SOSIAL

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Menyapa Lewat Santunan, Senyum Anak Yatim dan Haru di Bangsalsari Jember

    WARTAPENASATUJATIM | Jember, 19 Maret 2026 – Menjadi hari yang penuh makna, bukan hanya bagi mereka yang menerima, tetapi juga bagi mereka yang memberi dengan sepenuh hati.

    Bertempat di Sekretariat MAKI Bangsalsari, Kabupaten Jember, sebuah kegiatan sosial yang sarat nilai kemanusiaan berlangsung dengan khidmat, hangat, dan menyentuh relung hati terdalam.

    Di tempat yang sederhana itulah, MAKI Koordinator Wilayah Kecamatan Bangsalsari menghadirkan sebuah momen istimewa: santunan bagi 100 anak yatim piatu serta anak-anak dari keluarga kurang mampu, yang selama ini menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan.

    Mereka datang dengan langkah sederhana, namun membawa harapan yang besar harapan untuk diperhatikan, dihargai, dan dirangkul dalam kasih sayang.

    Kegiatan ini dipimpin oleh Mas Rawi, yang lebih dikenal luas sebagai Kyai Samber Langit.

    Sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat ini hadir dengan ketulusan yang begitu terasa.

    Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin, tidak ada sekat antara yang memberi dan yang menerima yang ada hanyalah rasa kemanusiaan yang mengalir tanpa batas.

    Sejak pagi hari, suasana sekretariat telah dipenuhi dengan energi yang berbeda.

    Wajah-wajah anak-anak yang awalnya tampak malu dan penuh keraguan perlahan berubah menjadi ceria.

    Senyum mulai merekah, tawa mulai terdengar, dan kehangatan mulai terasa. Dalam setiap bingkisan santunan yang diberikan, terselip doa, harapan, dan kasih sayang yang tak ternilai.

    Santunan yang disalurkan bukan sekadar bantuan materi. Lebih dari itu, ia adalah bentuk perhatian yang mampu menguatkan jiwa-jiwa kecil yang tengah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.

    Bagi mereka, hari itu adalah pengingat bahwa mereka tidak sendiri bahwa masih ada tangan-tangan yang siap menggenggam dan hati-hati yang peduli.

    Suasana haru semakin terasa ketika kegiatan berlanjut dengan pemberian bingkisan kepada 9 janda lanjut usia.

    Dalam usia yang senja, mereka tetap bertahan menjalani hidup dengan penuh kesabaran.

    Paket sembako dan kue kering yang diberikan menjadi simbol kepedulian yang sederhana namun penuh arti.

    Dengan mata berkaca-kaca dan senyum penuh syukur, mereka menerima bingkisan tersebut seolah menerima pelukan hangat dari masyarakat.

    Di tengah suasana yang penuh emosi itu, Kyai Samber Langit menyampaikan pesan yang begitu dalam.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata dari kepedulian sosial yang harus terus dijaga dan dirawat.

    Menurutnya, kemanusiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang kita lakukan untuk orang lain.

    Beliau juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa empati dan semangat berbagi.

    Karena sejatinya, kekuatan sebuah komunitas terletak pada kemampuannya untuk saling menguatkan, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan.

    Kegiatan berlangsung dengan lancar, penuh kekhidmatan, dan sarat makna. Tidak ada kemewahan yang ditampilkan, namun justru dalam kesederhanaan itulah terpancar keindahan yang sesungguhnya keindahan dari hati yang tulus, dari niat yang ikhlas, dan dari kebersamaan yang hangat.

    Hari itu, Bangsalsari tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan sosial, tetapi juga menjadi saksi hidup bahwa kemanusiaan masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Bahwa masih ada harapan di tengah keterbatasan, masih ada cahaya di tengah kegelapan.

    Dan dari kegiatan sederhana ini, tersampaikan sebuah pesan yang begitu kuat: bahwa satu kebaikan yang dilakukan dengan tulus, mampu menghadirkan sejuta arti bagi mereka yang membutuhkan.

    Bahwa kepedulian, sekecil apa pun, adalah cahaya yang tak akan pernah padam selama masih ada hati yang mau berbagi. (Bgn)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil Bukan Sekadar Ta’jil: Tentang Hati yang Belajar Peduli di Ujung Ramadan

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 18 Maret 2026 — Di penghujung Ramadan, waktu seakan tidak lagi sekadar bergerak menuju akhir, melainkan mengajak manusia kembali, kembali pada asal, pada makna, pada kesadaran terdalam tentang siapa diri ini sebenarnya.
    Ramadan adalah cermin.

