Jaga Desa “Goyang” Karawang, Jamintel Beri Pengarahan kepada BPD se-Kabupaten
WARTAPENASATUJATIM | Karawang – Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI, Prof. Reda Manthovani mendorong penguatan pengawasan pengelolaan dana desa kepada ribuan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) se-Karawang melalui program Jaga Garda Desa.
Pesan tersebut disampaikan dalam agenda Safari Ramadan bersama Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) pada Rabu (11/3/2026) di Karawang, Jawa Barat.
Prof Reda menegaskan program Jaga Desa dirancang untuk memberdayakan Badan Permusyawaratan Desa agar berkolaborasi dengan Kejaksaan dalam memonitor kinerja perangkat desa.

Fokus utama pengawasan diarahkan pada tata kelola keuangan desa agar penggunaan anggaran berjalan transparan dan akuntabel.
Prof Reda menjelaskan pengawalan pengelolaan keuangan desa dilakukan melalui integrasi sistem Siskeudes dengan aplikasi Jaga Desa.
Integrasi sistem tersebut memungkinkan pemantauan laporan pertanggungjawaban kepala desa secara langsung oleh jajaran Kejaksaan.
Data yang berasal dari Siskeudes terhubung dengan aplikasi Jaga Desa yang dipantau oleh Kepala Kejaksaan Tinggi dan Kepala Kejaksaan Negeri.

Namun, Prof Reda menilai pemantauan berbasis data masih menyisakan celah karena sistem hanya menampilkan angka, sementara realisasi kegiatan di lapangan belum tentu tergambar secara utuh.
Karena alasan tersebut, Kejaksaan menggandeng BPD untuk melakukan verifikasi langsung di lapangan. Kolaborasi tersebut bertujuan memastikan program pembangunan desa yang dilaporkan dalam sistem benar-benar terlaksana sesuai rencana.
Prof Reda menegaskan peran BPD berfokus pada pengecekan realisasi program pembangunan yang tercatat dalam Siskeudes. Proses verifikasi tersebut bukan bertujuan mencari kesalahan, melainkan mendorong perbaikan apabila ditemukan pekerjaan yang belum selesai atau ketidaksesuaian laporan.

Pendekatan pengawasan kolaboratif diharapkan mampu menjaga pembangunan desa tetap berada pada jalur perencanaan dan aturan yang berlaku.
Sinergi antara Kejaksaan dan BPD juga diyakini mampu menciptakan pengawasan yang lebih konkret dan efektif.
Prof Reda mengungkapkan secara nasional terdapat sekitar 535 kepala desa yang terjerat kasus tindak pidana korupsi. Di wilayah Karawang, jumlah kasus tergolong relatif kecil karena baru tercatat satu perkara.
Kondisi tersebut menurutnya harus dijaga agar tidak terjadi peningkatan kasus serupa. Upaya pencegahan melalui pengawasan kolaboratif menjadi langkah penting untuk menutup peluang penyalahgunaan dana desa.

Prof Reda juga menyoroti pola umum kasus korupsi di tingkat desa yang sering dipicu oleh anggapan keliru terhadap dana desa. Sejumlah oknum kepala desa menganggap anggaran tersebut sebagai uang pribadi sehingga membuka peluang terjadinya penyimpangan.
Sementara itu, Bupati Karawang Aep Syaepuloh menyambut positif kegiatan Safari Ramadan yang digelar Kejaksaan Agung.
Pemerintah Kabupaten Karawang menilai kegiatan tersebut memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, BPD, dan Kejaksaan dalam mengawal pembangunan desa.
Aep menyampaikan apresiasi atas kehadiran jajaran Kejaksaan Agung yang melibatkan BPD dalam penguatan pengawasan desa. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat tata kelola pemerintahan desa di wilayah Karawang.
Menurut Aep, berbagai program pembangunan desa telah melalui mekanisme musyawarah desa sebelum dijalankan. Proses perencanaan melibatkan masyarakat sehingga setiap program memiliki dasar kebutuhan yang jelas.

