• SOSIAL

    MAKI Jatim di Hari ke-12 Berbagi Sebagai Zikir Sosial: Ketika Iman Menjadi Kemanusiaan

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 2 Maret 2026 — Ramadhan kembali hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai taman ruhani tempat jiwa-jiwa belajar mengenal dirinya dan Tuhannya.

    Pada hari kesebelas yang sarat keberkahan itu, denyut kehidupan terasa lebih lembut, seakan semesta ikut berzikir dalam diam.

    Hiruk-pikuk dunia meredup, digantikan getar iman yang menyelinap pelan ke relung hati terdalam.

    Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya By Pass Juanda, tepat di depan Klinik Sheila Medika, tangan-tangan yang tergerak oleh kasih membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.

    Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong sayur manisah lengkap dengan tahu, cecek, dan kerupuk; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi blewah; serta 250 paket jajanan jadul yang terbungkus sederhana namun sarat makna.

    Namun Ramadhan tak pernah berhenti pada angka dan jumlah. Ia menembus apa yang tak kasat mata.

    Setiap paket yang berpindah tangan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan saksi bahwa harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah penjaga sementara dari amanah-Nya.

    Memberi dalam bulan suci bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan laku ibadah jalan sunyi menuju makrifat, mengenal bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

    Puasa melatih sabar dalam menahan lapar dan dahaga; berbagi menumbuhkan ikhlas dalam melepaskan kepemilikan.

    Ketika sabar dan ikhlas bersatu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya.

    Lapar yang ditahan melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kehidupan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tak lagi berjalan sendiri dalam egonya.

    Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT.

    Syukur yang hakiki tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan. Sebab setiap kesempatan untuk berbagi sejatinya adalah panggilan Ilahi bahwa Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain.

    Sebagai lembaga yang menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa.

    Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum, melainkan kegagalan hati menjaga kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Ketika makrifat memudar, keberanian untuk menyimpang tumbuh.

    Namun ketika kesadaran ketuhanan berdenyut dalam setiap helaan napas, integritas lahir sebagai buah ketakwaan bukan karena takut padamu manusia, melainkan karena malu kepada-Nya.

    Menjelang adzan Maghrib, langit senja menunduk dalam semburat jingga. Doa-doa bergetar di bibir yang berpuasa.

    Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang tulus. Yang diterima mungkin hanya makanan sederhana, tetapi yang terasa adalah sentuhan kasih rasa dihargai sebagai sesama makhluk Allah yang dimuliakan.

    Pada akhirnya, yang bernilai di sisi-Nya bukanlah banyaknya yang dibagikan, melainkan beningnya niat yang tersembunyi di dalam dada.

    Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah menyadari bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan, dan segala yang kita ikhlaskan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kembali.

    Di antara derap langkah senja Raya By Pass Juanda Sidoarjo, terselip pesan makrifat yang hening namun agung: kemuliaan manusia tidak terletak pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia relakan demi ridha-Nya. (Bgn)***

  • Uncategorized

    Bau Busuk Di Balik Renovasi Cabdin Jember! Bukti Transfer Dikantongi, Laporan Gratifikasi Segera Meledak di Kejati Jatim

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 2 Maret 2026 — Aroma tak sedap dari balik proyek rehabilitasi dan renovasi Kantor Cabang Dinas Pendidikan Jember–Lumajang kini berubah menjadi ledakan investigasi.

    Bidang Hukum MAKI Jatim memastikan telah mengantongi bukti kuat dugaan gratifikasi dan pungutan liar (pungli) yang menyertai proses renovasi tersebut, dan bersiap melaporkannya secara resmi ke Tim Pidana Khusus Kejaksaan Tinggi Jawa Timur.

    Langkah ini bukan gertakan. Berkas disebut telah lengkap, terstruktur, dan siap diuji secara hukum.

    Fakta paling mendasar yang menjadi sorotan adalah ketiadaan dukungan anggaran dari APBD I Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Tahun Anggaran 2025 maupun 2026 untuk proyek rehabilitasi tersebut. Namun, di lapangan, proses renovasi tetap berjalan.

    Pertanyaannya sederhana namun tajam: jika tidak ada anggaran resmi, dari mana sumber pembiayaan diperoleh?

    Tim investigasi MAKI Jatim menemukan indikasi adanya “urunan” dari sejumlah Kepala Sekolah SMA/SMK di wilayah Cabdin Jember. Istilah urunan ini diduga kuat hanyalah kemasan lunak dari praktik pungli yang terstruktur.

    Koordinator Bidang Hukum MAKI Jatim, Achmad Husairi, SH., MH., mengungkapkan bahwa timnya telah mengamankan bukti transfer serta kronologi penyerahan dana dari para Kepala Sekolah kepada oknum di lingkungan Cabdin Jember.

    Dokumen tersebut bukan sekadar isu atau rumor, melainkan telah dimasukkan dalam berkas pelaporan hukum. Rangkaian keterangan pendukung pun telah diperoleh untuk mempertebal konstruksi perkara.