    Ia tidak hanya memantulkan lapar dan dahaga, tetapi juga memperlihatkan wajah batin yang sering tersembunyi di balik kesibukan dunia. Dalam diamnya puasa, manusia belajar bahwa yang paling hakiki bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dirasakan dan dibagikan.

    Di titik inilah makrifat bersemi ketika ibadah tidak lagi sekadar ritual, tetapi menjelma menjadi kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap denyut kehidupan.

    Pada hari ke-28 Ramadan 1447 Hijriah, di tengah hiruk-pikuk Jalan Ahmad Yani Surabaya, sebuah peristiwa sederhana terjadi, namun mengandung makna yang dalam. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat.

    Namun sejatinya, yang dibagikan bukan sekadar makanan.

    Yang mengalir di sana adalah rasa. Yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain adalah kasih. Yang hadir di antara mereka adalah kesadaran bahwa manusia hidup tidak sendiri.

    Di antara deru kendaraan dan langkah-langkah yang tergesa, para relawan berdiri dengan senyum yang tidak dibuat-buat.

    Mereka memberi, tanpa merasa lebih. Mereka berbagi, tanpa menghitung kembali.
    Sebab dalam makrifat, memberi bukanlah kehilangan. Justru di situlah manusia menemukan dirinya.

    Setiap nasi, setiap kurma, setiap teguk minuman berbuka menjadi perantara sunyi antara hamba dan Tuhannya. Sebab bisa jadi, di balik satu paket sederhana itu, ada doa yang terangkat. Ada hati yang disentuh. Ada harapan yang kembali hidup.

    Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa rasa syukur harus diwujudkan dalam tindakan. Namun lebih dari itu, syukur sejati adalah ketika hati menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan, dan sebaik-baiknya titipan adalah yang memberi manfaat.

    Dalam perspektif makrifat, kepedulian bukan sekadar aksi sosial. Ia adalah jalan penyucian jiwa. Ia adalah cara Tuhan mengajarkan manusia untuk melihat-Nya bukan hanya di langit, tetapi juga di wajah-wajah yang membutuhkan.

    Senja pun turun perlahan. Langit Surabaya berpendar jingga, seolah mengisyaratkan bahwa setiap pertemuan akan berujung perpisahan. Ramadan pun demikian ia akan pergi, tetapi nilai yang ditinggalkannya tidak boleh ikut hilang.

    Di momen itu, senyum para penerima menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari perhatian yang tulus.

    Tanpa panggung. Tanpa sorotan. Hanya hati yang bekerja.

    Dan di situlah letak keindahannya. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan, tetapi tentang melepaskan melepaskan ego, keserakahan, dan jarak antar manusia. Ia mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut ia kepada sesama.

    Karena pada hakikatnya, perjalanan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh dengan doa, tetapi juga dengan cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

    Di ujung Ramadan ini, satu pelajaran kembali mengetuk kesadaran:
    bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah cahaya.

    Dan cahaya itu tidak pernah padam selama masih ada hati yang mau menghidupkannya. (Bgn)***

  • SOSIAL

    1.000 Ta’jil, Satu Pesan Besar: Kepedulian Tak Pernah Mati di Tangan MAKI Jatim

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 17 Maret 2026 — Ramadan tak pernah sekadar hadir sebagai penanda waktu dalam kalender Hijriah. Ia datang membawa pesan yang lebih dalam: mengajak manusia menengok kembali makna hidup, menata ulang prioritas, serta menghidupkan kepekaan terhadap sesama.

    Di bulan penuh berkah ini, ritme kehidupan yang biasanya bergerak cepat seolah diperlambat. Manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, merenungkan bahwa kehidupan bukan semata tentang kepemilikan, melainkan tentang kebermaknaan.

    Puasa mengajarkan kesederhanaan yang kerap terlupakan. Lapar dan dahaga yang ditahan sejak fajar hingga senja menjadi jembatan empati membuka ruang kesadaran akan realitas hidup mereka yang setiap hari bergelut dengan keterbatasan.

    Dari situlah empati tumbuh. Dari situlah kepedulian menemukan pijakannya.

    Nilai-nilai itulah yang dihidupkan oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur melalui aksi sosial berbagi ta’jil di penghujung Ramadan.

    Pada hari ke-27 Ramadan 1447 Hijriah, suasana sore di kawasan Jalan Panglima Sudirman Surabaya menjadi saksi sebuah gerakan sederhana namun sarat makna. Di tengah padatnya arus lalu lintas menjelang waktu berbuka, para relawan MAKI berdiri di tepi jalan, menyapa masyarakat dengan senyum tulus.