Program pembangunan yang dibahas dalam musyawarah desa mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan hingga pemberian insentif bagi petani.
Kebijakan pemberian insentif bagi lahan sawah menjadi salah satu program penting mengingat sebagian besar masyarakat Karawang berprofesi sebagai petani.
Aep berharap penguatan pengawasan anggaran desa melalui program Jaga Desa mampu mendorong pengelolaan dana desa yang semakin transparan dan bijak.

Kolaborasi antara Kejaksaan, pemerintah daerah, dan BPD juga diyakini dapat mempercepat kemajuan daerah sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional.***
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)
Fun Padel Community Surabaya Jadikan Lapangan Padel Panggung Aksi Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 11 Maret 2026 – Di tengah tren olahraga padel yang semakin digemari di berbagai kota besar, sebuah komunitas baru di Surabaya mencoba menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar aktivitas olahraga.
Fun Padel Community, komunitas padel yang baru berdiri di Kota Pahlawan, menggelar kegiatan perdananya dengan konsep yang berbeda. Tidak hanya bermain dan berkeringat di lapangan, komunitas ini juga menjadikan olahraga sebagai sarana untuk berbagi kepada sesama.
Kegiatan bertajuk fun padel charity tersebut digelar sebagai momentum pembuka bagi komunitas yang masih sangat muda ini. Seluruh kontribusi yang terkumpul dari para peserta langsung dialokasikan sepenuhnya untuk kegiatan sosial.

