MBG
Dari Dapur Sederhana, Menjaga Masa Depan Bangsa: Transparansi Program Makan Bergizi di Sidoarjo Jadi Cermin Tata Kelola Nasional
WARTAPENASATUJATIM | SIDOARJO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menjelma menjadi isu strategis nasional. Ia tidak lagi semata berbicara tentang makanan di piring anak-anak sekolah, melainkan menyangkut kesehatan generasi penerus, akuntabilitas pengelolaan anggaran publik, hingga tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan negara.
Di tengah sorotan tersebut, praktik yang dijalankan Yayasan Berkah Mukti Raharjo di Sidoarjo membuka gambaran bagaimana program makan bergizi dapat dikelola secara profesional, transparan, dan berorientasi pada mutu.
Melalui perannya sebagai pelaksana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makarya Binangun, yayasan ini telah menyalurkan ribuan porsi makanan bergizi ke berbagai satuan pendidikan, mulai dari TK Roudlotus Sa’adah, TK DWP Janti, TK Persada, TK Anak Ceria, SLB Putra Harapan, SDN Kureksari, MINU Waru 1, hingga MTs Darul Ulum di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.
Program tersebut tidak hanya menjawab kebutuhan asupan gizi anak-anak, tetapi juga menunjukkan bagaimana tata kelola yang tertib mampu menjaga kualitas layanan publik secara berkelanjutan.
Di balik dapur produksi, aspek gizi menjadi perhatian utama. Ahli Gizi SPPG Makarya Binangun, Jihan Imtiyas, menegaskan bahwa tantangan terbesar program makan bergizi bukan terletak pada ketersediaan bahan pangan, melainkan pada proses pengolahan.
Berdasarkan evaluasi internal, penurunan zat gizi khususnya pada bahan pangan hewani seperti ayam dan daging lebih banyak terjadi saat proses memasak dibandingkan saat bahan diterima.
“Karena itu, dapur pelaksana terus melakukan evaluasi teknik pengolahan. Tujuannya agar makanan yang sampai ke anak-anak tetap memiliki nilai gizi optimal,” ujar Jihan.
Penyesuaian metode memasak, pengaturan waktu pemanasan, hingga teknik penyajian menjadi fokus utama agar kandungan gizi tidak hilang sebelum dikonsumsi.
Dari sisi pengadaan bahan baku, yayasan menegaskan tidak ada ketentuan kaku mengenai lokasi pembelian.
Seluruh proses dikoordinasikan bersama mitra, dengan prinsip utama memprioritaskan bahan pangan dari lingkungan sekitar dapur.
Kebijakan ini dinilai lebih efisien, mudah dikontrol, serta berdampak langsung pada penguatan ekonomi lokal.
Baca Juga: Dalam Peringatan Hakordia, MAKI NTB Siap Gelar Aksi Demo Akbar di Bumi Gora NTB
“Mengambil bahan dari sekitar dapur lebih terkontrol dan segar. Selain itu, roda ekonomi warga juga ikut bergerak,” kata Jihan.
Program ini dijalankan melalui alur kerja yang sistematis dan terdokumentasi dengan rapi.
Penyusunan menu dilakukan secara kolaboratif antara tim dapur dan pengelola yayasan, dengan mempertimbangkan keseimbangan gizi serta harga pasar.
Setelah menu dan harga disepakati, pengelola menyusun Purchase Order (PO) bahan pangan, mulai dari beras, ikan, sayuran, hingga bahan pendukung lainnya.
PO tersebut kemudian diverifikasi oleh tim akuntansi untuk memastikan kesesuaian dengan anggaran.
Baca Juga: Pangdam V/Brawijaya Periksa Kesiapan Satgas Gulbencal Yonzipur 5/ABW untuk Aceh Tengah
Setelah mendapat persetujuan bagian accounting dan kepala SPPG, dokumen pengadaan diajukan kepada mitra dan yayasan untuk proses pembelian.
Meski pembelian dilakukan oleh mitra, seluruh tahapan berada dalam pengawasan ketat sistem administrasi dan keuangan yayasan.
Pendiri Yayasan Berkah Mukti Raharjo, Bambang Kusumarijadi, mengungkapkan bahwa dapur produksi yang digunakan bukanlah bangunan baru.
Dapur tersebut merupakan bangunan lama yang ditata ulang pada bagian interior agar memenuhi standar produksi makanan sehat.
Proses persiapan dimulai sejak September 2025 dan rampung pada pertengahan November 2025, setelah seluruh perizinan dan persetujuan dari BKN diperoleh.
“Secara operasional dapur sebenarnya sudah siap di akhir November, tetapi pencairan dana baru terealisasi di awal Desember. Distribusi makanan perdana resmi dimulai pada 8 Desember 2025,” ujar Bambang.
Selama program berjalan, yayasan secara aktif memantau respons sekolah penerima manfaat. Hingga kini, tidak ditemukan keluhan berarti.
Bahkan, kondisi wadah makanan atau ompreng yang dikembalikan sebagian besar dalam keadaan bersih indikator sederhana namun bermakna bahwa makanan diterima dan dikonsumsi dengan baik oleh para siswa.
Ada pula kisah kecil yang mencerminkan dampak emosional dari program ini. Suatu hari, petugas menemukan uang Rp10.000 di dalam ompreng titipan seorang siswa, yang diduga sebagai ungkapan terima kasih kepada petugas pencuci.