    Satu per satu paket ta’jil dibagikan kepada para pengendara mulai dari ojek daring, pekerja harian, hingga warga yang tengah bergegas pulang.

    Sebanyak 1.000 paket ta’jil disalurkan. Isinya mungkin sederhana, namun mengandung pesan kebersamaan yang kuat: nasi ayam goreng lengkap dengan sambal dan lalapan, kurma, minuman segar es melon dengan irisan blewah, serta aneka gorengan.

    Bagi sebagian orang, itu hanyalah hidangan pembuka puasa. Namun bagi yang merasakan, setiap paket adalah simbol kepedulian tanda bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, masih ada tangan-tangan yang terulur dengan keikhlasan.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan.

    “Syukur tidak cukup diucapkan. Ia harus diwujudkan dalam tindakan yang memberi manfaat. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.

    Bagi MAKI, aksi ini lebih dari sekadar kegiatan berbagi. Organisasi yang dikenal konsisten dalam gerakan antikorupsi tersebut meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum, tetapi juga pada kesadaran moral masyarakat.

    Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Dari sanalah fondasi masyarakat yang adil dan bermartabat akan tumbuh.

    Menjelang waktu berbuka, langit Surabaya perlahan berpendar jingga. Di bawah cahaya senja itu, para relawan masih setia membagikan ta’jil.

    Senyum-senyum kecil tampak di wajah para penerima. Tanpa panggung megah. Tanpa seremoni berlebihan. Namun hadir kebahagiaan yang tulus.
    Sebab sering kali, kebahagiaan paling jujur justru lahir dari perhatian sederhana yang diberikan dengan hati yang ikhlas.

    Aksi berbagi di persimpangan jalan itu menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup. Bahwa di balik dinamika kota yang keras, selalu ada ruang bagi kasih sayang dan kebersamaan.

    Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga tentang bagaimana ia memperbaiki hubungannya dengan sesama.

    Karena kemuliaan tidak diukur dari apa yang dimiliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan.

    Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak sore itu, satu pelajaran sederhana kembali menguat: bahwa kebaikan sekecil apa pun selalu memiliki kekuatan untuk menyalakan harapan. (Bgn)***

  • SOSIAL

    ASN Peduli Pemudik, Ratusan Takjil Dibagikan di Terminal Bratang Surabaya

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA l Humas – Hujan yang mengguyur Terminal Bratang Surabaya pada Minggu sore (16/3/2026) tidak menyurutkan langkah para Aparatur Sipil Negara (ASN) dari Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan Provinsi Jawa Timur untuk berbagi dengan para pemudik.

    Dengan penuh kehangatan, mereka menyapa satu per satu warga yang melintas sambil membagikan paket berbuka puasa dalam kegiatan bertajuk “ASN Peduli, Empati, dan Berbagi: Sapa Pemudik.”

    Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB di Posko Mudik Bangga Kencana Terminal Bratang ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan layanan dan informasi program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) kepada masyarakat yang tengah bersiap melakukan perjalanan mudik Lebaran.

    Di tengah rintik hujan, para pemudik mulai dari pekerja, keluarga muda hingga sopir angkutan terlihat berbondong-bondong mendatangi posko. Ratusan paket menu berbuka puasa yang disiapkan pun habis dalam waktu singkat.

    Plt. Kepala Perwakilan Kemendukbangga/ BKKBN Provinsi Jawa Timur, Sukamto, SE., M.Si hadir langsung memantau kegiatan tersebut. Ia menyampaikan bahwa aksi sosial ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan Sapa Pemudik yang digelar selama masa arus mudik tahun ini.

    “Hari ini kita memulai rangkaian kegiatan Sapa Pemudik dengan membagikan paket buka puasa kepada masyarakat. Meskipun hujan, antusiasme masyarakat luar biasa,” ujarnya.

    Menurut Sukamto, mudik tidak hanya sekadar perjalanan pulang ke kampung halaman, tetapi juga momentum memperkuat nilai kekeluargaan dan silaturahmi.

    Karena itu, melalui kegiatan ini pihaknya ingin memastikan para pemudik tetap mendapatkan akses informasi terkait pembangunan keluarga.

    “Dengan hadirnya ASN di titik-titik perjalanan pemudik, kami ingin berbagi semangat sekaligus memastikan masyarakat tetap mendapatkan informasi tentang penguatan keluarga melalui Program Bangga Kencana,” katanya.