Menariknya, tidak ada potongan biaya apa pun dalam kegiatan tersebut. Bahkan penggunaan lapangan disediakan secara gratis, sehingga seluruh donasi yang terkumpul benar-benar dapat dimaksimalkan untuk kegiatan amal.
Dana tersebut akan digunakan untuk menyiapkan paket takjil yang akan dibagikan kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa pada Kamis besok. Jumlah paket yang disiapkan akan menyesuaikan dengan total donasi yang berhasil dihimpun dari kegiatan ini.
Di balik lahirnya komunitas ini terdapat sosok Bella Queen, atau yang memiliki nama asli Nabila Septiani. Ia menjadi pemrakarsa berdirinya Fun Padel Community sekaligus penggagas kegiatan olahraga yang dipadukan dengan aksi sosial ini.
Bella menjelaskan bahwa kegiatan ini sejak awal memang tidak dirancang sebagai acara olahraga biasa. Baginya, komunitas ini ingin menghadirkan ruang kebersamaan yang terbuka bagi siapa pun, tanpa melihat latar belakang.
“Semua teman-teman yang mendukung dan berpartisipasi dalam acara ini sangat kami apresiasi. Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan antarumat,” ujar Bella.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Nella yang telah memberikan dukungan besar dalam terselenggaranya kegiatan di lapangan padel kawasan Citraland Surabaya.
Bagi Bella, kegiatan berbagi takjil ini bukan hanya memberikan manfaat bagi masyarakat yang menerima bantuan, tetapi juga menghadirkan pengalaman bermakna bagi para peserta yang terlibat langsung.
“Berkahnya bukan hanya untuk yang menerima, tetapi juga untuk semua yang ikut ambil bagian dalam kegiatan ini,” tuturnya.
Fun Padel Community sendiri terbilang sangat baru. Komunitas ini resmi berdiri pada 22 Februari 2026 dan hingga saat ini jumlah anggotanya masih belum mencapai 20 orang. Meski demikian, semangat para pendiri dan anggota untuk membangun komunitas yang positif terasa sangat kuat.
Kegiatan fun padel charity ini sekaligus menjadi momen pembukaan resmi komunitas tersebut.
Sebagian besar anggota berasal dari Surabaya, meskipun minat dari luar kota juga mulai muncul. Bella berharap ke depan komunitas ini dapat berkembang lebih luas dan menarik partisipasi dari berbagai daerah.
Lokasi kegiatan di kawasan Citraland dinilai cukup strategis karena mudah dijangkau oleh berbagai kalangan yang ingin mencoba olahraga padel.
Menurut Bella, tujuan utama komunitas ini adalah menciptakan ruang belajar bersama bagi para pecinta olahraga padel, terutama bagi mereka yang masih pemula.
Sebagian besar anggota komunitas saat ini bahkan masih berada pada tahap dasar dalam bermain padel. Namun hal tersebut justru menjadi semangat bagi komunitas ini untuk membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin mencoba olahraga tersebut.
“Kalau hanya yang sudah mahir saja yang boleh bermain, maka pemula akan sulit untuk mulai belajar. Karena itu kami ingin komunitas ini terbuka untuk siapa saja,” jelasnya.
Dalam kegiatan perdana ini bahkan tidak ada pelatih khusus yang ditunjuk. Para peserta saling belajar satu sama lain, berbagi pengalaman, dan menikmati permainan dengan suasana santai.
Bagi Bella, yang paling penting bukanlah siapa yang paling hebat bermain, melainkan bagaimana olahraga dapat menjadi sarana membangun kebersamaan dan kepedulian.
Sebagai komunitas yang masih dalam tahap berkembang, Bella menyadari bahwa perjalanan mereka masih panjang. Namun ia tetap optimistis karena komunitas ini lahir dari semangat positif untuk membangun ruang kebersamaan sekaligus menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Ia pun berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi komunitas olahraga lain untuk turut menghadirkan kegiatan sosial serupa.
“Semoga nanti semakin banyak komunitas olahraga yang membuat kegiatan amal yang lebih besar lagi,” ujarnya.
Ke depan, Fun Padel Community berencana menggelar kegiatan olahraga rutin setidaknya satu kali dalam seminggu. Sementara kegiatan sosial seperti charity diharapkan dapat dilakukan secara berkala, minimal sebulan sekali.
Saat ini komunitas tersebut masih bergerak secara sederhana melalui grup komunikasi daring. Namun dalam waktu dekat mereka juga berencana membuat akun media sosial sebagai sarana informasi dan komunikasi dengan masyarakat.
Tujuannya bukan sekadar menambah anggota, tetapi juga mengajak lebih banyak orang untuk terlibat dalam kegiatan positif yang menggabungkan olahraga, kebersamaan, dan aksi kemanusiaan.
“Setiap anggota berkewajiban berkontribusi, dan hasilnya akan dibagikan kepada masyarakat melalui pembagian takjil bagi mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa,” kata Bella.
Bagi komunitas kecil ini, keberhasilan kegiatan perdana tersebut menjadi bukti bahwa olahraga dapat menjadi jembatan untuk menumbuhkan kepedulian sosial.
Di bulan Ramadan yang penuh berkah, lapangan padel bukan hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang untuk mempererat persaudaraan dan menebarkan semangat berbagi di tengah masyarakat. (Bgn)***
MAKI Jatim Bagi 1.000 Ta’jil di Bulan Suci: Ketika Kepedulian Menjadi Bahasa Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 11 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah datang sekadar sebagai pergantian bulan dalam hitungan kalender. Ia hadir membawa cahaya yang lembut, mengetuk hati manusia yang sering kali terlena oleh hiruk pikuk kehidupan dunia.
