Perayaan Imlek 2577, Tradisi, Kebudayaan dan Solidaritas: Kisah Seabad Yayasan Budi Mulia Abadi Surabaya
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 8 Maret 2026 – Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa kuat di Convention Hall Level 3 Grand City Convex Surabaya pada Minggu (8/3).
Sekitar 1.250 undangan dari berbagai daerah di Jawa Timur berkumpul dalam satu perayaan besar Tahun Baru Imlek 2577 yang diselenggarakan oleh Yayasan Sosial Budi Mulia Abadi Indonesia bersama komunitas Shenyu.
Lebih dari sekadar perayaan tahun baru dalam kalender lunar, acara ini menjadi simbol keberlanjutan tradisi yang telah terjaga selama lebih dari satu abad.
Dalam perayaan tersebut, komunitas tidak hanya merayakan Imlek, tetapi juga melanjutkan tradisi lama berupa ulang tahun bersama sebuah kebiasaan yang lahir dari semangat kebersamaan masyarakat pada masa lalu.

Ketua Yayasan Budi Mulia Abadi Indonesia, Yuli Puspa, mengatakan bahwa perayaan ini merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah komunitas yang telah berlangsung lintas generasi.
“Perayaan ini telah berlangsung sekitar 104 tahun, sedangkan usia yayasan kami kini mencapai 105 tahun. Tradisi ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga warisan budaya sekaligus mempererat hubungan persaudaraan antaranggota komunitas,” ujarnya di sela acara.
Tradisi ulang tahun bersama menjadi salah satu momen yang paling dinanti dalam setiap perayaan Imlek komunitas ini.
Wakil Ketua Panitia, Handoko, menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berakar dari kehidupan masyarakat di masa lalu yang masih sederhana.
“Dulu tidak semua orang bisa merayakan ulang tahun secara pribadi. Karena itu setiap tahun kami berkumpul untuk merayakannya bersama sambil memanjatkan doa agar semua yang hadir diberkati Tuhan Yang Maha Esa, mendapatkan kebahagiaan dalam keluarga, kesuksesan dalam kehidupan, serta umur panjang,” katanya.
Tahun ini, sebanyak 65 anggota komunitas merayakan ulang tahun secara bersama-sama dengan rentang usia mulai dari 60 tahun hingga 100 tahun.
Kehadiran peserta yang telah mencapai usia satu abad menjadi simbol hidup dari perjalanan panjang komunitas tersebut.
Jumlah kehadiran sekitar 1.250 orang juga mencatatkan rekor baru dalam sejarah penyelenggaraan acara ini. Para undangan datang dari 21 cabang yayasan yang tersebar di berbagai wilayah Jawa Timur, antara lain Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso, Jember, Panarukan, Besuki, Asembagus, hingga Lawang.

Selain menjaga tradisi budaya, Yayasan Budi Mulia Abadi Indonesia juga aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan secara rutin sepanjang tahun.
Salah satu kegiatan yang telah berjalan selama 16 tahun adalah program jalan pagi bersama yang dilaksanakan setiap minggu dan terbuka bagi anggota tanpa dipungut biaya.
Yayasan juga secara rutin mengadakan kegiatan bakti sosial, termasuk pembagian sekitar 400 paket bantuan kepada penarik becak, petugas kebersihan, penjaga lampu jalan, serta masyarakat kurang mampu di kawasan Tanjung Anom setiap bulan Ramadan.
Bantuan serupa juga diberikan pada momen Natal maupun saat terjadi bencana alam. Baru-baru ini, yayasan menyalurkan bantuan kepada masyarakat di Situbondo yang terdampak angin topan melalui cabang setempat.
Sebagai bentuk solidaritas terhadap anggota komunitas, yayasan juga menyediakan lahan pemakaman gratis bagi anggota yang kurang mampu secara ekonomi di kawasan Gunung Gangsir.
Perayaan Imlek tahun ini semakin meriah dengan penampilan musisi muda berbakat, Lorenzo Anson Poedijono, yang dikenal sebagai Young Soloist Indonesia untuk alat musik biola. Ia membawakan dua karya klasik dunia, yaitu Beethoven Five Secrets karya Ludwig van Beethoven dan Libertango karya komposer Argentina Astor Piazzolla.
“Aku merasa senang bisa tampil di acara ini. Harapanku bisa terus menginspirasi orang dan menyebarkan harapan melalui musik,” kata Lorenzo.
Menutup rangkaian acara, Handoko berharap tradisi yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini dapat terus dilestarikan oleh generasi penerus komunitas.
Ia juga berharap masyarakat Indonesia dapat terus hidup dalam persatuan, kesehatan, dan kemajuan bersama.
“Harapan saya masyarakat Indonesia semakin maju, semakin sukses, semakin sehat, dan semakin kompak. Bangsa kita harus terus berkembang menjadi negara yang kuat dan bersatu,” ujarnya.