    Program tersebut merupakan salah satu program strategis Kemendukbangga/ BKKBN yang bertujuan meningkatkan kualitas keluarga Indonesia agar lebih sehat, sejahtera, dan terencana.

    Dalam kegiatan ini, sasaran utama adalah sekitar 250 masyarakat yang melintas atau singgah di Posko Mudik Bangga Kencana, terutama pasangan usia subur, keluarga muda, serta masyarakat umum yang membutuhkan informasi terkait keluarga berencana dan kesehatan reproduksi.

    Tak hanya berbagi takjil, para ASN juga menyapa pemudik secara langsung dan memberikan informasi singkat mengenai pentingnya perencanaan keluarga sebagai bagian dari upaya menuju Generasi Emas Indonesia 2045.

    Kegiatan Sapa Pemudik ini merupakan tindak lanjut dari surat Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor B-2/AK.03/B/2026 tertanggal 10 Maret 2026 tentang pelaksanaan pelayanan Program Bangga Kencana selama masa arus mudik Lebaran.

    Selain di Terminal Bratang, layanan bagi pemudik juga akan dilanjutkan melalui Posko Sapa Pemudik Lebaran 2026 yang dijadwalkan beroperasi pada 17–18 Maret serta 25–26 Maret 2026 di ruas Tol Surabaya–Mojokerto KM 725 dan 726.

    Tak berhenti di situ, program kepedulian ini juga dilengkapi dengan agenda Mudik Gratis Bareng yang akan dilaksanakan pada 18 Maret 2026 bekerja sama dengan Koperasi Karya Kencana.

    Melalui berbagai kegiatan tersebut, BKKBN berharap pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal di tengah mobilitas tinggi menjelang Lebaran.

    Lebih dari sekadar berbagi makanan, kehadiran para ASN di tengah pemudik menjadi simbol kepedulian negara terhadap keluarga Indonesia.

    Di sela perjalanan panjang menuju kampung halaman, para pemudik tidak hanya mendapatkan takjil untuk berbuka, tetapi juga pesan penting tentang arti keluarga sebagai fondasi utama kemajuan bangsa. (Bgn)***

  • SOSIAL

    1.000 Ta’jil, Seribu Kepedulian: Aksi MAKI Jatim Menghidupkan Nurani di Senja Ramadan Menuju Kemenangan Idul Fitri 1447 H

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 16 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah sekadar datang sebagai pergantian bulan dalam kalender Hijriah. Ia hadir membawa pesan yang lebih dalam, mengetuk kesadaran manusia untuk kembali memahami hakikat kehidupan.

    Di bulan yang penuh berkah ini, manusia diajak berhenti sejenak dari kesibukan mengejar dunia. Ramadan mengingatkan bahwa hidup bukan semata tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang seberapa besar seseorang mampu memberi arti bagi orang lain.

    Puasa mengajarkan kesederhanaan yang sering terlupakan. Ketika lapar dan dahaga ditahan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, manusia belajar merasakan apa yang mungkin setiap hari dialami oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.

    Dari sanalah empati lahir. Dari sanalah kepedulian tumbuh.

    Nilai-nilai kemanusiaan itulah yang coba dihidupkan kembali oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur melalui aksi sosial berbagi ta’jil di penghujung Ramadan.
    Pada hari ke-26 Ramadan 1447 Hijriah, suasana sore di kawasan Jalan By Pass Juanda, Sidoarjo, tepatnya di depan Klinik Sheila Medika, menjadi saksi hadirnya sebuah gerakan kecil yang sarat makna.

    Di tengah deru kendaraan yang silih berganti melintas dan kepadatan lalu lintas menjelang waktu berbuka puasa, para relawan MAKI berdiri di tepi jalan dengan wajah penuh kehangatan.

    Dengan senyum tulus, mereka menyapa para pengendara yang melintas mulai dari pengemudi ojek online, pekerja harian, hingga masyarakat yang sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah.

    Satu per satu paket ta’jil diserahkan dengan penuh keikhlasan.

    Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat. Isi paket yang diberikan memang sederhana, namun sarat dengan pesan kebersamaan dan kepedulian:

    – 250 paket nasi kuning lengkap dengan tempe mihun dan irisan telur dadar
    – 250 paket kurma
    – 250 botol es melon sirup dengan irisan blewah segar
    – 250 paket gorengan berupa lumpia dan tahu bakso (Mbak Pipin).

    Bagi sebagian orang, paket tersebut mungkin hanya sekadar hidangan pembuka puasa.