“Kami langsung berkoordinasi dengan guru agar hal seperti itu tidak perlu dilakukan. Semua biaya sudah ditanggung program,” tutur Bambang.
Dari sisi cakupan, program Makan Bergizi Gratis ini menunjukkan perkembangan pesat. Pada tahap awal, distribusi mencakup tujuh sekolah dengan sekitar 1.118 porsi per hari.
Dalam waktu singkat, meningkat menjadi delapan sekolah dengan 1.338 porsi. Yayasan menargetkan 2.000 porsi pada 5 Januari 2026, dan dalam satu hingga dua minggu berikutnya kapasitas diproyeksikan meningkat hingga 3.000 porsi per hari.
Untuk menopang peningkatan skala tersebut, pengelola tengah mempersiapkan berbagai sertifikasi keamanan pangan, termasuk sertifikasi chef dan sertifikasi sel melalui dinas terkait.
Kepercayaan pemerintah kepada Yayasan Berkah Mukti Raharjo menjadi penguat langkah mereka dalam memperluas jangkauan layanan.
Baca Juga: UPTD SMPN 1 Arosbaya Gelar Gebyar Pentas Seni Akhir Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2025/2026
“Bagi kami, ini bukan sekadar program, tapi amanah,” kata Bambang.
Motivasinya sederhana namun fundamental: berkontribusi nyata bagi masa depan anak-anak Indonesia. “Tujuan akhirnya anak-anak Indonesia sehat. Kita ingin kualitas anak-anak kita setara, paling tidak di level Asia.”
Ia mencontohkan kondisi atlet muda Indonesia yang kerap kehabisan stamina akibat asupan gizi yang kurang memadai, berbeda dengan anak-anak di Eropa yang sejak dini terbiasa mengonsumsi makanan bergizi seimbang. Menurutnya, pembenahan gizi harus dimulai sejak usia sekolah.
Dari aspek keuangan, yayasan menegaskan komitmen penuh terhadap transparansi. Seluruh pengeluaran dicatat berdasarkan nota asli, dengan verifikasi langsung atas keaslian bukti transaksi.
Hingga kini, tidak ditemukan indikasi mark up harga. Mitra pelaksana disebut sangat kooperatif, bahkan aktif membantu ketika terjadi kendala administrasi.
Pencatatan keuangan dilakukan setiap hari oleh tim akuntansi, dengan pengeluaran dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama: bahan baku, operasional, serta insentif atau fasilitas mitra.
Dari ketiganya, bahan baku dan operasional menjadi komponen terbesar. Melalui pengecekan rutin harian, dua harian, hingga mingguan yayasan memastikan seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Baca Juga: Anggaran Acara Bakesbangpol Jatim Dipersoalkan, MAKI Nilai Kinerja Menyimpang dari Tupoksi
Dengan tata kelola yang transparan, pengawasan berlapis, dan komitmen kuat menjaga mutu gizi, Program Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo ini diharapkan tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga menjadi model nasional.
Sebuah bukti bahwa dari dapur sederhana, masa depan generasi bangsa dapat dibangun dengan integritas, kepedulian, dan tanggung jawab. (Bgn)***
Satu Tahun Program MBG, Peran POLRI Dinilai Sukses Jaga Gizi, Efisiensi, dan Stabilitas Nasional
Jakarta — wartapenasatu.com, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah koordinasi POLRI dinilai menunjukkan capaian signifikan dalam satu tahun pelaksanaannya. Hal ini mengemuka dalam Diskusi Publik Nasional bertajuk “Satu Tahun Program MBG dan Peran POLRI di SPPG” yang digelar pada Senin, 15 Desember 2025, di Hotel 88 Fatmawati, Jakarta Selatan.
Dalam paparannya, pengamat kebijakan publik dan mantan Pemimpin Redaksi Tempo, Bambang Harymurti, menilai keterlibatan POLRI dalam program MBG merupakan sebuah transformasi strategis yang bersifat revolusioner. Menurutnya, POLRI tidak lagi semata menjalankan fungsi keamanan, tetapi telah berkembang menjadi aktor pembangunan yang efektif.
“Ini adalah pergeseran paradigma yang signifikan. POLRI berhasil mengelola logistik pangan skala besar sekaligus menciptakan model tata kelola baru yang menggabungkan disiplin militer dengan efisiensi bisnis,” ujar Bambang.
Capaian Program MBG
Hingga 26 September 2025, program MBG tercatat telah mendistribusikan lebih dari 1,14 miliar porsi makanan bergizi melalui 9.406 dapur SPPG yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Program ini menjangkau 28,28 juta anak sekolah, 920.591 balita, 153.499 ibu hamil, serta 313.769 ibu menyusui.
Dari sisi keamanan dan operasional, tingkat keamanan pangan mencapai 99,1 persen, sementara rata-rata waktu distribusi dari dapur ke titik layanan hanya 2,3 jam. Tingkat kepuasan penerima manfaat tercatat 87,3 persen, dan 94,2 persen menu telah memenuhi standar gizi Kementerian Kesehatan.
Efisiensi Anggaran dan Dampak Ekonomi
Analisis efisiensi menunjukkan biaya per porsi MBG melalui model SPPG POLRI sebesar Rp12.500, lebih rendah dibandingkan model konvensional Kemenkes yang mencapai Rp15.200 per porsi. Efisiensi ini menghasilkan penghematan anggaran hingga Rp2,7 triliun.