Bulan suci ini adalah undangan Ilahi untuk berhenti sejenak dari perjalanan panjang mengejar ambisi, harta, dan kepentingan pribadi. Ramadan mengajak manusia kembali menatap dirinya sendiri dengan jujur, merenungi hakikat kehidupan yang sesungguhnya.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan tentang seberapa besar manusia mampu menghadirkan manfaat bagi sesamanya.
Puasa mengajarkan manusia makna kesederhanaan yang kerap terlupakan. Ketika lapar dan dahaga ditahan sepanjang hari, manusia belajar merasakan apa yang mungkin setiap hari dirasakan oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Di sanalah empati lahir.
Di sanalah hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.Ramadan seakan mengingatkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian. Setiap jiwa terhubung oleh benang kemanusiaan yang sama, oleh nilai kasih sayang yang menjadi inti dari ajaran Ilahi.
Apa yang dimiliki manusia hari ini pada hakikatnya hanyalah titipan. Rezeki, kesehatan, kesempatan, bahkan waktu semuanya adalah amanah dari Allah SWT yang suatu hari kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Bagaimana manusia menggunakannya.
Untuk dirinya sendiri, atau juga untuk kebaikan orang lain.Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasanya di Jalan Ahmad Yani, tepat di sebelah CITO Mall Bundaran Waru, Surabaya. Kendaraan melintas tanpa henti. Deru mesin bersahutan. Para pengendara bergegas pulang setelah seharian beraktivitas.
Kota bergerak dalam ritmenya yang sibuk.
Namun di tengah arus lalu lintas yang padat itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar aktivitas biasa.Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Para relawan berdiri di tepi jalan, dengan senyum ramah dan tangan terbuka. Paket-paket itu diberikan kepada pengendara, pekerja jalanan, hingga masyarakat yang melintas di kawasan tersebut.
Isi paketnya sederhana, namun penuh kehangatan:
– 250 pack bihun goreng bakso dengan irisan telur dadar
– 250 pack kurma
– 250 mangkuk mika kolak kacang hijau dan kolang-kaling
– 250 pack paket gorengan berupa lumpia dan tahu bakso Mbak( Pipin Waru).Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk berbuka.
Namun bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan bukan sekadar hidangan pelepas dahaga. Ia adalah simbol kepedulian, bukti bahwa di tengah kesibukan dunia yang sering terasa keras, masih ada hati yang memilih untuk berbagi.
Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali terlihat kecil dan sederhana.
Namun justru di sanalah kemanusiaan menemukan maknanya.
Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diserahkan. Memberi adalah tentang kelapangan hati untuk peduli terhadap orang lain.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Syukur sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama.
“Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.
Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang bergerak dalam semangat melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada penegakan hukum semata.
Perubahan juga lahir dari kesadaran moral masyarakat.
Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari, sebab dari situlah lahir masyarakat yang adil dan bermartabat.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan nuansa yang tenang dan damai.
Di bawah langit itu, para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas.
Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima. Tidak ada panggung megah.
Tidak ada perayaan besar.Namun ada kebahagiaan yang tulus.
Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling jujur justru lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu seakan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Bahwa di balik kerasnya dinamika kota, masih ada ruang bagi kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi antara manusia dan Tuhannya.
Ramadan juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.
Karena kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Ahmad Yani sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.
Sebab ketika manusia saling peduli,
di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bgn)***Legiun Veteran Republik Indonesia Cabang Kota Surabaya Berbagi Takjil, 800 Paket Ludes Dalam Hitungan Menit
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya Metropolitan – Hari Rabu (11/03/2026) tepat menjalani ibadah puasa Ramadhan ke-22 menurut hitungan kalender Masehi dan Keputusan Pemerintah RI, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Kota Surabaya bersama Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (PiVeri) menggelar acara berbagi takjil untuk masyarakat umum dan pengguna jalan yang sedang melintas di depan Gedung Markas Cabang Kota Surabaya di Jalan Raya Mastrip Surabaya.
Tidak menunggu lama, dalam hitungan menit sebanyak 800 lebih paket takjil habis dibagikan kepada masyarakat dan para pengguna jalan.
Hadir dalam acara berbagi takjil tersebut Kolonel Purn. Gitoyo SE, MM selaku Ketua DPC LVRI Kota Surabaya, Charles Tumbel dan beberapa tokoh senior Pemuda Panca Marga (PPM) yang juga ikut aktif membagikan paket takjil.