    Namun bagi mereka yang memahami makna berbagi, setiap paket yang diberikan adalah simbol kepedulian. Ia menjadi tanda bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, masih ada hati yang memilih untuk peduli terhadap sesama.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan wujud rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

    Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata. Syukur sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.

    “Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.

    Bagi MAKI, kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial biasa. Organisasi yang selama ini dikenal aktif dalam gerakan melawan korupsi itu meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari penegakan hukum semata.

    Perubahan sejati juga tumbuh dari kesadaran moral masyarakat.

    Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Dari nilai-nilai itulah akan lahir masyarakat yang lebih adil, jujur, dan bermartabat.

    Menjelang waktu berbuka puasa, langit senja perlahan berubah warna. Semburat jingga menghiasi cakrawala di atas Kota Sidoarjo, menghadirkan suasana damai di tengah kesibukan kota.

    Para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas.

    Senyum kecil terlihat di wajah para penerima.

    Tidak ada panggung megah. Tidak ada perayaan besar.

    Namun ada kebahagiaan yang tulus.
    Karena sering kali, kebahagiaan yang paling jujur justru lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.

    Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu seakan menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat. Bahwa di balik kerasnya dinamika kota, selalu ada ruang bagi kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan.

    Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi antara manusia dan Tuhannya. Ramadan juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama.

    Sebab kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dimilikinya, melainkan dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

    Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Kota Sidoarjo sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:

    bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.

    Karena ketika manusia saling peduli, di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya yang paling sejati. (Bgn)***

  • Artikel,  Bisnis,  Ekonomi,  Hiburan,  Opini,  Pendidikan,  SOSIAL

    DPD PWOD Jakarta Utara Gelar Bukber di Bakmi Ipin Cemara

    Wartapena Satu, Jakarta, 16 Maret 2026
    Dewan Pimpinan Daerah Perkumpulan Wartawan Online Dwipantara (DPD PWOD) Jakarta Utara menggelar kegiatan buka puasa bersama (bukber) di Bakmi Ipin Cemara, Koja, Jakarta Utara, Senin (16/03/2026)

    Kegiatan ini menjadi momen untuk mempererat silaturahmi antar anggota PWOD Jakarta Utara sekaligus memperkuat kebersamaan di bulan suci Ramadan.

    Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat saat para anggota berkumpul, berbincang, serta menikmati hidangan berbuka bersama.

    Restoran ini sendiri dikenal sebagai salah satu tempat kuliner bakmi yang cukup populer di kawasan Koja dan telah melayani pelanggan sejak lama dengan berbagai menu bakmi, mie ayam, hingga pangsit.

    Ketua DPD PWOD Jakarta Utara, *Chaerul Syah Hasibuan* menyampaikan bahwa kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar ajang makan bersama, tetapi juga menjadi sarana mempererat solidaritas serta memperkuat sinergi antar wartawan yang tergabung dalam PWOD.

    “Melalui kegiatan bukber ini kita berharap kebersamaan dan kekompakan antar anggota semakin kuat, sehingga PWOD Jakarta Utara dapat terus berkontribusi dalam memberikan informasi yang positif bagi masyarakat,” ujarnya.

    Acara berlangsung dengan penuh keakraban hingga malam hari, diisi dengan diskusi ringan, saling berbagi pengalaman jurnalistik, serta memperkuat komitmen organisasi dalam menjalankan tugas jurnalistik secara profesional.

     

  • Artikel,  Bisnis,  Hiburan,  Nasional,  Opini,  Pendidikan,  Politik,  SOSIAL,  Wisata

    Penampakan Warga Mars Pertama di Bumi! Gala Premiere Pelangi di Mars Jadi Bukti Kekuatan Mimpi Anak Indonesia

    Wartapena Satu,Jakarta, 14 Maret 2026

    Suasana Epicentrum XXI Sabtu ini mendadak berubah menjadi lanskap ala planet merah yang futuristik, lengkap dengan robot-robit penghuni Mars. Film Pelangi di Mars secara resmi telah “mendarat” di Bumi untuk pertama kalinya melalui acara Gala Premiere yang digelar megah nan magis. Acara ini menandai puncak penantian panjang selama lima tahun bagi salah satu karya sinema paling ambisius di Indonesia.

    Dihadiri Filmmaker dan Pemain Film Pelangi di Mars.

    Momen spesial malam ini dihadiri oleh dua “kapten” utama di balik layar, produser Dendi Reynando dan sutradara Upie Guava. Turut hadir juga komposer musik Eunike Tanzil dan jajaran bintang utama: Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata.