Di tengah kemeriahan perayaan Imlek 2577 tersebut, pesan yang ingin disampaikan komunitas ini sederhana namun kuat: menjaga tradisi, memperkuat persaudaraan, dan berbagi kepedulian sosial adalah warisan paling berharga yang dapat terus hidup dari generasi ke generasi. (Bgn)***
Nandur Becik 1000 Tajil di Hari Ke – 18 MAKI Jatim Antara Lapar dan Kasih, Ramadhan Mengajarkan Manusia Mengenal Tuhan Lewat Sesama
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 7 Maret 2026 — Ramadhan tidak pernah sekadar datang sebagai pergantian bulan dalam penanggalan waktu. Ia hadir seperti bisikan langit yang lembut, mengetuk pintu kesadaran manusia yang sering terlelap dalam hiruk pikuk dunia. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang perjalanan sunyi manusia kembali mengenal dirinya sendiri.
Dalam keheningan Ramadhan, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tenggelam oleh kesibukan dunia: suara hati yang bertanya dengan jujur siapakah aku sebenarnya, dari mana aku berasal, dan kepada siapa kelak aku akan kembali.
Ramadhan adalah madrasah jiwa. Ia mendidik manusia dengan cara yang tidak selalu terasa oleh logika, tetapi sangat dalam dirasakan oleh hati.
Lapar bukan sekadar ujian fisik, tetapi latihan kesabaran. Dahaga bukan hanya rasa kering di tenggorokan, melainkan jalan untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.
Di dalamnya, manusia diajak menyadari satu hakikat yang sering terlupakan: bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap detik, semuanya berasal dari Sang Maha Pemilik yang suatu saat akan memintanya kembali.
Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, roda kehidupan kota Surabaya tetap berputar dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.
Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir sebuah getaran yang lebih lembut dari sekadar suara mesin kendaraan: getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadhan.
Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil bagi masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Sebanyak seribu paket dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas. Paket-paket tersebut terdiri dari 250 porsi nasi capcay bakso dengan oseng ati dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.
Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa.
Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata.
Ia adalah jembatan sunyi yang menghubungkan hati manusia dengan hati manusia lainnya.
Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara.
Rezeki yang berada di tangan seseorang pada hakikatnya adalah amanah Tuhan yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan.
Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah.
Dan ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, jiwanya sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya dikenal melalui doa, tetapi juga melalui perbuatan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.
Namun menurutnya, syukur sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.
“Syukur bukan sekadar kata-kata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi juga dari kesadaran spiritual manusia.
Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan.
Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas kawasan Waru perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang menenangkan hati.
Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap, sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan keikhlasan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.
Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.
Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.
Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama.
Di situlah makrifat menemukan jalannya.
Dalam tangan yang terulur. Dalam hati yang ikhlas. Dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***Aditya Yusma Tegaskan Mundur dari Partai Rakyat Indonesia, Fokus Kawal Program Jaga Desa
WARTAPENASATUJATIM | Bogor – Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Indonesia, Aditya Yusma, menegaskan kepada awak media pada Minggu (8/3/2026) bahwa dirinya telah resmi mengundurkan diri dari Partai Rakyat Indonesia sejak Desember 2025.
Keputusan tersebut diambil agar ia dapat memusatkan perhatian dan energi untuk menyukseskan program pemberdayaan masyarakat desa melalui program Jaga Desa.
Aditya menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam Program Jaga Desa dilakukan bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Saat ini Aditya juga mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Indonesia yang berperan memperkuat sinergi BPD di seluruh daerah.

Aditya mengajak seluruh elemen masyarakat desa untuk menjaga desa sebagai fondasi kekuatan bangsa.
Menurutnya, penguatan desa menjadi langkah strategis dalam mempercepat pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Bersama BPD, mari kita jaga desa, jaga Indonesia. Kita kawal dan dukung program Presiden Prabowo, Asta Cita ke-6, membangun desa dari bawah untuk meningkatkan perekonomian serta memberantas kemiskinan,” ujar Aditya.
Pernyataan tersebut disampaikan Aditya Yusma dalam rangka Rapat Koordinasi BPD Kabupaten Bogor yang digelar oleh ABPEDNAS.
Forum berlangsung di lapangan tenis indoor Kapten Muslihat, Gelora Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, pada Jumat (6/3/2026) sebagai bagian dari konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran BPD dalam menjaga keberlanjutan pembangunan desa.
Sebanyak 3.500 anggota BPD dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menghadiri rapat koordinasi tersebut.

Kehadiran ribuan anggota BPD memperlihatkan komitmen kuat dalam memperkuat peran lembaga desa sebagai pengawal pembangunan di tingkat akar rumput.
Forum konsolidasi tersebut juga diarahkan untuk mendukung pelaksanaan program prioritas Presiden Prabowo.
Para anggota BPD didorong untuk memperkuat fungsi pengawasan terhadap tata kelola pemerintahan desa, memastikan transparansi penggunaan anggaran, serta mendorong pembangunan desa yang akuntabel dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Jaksa Agung Muda Intelijen Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Prof. Reda Mantovani, yang juga menjabat sebagai Ketua Pengawas DPP ABPEDNAS, menekankan pentingnya pengelolaan dana desa secara akuntabel.
Ia berharap seluruh aparatur desa mampu memanfaatkan dana desa secara optimal tanpa praktik penyimpangan maupun korupsi.