    “Kami tidak bergerak tanpa data. Bukti transfer dan pengakuan kronologis sudah ada dalam berkas,” tegasnya.

    Investigasi tidak berhenti pada aliran dana. MAKI Jatim juga menelusuri aspek legalitas administratif dan tata kelola aset.

    Karena kantor Cabdin Jember berada di lantai dua bagian depan gedung Bakorwil Jember, maka aspek perizinan dan surat-menyurat permohonan rehab menjadi titik krusial. Keterangan resmi dari Bakorwil Jember kini telah dikantongi untuk memastikan apakah prosedur administratif telah dijalankan secara sah.

    Lebih jauh lagi, penggantian material seperti kursi, sekat PVC, meja, hingga wallpaper yang bersifat baru memunculkan pertanyaan tentang status dan pencatatan aset. Berdasarkan ketentuan, perubahan atau pengakuan aset daerah semestinya terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari BPKAD Provinsi Jawa Timur.

    Apakah prosedur tersebut dilalui? Atau justru diabaikan?

    MAKI Jatim menyatakan telah memperoleh keterangan resmi yang dibutuhkan untuk memperkuat aspek ini dalam laporan mereka.

    Ketua Koordinator Wilayah Provinsi Jawa Timur MAKI, Heru, menegaskan bahwa laporan ini akan segera ditandatangani secara resmi dan didaftarkan ke Kejati Jatim untuk mendapatkan nomor register perkara.

    Ia menyebut dugaan gratifikasi dan pungli ini berpotensi menjadi pintu masuk untuk membongkar pola relasi kekuasaan yang memungkinkan praktik urunan tersebut terjadi.

    Heru secara terbuka meminta para Kepala Sekolah di wilayah Cabdin Jember untuk tidak takut bersuara apabila dipanggil penyidik.

    “Sampaikan apa adanya. Jangan ditutup-tutupi. Jika ada tekanan atau mekanisme yang tidak semestinya, ungkapkan. Yang kami kejar adalah oknumnya, bukan Kepala Sekolah,” tegasnya.

    Pernyataan ini sekaligus mengisyaratkan adanya dugaan bahwa urunan tersebut tidak sepenuhnya lahir dari kesukarelaan, melainkan bisa saja berada dalam ruang tekanan struktural.

    Kasus ini bukan sekadar perkara renovasi gedung. Ia menyentuh inti tata kelola pendidikan, transparansi penggunaan dana, serta integritas pejabat publik.

    Jika laporan resmi telah masuk dan diproses oleh Kejati Jatim, maka babak baru penegakan hukum di sektor pendidikan Jawa Timur akan dimulai. Publik kini menanti: apakah dugaan gratifikasi dan pungli ini akan berhenti pada klarifikasi administratif, atau benar-benar berujung pada penetapan tersangka?

    Satu hal yang pasti, investigasi telah bergerak. Bukti telah dikantongi. Dan meja hijau menanti siapa pun yang terbukti bermain-main dengan kewenangan. (Bgn)***

  • Uncategorized

    Gema Sholawat Ribuan Anggota BPD Jawa Timur Sambut Prof Reda, Perkuat Sinergi Jaga Desa untuk Indonesia Berdaulat

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS), Adhitya Yusma Perdana menegaskan bahwa optimalisasi Jaga Desa berfungsi sebagai benteng perlindungan bagi legislator desa saat menjalankan tugas pengawasan.

    Adhitya menilai Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI, Prof. Dr. Reda Manthovani memahami dinamika lapangan secara komprehensif sehingga bimbingan hukum yang digagas mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi jajaran Badan Permusyawaratan Desa (BPD), seperti ia sampaikan kepada awak media pada Senin (2/3/2026).

    Adhitya mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menebar kebaikan dan bekerja bersama menjaga desa serta menjaga Indonesia.

    Ia menekankan bahwa kepemimpinan yang mengutamakan pencegahan dibanding penindakan sangat dibutuhkan guna mengawal keberhasilan Asta Cita Presiden Prabowo dan mewujudkan pemerintahan desa yang mandiri, produktif, serta berwibawa di seluruh pelosok Nusantara.

    Adhitya menyampaikan hal tersebut terkait dengan momen ribuan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) yang tergabung dalam Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) se-Jawa Timur memadati Aula Graha Samudra Bumi Moro Angkatan Laut Surabaya pada Selasa (24/2/2026) dalam pertemuan akbar penuh semangat kolaborasi.

    Seluruh peserta menyambut kedatangan Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen Kejaksaan Agung RI, Prof. Dr. Reda Manthovani, dengan lantunan sholawat nabi yang menggema khidmat dan menghadirkan suasana religius sekaligus penuh optimisme.

    Panitia menggelar agenda tersebut untuk mengoptimalkan program Jaksa Garda Desa (Jaga Desa) sekaligus mengukuhkan pengurus DPC ABPEDNAS Jawa Timur oleh jajaran pimpinan DPP ABPEDNAS.