    Tak ketinggalan, para pengisi suara (voice actor) karakter robot seperti Bimo Kusumo (Bimoky), Kristo Immanuel, Gilang Dirga, Vanya Rivani, serta Dimitri Arditya, hingga para body actor di balik gerakan ikonik robot; Almanzo Konoralma, Rika Kenja, dan Satria Towel.

    Perayaan Sebelum Mulainya Petualangan Pelangi di Mars.

    Membawa Atmosfer Mars ke Jantung Jakarta Melalui dekorasi ala Planet Mars yang megah, Mahakarya Pictures berhasil menyulap area Epicentrum XXI menjadi ruang imajinasi tanpa batas.

    Para undangan diajak merasakan langsung kekuatan mimpi anak Indonesia melalui visual dan atmosfer yang belum pernah ada sebelumnya dalam Gala Premiere film tanah air.

    Dalam sesi konferensi pers, produser Dendi Reynando tak kuasa menyembunyikan rasa
    bangganya atas pencapaian ini.

    “Setelah perjalanan panjang lebih dari lima tahun yang penuh tantangan, Mahakarya Pictures dengan sangat bangga akhirnya dapat mempersembahkan Pelangi di Mars untuk seluruh masyarakat Indonesia. Ini adalah kado untuk mimpi anak-anak kita,” ungkap Dendi.

    Sutradara Upie Guava juga menyampaikan rasa harunya melihat visi yang ia bangun bersama ratusan kru akhirnya terwujud nyata di layar lebar.

    “Saya merasa terharu sekaligus lega. Kerja keras ratusan kru yang memiliki satu visi untuk membangkitkan mimpi anak Indonesia akhirnya siap dikonsumsi masyarakat. Saya berharap film ini menjadi pelajaran bahwa kerja keras untuk menggapai mimpi, setinggi apa pun itu, tidak
    akan pernah sia-sia,” tutur Upie.

    Apresiasi dari Penonton Gala Premiere

    Decak Kagum dan Air Mata Haru Penonton Pasca pemutaran perdana, gelombang apresiasi mengalir deras dari para undangan dan tokoh perfilman yang hadir. Banyak yang tak menyangka sinema Indonesia telah mencapai level teknis dan penceritaan sekelas ini.

    “Jujur saya terharu dan sangat bangga. Ternyata film Indonesia sudah bisa di tahap ini, di skala ini. Titik bersejarah ini ditandai oleh sebuah film anak yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Mas Upie dan tim,” ungkap salah satu penonton yang hadir.

    Segera Tayang untuk Semua Keluarga

    Momen magis di Gala Premiere ini hanyalah awal. Persahabatan Pelangi dan teman-teman robotnya siap menyapa seluruh penonton di bioskop-bioskop Indonesia mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Lebaran.

    Jangan lewatkan petualangan lintas planet pertama dari Indonesia!

    Untuk informasi lebih lanjut, ikuti akun media sosial resmi kami di@pelangidimars dan@mahakaryapictures.

     

  • AGAMA,  Daerah,  Nasional,  Pendidikan,  Seni dan Budaya,  SOSIAL,  Uncategorized

    Memaknai Ramadhan Penuh Berkah

    Memaknai Radhan penuh berkah, Tradisi  Keluarga Alm Enin-Maya Berbuah Kehangatan – Bukber Terakhir Ramadhan 2026 bertempat di kediaman ktua Jhuno”

    Wartapenasatu. Com-Tangerang, Minggu (15/3/2026) – Bulan suci Ramadhan kembali menjadi momen untuk mempererat tali silaturahmi dalam keluarga besar Alm Enin bin Saman dan Alm Maya binti Sakim. Keluarga ini telah memiliki tradisi rutin berkumpul setiap malam Jumat untuk silaturahmi, membaca Yasin, serta menggelar acara buka bersama (bukber) setiap tahunnya di bulan Ramadhan.

    Almarhum Enin dan Almarhumah Maya diketahui memiliki tujuh anak, yaitu Kasni, Asinah, Marhan, Tholib, Hj. Suhaeni, Umah, dan Mamat sembara. Tradisi berkumpul yang penuh berkah ini telah berjalan selama 4 tahun dengan sistem bergilir lokasi di rumah-rumah anggota keluarga, menjadi bukti kekompakan yang terjaga erat antar generasi.