Secara ekonomi, program MBG menyerap 337.060 tenaga kerja, dengan komposisi 45 persen tenaga masak, 30 persen distribusi, 15 persen administrasi, dan 10 persen pengawasan kualitas. Dampak ekonomi langsung mencapai Rp4,04 triliun dari pendapatan tenaga kerja serta Rp9,76 triliun dari belanja bahan baku lokal.
“Multiplier effect program ini sering luput diperhatikan. Setiap tenaga kerja SPPG menopang rata-rata tiga anggota keluarga, artinya sekitar satu juta jiwa merasakan dampak ekonomi langsung,” jelas Bambang.
Tantangan dan Keberlanjutan
Meski capaian dinilai impresif, diskusi juga menyoroti sejumlah tantangan. Sekitar 5 persen SPPG masih berada di bawah standar gizi, terutama di wilayah 3T, serta 23 persen SPPG di Papua mengalami keterlambatan distribusi lebih dari satu hari. Selain itu, nilai Benefit Cost Ratio (BCR) program pada tahun pertama berada di angka 0,93, meski diproyeksikan meningkat menjadi 1,24 pada tahun ketiga seiring peningkatan efisiensi dan penurunan biaya awal.
Diskusi publik ini merekomendasikan penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas menu, serta penyusunan peta jalan jangka panjang agar model SPPG dapat direplikasi sebagai kebijakan nasional lintas sektor.
Program MBG dinilai bukan hanya sebagai kebijakan pemenuhan gizi, tetapi juga instrumen strategis dalam menjaga ketahanan pangan, stabilitas sosial, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Adapun 5 Pembicara Diskusi Publik Nasional yang ikut diacara tersebut, yaitu :
1. Bambang Harymurti (Jurnalis Senior & Pemerhati Kebijakan Publik)
2. H. Alven Stony, S.I.P. Ketua Umum GAPEMBI (Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia)
3. Abednego Panjaitan, SH (Ketua Umum Prabu Center 08)
4. Ir. R. Haidar Alwi, MT (Founder Haidar Alwi Care & Haidar Alwi Institute)
5. Nailul Huda (Direktur Ekonomi Digital CELIOS)
Tiga Pilar Akan Kawal Pelaksanaan Program Pemerintah Makan Bergizi Gratis Bagi Anak Indonesia Menyambut Indonesia Emas
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya Metropolitan – Hari Jumat (28/11/2025) bertempat di Gedung Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Provinsi Jawa Timur telah dilakukan mediasi mengenai rencana operasional dapur SPPG Kota Surabaya Dukuh Pakis yang berada di Cluster Jepang perumahan Villa Bukit Mas Surabaya, yang menampung aspirasi sekelompok warga perumahan itu yang melakukan penolakan, sehingga operasional dapur ditunda.
Kali ini mediasi yang difasilitasi oleh Badan Gizi Nasional dengan menampilkan narasumber Kusmayanti S.Hut, M.Si selaku Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Surabaya, juga mengundang Kepala Kantor Kecamatan Dukuh Pakis, Lurah Dukuh Pakis, Kapolsek Dukuh Pakis, Danramil Karang Pilang dan perangkat RT, RW serta warga Cluster Jepang Perumahan Villa Bukit Mas Surabaya.

Namun sayang, selintas pantauan awak media, dari para pihak yang diharapkan datang untuk duduk bersama membahas permasalahan yang ada yang mana dikeluh dan dikawatirkan warga berkenaan dengan keberadaan dan rencana operasional Dapur SPPG, hanya terlihat Kepala KPPG Surabaya, Lurah Dukuh Pakis dan Danramil Karang Pilang yang hadir.
Kelompok warga yang melakukan penolakan beserta RT, RW setempat tidak datang dengan berbagai alasan. Sedangkan Kapolsek dan Camat mengirimkan perwakilan dikarenakan acara berbarengan dengan tugas kedinasan yang lain.
Dari acara yang dimulai sekitar jam 09.00 dilakukan pemaparan oleh Kusmayanti mengenai visi misi dan dasar hukum program MBG yang merupakan program unggulan pemerintah melalui Peraturan Presiden RI dalam memberikan bantuan sosial kepada anak anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa menyongsong Indonesia Emas 2045.
Sebenarnya acara mediasi itu cukup menarik, karena Kusmayanti memaparkan tahapan tahapan awal mulai dari penentuan titik, persyaratan persyaratan pokok pendirian dapur SPPG, termasuk dijelaskan hubungan dapur SPPG dengan pemilik lahan sampai persyaratan keamanan dan kebersihan lingkungan juga pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah sampai rekayasa alur lalu lintas barang dan kendaraan serta urusan parkir kendaraan sudah dipersiapkan dengan matang sesuai standar dan aturan umum yang berlaku.

Telah dijelaskan dengan penekanan berulang ulang oleh Kusmayanti, bahwa proyek dapur pendukung program MBG sepenuhnya adalah milik pemerintah, sedangkan Joko Dwitanto pemilik lahan, adalah murni sebagai pihak yang menyewakan bukan pemilik usaha.
Kusmayanti menjelaskan bahwa Peraturan Urusan Dalam (PUD) perumahan yang dipakai sebagai rujukan kelompok warga yang menolak keberadaan dan operasional dapur SPPG tidak berdasar, karena faktanya dapur SPPG pendukung program MBG bukan merupakan bentuk/tempat usaha perorangan melainkan murni bagian dari program pemerintah non profit karena memberikan bantuan sosial kepada anak anak sekolah sebagai generasi penerus bangsa untuk cita cita bangsa menuju era Indonesia Emas.