Kepada awak media yang menemuinya, Gitoyo menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang bersedia bahu membahu mempersiapkan acara ini.
Gitoyo juga menyampaikan bahwa acara berbagi takjil tidak hanya sekedar membagikan makanan saja, namun bagi keluarga pejuang kemerdekaan, bisa menjadi nostalgia bahwa saat masa perjuangan dahulu mereka juga menjadi bagian tradisi berbagi itu, sebagai pejuang mendapatkan dukungan dan bantuan logistik (makanan/bahan makanan dan minuman) dari rakyat.
Senada dengan Gitoyo, Charles Tumbel salah satu tokoh senior PPM mengajak kepada semua pihak terutama para generasi muda untuk terus menebar kebaikan dan mempererat silaturrahmi antar warga masyarakat.

Setelah acara berbagi takjil dilanjutkan dengan acara berbuka puasa bersama dengan menu Bakso Solo dan Bakmi goreng. (Houget)***
Lebih Dari 300 Bungkus Takjil Dibagikan DPC HIPAKAD Surabaya Di Depan Gedung Dewan Harian Daerah (DHD) Juang 45
WARTAPENASATUJATIM – Surabaya Metropolitan – Di bawah guyuran hujan yang membasahi seputaran Jalan Mayjen Sungkono Surabaya, pada Selasa (10/03/2026) DPC Hipakad Surabaya menggelar acara berbagi takjil untuk masyarakat umum dan pengguna jalan yang melintas disana.
Kegiatan yang digelar di depan Gedung Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Jawa Timur ini dimulai pukul 17.00 WIB dan tidak sampai 15 menit seluruh paket takjil sudah ludes dibagikan.
Turut hadir dalam acara tersebut Babinsa Koramil Sawahan dan Satgas DPD Hipakad Surabaya.

Adapun kesuksesan penyelenggaraan acara bagi takjil ini berkat bantuan dari berbagai pihak seperti : Toko Roti Suzana Bakery, Dr. H. Fadjar Budianto, SH., MH., SpN selaku Sekretaris Umum DHD 45 Jawa Timur, Ayam Bakar Pak D, WarKop Nyonya-e, Psikolog, Sosialita dan beberapa pihak yang tidak mau dipublikasikan.
Kepada awak media yang menemuinya, Agung Wicaksono SE, selaku Ketua DPC HIPAKAD Kota Surabaya mengatakan apresiasi yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran acara ini.
“Terima kasih yang tak terhingga atas dukungan Suzana Bakery dan Sekretaris DHD 45 Jawa Timur, Ayam Bakar Pak D, ibu Psikolog, mbak Sosialita dan para pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,” ujar Agung yang didampingi Houget Ary selaku Kepala Bidang Humas DPC HIPAKAD Kota Surabaya.
Senada dengan Agung, Houget menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar berbagi makanan saja, melainkan salah satu bentuk pengabdian dan kepedulian kepada sesama.
Adi Ganjar selaku Sekretaris DPC HIPAKAD Kota Surabaya mengatakan bahwa di Bulan Puasa Ramadhan 1447 H yang penuh berkah ini, mengajak semua pihak untuk terus menebar kebaikan dan mempererat tali silaturahmi.
“Semoga aksi kecil ini memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah”, kata Adi menutup sesi wawancara, dan mengajak semua awak media untuk berbuka puasa bersama mereka.
Segenap keluarga besar DPC Hipakad Surabaya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H. (Houget)***
PPAD Jatim Berbagi Kebahagiaan Ramadhan Bersama Anak Panti Asuhan Korem 084/BJ
WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar keluarga besar Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat (PPAD) Provinsi Jawa Timur bersama anak-anak Yayasan Panti Asuhan Korem 084/Bhaskara Jaya.
Kegiatan tersebut berlangsung di aula Kantor PPAD Provinsi Jawa Timur, Jalan Brawijaya, Surabaya, Senin sore (9/3/2026), pukul 17.00 WIB.
Acara ini mengusung tema “Jalin Silaturahmi, Peduli dan Membawa Berkah Bagi Kita Semua”.

Momentum Ramadhan dimanfaatkan sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial kepada sesama, khususnya kepada anak-anak panti asuhan.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Umum PPAD, Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi, M.Sc., M.Si. (Han), beserta jajaran pengurus dan anggota PPAD Provinsi Jawa Timur.

Turut hadir pula Kepala Badan Pengawas PPAD Provinsi Jawa Timur Brigjen TNI (Purn) Ev. S. Aldian Gondokusumo, S.E., serta sejumlah undangan lainnya.
PPAD Jatim, juga mengundang Media Warta Pena Satu Jatim, yang dihadiri langsung Yuyun Ary Soekardi selaku Pimpinan Warta Pena Satu Jawa Timur.

Kehadiran puluhan anak dari Panti Asuhan Korem 084/BJ menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Anak-anak panti menerima santunan yang diberikan oleh panitia sebagai bentuk kepedulian serta perhatian terhadap generasi muda yang membutuhkan dukungan.