Prof. Reda mengungkapkan bahwa pada akhir tahun 2026 terdapat enam kepala desa yang akan menyelesaikan masa jabatan. Selain itu, lebih dari 200 kepala desa dijadwalkan memasuki masa purna tugas pada tahun 2027.
Menurut Prof. Reda, masa peralihan kepemimpinan desa sering memengaruhi fokus kepala desa dalam menjalankan tanggung jawab pemerintahan.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan celah dalam pengelolaan program pembangunan apabila tidak disertai pengawasan yang kuat.
“Karena itu kita gelar rapat koordinasi agar para anggota BPD menjaga kondusivitas di desa masing-masing sehingga pelaksanaan program prioritas nasional dan daerah berjalan lancar,” ujar Prof. Reda.
Ia juga mendorong BPD Kabupaten Bogor untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengawasi penggunaan dana desa.

Pengawasan ketat dari BPD diharapkan mampu mencegah penyelewengan anggaran sekaligus memperkuat akuntabilitas pemerintahan desa.
“Pengelolaan dana desa menjadi perhatian utama, karena anggota BPD merupakan mitra Kejaksaan dalam membangun sinergi pengawasan kinerja pemerintahan desa, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan desa,” pungkas Prof. Reda.***
(Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)
MAKI Jatim 1000 Ta’jil, 1000 Jalan Makrifat di Hari Ke-17: Ketika Tangan Berbagi Menjadi Jalan Hati Mengenal Tuhan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 7 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa rahasia yang tidak semua mata mampu melihatnya, tetapi dapat dirasakan oleh hati yang terbuka. Ia bukan sekadar bulan ibadah, bukan pula hanya waktu untuk menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah perjalanan ruhani yang membawa manusia kembali kepada hakikat dirinya sebagai makhluk yang lemah di hadapan Sang Maha Kuasa.
Di bulan inilah manusia diajak untuk memahami satu kebenaran yang paling dalam: bahwa semua yang dimiliki di dunia hanyalah titipan dari Allah SWT. Harta, jabatan, kekuatan, bahkan kehidupan itu sendiri hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya.
Sore itu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani Waru, tepat di depan pos polisi seberang Terminal Bungurasih, suasana Ramadhan terasa hidup dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna. Kendaraan terus melintas, manusia berjalan dengan berbagai urusan dunia mereka. Namun di tengah kesibukan itu, hadir sebuah pemandangan yang menggetarkan hati: tangan-tangan yang terulur untuk berbagi.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali melaksanakan kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Sebanyak 250 paket mie goreng dengan telur dadar, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah, serta 250 paket gorengan ote-ote besar dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas menjelang waktu berbuka.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan sederhana. Namun bagi mereka yang memahami rahasia Ramadhan, setiap paket ta’jil yang dibagikan sesungguhnya mengandung pelajaran spiritual yang sangat dalam.
Dalam jalan makrifat, memberi bukan hanya sekadar perbuatan sosial. Memberi adalah proses penyadaran diri bahwa manusia hanyalah perantara dari rezeki Tuhan.
Apa yang berada di tangan manusia bukanlah miliknya. Ia hanyalah amanah yang dititipkan oleh Allah agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.
Ketika seseorang memberi dengan hati yang tulus, pada saat itulah ia sedang belajar mengenal sifat Allah yang Maha Pemurah.
Ketika tangan manusia menjadi jalan turunnya kebaikan, di saat itulah hati mulai menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak dalam kehendak Tuhan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Namun syukur sejati, menurutnya, tidak cukup hanya diucapkan dengan kata-kata.
Syukur harus hidup dalam tindakan. Ia terlihat dalam kepedulian terhadap sesama. Ia tumbuh dalam empati terhadap mereka yang membutuhkan.
“Ketika kita berbagi kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang belajar memahami bahwa rezeki yang kita miliki bukan semata-mata karena usaha kita, tetapi karena rahmat Allah,” ungkapnya.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang kontemplasi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dengan semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati lahir dari kesadaran spiritual manusia.
Korupsi tidak hanya lahir dari sistem yang lemah, tetapi dari hati yang kehilangan kesadaran kepada Tuhan.
Ketika manusia lupa bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan Allah, keserakahan mulai tumbuh. Namun ketika hati hidup dalam kesadaran Ilahi, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin yang menjaga kehormatan diri.
Menjelang waktu berbuka, langit Waru perlahan berubah warna. Cahaya jingga senja menggantung di ufuk barat, menghadirkan keindahan yang menenangkan jiwa.
Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap. Sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi ketulusan.
Senyum kecil muncul di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Namun ada kebahagiaan yang lahir dari hati yang bersyukur.
Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Ia sering hadir dalam kebaikan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan.
Ta’jil yang dibagikan di Jalan Ahmad Yani Waru sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memiliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Ramadhan datang untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan sementara. Semua yang dikumpulkan manusia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan.
Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.
Dan di antara langkah manusia yang melintas di jalan itu, tersimpan sebuah pelajaran yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang atau ibadah yang terlihat besar.
Kadang jalan menuju makrifat justru hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama manusia.