Namun sayang mediasi menjadi terasa timpang dan tidak membuahkan sebuah keputusan karena Camat sebagai pemegang wilayah dan wakil pemerintah tidak hadir, maka tidak bisa dilakukan keputusan apapun yang bisa dipakai sebagai acuan atau solusi dari permasalahan yang dibahas dalam mediasi itu.
Akhirnya diputuskan bahwa akan dilakukan mediasi secara tertulis kepada warga Cluster Jepang Perumahan Villa Bukit Mas yang akan dipersiapkan oleh Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Surabaya Badan Gizi Nasional. Sedangkan Lurah Dukuh Pakis memberikan dukungan dengan menyiapkan petugas kelurahan dalam mendistribusikan bahan mediasi tertulis tersebut. Sedangkan Polsek Dukuh Pakis dan Koramil Karang Pilang sebagai aparat keamanan akan mengawal dan menjaga kondusifitas keamanan warga dan operasional dapur SPPG sebagai pendukung keberlangsungan program pemerintah MBG.
Dengan tidak bisa beroperasinya dapur SPPG Dukuh Pakis, maka ada sebanyak 2.862 anak sekolah calon penerima manfaat yang terdampak.(Houget***)
Diduga Persekongkolan Provokator Dengan Sejumlah Warga Hambat Operasional Dapur SPPG di Villa Bukit Mas Surabaya
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya Metropolitan – Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan dapur SPPG di wilayah Dukuh Pakis tepatnya di Cluster Jepang – Perumahan Villa Bukit Mas mengalami hambatan operasional, yang dijadwalkan beroperasi sejak hari Senin (24/11/2025) sampai dengan hari ini Jumat (28/11/2025) belum juga bisa beroperasi untuk melayani sebanyak 2.862 calon penerima manfaat, yang notabene adalah para anak-anak sekolah generasi penerus bangsa yang tersebar dalam 15 sekolah di seputaran wilayah Kecamatan Dukuh Pakis.
Ironisnya ketika awak media menghubungi Joko Dwitanto, selaku mitra program pemerintah MBG dengan merelakan rumah pribadinya untuk dijadikan dapur pendukung SPPG, mengatakan bahwa belum beroperasinya dapur SPPG Dukuh Pakis karena adanya penolakan warga terhadap keberadaan dapur tersebut, seperti adanya surat penolakan yang ditanda tangani oleh lebih dari 20 orang warga, juga terlihat dengan banyaknya spanduk/banner penolakan yang dipasang di pagar rumah warga layaknya masa kampanye pemilu.
Namun ketika awak media mencermatinya isi surat penolakan warga dan isi banner tersebut, banyak hal bertentangan dengan kondisi dilapangan.
Misalnya, surat penolakan yang ditanda tangani oleh lebih dari 20 orang warga berisi keberatan atas, penumpukan sampah, tidak dikelolanya limbah dengan baik, kegaduhan dan bising atas operasional dapur, dan banyaknya warga luar perumahan yang hilir mudik.
Saat awak media melakukan kunjungan ke lokasi dapur, oleh Joko ditunjukkan bahwa pada kenyataannya dapur pendukung SPPG sama sekali belum beroperasi, jadi semua unsur bahan penolakan warga tidak terbukti.
Kepada awak media Joko mengatakan bahwa sudah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bekerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, baik limbah cair maupun limbah padat dan sampah dapur.
Joko juga menunjukkan surat persetujuan dari tetangga/warga terdekat dapur yaitu warga depan, belakang, kanan dan kiri dengan ditanda tangani oleh Ketua RT setempat. Ada hal janggal dirasakan oleh Joko ketika diketahui adanya lebih dari 20 orang warga melakukan penolakan, padahal jumlah rumah dari pintu masuk Cluster Jepang sampai dapur tidak lebih dari 15 unit rumah.
Dengan adanya ketidaksesuaian antara keberatan warga dengan bukti-bukti dilapangan Joko meminta bantuan para pihak yang berwenang termasuk kepada Kusmayanti S.Hut, M.Si selaku Kepala KPPG Kota Surabaya untuk memberikan sosialisasi kepada warga terkait program pemerintah dalam MBG.
Terkait dengan banyaknya spanduk/banner yang terpasang di pagar pagar rumah warga, awak media mendapatkan informasi bahwa diduga yang melakukan pemasangan adalah pihak keamanan lingkungan Cluster Jepang sendiri dan banyak warga yang pagarnya dipasang banner tidak berani menolaknya.
Diduga telah terjadi semacam persekongkolan antara segelintir provokator dengan pengurus lingkungan setempat di Cluster Jepang itu sendiri. Mari kita tunggu cerita selanjutnya. (Houget***)
Kemendukbangga/BKKBN Jatim Siap Masuki Era Baru: Media Gathering Tegaskan Transformasi Kelembagaan dan Akselerasi Stunting 2025
WARTAPENASATUJATIM | Mojokerto, 27–28 November 2025 — Babak baru kebijakan kependudukan nasional resmi dimulai di Jawa Timur. Media Gathering BKKBN Provinsi Jawa Timur yang berlangsung selama dua hari di Aryana Hotel & Resort, Mojokerto, menjadi ajang strategis bagi pemerintah dan insan pers untuk memperkuat pemahaman publik mengenai transformasi besar BKKBN menjadi kementerian serta percepatan agenda nasional penurunan stunting pada 2025.