    Para pimpinan juga menandatangani kerja sama antara BPD ABPEDNAS Jawa Timur dan Asisten Intelijen Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebagai langkah konkret memperkuat pengawasan dan pendampingan hukum di tingkat desa.

    Sejumlah pejabat strategis menghadiri forum tersebut dan menunjukkan komitmen kuat terhadap penguatan tata kelola desa.

    Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Agus Sahat ST, S.H., M.H., Direktur II pada Jamintel Subeno, S.H., M.M., serta Asisten Intelijen I Ketut Maha Agung, S.H., M.H., hadir bersama Kepala Dinas PMD Jawa Timur, para Kepala Kejaksaan Negeri dan Kasi Intel se-Jawa Timur, serta Ketua DPD ABPEDNAS Jawa Timur Badrul Amali, S.H., M.H., yang memimpin jajaran pengurus daerah.

    Kejaksaan RI mendorong program Jaga Desa sebagai inisiatif strategis untuk mendampingi dan mengawasi pengelolaan dana desa agar berjalan transparan dan tepat sasaran.

    Melalui pendekatan preventif serta edukasi hukum, jajaran intelijen menghadirkan peran jaksa sebagai mitra aparat desa guna membangun fondasi pembangunan berbasis zero corruption dan akuntabilitas.

    Ketua Umum DPP ABPEDNAS, Indra Utama, menegaskan bahwa pengukuhan pengurus menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat fungsi pengawasan pembangunan desa.

    Ia menekankan pentingnya sinergi antara Kejaksaan dan BPD agar setiap anggaran desa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta mendukung Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto tentang pembangunan dari bawah demi pemerataan ekonomi.

    Perwakilan anggota BPD dari berbagai daerah menyampaikan apresiasi atas capaian Kejaksaan Agung yang kembali meraih predikat sebagai Lembaga Penegak Hukum dengan tingkat kepercayaan publik tertinggi dalam survei nasional Februari 2026.

    Mereka meyakini keberhasilan tersebut lahir dari konsistensi reformasi kelembagaan dan penguatan program Jaga Desa yang langsung menyentuh kebutuhan pemerintahan desa.

    Di sela rangkaian kegiatan, peserta melantunkan doa dan sholawat seraya menyuarakan harapan besar terhadap kepemimpinan Prof. Reda Manthovani di masa mendatang.

    Para anggota menilai integritas dan profesionalitas Jamintel teruji melalui kebijakan yang berpihak pada penguatan desa serta perlindungan terhadap BPD dalam menjalankan fungsi pengawasan.

    Para peserta meyakini bahwa kepemimpinan yang berpijak pada persoalan rakyat kecil menjadi kunci keberhasilan agenda nasional.

    Mereka menegaskan bahwa penguatan desa akan memperkokoh kedaulatan Indonesia secara menyeluruh dan membutuhkan figur berintegritas untuk mengawal visi besar tersebut.***

    (Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

  • Uncategorized

    Ketika Kritik Menjadi Ibadah: Tajalli Ramadan Dalam Jejak Perjuangan MAKI Jatim

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 1 Maret 2026 – Ramadhan 1447 Hijriah kembali menyingkap tabir batin umat manusia. Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan seperti Surabaya, bulan suci tidak sekadar menjadi ruang ibadah personal, tetapi juga medan pembuktian nilai-nilai ruhani dalam kehidupan sosial.

    Di antara denyut itu, eksistensi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan warna yang berbeda keras dalam prinsip, lembut dalam kepedulian.

    Bambang Gunawan Bagian Humas DPW PW-FAST RESPON Jawa Timur memberikan pernyataan bahwa selama ini, MAKI Jatim dikenal lantang dan tajam di panggung demokrasi.

    Orasi-orasinya tegas, kritiknya cadas, dan sikapnya tak gentar terhadap praktik korupsi yang mencederai amanah rakyat.

    Namun Ramadhan memperlihatkan dimensi lain: bahwa perjuangan melawan korupsi bukan sekadar gerakan hukum dan moral, melainkan juga perjalanan makrifat, perjalanan menyadari kehadiran Allah dalam setiap gerak dan niat.

    Setiap tahun di bulan suci, MAKI Jatim menebar seribu hingga seribu lima ratus paket ta’jil kepada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.

    Bagi sebagian kalangan, konsistensi ini menjadikan MAKI layak disebut sebagai role model bagi LSM lain di Jawa Timur. Akan tetapi, bagi Ketua MAKI Jatim, Heru Satriyo, penilaian itu bukan tujuan utama.

    “Sah-sah saja masyarakat memberi penilaian seperti itu. Namun bagi MAKI Jatim apa yang dilakukan semata-mata berbagi kepada masyarakat yang sedang menunaikan ibadah puasa,”.

    Dalam perspektif makrifat, amal bukanlah panggung untuk mencari pengakuan, melainkan jalan sunyi menuju ridha Allah SWT.