Di situlah rahasia Ramadhan menemukan maknanya. Bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu berada di langit yang jauh, tetapi sering kali hadir di bumi yang kita pijak, dalam tangan yang memberi, dalam hati yang ikhlas, dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***
Perumahan Menganti Permai Sukses Menggelar Pasar Murah, Menggerakkan Ekonomi Warga dan Menyalakan Asa UMKM
WARTAPENASATUJATIM | Gresik, 6 Maret 2026 — Semangat kebersamaan dan harapan baru begitu terasa di Perumahan Menganti Permai, Kabupaten Gresik, ketika ratusan warga memadati kegiatan Pasar Murah Ramadhan yang digelar berkat dukungan penuh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.
Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin menjelang berbuka puasa, melainkan momentum penting yang menghadirkan kepedulian sosial sekaligus menggerakkan denyut ekonomi masyarakat, khususnya bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Sejak pukul 14.00 WIB, masyarakat sudah mulai berdatangan dengan penuh antusias. Antrean panjang terlihat rapi dan tertib, menunjukkan besarnya harapan warga terhadap kegiatan yang memberikan akses kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Ketika acara resmi dimulai pukul 15.00 WIB oleh tim Disperindag Jawa Timur, suasana semakin semarak. Warga dengan penuh semangat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperoleh bahan kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan selama bulan suci Ramadhan.
Berbagai komoditas utama disediakan dalam pasar murah ini, mulai dari beras, telur, gula, minyak goreng, tepung, hingga berbagai kebutuhan dapur lainnya.
Harga yang lebih ramah di kantong membuat warga merasa sangat terbantu, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan rumah tangga selama Ramadhan.
Tidak butuh waktu lama, stan-stan pasar murah langsung dipadati warga yang ingin mendapatkan bahan pokok berkualitas dengan harga yang lebih terjangkau.
Namun, lebih dari sekadar aktivitas jual beli, Pasar Murah Ramadhan ini menjadi ruang pertemuan sosial yang sarat makna.
Kehadiran pemerintah yang berpadu dengan partisipasi aktif masyarakat menghadirkan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh keakraban.
Senyum warga, interaksi hangat antar tetangga, serta semangat gotong royong yang terasa di lokasi acara menjadi gambaran nyata kekuatan solidaritas sosial di tengah masyarakat.
Momentum ini juga memberikan energi baru bagi para pelaku UMKM di lingkungan RW 09 Perumahan Menganti Permai.
Aktivitas ekonomi yang meningkat selama kegiatan berlangsung membuka peluang bagi para pelaku usaha kecil untuk memperluas jaringan serta meningkatkan perputaran usaha di lingkungan mereka.
Ketua Paguyuban UMKM RW 09 Perumahan Menganti Permai, Malikus, SH, menyampaikan bahwa kegiatan Pasar Ramadhan ini diharapkan dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang setiap datangnya bulan suci Ramadhan.
Menurutnya, keberadaan paguyuban UMKM di lingkungan RW 09 bukan hanya sebagai wadah berkumpulnya pelaku usaha, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat.
Selama ini, berbagai langkah pembinaan telah dilakukan, mulai dari konsultasi usaha, pendampingan legalitas usaha, hingga edukasi mengenai perizinan halal bagi produk UMKM.
“Kami merasa terpanggil sebagai Ketua Paguyuban UMKM RW 09 untuk ikut mendorong pertumbuhan ekonomi para anggota. Ke depan, kami optimis dengan adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Gresik serta dukungan berbagai stakeholder, UMKM di lingkungan kami dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Sementara itu, Ketua RW 09 Perumahan Menganti Permai, Riawan Syamsir, menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi inspirasi besar bagi pengurus lingkungan untuk terus menghadirkan program-program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, respons warga terhadap kegiatan pasar murah ini sangat luar biasa. Banyak masyarakat yang berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara rutin, tidak hanya untuk membantu pemenuhan kebutuhan pokok, tetapi juga untuk menggerakkan aktivitas ekonomi di lingkungan masyarakat.
“Kami melihat kegiatan ini sebagai motivasi untuk terus memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan para pelaku UMKM. Ketika semua elemen bersatu dalam semangat gotong royong, maka berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan dengan lebih efektif,” tuturnya.
Ke depan, pihak RW bersama Paguyuban UMKM berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai kegiatan sosial ekonomi, seperti bazar UMKM, pasar rakyat, hingga berbagai program pemberdayaan usaha kecil yang mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat lingkungan.
Pasar Murah Ramadhan di Perumahan Menganti Permai menjadi bukti bahwa ketika pemerintah hadir dengan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat dan didukung oleh partisipasi aktif warga, maka akan lahir gerakan sosial yang mampu memberikan dampak nyata.
Tidak hanya membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga menumbuhkan optimisme dan harapan baru bagi para pelaku UMKM untuk terus berkembang.
