. Namun sesungguhnya, yang berpindah bukan hanya makanan melainkan doa dan harapan.
Ramadhan mengajarkan bahwa tangan yang memberi dan tangan yang menerima sama-sama dimuliakan. Yang satu belajar tentang syukur dalam kecukupan, yang lain belajar tentang syukur dalam penerimaan. Di antara keduanya, Allah menghadirkan keberkahan yang tak kasat mata.
Puasa adalah jalan sunyi untuk membersihkan jiwa. Ia melatih kesabaran, mengikis kesombongan, dan menumbuhkan empati. Saat perut terasa kosong, hati justru diisi dengan kesadaran bahwa segala nikmat bersumber dari-Nya. Saat tenggorokan mengering, jiwa diingatkan bahwa tanpa rahmat-Nya, manusia tak memiliki apa-apa.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT. Baginya, berbagi adalah bentuk ibadah sosial ikhtiar kecil untuk menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.
“Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya bersih dalam ibadah pribadi, tetapi juga jujur dan peduli dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang konsisten menyerukan integritas dan perlawanan terhadap korupsi, MAKI memandang bulan suci sebagai momentum muhasabah bersama. Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran nurani. Ia mencederai amanah dan merusak kepercayaan dua hal yang dalam Islam dijunjung sebagai nilai suci.
Ramadhan adalah madrasah takwa. Di dalamnya, manusia diajak menghidupkan muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi. Ketika kesadaran itu bersemayam dalam dada, kejujuran tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Integritas tidak lagi dipaksakan oleh aturan, tetapi tumbuh dari iman.
Menjelang Maghrib, langit memancarkan cahaya keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Beberapa pengendara menengadahkan tangan, memanjatkan doa sebelum berbuka. Dalam hening yang singkat itu, seolah-olah waktu ikut bersaksi: bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia.
Barangkali yang dibagikan hanyalah makanan sederhana. Namun yang ditebar adalah kasih sayang. Yang dihidupkan adalah persaudaraan. Dan yang dicari hanyalah ridha Allah SWT.
Ramadhan mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada jabatan atau harta, tetapi pada ketakwaan. Bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan pada seberapa tulus yang disalurkan.
Di hari kedelapan itu, seribu paket ta’jil menjadi simbol bahwa ketika iman menyala, kepedulian pun menyebar. Bahwa di tengah dunia yang sering gaduh oleh kepentingan, masih ada hati-hati yang memilih untuk memberi.
Dan pada akhirnya, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah jejak menuju ampunan-Nya. (Bgn)***
MAKI Jatim di Hari Ketujuh Bagi 1000 Paket Tajil di Kota Malang: Ketika Iman, Integritas, dan Kemanusiaan Menyatu
WARTAPENASATUJATIM | Malang, 25 Februari 2026 – Ramadhan turun ke bumi bukan hanya sebagai pergantian bulan, tetapi sebagai peristiwa langit yang mengetuk pintu hati manusia. Ia hadir membawa cahaya yang menembus kesibukan, meneduhkan kegaduhan, dan menghidupkan kembali nurani yang mungkin lama terdiam. Di Surabaya, bulan suci menjelma menjadi denyut spiritual yang terasa di setiap sudut kota.
Fajar menyingsing dengan lantunan ayat-ayat suci. Siang berjalan dalam kesabaran. Dan senja menutup hari dengan doa-doa yang mengambang di cakrawala. Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan pulang menuju fitrah menuju hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan kesadaran bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT.
Pada hari ketujuh yang sarat keberkahan, Jalan Kepanjen di depan Kantor Bupati Malang menjadi saksi bagaimana iman diterjemahkan dalam tindakan nyata. Relawan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri dengan wajah-wajah tulus, membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.
Di antara deru kendaraan dan langkah yang bergegas, tangan-tangan terulur dengan penuh kelembutan. Sebanyak 250 paket lontong soto ayam lengkap dengan kerupuk udang dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon berisi blewah, serta 250 paket jajanan tradisional dibagikan dengan tertib. Sederhana dalam bentuk, namun agung dalam makna.
Karena sejatinya, Ramadhan mengajarkan bahwa nilai amal tidak terletak pada kemegahan, tetapi pada keikhlasan. Setiap bingkisan yang berpindah tangan adalah saksi niat. Setiap senyum yang terukir adalah cermin syukur. Dan setiap doa yang terucap lirih adalah jembatan antara bumi dan langit.