Puluhan jurnalis dari berbagai platform media hadir, menciptakan diskusi yang dinamis dan penuh semangat. Acara dibuka oleh Sukamto, S.E., M.Si., Plh. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya peran media dalam menyebarluaskan kebijakan dan program strategis pemerintah.
“Media gathering ini bukan hanya sebuah pertemuan, tetapi ruang konsolidasi untuk memperkuat sinergi kita dalam menyampaikan program pembangunan keluarga kepada masyarakat,” ujarnya.
Transformasi Kelembagaan: BKKBN Beralih Menjadi Kementerian
Salah satu pokok bahasan utama yang menyita perhatian peserta adalah perubahan nomenklatur BKKBN menjadi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Transformasi ini dipandang sebagai langkah monumental yang memberi BKKBN ruang dan kewenangan lebih luas dalam merumuskan arah pembangunan keluarga di Indonesia.
Sejumlah dampak strategis dari perubahan tersebut di antaranya:
Penguatan otoritas dalam penyusunan kebijakan pembangunan keluarga
Peningkatan struktur kelembagaan hingga tingkat daerah
Perluasan cakupan program keluarga berencana dan pembangunan keluarga
Tanggung jawab lebih besar dalam menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045
Menurut Sukamto, tahun 2025 menjadi fase transisi yang sangat menentukan sebelum implementasi penuh pada tahun berikutnya.
“Perubahan ini membawa konsekuensi besar. Seluruh perangkat, kebijakan, dan tata kelola harus disesuaikan dengan mandat baru kementerian,” tegasnya.
2025: Tahun Percepatan Penurunan Stunting dan Penguatan Quick Win
Agenda percepatan penurunan stunting tetap menjadi prioritas nasional. Lewat edukasi masif yang diperkuat oleh dukungan media, BKKBN berharap masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan stunting dimulai dari keluarga dan harus dilakukan sejak dini.
Program-program unggulan dalam Quick Win 2025 mendapat penekanan khusus, di antaranya:
Genting (Gerakan Cegah Stunting), Kendiri, Tamasya, Sidaya, Aplikasi Super Air.Distribusi MBG (Makanan Bergizi) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta non-PAUD
Tahun 2025 menjadi tahap awal distribusi MBG di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur. Meskipun cakupan masih terbatas, pelatihan pendamping keluarga, SPPG, dan kader terus diperkuat sebagai persiapan menuju implementasi berskala besar.
“Jatim terus bergerak. Kualitas pendamping menjadi fokus kami untuk memastikan layanan berjalan optimal,” jelas Sukamto.
Pendamping Keluarga: Garda Terdepan Pembangunan Keluarga
Dalam pelaksanaan program Bangga Kencana, pendamping keluarga memiliki peran vital. Mereka bertugas memantau kondisi gizi ibu dan anak, memberikan edukasi, memastikan layanan program pemerintah tepat sasaran, hingga mengawal pertumbuhan anak agar terhindar dari risiko stunting.
Pemerataan jumlah serta peningkatan kapasitas pendamping keluarga menjadi salah satu strategi kunci yang terus didorong oleh BKKBN Jatim sepanjang masa transisi.
Seruan Nasional: Cegah Pernikahan Usia Dini
Pada sesi penutup, BKKBN menggarisbawahi kembali bahaya pernikahan usia dini yang berdampak pada kesehatan reproduksi dan peningkatan risiko stunting. Standar usia ideal menikah kembali ditegaskan: 21 tahun untuk perempuan, 25 tahun untuk laki-laki.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi nasional membangun keluarga sehat, stabil, dan berkualitas.
Media: Mitra Penting dalam Membangun Literasi Keluarga
BKKBN menegaskan bahwa keberhasilan transformasi kelembagaan maupun program percepatan pencegahan stunting tidak akan tercapai tanpa dukungan media. Peran media dianggap sebagai salah satu kekuatan utama dalam menyampaikan informasi secara masif dan akurat kepada masyarakat.
“Media adalah jembatan yang menghubungkan kebijakan pemerintah dengan kesadaran masyarakat. Kami berharap sinergi ini terus berlanjut dan semakin kuat,” tutur Sukamto.
Sinergi antara BKKBN, pemerintah daerah, dan media diyakini mampu mempercepat pemahaman publik mengenai arah baru pembangunan keluarga di Indonesia.
Menguatkan Kolaborasi Menuju Indonesia Emas 2045
Media Gathering BKKBN Jawa Timur tahun ini menandai penguatan kolaborasi antara pemerintah dan insan pers dalam menyongsong era baru pembangunan keluarga di Indonesia. Transformasi kelembagaan, penguatan program Quick Win 2025, hingga peningkatan peran pendamping keluarga menjadi fondasi penting menuju keluarga Indonesia yang lebih sehat dan berdaya.
Dengan sinergi yang solid, Indonesia bergerak semakin mantap menuju 2045 mewujudkan keluarga sehat, generasi unggul, dan bangsa yang berdaya saing tinggi.*** (Bgn)
Danrem Untoro Ajak Jaga Kepercayaan Rakyat dan Tingkatkan Pengabdian
WARTAPENASATUJATIM | Madiun – Peringatan HUT ke-62 Korem 081/DSJ tahun ini mengusung tema “Bersama Rakyat, Korem 081/DSJ Mengabdi untuk Negeri.” Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto menyampaikan bahwa tema tersebut merefleksikan jati diri TNI yang lahir dari rakyat dan mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat.