Di tengah semaraknya bulan suci Ramadhan, kegiatan ini seakan menjadi simbol bahwa kebersamaan, kepedulian, dan kolaborasi adalah kekuatan besar dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
Dari lingkungan kecil seperti Perumahan Menganti Permai, semangat pemberdayaan ekonomi rakyat terus tumbuh, membawa harapan bahwa UMKM akan semakin kuat sebagai tulang punggung perekonomian bangsa. (Bgn)***
Seribu Ta’jil di Hari Ke – 16, Spirit Ramadhan dan Makrifat Kemanusiaan MAKI Jatim di Leces Probolinggo
WARTAPENASATUJATIM | Probolinggo, 6 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pergantian waktu. Ia hadir seperti cahaya yang mengetuk pintu batin manusia, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berlari mengejar dunia, tetapi juga tentang berhenti sejenak untuk menengok ke dalam diri: siapa kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita akan kembali.
Dalam perjalanan spiritual manusia, Ramadhan adalah madrasah sunyi yang mengajarkan makna keikhlasan. Ia melatih manusia menahan yang halal agar hati mampu menjauhi yang haram. Lapar mengajarkan kesabaran. Dahaga menumbuhkan empati. Dan dalam kesunyian itulah jiwa mulai menyadari sebuah kebenaran hakiki: bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Yang Maha Memiliki.
Sore itu, di sepanjang Jalan Raya Leces, Kabupaten Probolinggo, denyut kemanusiaan terasa hidup dalam kesederhanaan yang penuh makna. Lalu lintas tetap berjalan seperti biasa, kendaraan berlalu-lalang, masyarakat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun di antara hiruk pikuk itu, ada getaran yang lebih lembut getaran kepedulian yang lahir dari hati yang tersentuh oleh spirit Ramadhan.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Sebanyak 250 paket nasi rawon lengkap dengan daging dan tempe disiapkan sebagai hidangan berbuka. Selain itu, 250 paket kurma turut dibagikan, bersama 250 botol es sirup melon yang menyegarkan dengan isian blewah, serta 250 paket berisi lima jenis kue basah yang menambah kehangatan suasana berbuka di penghujung hari ke-16 Ramadhan.
Bagi mereka yang menerima, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk berbuka. Namun dalam pandangan yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tak terucap. Ia adalah bentuk kepedulian yang menjembatani hati manusia satu dengan yang lain.
Sebab dalam hakikat makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah cara manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara. Bahwa rezeki yang ia genggam bukanlah miliknya, melainkan amanah yang dititipkan Tuhan agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.
Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal sifat Tuhan Yang Maha Pemurah. Ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, di saat itulah jiwa sedang berjalan mendekati cahaya makrifat.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Namun syukur sejati tidak pernah berhenti pada kata-kata. Syukur adalah tindakan nyata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat dalam kesediaan manusia untuk menjadi jalan turunnya rahmat bagi sesama.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang mendalam. Sebagai lembaga yang berdiri dalam semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kesadaran spiritual.
Korupsi lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika makrifat memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran Ilahi tumbuh dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Amanah bukan lagi sekadar tanggung jawab, tetapi kehormatan yang dijaga dengan sepenuh kesadaran bahwa setiap langkah manusia berada dalam pandangan Allah.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas Probolinggo perlahan berubah warna. Jingga senja menggantung indah di ufuk barat, seolah menjadi lukisan alam yang menenangkan hati. Waktu terasa melambat. Orang-orang yang berpuasa menunggu dengan penuh harap, sementara para relawan membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi keikhlasan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana, namun ada kebahagiaan yang tulus. Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di Jalan Raya Leces sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, semua perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan menetap sebagai cahaya yang abadi.
Di antara langkah manusia yang melintas di Jalan Raya Leces Probolinggo, sore itu terselip pelajaran sunyi yang sangat dalam:
bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang,
tetapi bisa melalui satu tindakan sederhana
memberi makan orang yang lapar,
menghapus dahaga orang yang berpuasa,
dan menebarkan kasih kepada sesama.Di situlah makrifat menemukan jalannya.
Dalam tangan yang terulur,
dalam hati yang ikhlas,
dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***AKP Adik Agus Putrawan,SH, MH : Issue Tentang Warga Desa Hulaan Gresik, Lepas Dengan Jaminan, ITU TIDAK BENAR
WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Beredarnya pemberitaan tentang adanya dugaan tangkap lepas Warga Desa Hulaan, tepatnya Kecamatan Menganti Gresik Jawa Timur, yang konon sempat diberitakan diduga pelepasan dengan uang jaminan (red). Kronologis penangkapan terjadi Senin 23 Februari 2026.
Terkait perihal tersebut di atas, awak media mencoba konfirmasi atas kebeneran dugaan issue yang sempat dihembus awak media (red), AKP Adik Agus Putrawan,SH, MH., selaku Kasat Reskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak angkat bicara mengatakan, beredarnya pemberitaan tersebut, “itu tidaklah benar”,” tegasnya, Jumat (06/03/2026).
Lanjut kata Adik, jajaran Satreskoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak (KP3) dan sesuai arahan pimpimpinan Pak Kapolres (AKBP Wahyu Hidayat, SIK., MH.) berkomitmen Brantas segalah peredaran Norkotika khusunya jenis sabu-sabu di wilayah hukum kami tempat bertugas (KP3).
“Sekali lagi issue dugaan pemberitaan yang dihembuskan tentang Warga Desa Hulaan yang konon sempat diberitakan diduga pelepasan dengan uang jaminan (red). Kronologis penangkapan terjadi Senin 23 Februari 2026, kami pastikan itu tidak benar,” ucapnya.