    Memberi bukan tentang dilihat manusia, tetapi tentang dilihat oleh Dia yang Maha Melihat.

    Di sinilah letak kedalaman makna kegiatan berbagi ta’jil itu: ia bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ibadah yang menumbuhkan kesadaran kehambaan.

    Sementara Heru Satriyo Ketua MAKI Jatim saat dimintai pernyataannya lewat WhatsApp, ia menegaskan bahwa kegiatan tahunan tersebut dilakukan semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT, sekaligus memberi teladan kepada anggota MAKI serta keluarganya.

    “Saya katakan kepada mereka bahwa nandur becik pasti akan menuai sesuai apa yang kita tanam. Dan merajut tajalli itu tidak gampang, tentu harus istiqomah,” tuturnya.

    Heru juga menerangkan bahwa istilah tajalli dalam khazanah tasawuf merujuk pada penyingkapan cahaya Ilahi dalam kehidupan seorang hamba.

    Ia tidak lahir dari sekali amal, tetapi dari kesinambungan niat yang lurus dan keteguhan langkah. Istiqomah menjadi kunci.

    Tanpa konsistensi, amal hanya menjadi kilatan sesaat; dengan istiqomah, ia menjelma cahaya yang menerangi jalan panjang perjuangan.

    Dalam konteks sosial, gerakan ini menyampaikan pesan kuat: bahwa pemberantasan korupsi tidak dapat dilepaskan dari pembenahan hati. Korupsi pada hakikatnya bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi penyakit ruhani lahir dari hati yang lupa bahwa Allah Maha Mengawasi.

    Ketika kesadaran ketuhanan hidup, integritas tumbuh secara alami. Ia bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan konsekuensi iman.

    Di jalanan Surabaya yang dipenuhi kendaraan menjelang Maghrib, paket-paket ta’jil berpindah tangan. Senyum penerima mungkin sederhana, tetapi di baliknya tersimpan rasa diperhatikan dan dihargai.

    Lapar yang ditahan sepanjang hari menjadi pelajaran empati; sedekah yang diberikan menjadi latihan melepaskan keterikatan dunia.

    Heru pun menegaskan bahwa sambutan positif masyarakat adalah hak mereka. Bahkan jika ada penilaian negatif, itu pun ia terima sebagai bagian dari dinamika kehidupan.

    “Saya lebih fokus pada perjalanan giat berbagi ta’jil ini dengan istiqomah. Soal atensi dan apresiasi bahwa MAKI Jatim bisa menjadi role model bagi LSM lain, itu terserah,” pungkasnya.

    Sikap ini mencerminkan ajaran makrifat: tidak terpaut pada pujian, tidak goyah oleh celaan. Hamba yang berjalan menuju Allah tidak menoleh pada riuh tepuk tangan ataupun bisik penolakan. Ia hanya memastikan niatnya lurus dan langkahnya konsisten.

    Ramadhan pada akhirnya adalah madrasah kejujuran batin. Ia mengajarkan bahwa perjuangan sosial harus bertumpu pada kesucian hati.

    Bahwa keberanian melawan korupsi harus lahir dari ketakwaan. Dan bahwa amal sekecil apa pun, bila dilakukan dengan niat yang bersih, dapat menjadi jalan tajalli cahaya Ilahi yang memancar dalam tindakan nyata.

    Di bawah langit Surabaya yang memerah saat senja, terpatri pesan yang mendalam: bahwa kerasnya perjuangan tidak harus menghilangkan kelembutan hati; bahwa tajamnya kritik tidak boleh memadamkan kasih sayang; dan bahwa kemuliaan seorang pejuang sejati terletak pada kemampuannya menyatukan iman, integritas, dan kepedulian dalam satu tarikan napas penghambaan.

    Ramadhan mengajarkan satu kebenaran hakiki:
    melawan kebatilan adalah jihad sosial, berbagi adalah jihad spiritual, dan istiqomah adalah jembatan menuju ridha-Nya. (Bgn)***

  • Uncategorized

    Detik-Detik Mencekam di Senja Ramadan: Kobra Mematikan Muncul di Depan Sekretariat MAKI Jatim

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo – Menjelang adzan Maghrib berkumandang, saat suasana Ramadan biasanya diwarnai ketenangan dan persiapan berbuka puasa, peristiwa tak terduga justru mengguncang Sekretariat Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur di Surabaya, Minggu sore (1/3/2026).

    Seekor ular jenis kobra berukuran besar tiba-tiba muncul persis di depan pagar kantor. Kemunculan reptil berbisa tersebut sontak mengagetkan para pengurus yang tengah bersiap menunaikan salat Maghrib berjamaah.

    Peristiwa bermula ketika Putra, Koordinator Bidang Litbang dan Investigasi MAKI Jatim, bersama Andhika hendak berjalan kaki menuju Masjid Al Aziz di kawasan Perumahan Permata Juanda.

    Langkah keduanya terhenti ketika Putra mencurigai gerakan cepat melintas di depan pagar sekretariat.