Puasa adalah madrasah ketakwaan. Ia melatih manusia menundukkan ego, meredam kesombongan, dan menyadari betapa rapuhnya diri tanpa pertolongan Allah. Dalam rasa lapar, tumbuh empati terhadap mereka yang kekurangan. Dalam rasa haus, lahir kesadaran bahwa setiap teguk air adalah rahmat yang tak ternilai.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ungkapan syukur atas nikmat yang Allah SWT anugerahkan. Syukur, dalam ajaran Islam, bukan hanya ucapan yang meluncur dari lisan, tetapi amal yang hidup dalam tindakan nyata.
“Berbagi adalah cara kita menjaga hati tetap hidup. Kita hanya perantara dari rahmat Allah,” ungkapnya.
Sebagai lembaga yang konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, MAKI memaknai Ramadhan sebagai momentum penyucian nurani. Dalam pandangan iman, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap amanah Ilahi. Ia lahir dari hati yang lalai, dari jiwa yang lupa bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Yang Maha Melihat.
Ramadhan hadir untuk menghidupkan kembali kesadaran itu. Ia menanamkan muraqabah—rasa diawasi oleh Allah dalam setiap langkah. Ketika keyakinan itu bersemayam kuat, integritas tumbuh tanpa paksaan. Ia mengalir dari takwa. Ia bersemi dari cinta dan takut kepada Allah SWT.
Menjelang adzan Maghrib, langit Surabaya berpendar jingga keemasan. Waktu seakan melambat. Doa-doa terangkat bersama hembusan angin senja. Di tengah riuh kota, ada keheningan yang suci hening yang menyatukan manusia dengan Tuhannya.
Mungkin yang dibagikan hanyalah makanan untuk berbuka. Namun yang sesungguhnya disebarkan adalah kasih sayang. Yang ditegakkan adalah nilai kemanusiaan. Dan yang dituju adalah ridha Allah SWT.
Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menumpuk harta, melainkan menguatkan makna. Bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, dan setiap amal kebaikan adalah bekal menuju keabadian.
Di bawah langit senja yang bersaksi, terpatri pesan yang tak lekang oleh waktu:
Bahwa iman tanpa tindakan adalah hampa.
Bahwa keikhlasan adalah mahkota kemuliaan.Dan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan kembali sebagai cahaya di hari ketika tak ada lagi yang tersisa selain amal dan rahmat-Nya. (Bgn)***
MAKI Jatim Berbagi 1000 Paket Ta’jil, Tebar Ibadah, Integritas dan Ketakwaan
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Ramadhan kembali hadir sebagai bulan yang menautkan langit dan bumi dalam satu tarikan napas keimanan. Pada hari kelima yang penuh keberkahan itu, hiruk-pikuk kehidupan perlahan melunak oleh kesadaran ruhani. Waktu seakan berjalan lebih hening, memberi ruang bagi hati untuk bercermin dan jiwa untuk kembali pada fitrahnya.
Di tengah suasana yang sarat makna tersebut, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan seribu paket ta’jil bagi masyarakat Surabaya dan Sidoarjo yang melintas di Jalan Raya Juanda, tepat di depan Kantor Dinas Kehutanan Jawa Timur.
Sebanyak 250 paket nasi kuning lengkap dengan serundeng, ayam, irisan telur dadar, dan kering tempe; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi jelly; serta 250 paket jajanan tradisional dibagikan dengan senyum yang tulus dan doa yang lirih. Setiap bingkisan yang berpindah tangan bukan sekadar makanan berbuka, melainkan tanda cinta dan kepedulian di antara sesama hamba Allah.
Ramadhan mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar rasa di perut, tetapi pintu menuju empati. Dahaga bukan sekadar ujian fisik, melainkan jembatan menuju kesadaran bahwa di luar sana ada saudara-saudara yang setiap hari hidup dalam keterbatasan.
Dalam dimensi makrifat, memberi adalah latihan melepaskan ego. Setiap paket ta’jil yang dibagikan adalah pengingat bahwa harta hanyalah titipan, sementara manusia hanyalah penjaga amanah. Yang kita genggam hari ini bisa saja bukan milik kita esok hari. Maka berbagi adalah cara menyucikan kepemilikan agar tidak berubah menjadi keterikatan.
Puasa melunakkan hati, berbagi menumbuhkan kasih. Ketika keduanya berpadu, lahirlah jiwa yang lebih bening, lebih peka, dan lebih sadar bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak kita memiliki, tetapi seberapa dalam kita memaknai keberadaan.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur kepada Allah SWT. Syukur sejati, katanya, bukan hanya diucapkan dalam doa, tetapi diwujudkan dalam amal nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.