Dalam hal tersebut rumor issue dihembuskan, sambung Kasat Narkoba, Kami menyayangkan pemberitaan itu tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
“Dan perlu kami sampaikan, Jajaran Satreskoba KP3, selalu mengedepan komunikasi dengan baik bersama rekan-rekan wartawan saat dikonfirmasi, dengan komunikasi baik yang kami bangun ini agar supaya tidak terjadi miskomunikasi atau human error,” pungkas AKP Adik Agus Putrawan,SH, MH dihadapan awak media. (Bgn)***
Ramadhan Mengikat Hati dan Menguatkan Kepedulian: UPTD Puskesmas Jaddih Bangkalan Tebar Takjil, Rajut Ukhuwah dan Kebersamaan dalam Cahaya Ibadah
WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan, 5 Maret 2026 — Bulan suci Ramadhan selalu hadir membawa suasana yang berbeda. Ia bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga waktu yang istimewa untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian, dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat.
Di bulan penuh rahmat ini, setiap amal kebaikan seakan memiliki makna yang lebih dalam, karena dilakukan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan yang digelar oleh UPTD Puskesmas Jaddih, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, pada Kamis, 5 Maret 2026.
Dalam rangka mengisi bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah, keluarga besar Puskesmas Jaddih bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) mengadakan kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama sebagai bentuk penguatan ukhuwah serta kepedulian sosial kepada masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 16.30 hingga 18.30 WIB tersebut diikuti sekitar 50 orang peserta yang terdiri dari para staf Puskesmas Jaddih dan anggota Dharma Wanita Persatuan.
Meski sederhana, suasana kebersamaan yang tercipta terasa hangat dan penuh makna, mencerminkan semangat Ramadhan yang selalu mengajarkan arti berbagi dan mempererat silaturahmi.
Menjelang waktu berbuka, para peserta terlebih dahulu turun langsung ke jalan untuk membagikan takjil kepada para pengendara dan masyarakat yang melintas di sekitar kawasan Puskesmas Jaddih.
Paket-paket takjil yang dibagikan disambut dengan penuh antusias oleh masyarakat, terutama para pengguna jalan yang tengah dalam perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.
Kegiatan berbagi ini menjadi simbol sederhana namun bermakna: bahwa di bulan Ramadhan, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menebarkan kebaikan, sekecil apa pun bentuknya.
Kepala UPTD Puskesmas Jaddih, drg. Purwanti, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan bagian dari upaya memperkuat nilai kebersamaan dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Menurutnya, Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk membangun kembali hubungan yang lebih erat antar sesama, baik di lingkungan kerja maupun dengan masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk ibadah sekaligus sarana untuk mempererat tali silaturahmi, meningkatkan kekompakan, dan menumbuhkan semangat kebersamaan di antara keluarga besar Puskesmas Jaddih,” ujar drg. Purwanti.
Ia menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan tidak hanya berbagi takjil, tetapi juga diisi dengan kegiatan religius yang memperkuat nilai spiritual para peserta.
“Kami mengemas kegiatan ini dengan berbagai aktivitas, mulai dari pembagian takjil kepada para pengendara, kemudian dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an. Menjelang magrib kami melaksanakan salat magrib berjamaah, dan setelah itu diakhiri dengan buka puasa bersama,” jelasnya.
Kegiatan khataman Al-Qur’an yang dilakukan sebelum berbuka menjadi salah satu momen yang sangat khidmat.
Lantunan ayat-ayat suci yang dibaca bersama menghadirkan suasana religius yang menenangkan, sekaligus mengingatkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang memperdalam hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Setelah kumandang azan magrib terdengar, seluruh peserta melaksanakan salat magrib berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.
Di tengah suasana kebersamaan tersebut, drg. Purwanti juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan selama menjalankan ibadah puasa, terutama bagi tenaga kesehatan yang tetap harus menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian penting agar seseorang tetap dapat menjalankan ibadah dan aktivitas dengan baik selama bulan Ramadhan.
Ia menekankan pentingnya mengatur pola makan yang sehat dan seimbang, baik saat sahur maupun berbuka puasa.
“Penting untuk memperhatikan asupan gizi saat sahur dan berbuka agar tubuh tetap mendapatkan nutrisi yang cukup. Selain itu, istirahat yang cukup juga sangat diperlukan agar tubuh tetap fit, terutama bagi tenaga kesehatan yang setiap hari melayani masyarakat,” ungkapnya.
Sebagai institusi pelayanan kesehatan yang berada di tengah masyarakat, Puskesmas Jaddih tidak hanya berperan dalam memberikan layanan medis, tetapi juga berupaya membangun hubungan sosial yang harmonis dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama ini menjadi salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut: bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga menyentuh nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
Di akhir kegiatan, drg. Purwanti bersama seluruh anggota Dharma Wanita Persatuan dan staf Puskesmas Jaddih menyampaikan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa kepada seluruh masyarakat.
“Marhaban Ya Ramadhan. Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 Hijriyah. Semoga Ramadhan tahun ini membawa keberkahan, kesehatan, dan kebahagiaan bagi kita semua,” tutupnya.