    Awalnya hanya bayangan samar. Namun dalam hitungan detik, sosok itu terlihat jelas seekor ular dengan tubuh cukup besar bergerak cepat menyusuri sisi pagar.

    “Gerakannya cepat sekali. Awalnya saya kira hanya hewan biasa, tapi setelah diperhatikan, ternyata ular,” ujar Putra.

    Tanpa membuang waktu, Putra dan Andhika segera memanggil Suryawan pengurus MAKI yang dikenal memiliki kemampuan menangani satwa liar dan akrab disapa “Gundul Demit”. Situasi berubah tegang ketika ular tersebut menunjukkan sikap defensif.

    Dalam proses pengejaran singkat namun menegangkan, sang ular sempat melawan dengan membuka mulut lebar-lebar dan menyemburkan bisa ke arah tim yang mencoba mendekat.

    Momen itu sempat membuat suasana mencekam, mengingat jenis kobra dikenal memiliki racun mematikan.

    Dengan menggunakan tongkat kayu sebagai alat bantu, Putra dan Suryawan berupaya mengendalikan situasi.

    Beberapa kali ular mencoba meloloskan diri, bahkan memperlihatkan gerakan menyerang. Namun koordinasi cepat dan keberanian keduanya akhirnya membuahkan hasil.

    Kepala ular berhasil dijepit dan diamankan dengan teknik manual yang hati-hati. Setelah diteliti lebih lanjut, reptil tersebut dipastikan sebagai ular kobra dengan ukuran relatif besar dan memiliki bisa berbahaya apabila menggigit.

    Tidak ada korban dalam insiden tersebut. Seluruh pengurus MAKI Jatim dilaporkan dalam kondisi aman.

    Saat ini, ular kobra tersebut telah ditempatkan dalam ruang kaca khusus di lingkungan sekretariat.

    Selain untuk pengamanan, pihak MAKI berencana memeliharanya sebagai sarana edukasi dan daya tarik bagi tamu yang berkunjung.

    Peristiwa ini menjadi pengalaman tak terlupakan bagi para pengurus. Di tengah semangat Ramadan yang identik dengan ketenangan, kemunculan predator berbisa itu menghadirkan adrenalin sekaligus pelajaran tentang kesiapsiagaan.

    Detik-detik sebelum berbuka yang biasanya diisi doa dan penantian adzan, sore itu berubah menjadi adegan dramatis penuh ketegangan.

    Namun berkat respons cepat dan keberanian tim, situasi berhasil dikendalikan tanpa menimbulkan korban.

    Senja pun akhirnya kembali tenang. Adzan Maghrib tetap berkumandang. Dan di balik peristiwa mengejutkan itu, tersimpan kisah tentang refleks cepat, solidaritas, serta keberanian menghadapi ancaman yang datang tanpa aba-aba. (Bgn)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Merajut Tajalli Ramadhan di Bumi Delta Sidoarjo: Saatnya Nandur Becik Sedekah Menjadi Jalan Makrifat Menuju-Nya

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 1 Maret 2026 – Ramadhan kembali menyapa bumi dengan wajahnya yang teduh. Ia bukan sekadar rentang hari yang dihitung oleh kalender, melainkan musim turunnya rahmat dan terbukanya pintu-pintu kesadaran. Pada hari kesebelas bulan suci 1447 Hijriah, di kota delta yang tenang Sidoarjo denyut kehidupan terasa lebih hening, seolah semesta ikut bersyahadat dalam tasbih yang tak terdengar.

    Di depan Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo, tepat di hadapan Monumen Jayandaru, seribu paket ta’jil dibagikan oleh relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. 250 Nasi goreng merah lengkap dengan bakso, sosis, irisan telur dan kerupuk; 250 kurma sebagai sunnah yang menghidupkan jejak Nabi; 250 sirup melon berisi blewah yang menyegarkan dahaga; serta 250 jajanan sederhana dalam plastik semuanya berpindah tangan dengan senyum yang bersahaja.

    Namun Ramadhan tidak pernah berhenti pada yang kasatmata. Ia adalah jalan batin. Ia adalah mi’raj jiwa menuju kesadaran terdalam bahwa manusia hanyalah hamba, dan segala yang digenggamnya hanyalah titipan sementara.

    Dalam pandangan makrifat, memberi bukanlah tentang tangan yang lebih tinggi dari tangan yang menerima. Memberi adalah pengakuan sunyi bahwa tiada kepemilikan sejati selain milik Allah SWT. Setiap paket yang berpindah tangan adalah saksi bahwa rezeki hanyalah amanah; bahwa yang memberi dan yang diberi sesungguhnya sama-sama fakir di hadapan-Nya.

    Puasa melatih sabar. Sedekah melatih fana.
    Sabar menundukkan nafsu. Fana menundukkan ego.

    Ketika keduanya bertemu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang memperbanyak kepemilikan, tetapi memperdalam penghambaan.