Dalam sambutannya, Ketua PPAD Provinsi Jawa Timur Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi menyampaikan bahwa kegiatan berbagi di bulan Ramadhan merupakan wujud nyata kepedulian sosial sekaligus sarana memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.

Menurutnya, Ramadhan merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan keimanan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi kepada sesama.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai kebersamaan serta mendukung berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan tausiyah agama yang disampaikan oleh Ustadz Mayor Infanteri Solikhudin.

Dalam ceramahnya, ia mengingatkan pentingnya memuliakan anak yatim serta memperkuat tali silaturahmi sebagai bagian dari nilai-nilai keislaman yang dianjurkan, terlebih di bulan suci Ramadhan.
Menjelang waktu berbuka puasa, seluruh peserta bersama-sama menikmati hidangan takjil untuk berbuka puasa dalam suasana penuh keakraban.

Setelah itu, panitia secara simbolis menyerahkan santunan kepada anak-anak panti asuhan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian dari keluarga besar PPAD Jawa Timur.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan berakhir sekitar pukul 18.15 WIB dalam keadaan aman, tertib, serta penuh nuansa kekeluargaan.

Melalui kegiatan ini, PPAD Provinsi Jawa Timur berharap semangat kebersamaan dan kepedulian sosial dapat terus terjaga, khususnya dalam mengisi bulan Ramadhan yang penuh berkah. (Red)***
MAKI Jatim di Hari Ke – 20 Istiqomah di Persimpangan Jalan dan Persimpangan Hati: Rajut Keberkahan Ramadan Raih Maghfirah
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 10 Maret 2026 — Ramadan selalu datang membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perubahan tanggal di kalender. Ia hadir sebagai ruang perenungan, mengajak manusia berhenti sejenak dari perjalanan panjang mengejar dunia.
Di bulan ini, manusia diajak kembali melihat dirinya dengan jujur. Menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana manusia mampu memberi makna bagi sesamanya.
Puasa mengajarkan kesederhanaan yang sering dilupakan. Ketika manusia menahan lapar dan dahaga, ia belajar memahami perasaan orang lain yang mungkin setiap hari hidup dalam kekurangan. Dalam keadaan itulah empati tumbuh, dan hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.
Ramadan perlahan mengingatkan manusia bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Setiap orang terhubung oleh benang kemanusiaan yang sama.
Apa yang kita miliki hari ini pada hakikatnya hanyalah titipan. Rezeki, kesempatan, bahkan kesehatan adalah amanah yang suatu saat akan dipertanyakan bagaimana manusia menggunakannya.
Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasa di Pertigaan Albatros Jalan Raya Juanda, Sidoarjo. Kendaraan melintas tanpa henti, para pengendara bergegas pulang, dan aktivitas kota tetap bergerak dalam ritme yang sibuk.
Namun di tengah arus lalu lintas itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna yang lebih besar.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang sedang menanti waktu berbuka puasa.
Paket-paket tersebut dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Isinya sederhana namun penuh makna: nasi putih dengan sambal goreng ati dan tahu serta irisan telur dadar, kurma, es sirup melon dengan potongan blewah yang menyegarkan, serta aneka gorengan seperti lumpia, tahu bakso, dan siomay basah.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk berbuka. Tetapi bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan adalah bentuk kepedulian yang nyata.
Ia bukan sekadar makanan, tetapi simbol bahwa di tengah kesibukan dunia, masih ada tangan-tangan yang bersedia berbagi.
Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali terlihat sederhana. Namun sesungguhnya di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.
Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diberikan. Memberi adalah tentang kesediaan hati untuk peduli terhadap orang lain.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan. Syukur harus diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain.
“Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.
Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang bergerak dalam semangat melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada hukum, tetapi juga pada kesadaran moral masyarakat.
Kejujuran, integritas, dan kepedulian adalah nilai-nilai yang harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.
Menjelang waktu berbuka puasa, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan suasana yang tenang.
Para relawan terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas. Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima.
Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada perayaan besar. Namun ada kebahagiaan yang sederhana.
Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling tulus lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.
Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.
Bahwa di balik kesibukan dan dinamika kehidupan kota, masih ada ruang bagi kepedulian dan kebersamaan.
Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi. Ia juga tentang bagaimana manusia memperkuat hubungan dengan sesamanya.
Karena dalam kehidupan ini, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Raya Juanda sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:
bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.
Sebab ketika manusia saling peduli, di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bgn)***
Ramadhan Penuh Makna, SMPN 1 Tanjung Bumi Perkuat Spiritual Siswa Lewat Pondok Ramadhan
WARTAPENASATUJATIM | BANGKALAN – Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, UPTD SMPN 1 Tanjung Bumi menggelar kegiatan Pondok Ramadhan yang berlangsung selama empat hari, mulai 9 hingga 12 Maret 2026.
Program ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam menanamkan nilai keimanan dan pembinaan karakter bagi para siswa.
Kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah di wilayah Tanjung Bumi tersebut diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh semangat.
Pondok Ramadhan menjadi momentum penting bagi siswa untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus meningkatkan kualitas ibadah selama bulan suci.
Setiap pagi kegiatan diawali dengan pelaksanaan sholat Dhuha berjamaah yang diikuti oleh siswa dan para guru.
Kegiatan ini bertujuan menanamkan kebiasaan ibadah sunnah serta membangun kedisiplinan spiritual sejak usia sekolah.
Selain itu, para siswa juga melaksanakan sholat Dhuhur berjamaah sebagai bagian dari pembiasaan ibadah wajib secara bersama-sama.
Suasana religius terasa kental ketika para siswa melaksanakan ibadah dengan khusyuk di lingkungan sekolah.
Pondok Ramadhan juga diisi dengan kegiatan tadarus Al-Qur’an yang dilakukan secara bergiliran oleh para siswa.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an sekaligus memperbaiki kemampuan membaca ayat-ayat suci.
Untuk memperdalam pemahaman keagamaan, para siswa juga mengikuti kajian kitab Sullam Safinah.
Materi ini memberikan dasar pengetahuan tentang fiqih ibadah sehingga siswa memahami tata cara ibadah yang benar sesuai tuntunan Islam.
Selain kegiatan kajian, para siswa juga mengikuti sesi kuliah tujuh menit atau kultum.
Dalam kegiatan ini, siswa diberi kesempatan menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan nilai moral di depan teman-temannya, sehingga dapat melatih keberanian sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri.
Kepala Sekolah UPTD SMPN 1 Tanjung Bumi, Ahmad Subarudin, mengatakan bahwa kegiatan Pondok Ramadhan tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman agama, tetapi juga membentuk karakter siswa yang religius dan berakhlak baik.
“Pondok Ramadhan ini menjadi momentum penting bagi siswa untuk memperdalam nilai-nilai keislaman. Kami berharap melalui kegiatan ini para siswa dapat memanfaatkan bulan Ramadhan dengan kegiatan positif, memperkuat iman, serta membentuk akhlak yang baik dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ahmad Subarudin.
Ia menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan spiritualitas siswa.
Melalui kegiatan Pondok Ramadhan, sekolah berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki moral dan keimanan yang kuat. (Azis)***
Panti Asuhan Korem 084/BJ. PPAD PROVINSI JAWA TIMUR Wujudkan Kebersamaan di Bulan Ramadhan
WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan berbagi berkah di bulan suci Ramadhan, keluarga besar Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat Provinsi Jawa Timur (PPAD-JATIM) menggelar acara Buka Puasa Bersama dengan Yayasan Panti Asuhan Korem 084/BJ di aula kantor PPAD Prov Jatim jalan Brawijaya Surabaya, senin sore (9/3/2026).
Kegiatan ini mengusung tema “Jalin Silaturahmi, Peduli dan Membawa Berkah Bagi Kita Semua”. Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua umum PPAD Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi., M.Sc. M.Si. (Han) beserta para anggota PPAD Prov.Jatim , serta para undangan dari yayasan panti asuhan KOREM 084/BJ.
Selain itu, tampak hadir pula Bapak Brigjend TNI (Purn) Ev. S. Aldian Gondokusumo S.E. Kepala badan pengawas PPAD PROV. JATIM Tidak ketinggalan, hadir pula 50 anak PANTI ASUHAN dari KOREM 084/BJ yang mendapatkan santunan dari panitia.
Hadir pula penceramah agama, Ustadz Bapak Mayor Infantri Solikhudin yang menyampaikan tausiyah dan motivasi agar kita semua dapat memuliakan anak panti asuhan dan mempererat tali silaturahmi di bulan penuh berkah ini.