Melalui kegiatan sederhana namun penuh makna ini, Puskesmas Jaddih menunjukkan bahwa Ramadhan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang memperkuat hubungan antar manusia.
Ketika tangan-tangan saling berbagi, hati-hati pun semakin dekat, dan ukhuwah yang terjalin menjadi kekuatan yang memperindah kehidupan bermasyarakat.
Di tengah kesibukan pelayanan kesehatan yang tak pernah berhenti, keluarga besar Puskesmas Jaddih membuktikan bahwa kepedulian, kebersamaan, dan semangat berbagi tetap dapat tumbuh subur di bulan yang penuh rahmat ini.
Ramadhan pun menjadi ruang untuk meneguhkan satu pesan sederhana namun mendalam: bahwa kebaikan yang dilakukan bersama akan selalu menghadirkan keberkahan bagi semua. (Bagas)***
Fitnah TikTok Diseret ke Meja Hukum: MAKI Jatim Kawal Laporan Hj Muclisoh, Penyebar Hoaks Siap Dimintai Pertanggungjawaban
WARTAPENASATUJATIM | Malang, 5 Maret 2026 — Di era media sosial yang bergerak lebih cepat daripada verifikasi fakta, reputasi seseorang sering kali menjadi korban pertama. Sebuah video, narasi, atau unggahan yang belum tentu benar dapat menyebar luas hanya dalam hitungan jam, membentuk opini publik yang kadang jauh dari realitas yang sebenarnya.
Namun kebebasan berbicara di ruang digital bukan berarti kebebasan untuk memfitnah.
Pada Kamis, 5 Maret 2026, Tim Hukum Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur secara resmi mengawal laporan hukum Hj Muclisoh ke Bidang Cyber Polres Malang atas dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran berita hoaks yang dilakukan oleh salah satu akun TikTok yang secara jelas menyebut dan menyerang nama dirinya di ruang publik.
Langkah hukum ini diambil setelah beredarnya konten media sosial yang dinilai tidak sesuai fakta serta mengandung narasi yang mendiskreditkan Hj Muclisoh.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, Hj Muclisoh merupakan pelapor dalam kasus dugaan penganiayaan dan perampokan yang menimpa dirinya dan telah dilaporkan ke Polsek Gondanglegi, Kabupaten Malang. Kasus tersebut hingga kini masih berada dalam proses penyelidikan oleh aparat kepolisian.
Namun di tengah proses hukum yang sedang berjalan itu, tiba-tiba muncul sebuah akun TikTok yang menyebarkan narasi yang dinilai mengarah pada tuduhan sepihak dan berpotensi menggiring opini publik terhadap korban.
Bagi Hj Muclisoh, konten tersebut bukan sekadar komentar biasa di media sosial. Narasi yang disampaikan dianggap telah melampaui batas kritik dan masuk dalam wilayah fitnah serta pencemaran nama baik.
Karena itu, dengan pendampingan Tim Hukum MAKI Jawa Timur, laporan resmi kemudian diajukan ke Satuan Reserse Kriminal Bidang Cyber Polres Malang.
Pihak kepolisian pun menerima laporan tersebut secara resmi dan telah mengeluarkan surat tanda penerimaan laporan, sebagai dasar proses hukum lebih lanjut terhadap dugaan pelanggaran hukum di ruang digital tersebut.
Pelaporan ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang telah diperbarui melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 serta perubahan terbaru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024.
Beberapa pasal yang dinilai relevan dalam perkara ini antara lain:
– Pasal 27 ayat (3) terkait pencemaran nama baik melalui media elektronik.
– Pasal 28 ayat (2) mengenai penyebaran informasi yang dapat menimbulkan kebencian atau permusuhan.
– Pasal 45 dan Pasal 45A yang mengatur ancaman pidana terhadap pelanggaran pasal-pasal tersebut.
Bagi MAKI Jawa Timur, kasus ini menjadi pengingat bahwa media sosial tidak boleh menjadi panggung bebas untuk menyebarkan tuduhan tanpa dasar fakta.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa lembaganya akan mengawal proses hukum ini secara serius.
Menurutnya, ruang digital tidak boleh berubah menjadi arena pembunuhan karakter yang dilakukan secara sembarangan tanpa tanggung jawab.
“Jika seseorang merasa memiliki informasi atau kritik, sampaikan dengan fakta. Tetapi jika yang disebarkan adalah fitnah dan hoaks, maka hukum harus ditegakkan,” tegas Heru.
Di sisi lain, MAKI Jatim juga tetap menegaskan komitmennya untuk mengawal pengungkapan kasus utama yang menimpa Hj Muclisoh, yakni dugaan penganiayaan dan perampokan yang dilaporkan ke Polsek Gondanglegi.
MAKI meminta agar proses penyelidikan tersebut dibuka secara terang dan profesional, dengan asistensi dari Polres Malang, sehingga publik tidak dibiarkan berspekulasi tanpa dasar fakta hukum.
“MAKI Jatim secara kelembagaan mendorong Polsek Gondanglegi dengan asistensi Polres Malang untuk membuka dan mengungkap secara detail laporan pidana dugaan penganiayaan dan perampokan yang menimpa Hj Muclisoh,” ujar Heru.
Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa aparat kepolisian tidak akan membiarkan kasus ini berlarut-larut tanpa kejelasan.
“MAKI Jatim sangat yakin penyidik Polsek Gondanglegi di bawah asistensi Polres Malang tidak akan lama lagi berhasil mengungkap perkara ini. Bismillah, secepatnya orang-orang yang terlibat akan terungkap dengan jelas dan detail. Tunggu saja tanggal mainnya,” tegasnya.
Peristiwa ini menjadi pelajaran penting di tengah derasnya arus informasi digital:
bahwa kebebasan berbicara harus berjalan seiring dengan tanggung jawab hukum.Media sosial bukan ruang bebas tanpa aturan. Setiap kata yang disebarkan kepada publik memiliki konsekuensi.
Dan ketika sebuah narasi berubah menjadi fitnah yang merusak kehormatan seseorang, maka hukumlah yang akan berdiri di garis depan untuk memastikan satu hal:
bahwa kebenaran tidak ditentukan oleh viralnya sebuah unggahan, melainkan oleh fakta, bukti, dan keadilan di hadapan hukum. (Bgn)***MAKI Jatim dan Ormas Laskar Jahanam Menebar Ta’jil, Menuai Rahmat: Perjalanan Makrifat Ramadhan di Kota Jember
WARTAPENASÀTUJATIM | Jember, 5 Maret 2026 — Di setiap datangnya Ramadhan, langit seakan menurunkan tirai kelembutan yang tak kasatmata. Ia bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan pulang bagi jiwa-jiwa yang lama tersesat dalam riuh dunia.
Ramadhan adalah madrasah sunyi, tempat manusia diajak menyelami dirinya sendiri, hingga akhirnya menemukan Tuhannya dalam cahaya makrifat.
Di jantung Jember, tepatnya di kawasan Jalan Pierre Tendean Sumbersari Jember (Depan Kantor Ormas Laskar Jahanam Jember) denyut kemanusiaan bergetar dalam irama yang khusyuk.
Kendaraan melintas seperti biasa, manusia berlalu-lalang dalam kesibukan masing-masing. Namun di balik itu semua, ada getar yang lebih dalam getar cinta yang menjelma menjadi amal.
Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang menanti adzan maghrib.Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong dan soto ayam, lengkap dengan kentang goreng, bihun dan irisan gobis plus sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon isian blewah, serta 250 paket 2 jenis kue basah.
Sebab Ramadhan tidak pernah berbicara tentang kemewahan. Ia berbicara tentang kesadaran. Tentang bagaimana setiap butir nasi yang berpindah tangan adalah pengingat bahwa rezeki hanyalah titipan. Setiap teguk yang membasahi dahaga adalah pesan lembut bahwa segala nikmat bersumber dari Yang Maha Memberi. Dan setiap senyum yang merekah di wajah penerima adalah cermin rahmat-Nya yang mengalir melalui tangan-tangan hamba.
Puasa adalah latihan ruhani: menahan diri dari yang halal agar jiwa mampu menjauhi yang haram. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, melainkan ruang hening tempat hati belajar mendengar bisikan Tuhan. Dahaga bukan sekadar keringnya tenggorokan, melainkan madrasah empati agar manusia merasakan getir kehidupan saudaranya. Dari sanalah makrifat tumbuh kesadaran bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga dalam naungan kasih Ilahi.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur sejati bukanlah kalimat yang berhenti di lisan. Ia adalah gerak. Ia adalah amal. Ia adalah kesediaan menjadi perantara turunnya rahmat bagi sesama. Ketika tangan memberi dengan ikhlas, sejatinya ia sedang menerima cahaya yang lebih besar di dalam dadanya.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas, MAKI memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai momentum sosial, tetapi juga cermin makrifat.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kaburnya kesadaran akan pengawasan Ilahi. Ketika manusia lupa bahwa Allah Maha Melihat, ia berani menyimpang.
Namun ketika makrifat tumbuh ketika setiap napas disadari berada dalam penglihatan-Nya maka kejujuran bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Amanah bukan sekadar tanggung jawab, melainkan kehormatan.
Menjelang azan maghrib, langit senja di atas Kaliwates memerah dalam semburat jingga yang syahdu. Waktu seakan melambat. Doa-doa terangkat dalam diam. Hati-hati yang berpuasa bergetar oleh harap.
Ta’jil yang sederhana itu menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan gemerlap untuk bermakna. Yang kecil di mata dunia bisa menjadi besar dalam timbangan langit.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan menuju kesadaran. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan. Pulang dari lupa menuju ingat.
Segala yang digenggam dunia akan terlepas, namun segala yang diikhlaskan karena-Nya akan menetap sebagai cahaya abadi.
Di antara derap langkah senja Kota Jember, terselip pesan yang tak terucap namun terasa: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya dan seberapa luas ia mencintai sesamanya.
Dan di situlah makrifat bertemu kemanusiaan
dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur,
dalam zikir yang lirih dan kasih yang mengalir,
dalam iman yang bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi. (Bgn)***