    Lapar yang ditahan sepanjang hari melembutkan hati agar peka terhadap derita sesama. Dahaga yang dijaga menjadi cermin bahwa manusia tak pernah benar-benar berdaya tanpa pertolongan-Nya.

    Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur dalam makna terdalam bukan sekadar ucapan hamdalah di bibir, melainkan kesediaan hati untuk menjadi perantara rahmat Ilahi.

    Dalam kesadaran itulah MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin agung bagi jiwa. Korupsi, dalam perspektif ruhani, bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penyakit hati yang lahir dari lupa kepada Allah. Ketika muraqabah rasa diawasi oleh-Nya hidup dalam dada, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan, melainkan buah alami dari ketakwaan.

    Menjelang adzan Maghrib, langit Sidoarjo berpendar jingga. Angin petang berembus lembut, membawa doa-doa yang meluncur dari bibir orang-orang yang berpuasa. Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang bening. Mungkin yang diterima hanyalah makanan pembuka, tetapi yang dirasakan adalah pengakuan kemanusiaan bahwa mereka dilihat, dihargai, dan dicintai sebagai makhluk Allah yang mulia.

    Ramadhan pada akhirnya adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesombongan menuju kerendahan. Pulang dari kelalaian menuju kesadaran. Pulang dari dunia menuju Tuhan.

    Dan di antara langkah-langkah senja yang mengiringi beduk Maghrib, terpatri pesan yang agung:
    bahwa kemuliaan manusia bukan pada apa yang ia kumpulkan,
    melainkan pada apa yang ia ikhlaskan.

    Sebab segala yang berasal dari-Nya akan kembali kepada-Nya,
    dan hanya hati yang bersihlah yang sampai dengan selamat di hadapan-Nya. (Bgn)***

  • Kepolisian

    Gubernur dan Kapolda Jatim Resmikan Sarana Prasarana SMAN 2 Taruna Bhayangkara di Banyuwangi

    WARTAPENASATUJATIM | BANYUWANGI – Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.Si besama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa melaksanakan kunjungan kerja (Kunker) ke Situbondo dan Banyuwangi, Sabtu (28/2/26).

    Kunker tersebut dalam rangka peresmian sarana dan prasarana di SMAN 2 Taruna Bhayangkara Jawa Timur.

    Fasilitas yang diresmikan meliputi Aula Cakra Buana, Brakasena Gym, Griya Belajar Taruna, rumah ibadah, ruang olahraga tenis meja, barbershop putra dan putri, hingga studio musik.

    Selain itu kunjungan kerja Gubernur dan Kapolda Jatim ini sekaligus dalam rangka peresmian rehabilitasi SMA, SMK, dan SLB Negeri maupun Swasta di wilayah Situbondo.

    Hal itu sebagai bentuk komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang bersinergi dengan Polda Jawa Timur dalam meningkatkan mutu pendidikan.

    Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa SMA Taruna Bhayangkara berada dalam komando Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dengan pembinaan langsung dari Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim).

    Gubenur Khofifah menyebut perhatian besar dari jajaran Kepolisian menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan berbasis ketarunaan yang kuat dan terintegrasi.

    Khofifah menegaskan SMA Taruna Bhayangkara ini dalam Komando Polri dan tentu di Jawa Timur ini adalah dibawah komando Kapolda Jawa Timur.

    “Pak Kapolda Jatim telah memberikan atensi yang luar biasa dan kita ini ingin menggodok, menyiapkan ‘Generasi Emas’ terutama untuk menyambut Indonesia Emas karena mereka adalah juru bicara kebangsaan, juru bicara ke – Indonesiaan, juru bicara Kenusantaraan,” ujar Khofifah.

    Ia menekankan bahwa capaian akademik tidak boleh berdiri sendiri. Di SMA Taruna Bhayangkara, akademik harus menyatu dengan pembentukan karakter.

    Disiplin, integritas, dan semangat kebangsaan ditanamkan melalui pola asuh yang sebagian besar dibimbing oleh unsur Polri dalam hal ini Polda Jatim.

    “Kita berharap dengan bimbingan dan pengawasan oleh Polda Jawa Timur, napas kedisiplinan dan integritas kebangsaan bisa ditanamkan sekuat mungkin di SMA Taruna Bhayangkara ini,”pungkas Khofifah.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiestiandani, S.Pd., M.KP dan Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol. Dr. Rofiq Ripto Himawan, S.I.K., S.H., M.H.

    Hadir pula jajaran Forkopimda, Kepala OPD Provinsi Jawa Timur, serta para kepala sekolah penerima program pembangunan dan rehabilitasi. (Bgn)***

  • Kepolisian,  pertanian

    ‎Kapolda Jatim dan Gubernur Panen Jagung di Green Farm Banyuwangi Penuhi Target Swasembada Pangan ‎

    WARTAPENASATUJATIM | BANYUWANGI – Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol. Drs. Nanang Avianto, M.SI, bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melaksanakan panen raya Jagung di kawasan Pusat Pelatihan Pertanian Taruna Bumi, Green Farm Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (28/2/2026).