“Tema ini mencerminkan jati diri TNI, bahwa kekuatan kita bersumber dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan berjuang bersama rakyat,” kata Pamen TNI AD itu dalam sambutannya pada acara syukuran HUT ke-62 Korem 081/DSJ di Aula Jenderal Sudirman, Makorem, Jl. Pahlawan No. 50 Kota Madiun, Rabu (26/11/2025).
Baca Juga: Pasiter Kodim 0829/Bangkalan Tinjau Survei Lokasi KDKMP di Wilayah Koramil Geger
Dalam kesempatan tersebut, ia mengimbau agar momentum syukuran ini menjadi pengingat atas perjalanan panjang Korem 081/DSJ yang terbangun dari sejarah pengabdian, kerja keras, serta dukungan penuh masyarakat.

Danrem Untoro juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh prajurit dan PNS Korem 081/DSJ atas dedikasi, profesionalisme, dan loyalitas yang senantiasa ditunjukkan dalam setiap pelaksanaan tugas.
Ia pun mengajak untuk selalu bersyukur, karena hingga usia ke-62, Korem 081/DSJ masih memegang kepercayaan rakyat dan tetap berada di garis depan dalam menghadapi berbagai tantangan tugas.
Baca Juga: MAKI Jatim Menatap Terangnya Keadilan: “Dukungan Menguat Untuk Ira Puspadewi di Sidang Tipikor 2025”
Mulai dari penanganan bencana alam, pembinaan teritorial, peningkatan ketahanan pangan, hingga menjaga kondusivitas wilayah.

Menutup sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga kepercayaan tersebut dan terus meningkatkan pengabdian di tengah masyarakat.
“Mari kita pelihara kepercayaan ini dengan menjaga nama baik satuan, meningkatkan kemampuan, memperkuat disiplin, dan mengedepankan sikap humanis dalam berinteraksi dengan masyarakat. TNI harus terus hadir sebagai solusi untuk mengatasi berbagai kesulitan rakyat,” pungkasnya.(dyah)***
Ketua Bhayangkari Tinjau SPPG 1 Polres Toba dan Program Makan Bergizi di Sekolah
Ketua Bhayangkari Tinjau SPPG 1 Polres Toba dan Program Makan Bergizi di Sekolah
Toba, wartapenasatu.com – Ketua Bhayangkari Cabang Toba, Ny Mira V.J Parapaga didampingi Wakapolres Toba Kompol Kompol Marluddin S.Ag.,M.H beserta pengurus Bhayangkari Polres Toba meninjau langsung SPPG 1 Polres Toba yang berlokasi di Jalan Patuan Nagari No. 101 Balige Kebupaten Toba Provinsi Sumatera Utara, Senin (24/11/2025)

Turut hadir Wakapolres Toba Kompol Marluddin S.Ag.,M.H, Kasiwas AKP I. Manik, Kasikeu Ipda Pandy Siahaan, Ps. Kanit Tipikor Aipda Bobby Tambunan, Bhayangkari Cabang Toba, Ka SPPG dan Asisten Lapangan SPPG
Kegiatan peninjauan ini merupakan tindak lanjut dari launching perdana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya telah diresmikan oleh Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan Februanto SIK MH, di lokasi yang sama.
Program MBG merupakan program pemerintah dalam mendukung peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak dan ibu hamil, melalui penyediaan makanan bergizi secara gratis.
Dalam kunjungan tersebut, Ny. Mira V.J Parapaga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dapur, kualitas bahan makanan, serta memastikan setiap porsi makanan memiliki nilai gizi yang seimbang sesuai kebutuhan penerima manfaat.
“Program ini bukan hanya tentang memberikan makanan, tetapi juga memastikan setiap warga yang menerima benar-benar mendapatkan asupan bergizi yang aman dan berkualitas,” ujarnya. Ketua Bhayangkari bersama rombongan juga menyempatkan diri berdialog dengan para relawan dan tim produksi dapur.

Ketua Bhayangkari juga melaksanakan pemantauan langsung Program Makan Bergizi (MBG) di SMP Mutiara Balige dan SMKN 1 Balige
Dalam kunjungan tersebut, Ny.Mira V.J Parapaga berinteraksi langsung dengan para siswa. Suasana hangat dan penuh keceriaan terlihat ketika anak-anak menyambut antusias kedatangannya
Kegiatan peninjauan berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh semangat kebersamaan. Melalui program ini, Bhayangkari bersama Polres Toba terus menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, memperkuat sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan warga dalam mewujudkan Kabupaten Toba yang sehat dan sejahtera.
(Kaperwil MWPS Sumut; t.rait)Diduga Ada Provokasi, Warga Villa Bukit Mas Cluster Jepang Mendukung Program MBG Tapi Menolak Dapur MBG di Pemukiman
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah inisiatif sosial yang hadir untuk memperluas akses pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kini menjadi pusat perhatian di Perumahan Villa Bukit Mas, tepatnya di Cluster Jepang RT 01 RW 07, Kelurahan dan Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya.
Program yang sedianya dirancang sebagai jembatan kepedulian sosial ini justru harus berhadapan dengan dinamika yang tidak terduga, menyusul adanya keberatan dari sebagian warga yang mempertanyakan aktivitas dapur MBG yang akan berjalan di lingkungan mereka.
Ketua Inspirasi Nusantara Aman Makmur (Ina Makmur) Dukuh Pakis, Joko Dwitanto, menegaskan bahwa MBG hadir dari niat tulus untuk memberikan manfaat kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi elemen pendukung bagi pemerintah dalam memperkuat jaring pengaman sosial. Ia menyebutkan bahwa gerakan ini tidak pernah ditujukan untuk kepentingan pihak tertentu.