Ramadhan menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai integritas. Sebab kejujuran dan keadilan bukan hanya konsep hukum, melainkan buah dari kesadaran spiritual. Ketika manusia menyadari bahwa Allah Maha Melihat setiap niat dan perbuatannya, maka ia akan menjaga dirinya dari penyimpangan.
Korupsi, dalam perspektif batin, lahir dari hati yang lupa kepada Tuhannya. Sebaliknya, ketakwaan melahirkan integritas. Maka berbagi di bulan Ramadhan bukan hanya tentang memberi makan, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran moral dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Menjelang azan Maghrib, ketika langit Surabaya merona jingga, wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan rasa syukur yang sederhana namun dalam. Di antara suara kendaraan dan hembusan angin petang, ada doa-doa yang terangkat perlahan, memohon keberkahan bagi yang memberi dan yang menerima.
Ramadhan mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia kumpulkan, tetapi dari apa yang ia relakan. Tidak dari seberapa tinggi ia berdiri, tetapi dari seberapa rendah ia menundukkan hati di hadapan Tuhannya.
Pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah banyaknya paket yang dibagikan, melainkan kebeningan niat dan keikhlasan dalam dada.
Ramadhan adalah perjalanan pulang pulang menuju fitrah, pulang menuju kesadaran bahwa segala yang kita miliki berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
Dan di antara cahaya senja Jalan Raya Juanda, tersirat pesan agung:
bahwa kasih sayang adalah bahasa iman,
bahwa berbagi adalah jalan penyucian,
dan bahwa manusia akan dimuliakan bukan karena hartanya,
melainkan karena hatinya. (Bgn)***MAKI Jatim Bagi 1000 Paket Ta’jil di Pasar Sayur Magetan
WARTAPENASATUJATIM | Magetan – Di kota Magetan, gema Ramadhan tidak hanya terdengar dari lantunan ayat suci dan doa-doa yang terucap lirih, tetapi juga dari langkah-langkah sunyi yang memilih berbagi tanpa pamrih. Pada hari ketiga bulan yang mulia, ketika cahaya senja meneteskan warna keemasan di langit, Pasar Sayur Magetan menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kemanusiaan.
Di tempat itu, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat. Terdiri dari 250 paket mie goreng lengkap dengan telur dadar dan kerupuk udang, 250 paket kurma, 250 botol es sirup cocopandan dengan isian jelly, serta 250 paket jajanan tradisional. Sederhana dalam bentuk, namun agung dalam makna.
Karena dalam pandangan ruhani, berbagi bukan sekadar aktivitas sosial ia adalah ibadah yang menembus langit. Tangan yang memberi sejatinya sedang dididik untuk melepaskan. Hati yang berbagi sedang dilatih untuk tunduk. Setiap paket yang berpindah tangan adalah saksi bahwa manusia tidak hidup sendiri; ia terikat dalam jaringan takdir yang dirajut oleh kasih sayang Allah.
Ramadhan mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar rasa di perut, melainkan jendela empati. Dahaga bukan sekadar kekeringan tenggorokan, melainkan jalan memahami penderitaan sesama. Dalam kesadaran makrifat, manusia menyadari bahwa dirinya faqir di hadapan Allah, dan karena itu ia belajar menjadi dermawan kepada sesama.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Namun hakikat syukur bukan hanya pada ucapan, melainkan pada pengakuan batin bahwa kesempatan memberi pun adalah karunia. Allah yang menggerakkan hati, Allah yang melapangkan rezeki, dan Allah pula yang mempertemukan pemberi dan penerima dalam satu momen yang telah tertulis di Lauhul Mahfuz.
Sebagai lembaga yang konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan bukan hanya momentum berbagi, tetapi juga momentum membersihkan jiwa. Sebab korupsi tidak lahir dari kekurangan harta, melainkan dari kekosongan ruhani. Ketika hati jauh dari muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi maka nafsu mudah mengambil alih.
Di sinilah nilai humanisme Ilahiah menemukan bentuknya. Bahwa membangun masyarakat yang bersih bukan hanya soal hukum dan aturan, tetapi juga soal hati yang hidup. Integritas yang sejati tumbuh dari ketakwaan; dari keyakinan bahwa setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban, dan setiap perbuatan sekecil apa pun tercatat dengan sempurna.