    Lahan jagung di bawah pengelolaan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu masuk dalam rencana tata tanam jagung Polda Jawa timur kuartal empat tahun 2025.

    Kapolda Jatim Irjen Nanang Avianto mengatakan, Varietas jagung Jendral di lahan seluas 50 hektar tersebut sebagai pemenuhan target swasembada pangan Nasional Jatim.

    Kapolda Jatim juga menyatakan, hasil panen Pelatihan Pertanian Taruna ini sebagai bentuk komitmen Polda Jatim dalam mewujudkan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan.

    “Polri diberi tanggung jawab oleh Bapak Presiden untuk komoditas jagung, jadi kita terus melakukan upaya peningkatan baik kuantitas maupun kualitas dan menjaga target swasembada pangan Nasional,” ujar Irjen Pol Nanang.

    Ia menambahkan, Polda Jawa Timur juga telah menyiapkan gudang di Desa Pacing Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto.

    Gudang yang dibangun di atas lahan 10.500 meter persegi milik SPN Polda Jatim itu untuk menampung jagung hasil panen para petani yang diserap Bulog.

    “Kami sudah menyiapkan gudang di Mojokerto yang digunakan untuk menampung khusus jagung dengan kapasitas 4.000 ton,” kata Irjen Nanang.

    Selain itu lanjut Irjen Nanang, Polda Jatim saat ini tengah menyiapkan teknologi dan area pengeringan untuk jagung guna menjaga kualitas jagung Jatim yang menjadi penyokong 30% kebutuhan jagung Nasional.

    Tak hanya itu, Polda Jatim juga akan menyiapkan pemasaran guna meningkatkan kesejahteraan petani.

    “Saat ini kami sedang menyiapkan pengeringan sehingga bisa menjaga kualitas dari jagung itu. Dan ini nanti akan kita bantu pemasaran paling tidak nanti bisa memberikan kesejahteraan bagi petani,” pungkas Irjen Nanang. (Bagas)***

  • Uncategorized

    Kolaborasi ABPEDNAS-Kejaksaan Perkuat Pengawasan Desa Berbasis Zero Corruption di Jawa Timur

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Aula Graha Samudra Bumi Moro menjadi panggung konsolidasi besar penguatan tata kelola desa pada Selasa, 24 Februari 2026. Pengukuhan pengurus DPD ABPEDNAS Jawa Timur dirangkai dengan sosialisasi program Jaga Desa yang menegaskan arah baru pengawasan berbasis kolaborasi dan pencegahan.

    Sejumlah pimpinan nasional hadir memberikan dukungan strategis terhadap agenda tersebut. Jamintel Kejaksaan Agung RI sekaligus Ketua Dewan Pengawas DPP ABPEDNAS, Prof. Dr. Reda Manthovani, berdampingan dengan Ketua Umum DPP ABPEDNAS Ir. Indra Utama, Sekretaris Jenderal Adhitya Yusma Perdana, serta Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur Agus Sahat ST, S.H., M.H., bersama jajaran pejabat intelijen dan Kepala Kejaksaan Negeri se-Jawa Timur.

    Prof. Dr. Reda Manthovani menegaskan bahwa program Jaga Desa merupakan strategi negara dalam memastikan tata kelola desa berjalan tertib, transparan, dan akuntabel. Kejaksaan mengedepankan pendekatan preventif melalui fungsi intelijen, dengan memperkuat manajemen pemerintahan desa serta membangun sistem pengawasan yang terstruktur.

    Pendekatan tersebut menempatkan jaksa sebagai mitra strategis bagi BPD, bukan sekadar aparat penindakan. Melalui edukasi hukum dan pendampingan sejak tahap perencanaan anggaran, potensi penyimpangan dapat ditekan dan pembangunan desa dapat bergerak di jalur zero corruption.

    Ketua Umum DPP ABPEDNAS Ir. Indra Utama menyatakan bahwa pengukuhan pengurus daerah menjadi momentum konsolidasi organisasi dalam memperkuat pengawasan partisipatif. Organisasi mendorong BPD agar mengawal pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dengan memastikan dana desa memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

    Ia menekankan pentingnya profesionalisme BPD dalam mengawal setiap proses perencanaan dan pelaksanaan program desa. Transparansi anggaran dan akuntabilitas kinerja menjadi prasyarat mutlak untuk membangun kepercayaan publik sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis desa.

    Sekretaris Jenderal Adhitya Yusma Perdana menambahkan bahwa visi preventif Jamintel selaras dengan misi organisasi dalam menghadirkan kepastian hukum bagi legislator desa. Program Jaga Desa memberi rasa aman bagi BPD untuk bertindak tegas dan objektif selama seluruh langkah berada dalam koridor regulasi.