Joko memaparkan bahwa sejak awal pihaknya telah mengikuti seluruh proses, mulai dari pencarian lokasi, komunikasi dengan warga, hingga mediasi yang dilakukan secara terbuka, bertahap, dan tanpa ada satu pun rekayasa. Ia dan tim bahkan turun langsung ke rumah-rumah warga untuk meminta persetujuan, sebuah langkah yang ia sebut sebagai bukti kesungguhan mereka menjaga etika sosial.
“Program ini tidak hanya untuk kami atau kelompok tertentu. Ini bagian dari upaya membantu masyarakat. Kami pun tidak selamanya berada di sini, karena ada rencana relokasi ke lokasi lain setelah berjalan beberapa waktu,” ujar Joko dengan penuh keyakinan.
Sebelum dapur MBG menjalankan aktivitasnya, tim pengelola telah melewati survei teknis dari BGN. Pemeriksaan meliputi ketentuan tata ruang, kelayakan konstruksi bangunan, hingga sistem pembuangan limbah. Semua aspek tersebut, menurut Joko, telah dinyatakan memenuhi standar dan mendapatkan lampu hijau. Selain itu, alokasi anggaran juga telah resmi masuk ke rekening dapur sebagai legalitas formal.
Namun penolakan mulai mencuat dari sebagian warga. Menariknya, Joko melihat bahwa dinamika tersebut tidak mewakili keseluruhan suara masyarakat. Ia menduga adanya tekanan atau framing yang membuat sebagian warga memilih bungkam meski sebenarnya mendukung program ini.
“Ada warga yang sebenarnya mendukung, tapi mereka takut disalahkan. Ketika sudah ada provokasi, apa pun yang kami lakukan dianggap salah,” tegas Joko, menyoroti atmosfer sosial yang mulai tidak kondusif.
Isu kemudian berkembang ke peralihan fungsi rumah menjadi dapur MBG, serta persoalan izin PUD (Peraturan Umum Dalam). Joko menjelaskan bahwa pihak lingkungan tidak pernah menyampaikan larangan atau keberatan dari awal, dan informasi terkait aturan tersebut justru baru muncul ketika program hendak berjalan.
“Seandainya sejak awal ada pemberitahuan resmi, tentu kami patuhi. Kami siap mengikuti aturan. Bahkan desain bangunan sudah kami sesuaikan agar tetap menyerupai rumah tinggal dan tidak mengganggu estetika lingkungan,” tambahnya.
Di tengah polemik yang bergulir, Joko menegaskan bahwa dapur MBG tetap membuka tangan selebar-lebarnya untuk berdialog. Aktivitas dapur akan tetap berlangsung sementara sambil menunggu keputusan final, dengan tenggat relokasi maksimal tiga bulan sesuai rencana awal program.
Joko juga menekankan bahwa fondasi utama MBG adalah semangat berbagi, keberlanjutan aksi sosial, dan upaya nyata membantu masyarakat mulai dari program Jumat Berkah hingga edukasi untuk ibu dan anak.
“Jika bukan kami yang menjalankan program ini, siapa lagi? Tidak semua orang punya kesempatan dan kemauan untuk membantu,” pungkasnya.
Menutup pernyataannya, Joko mengajak seluruh pihak untuk menurunkan tensi ego dan mengedepankan kepentingan kemanusiaan. Ia berharap pemerintah dapat turut hadir sebagai penengah sehingga dinamika yang terjadi tidak berujung pada perpecahan, melainkan menjadi pintu menuju solusi terbaik bagi semua pihak. (Red)
Beredar Video Klarifikasi Karyawan MBG Alas Kembang, Pihak Pengelola Terkesan Bungkam Saat Dikonfirmasi
WARTAPENASATUJATIM – Bangkalan – Polemik dugaan penyimpangan honor karyawan di MBG (Makan Bergizi Gratis) Alas Kembang, Kecamatan Burneh, Bangkalan kembali memantik perhatian publik. Setelah kabar soal honor Rp 50 ribu per hari yang diduga tidak sesuai prosedur mencuat, salah satu karyawan bernama Murni akhirnya memberikan klarifikasi melalui rekaman video di media sosial.
Dalam keterangannya, Murni menyebut bahwa pernyataannya sebelumnya yang memicu dugaan penyimpangan honor, tidak benar. Ia mengatakan bahwa saat memberikan pernyataan pertama, dirinya sedang dalam kondisi lelah.
“Saya Murni, salah satu karyawan MBG Alas Kembang Burneh. Terkait rekaman saya sebelumnya itu tidak benar karena waktu itu saya sedang capek. Alhamdulillah, sekarang honor karyawan sudah dikeluarkan sesuai prosedur. Saya mohon maaf atas beredarnya berita tersebut,” ujarnya dalam video yang beredar, Sabtu (22/11).
Sebelumnya di hari yang sama, tim investigasi media telah mencoba mengonfirmasi langsung ke lapangan. Salah satu karyawan lain di dapur MBG memberikan penjelasan bahwa program tersebut baru berjalan sekitar tiga minggu.
Ia menyebut bahwa honor Rp 50 ribu per hari sudah disampaikan sejak awal oleh pihak pengelola dan disepakati sebagai bagian dari tahap awal pelaksanaan program.