Sambutan dari Ketua PPAD PROV. JATIM, Bpk Mayjen TNI (Purn) Dr. Drs. Wibisono Poespitohadi., M.Sc. M.Si. (Han) yang menyampaikan harapan agar kegiatan ini mampu memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial masyarakat.
Ceramah agama oleh Ustadz Bapak Mayor Infantri Solikhudin yang menyentuh hati peserta.
Ketua ppad jatim, yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk selalu menjaga keimanan, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta mendukung program-program sosial di bulan Ramadhan.
Setelah berbuka, dilakukan penyerahan santunan kepada anak panti asuhan
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan berakhir pukul 19.15 WIB dalam suasana aman dan kondusif, serta penuh kekeluargaan.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa PPAD PROV JATIM senantiasa hadir di tengah masyarakat untuk mewujudkan rasa kebersamaan, kekompakan, dan saling membantu di bulan Ramadhan yang penuh berkah.(Bgn)***
MAKI Jatim Rajut Kemakrifatan di Hari Ke – 19, Bagi 1000 Tajil Untuk Kepedulian Sosial
MAKI Jatim Rajut Kemakrifatan di Hari Ke – 19, Bagi 1000 Tajil Untuk Kepedulian Sosial
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 9 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah datang hanya sebagai pergantian bulan dalam perjalanan waktu. Ia hadir seperti panggilan langit yang lembut, mengetuk kesadaran manusia yang sering tenggelam dalam kesibukan dunia. Di bulan inilah manusia diajak berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali menapaki jalan sunyi untuk mengenal dirinya sendiri.
Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan batin yang membawa manusia lebih dekat kepada hakikat kehidupannya. Dalam keheningan puasa, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk dunia suara hati yang bertanya dengan jujur: dari mana aku datang, untuk apa aku hidup, dan kepada siapa aku akan kembali.
Puasa mengajarkan manusia tentang kerendahan hati.Lapar melatih kesabaran. Dahaga menumbuhkan empati. Setiap detik yang dilalui dalam keadaan berpuasa adalah latihan untuk membersihkan jiwa dari kesombongan dan keserakahan.
Di bulan ini manusia diingatkan pada satu kebenaran yang sering dilupakan: bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap saat, semuanya berasal dari Tuhan yang suatu hari akan memanggil manusia kembali kepada-Nya.
Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Pemuda Surabaya, tepatnya di kawasan Taman Apsari di depan Kantor Grahadi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa. Kota tetap bergerak dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.
Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir sebuah getaran yang lebih halus dari sekadar suara mesin kendaraan getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadan.
Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Seribu paket tersebut dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas di kawasan itu. Paket-paket tersebut terdiri dari 250 porsi nasi putih dengan botok pindang pencit dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.
Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa. Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa kasih yang tidak diucapkan dengan kata-kata.
Ia adalah jembatan sunyi yang mempertemukan hati manusia dengan hati manusia lainnya.
Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara dari rahmat Tuhan.Rezeki yang berada di tangan seseorang sesungguhnya bukan miliknya sepenuhnya. Ia adalah amanah yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Ketika seseorang memberi dengan tulus, sesungguhnya ia sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah.
Dan ketika tangan memberi tanpa pamrih, jiwa manusia sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya ditemukan dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Namun menurutnya, syukur yang sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.
“Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.
Bagi MAKI, Ramadan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka percaya bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi dari kesadaran spiritual manusia.
Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang tenang dan meneduhkan.
Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap. Sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan ketulusan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Dan di sanalah Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.
Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Pemuda Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.
Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama.
Di situlah makrifat menemukan jalannya. Dalam tangan yang terulur. Dalam hati yang ikhlas. Dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)