Menjelang adzan Maghrib, wajah-wajah yang menerima ta’jil memancarkan syukur yang jernih. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya makanan pembuka puasa. Namun bagi mata hati, itu adalah tanda bahwa rahmat Allah bekerja melalui manusia-manusia yang bersedia menjadi perantara kebaikan.
Karena pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah angka seribu, bukan pula kemeriahan kegiatan, melainkan ketulusan niat yang tersembunyi dalam dada.
Ramadhan adalah jalan kembali, kembali kepada fitrah, kepada kesadaran bahwa kita hanyalah hamba.
Dan setiap tangan yang terulur dengan ikhlas adalah jembatan menuju cahaya ridha-Nya. (Bgn)***MAKI Jatim Bagi Seribu Ta’jil, Sejuta Cahaya: Jejak Cinta Menuju Ridha Allah
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya — Pada hari kedua bulan suci Ramadhan, ketika matahari condong ke barat dan langit Kota Surabaya berpendar keemasan, suasana di Jalan A. Yani, tepat di depan Kantor Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, menjadi saksi bagi sebuah gerak sunyi yang berakar pada iman.
Di sana, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat. Terdiri dari 250 paket donat dan aneka gorengan, 250 paket kurma, 250 mangkuk kolak gula merah bersantan lengkap dengan ubi, pohong, dan pisang, serta 250 paket jajanan tradisional semuanya berpindah tangan dengan senyum yang teduh dan doa yang lirih.
Namun bagi hati yang menempuh jalan makrifat, Ramadhan bukanlah peristiwa sosial semata.
Ia adalah mi‘raj batin, pendakian ruh menuju kesadaran terdalam bahwa tiada daya dan upaya selain dari Allah.
Lapar dan dahaga hanyalah pintu; di baliknya ada penyadaran bahwa manusia pada hakikatnya faqir miskin di hadapan Yang Maha Kaya.
Dalam pandangan ruhani, memberi bukan sekadar memindahkan makanan dari satu tangan ke tangan lain.
Memberi adalah melepaskan sebagian keterikatan dunia yang selama ini diam-diam membelenggu jiwa.
Setiap paket ta’jil yang dibagikan sejatinya adalah latihan fana mengikis rasa memiliki, menumbuhkan kesadaran bahwa semua yang ada hanyalah titipan.
Ramadhan mendidik manusia untuk menyelami muraqabah: merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak dan niat.
Ketika tangan terulur untuk berbagi, hati diajak untuk jujur kepada dirinya sendiri apakah ini karena pujian, atau karena cinta kepada-Nya?
Di situlah makrifat diuji, bukan dalam keramaian, melainkan dalam keheningan niat.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur dan penghayatan nilai Ramadhan.
Tetapi lebih dalam dari itu, syukur sejati adalah menyadari bahwa kesempatan memberi pun adalah karunia.
Allah-lah yang menggerakkan hati, Allah-lah yang mempertemukan tangan pemberi dan penerima dalam satu takdir yang indah.
Bagi MAKI, yang dikenal konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, Ramadhan adalah cermin untuk membersihkan batin.
Sebab korupsi bukan semata pelanggaran hukum; ia berakar pada penyakit hati pada jiwa yang tak pernah merasa cukup, pada hati yang lupa bahwa Allah Maha Melihat bahkan bisikan paling tersembunyi.
Makrifat menuntun manusia memahami bahwa amanah bukan sekadar tanggung jawab administratif, melainkan perjanjian ruhani.
Setiap jabatan akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap rupiah akan ditanya dari mana datang dan ke mana pergi.
Kesadaran inilah yang melahirkan integritas yang sejati integritas yang tumbuh bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena takut kehilangan ridha-Nya.
Menjelang azan Maghrib, di antara deru kendaraan dan hembusan angin senja, wajah-wajah yang menerima ta’jil memancarkan rasa syukur sederhana.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya sekantong makanan. Namun bagi yang menatap dengan mata hati, itu adalah tanda bahwa rahmat Allah selalu menemukan jalannya melalui tangan-tangan yang bersedia menjadi perantara.
Pada akhirnya, yang sampai kepada Allah bukanlah jumlah paket yang dibagikan, melainkan kejernihan niat dan ketulusan hati.
Ramadhan adalah jalan pulang jalan kembali kepada fitrah, kepada kesadaran bahwa kita hanyalah hamba.
Dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, sekecil apa pun, adalah satu langkah sunyi menuju cahaya-Nya. (Bgn)***