“Mungkin masalahnya karyawan itu tidak paham dengan penjelasan pengelola. Memang dari awal diberi tahu kalau honornya lima puluh ribu per orang karena ini masih tahap awal dan masih belajar,” jelas salah satu karyawan.
Namun di tengah upaya konfirmasi, pengelola MBG yang disebut-sebut bernama SL justru belum memberikan pernyataan resmi. Upaya konfirmasi melalui telepon maupun pesan WhatsApp telah dilakukan tim investigasi. Pesan terlihat sudah dibaca, namun tidak mendapat balasan apa pun hingga berita ini diturunkan.
Kondisi ini menimbulkan dugaan bahwa pihak pengelola terkesan tertutup terkait mekanisme dan alur pemberian honor dalam program SPPG yang seharusnya dikelola secara transparan dan akuntabel.
Situasi semakin keruh ketika muncul seseorang yang mengaku wartawan, menuding pemberitaan awal tidak profesional karena menganggap narasumber bukan bagian dari pengelola. Tudingan ini justru membuat persoalan semakin melebar, mengingat pengelola utama, SL, tidak kunjung memberikan klarifikasi resmi.
Tim investigasi berharap pihak pengelola MBG Alas Kembang dapat lebih transparan, terutama karena program SPPG merupakan program pemerintah yang mengutamakan keterbukaan mekanisme serta akuntabilitas penggunaan anggaran.
Keterbukaan dinilai menjadi kunci agar polemik seperti ini tidak berkembang semakin menjadi opini publik.*** (Tim)
Gaji Pekerja Dapur MBG Milik Yayasan As-Saidiyah Desa Alas Kembang Diduga Tidak Mematuhi UMK Bangkalan
WARTAPENASATUJATIM | BANGKALAN – Pekerja dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Keluhkan Satuan Pengelola Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan As-Saidiyah, yang berlokasi di Dusun Kampek, Desa Alas Kembang, Kecamatan Burneh tidak mematuhi Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bangkalan.
Hal itu bertentangan dengan isi Undang-Undang Cipta Kerja dan peraturan turunannya (PP No. 36 Tahun 2021), pengusaha wajib membayar upah pekerjanya paling sedikit sebesar upah minimum yang berlaku di wilayah tersebut.
Dalam hal ini UMK di Kabupaten Bangkalan tahun 2025 yang sudah di sahkan oleh Gubernur Jawa Timur, diketahui berkisar Rp. 2.397.550 per bulan, namun fakta dilapangan gaji pekerja dapur MBG milik yayasan As-Saidiyah, pihak pengelola membayar para pekerja dibawah standar UMK Bangkalan.
Menurut pengakuan salah satu pekerja yang enggan disebut namanya, Sebut saja (N), Gaji pekerja dapur Program MBG Desa Alas Kembang yang dibayar oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang disalurkan melalui yayasan tersebut, Pasalnya para pekerja dibayar hanya sebesar Rp 50.000 perhari.
“Kami di gaji sebesar Rp 50.000,00 per hari, Namun setelah 1 minggu kami tidak di gaji dan gaji diberikan pada Minggu ke 2 sedangkan untuk 1 Minggu yang lalu, gaji kami tidak diberikan atau digantung. tidak sesuai dengan kesepakatan dari awal yang mau menggaji sebesar Rp 100.000,00 per hari,” ungkap (N) kepada awak media, Kamis, 20/11/25.
Menindak lanjut hal itu, Awak Media melalui pesan WhatsApp nya menghubungi Pengelola MBG dapur Alas Kembang untuk dimintai keterangan namun tidak ada respon dari pihak pengelola yang diketahui berinisial (S). Selain itu awak media juga menghubungi HRS yang merupakan salah satu bagian dari tim penyedia dapur MBG Alas kembang.
Kemudian HRS menemui awak media dan membantah adanya isu tersebut, “Orang yang bekerja disana itu tidak tau mekanismenya terkait gaji yang di berikan memang benar pada waktu perjanjian kontrak kerja kedua belah pihak ada kesepakatan dibayar Rp 100.000,00 perhari, sedangkan pada saat ini yang terjadi di lapangan, karyawan sementara di gaji sebesar Rp 50.000,00 karena target yang awalnya mencapai 3500 porsi sedangkan sekarang tinggal 1000 porsi,” kilah HRS pada Awak media, Kamis (20/11/2025).
Tidak berhenti disitu saja, awak media terus menghubungi (S) Namun tidak membuahkan hasil. Berselang Beberapa jam kemudian, ada salah satu mediator yang mengatasnamakan famili dari (S) mendatangi awak media untuk memberikan penjelasan dan membantah adanya keluh-kesah para pekerja nya.
“Pernyataan itu tidak benar adanya, sebab gaji yang diberikan itu sesuai dengan kesepakatan dari awal, untuk sementara waktu emang di gaji sebesar Rp 50.000,00 per hari selama 2 Minggu dan untuk minggu ke-3 gaji diberikan yaitu sebesar Rp 100.000,00 per hari,” jelas RSD pada saat menemui awak media.
Melihat kontroversi antara Pekerja MBG dengan pihak pengelola. Awak media dan Lembaga Swadaya Masyarakat Forum Aspirasi dan Advokasi Masyarakat (LSM FAAM) akan terus mengawal kasus tersebut baik secara persuasif maupun secara hukum yang berlaku.
Hingga berita ini ditayangkan pihak pengelola dapur MBG yayasan As-Saidiyah Desa Alas kembang, Kecamatan Burneh belum memberikan pernyataan secara resmi.*** Penulis ( Tim).