    Dorongan tersebut membuka ruang keberanian baru bagi BPD untuk bersikap kritis dan konstruktif terhadap kebijakan pemerintahan desa. Pengawasan yang tajam dan berbasis aturan akan memperkuat kualitas pembangunan serta mendorong kemajuan wilayah secara berkelanjutan.

    Pengurus DPD ABPEDNAS Jawa Timur yang baru dilantik menyatakan komitmen untuk segera mengimplementasikan program Jaga Desa di seluruh kabupaten dan kota. Kolaborasi antara Kejaksaan dan BPD menghadirkan standar baru pengawalan pembangunan di tingkat desa dengan fondasi hukum yang semakin kokoh.

    Sinergi strategis yang terbangun di Surabaya mempertegas arah transformasi desa menuju kemandirian dan integritas. Pengawasan profesional dan berbasis pencegahan menjadi kunci menghadirkan masa depan nusantara yang bersih, produktif, dan berwibawa.***

    (Dilaporkan oleh Muhammad Fadhli)

  • SOSIAL

    Nandur Becik Hari Kesepuluh MAKI Jatim Bagi 1000 Paket Tajil, Dalam Merajut Berkah Lewat Amanah Sosial

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 28 Februari 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ruhani. Dari syariat menuju hakikat. Dari hakikat menuju makrifat. Dari sekadar memberi menuju benar-benar mengenal siapa Pemberi segala rezeki.

    Di Jalan Raya Juanda (Depan Pom Bensin Raya Juanda), langkah-langkah sederhana para relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menjelma menjadi pelajaran batin yang dalam.

    Sebanyak 1000 paket ta’jil dibagikan kepada para pengguna jalan. Namun dalam pandangan hakikat, yang bergerak bukan hanya tangan manusia. Yang bekerja adalah kehendak-Nya. Yang mengalir bukan sekadar makanan, tetapi rahmat Allah yang dititipkan melalui hamba kepada hamba.

    Secara syariat, kegiatan itu adalah amal sosial. Paket demi paket berpindah tangan: 250 pack bubur sumsum mutiara lengkap, 250 pack kurma, 250 botol es sirup melon dan isian blewah, 250 pack jajan jadul dalam plastik. Semua tampak biasa. Semua tampak sederhana.

    Namun syariat hanyalah pintu. Ia adalah bentuk lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

    Dalam hakikat, berbagi bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Semua hanyalah titipan.

    Rezeki yang di tangan kita bukan milik kita. Ia hanya singgah. Ketika ia dibagikan, sesungguhnya ia sedang kembali kepada Pemiliknya.

    Di titik ini, hati mulai menyadari:
    Tidak ada yang benar-benar kaya.
    Tidak ada yang benar-benar miskin.
    Yang ada hanyalah hamba yang sedang diuji dengan kelapangan atau kekurangan.

    Ramadhan mengosongkan perut agar manusia memahami satu hal mendasar: ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat lapar terasa, ego melemah. Saat dahaga datang, kesombongan luruh. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita ini fakir di hadapan-Nya.

    Makrifat adalah ketika hati tidak lagi melihat amal sebagai kebanggaan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekat.

    Ketika paket ta’jil diberikan, hati yang terjaga tidak berkata, “Aku telah memberi.”
    Ia berkata, “Allah telah menggerakkan.”

    Ketika senyum penerima terlihat, hati yang sadar tidak merasa berjasa.
    Ia justru merasa ditolong untuk membersihkan diri dari cinta dunia.

    Di sanalah makrifat tumbuh:
    Saat amal tidak lagi menjadi panggung diri, tetapi menjadi jalan sunyi menuju ridha Ilahi.

    Sebagai gerakan yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan ritual, tetapi sebagai madrasah kesadaran.

    Korupsi lahir dari hati yang merasa memiliki.
    Kejujuran lahir dari hati yang merasa diawasi.

    Dalam maqam makrifat, manusia hidup dalam muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, bahkan atas bisikan terdalam.

    Jika kesadaran ini bersemayam, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan hukum. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ia menjadi napas kehidupan.

    Menjelang Maghrib, langit memerah keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat tanpa suara.

    Barangkali yang terlihat hanyalah pembagian makanan di tepi jalan.
    Namun yang terjadi sesungguhnya adalah latihan jiwa.

    Latihan untuk tidak melekat pada dunia.
    Latihan untuk mencintai tanpa pamrih.
    Latihan untuk menyadari bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah perjalanan pulang.

    Karena pada akhirnya, hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi pada seberapa bersih hati saat kembali kepada-Nya.

    Dan makrifat adalah saat kita mengerti:
    Tidak ada amal yang sampai kepada Allah, kecuali yang lahir dari hati yang mengenal-Nya.

    Di tepi Jalan Raya Juanda itu, 1000 paket ta’jil mungkin telah habis terbagi.
    Namun cahaya yang ditanam cahaya kesadaran, cahaya keikhlasan, cahaya tauhid semoga terus menyala, bahkan setelah Ramadhan berlalu. (Bgn)***

Wartapenasatu.com @2025