    Perhelatan bukber tahun ini dilakukan secara berurutan di tujuh lokasi berbeda. Dimulai dari rumah Bpk. Mamat, kemudian berlanjut ke rumah Ma Ikas (Bu Ayu), rumah Bpk. Dori (cucu), rumah Bpk. Tholib, rumah Bu Umah, rumah Bu Saiti (cucu), dan diakhiri pada tanggal 15 Maret 2026 di kediaman Ketua yang biasa di sapa Bg. Jhuno yaitu di Kampung Ciatuy, Desa Sodong, Kecamatan Tigaraksa, Tangerang.

    Dalam sambutannya, Bg. Jhuno mengucapkan terima kasih yang mendalam atas kekompakan dan kehadiran seluruh anggota keluarga yang hadir pada acara terakhir ini. Ia juga mengajak semua pihak untuk terus menjaga tradisi ini agar tetap berkelanjutan dan tidak pernah memutus tali silaturahmi antar sesama keluarga.

    Selain acara bukber, dalam kegiatan tersebut  juga menyertakan santunan keluarga. Jr. Mamat, salah satu anggota keluarga, memberikan pesan penting kepada semua hadirin agar selalu mendukung setiap acara bukber dan santunan yang diadakan, serta menjaga silaturahmi sebagai bagian dari warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

    Ma Ikas juga menyampaikan doa dalam kesempatan tersebut, memohon limpahan berkah dari Allah SWT bagi seluruh keluarga Alm Enin-Maya, semoga selalu diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan kekompakan yang tidak pernah pudar seiring berjalannya waktu.

    Pada akhir acara, Bg. Jhuno menyerahkan santunan berupa kurang lebih 70 paket sembako beserta kain sarung kepada anggota keluarga yang membutuhkan. Santunan ini menjadi wujud nyata kepedulian antar sesama keluarga dalam menghargai nilai-nilai kasih sayang yang diajarkan oleh leluhur mereka. (Wps_Shella)

  • AGAMA,  Daerah,  Nasional,  SOSIAL

    PEMUDA PANCASILA RANTING JAGAKARSA GELAR BUKA PUASA BERSAMA DAN SANTUNAN ANAK YATIM-PIATU DI AKHIR RAMADHAN 1447 H

    WARTA PENASATU.COM. JAKARTA SELATAN- 15 MARET 2026 – Mendekati penghujung bulan suci Ramadhan 1447 H, organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila Ranting Jagakarsa menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama sekaligus santunan anak yatim-piatu di Musholla Nurul Amin, Jalan Gandaria Ujung, RT. 009 RW. 002, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Acara yang dimulai pada pukul 16.00 WIB berjalan lancar hingga selesai dengan penuh kehangatan.

    Adi Supandi selaku Ketua Ranting Jagakarsa membuka acara dengan kata sambutan yang singkat namun penuh makna. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk wujud kepedulian Pemuda Pancasila terhadap sesama, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan dukungan pada bulan yang penuh berkah ini. “Kita berharap dengan kegiatan seperti ini, dapat memberikan semangat dan kebahagiaan bagi anak-anak penerima santunan. Semoga di tahun akan datang lebih banyak lagi yang dapat kita bantu,” ucap Adi Supandi.
    Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak yang menunjukkan dukungan terhadap kegiatan kemasyarakatan tersebut. Selain puluhan anak-anak yang menjadi penerima santunan, juga hadir tokoh ulama, sesepuh masyarakat setempat, perwakilan Polsek Jagakarsa yang diwakili oleh Agus Duwi selaku Bhabinkamtibmas Wilayah Jagakarsa, serta Koramil 08 Jagakarsa yang diwakili oleh Mustofa selaku Babinsa Wilayah Jagakarsa. Kedua perwakilan dari institusi keamanan tersebut juga memberikan kata sambutan singkat, mengapresiasi upaya Pemuda Pancasila dalam menjaga keharmonisan dan memberikan bantuan kepada masyarakat.
    Selain buka puasa bersama, acara juga diisi dengan sesi tausiyah yang disampaikan oleh Abdul Khoir Al Hasani. Materi tausiyah yang disampaikan fokus pada pentingnya berbagi rezeki dan menjaga hubungan baik antar sesama dalam ajaran Islam, yang sangat sesuai dengan semangat bulan Ramadhan.
    Pada bagian akhir acara, Adi Supandi mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh donatur yang telah memberikan kontribusi dan berbagi rezeki, sehingga kegiatan buka puasa bersama dan santunan ini dapat terlaksana dengan baik. Ia berharap kerjasama dan kepedulian dari berbagai pihak dapat terus berlanjut untuk mendukung kegiatan kemasyarakatan di masa mendatang.
    Para penerima santunan yang terdiri dari anak-anak yatim-piatu dari wilayah Kelurahan Jagakarsa dan sekitarnya tampak sangat senang menerima bantuan yang diberikan, baik berupa paket sembako maupun uang tunai yang dapat membantu kebutuhan mereka selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

     

     

  • SOSIAL

    Lautan Kebaikan di Hari ke-25 Ramadan: MAKI Jatim Tebar 1.000 Ta’jil, Menjemput Berkah Menuju Idul Fitri 1447 H

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 15 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah hadir sekadar sebagai pergantian waktu dalam kalender Hijriah. Ia datang membawa pesan yang lebih dalam: mengetuk nurani manusia agar kembali mengingat hakikat kehidupan.

    Di bulan yang penuh berkah ini, manusia diajak berhenti sejenak dari kesibukan mengejar dunia. Ramadan mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang seberapa besar seseorang mampu memberi arti bagi orang lain.

    Puasa mengajarkan kesederhanaan yang kerap terlupakan. Ketika lapar dan dahaga ditahan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, manusia belajar memahami rasa yang mungkin setiap hari dirasakan oleh mereka yang hidup dalam keterbatasan.

    Dari sanalah empati lahir. Dari sanalah hati menjadi lebih peka terhadap sesama.

    Pada hari ke-25 Ramadan 1447 H, suasana sore di kawasan Jalan Raya Juanda, Sidoarjo, tepatnya di depan Kantor Dinas Kehutanan Jawa Timur, tampak berbeda dari biasanya. Deru kendaraan yang melintas silih berganti di tengah kepadatan lalu lintas menjadi saksi hadirnya sebuah aksi kemanusiaan yang sederhana namun penuh makna.

    Di tengah hiruk pikuk kota menjelang waktu berbuka puasa, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.

    Para relawan berdiri di tepi jalan dengan wajah penuh kehangatan. Dengan senyum tulus, mereka menyapa setiap pengendara yang melintas mulai dari pengemudi ojek online, pekerja harian, hingga warga yang pulang dari aktivitasnya.

    Satu per satu paket ta’jil diberikan dengan penuh keikhlasan.

    Isi paket yang dibagikan memang sederhana, namun sarat makna kebersamaan:

    – 250 paket bihun goreng bakso dengan irisan telur dadar
    – 250 paket kurma
    – 250 botol es melon sirup dengan irisan blewah segar
    – 250 paket gorengan berisi donat coklat, dadar jagung, ote-ote, dan tahu isi.

    Bagi sebagian orang, paket tersebut mungkin hanya sekadar hidangan pembuka puasa. Namun bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang diberikan adalah simbol kepedulian.

    Ia menjadi tanda bahwa di tengah kerasnya kehidupan kota, masih ada hati yang memilih untuk berbagi.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

    Menurutnya, rasa syukur tidak cukup diucapkan dengan kata-kata semata. Syukur sejati harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang membawa manfaat bagi orang lain.

    “Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.

    Bagi MAKI, kegiatan ini tidak sekadar aksi sosial biasa. Organisasi yang dikenal aktif dalam gerakan melawan korupsi itu meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari penegakan hukum.

    Perubahan sejati juga lahir dari kesadaran moral masyarakat.

    Nilai kejujuran, integritas, dan kepedulian harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Dari nilai-nilai tersebut akan lahir masyarakat yang lebih adil, jujur, dan bermartabat.

    Menjelang waktu berbuka puasa, langit senja perlahan berubah warna. Semburat jingga menghiasi cakrawala, memberikan suasana damai di tengah kesibukan kota.

    Para relawan masih terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas. Senyum kecil terlihat di wajah para penerima. Tidak ada panggung megah. Tidak ada perayaan besar.

    Namun ada kebahagiaan yang tulus.
    Karena sering kali, kebahagiaan yang paling jujur justru lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.

    Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu seolah menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat. Bahwa di balik kerasnya dinamika kota, selalu ada ruang bagi kasih sayang, kepedulian, dan kebersamaan.

    Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi antara manusia dan Tuhannya.
    Ramadan juga tentang bagaimana manusia memperbaiki hubungannya dengan sesama.

    Sebab kemuliaan seseorang tidak diukur dari apa yang dimilikinya, melainkan dari seberapa besar ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.

    Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Kota Sidoarjo sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata: bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.

    Sebab ketika manusia saling peduli, di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya yang paling sejati. (Bgn)***

Wartapenasatu.com @2025