• SOSIAL

    MAKI Jatim Tak Kan Lelah Mengejar Matahari: Dari Syariat Menuju Hakikat, Dari Berbagi Menuju Makrifat Lewat Nandur Becik

    WARTAPENASATUJATIM | Gresik, 27 Februari 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah perjalanan ruhani. Dari syariat menuju hakikat. Dari hakikat menuju makrifat. Dari sekadar memberi menuju benar-benar mengenal siapa Pemberi segala rezeki.

    Di Jalan Raya Menganti, depan Perum Menganti Permai, Kelurahan Hulakan, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, langkah-langkah sederhana para relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menjelma menjadi pelajaran batin yang dalam.

    Sebanyak 1.250 paket ta’jil dibagikan kepada para pengguna jalan. Namun dalam pandangan hakikat, yang bergerak bukan hanya tangan manusia. Yang bekerja adalah kehendak-Nya. Yang mengalir bukan sekadar makanan, tetapi rahmat Allah yang dititipkan melalui hamba kepada hamba.

    Secara syariat, kegiatan itu adalah amal sosial. Paket demi paket berpindah tangan: mie goreng, kurma, es sirup melon berisi blewah, jajanan jadul, dan aneka gorengan yang akrab di lidah rakyat.

    Semua tampak biasa. Semua tampak sederhana.

    Namun syariat hanyalah pintu. Ia adalah bentuk lahiriah dari sesuatu yang jauh lebih dalam.

    Dalam hakikat, berbagi bukan tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Karena pada dasarnya manusia tidak memiliki apa-apa. Semua hanyalah titipan.

    Rezeki yang di tangan kita bukan milik kita. Ia hanya singgah. Ketika ia dibagikan, sesungguhnya ia sedang kembali kepada Pemiliknya.

    Di titik ini, hati mulai menyadari:
    Tidak ada yang benar-benar kaya.
    Tidak ada yang benar-benar miskin.
    Yang ada hanyalah hamba yang sedang diuji dengan kelapangan atau kekurangan.

    Ramadhan mengosongkan perut agar manusia memahami satu hal mendasar: ketergantungan total kepada Allah SWT. Saat lapar terasa, ego melemah. Saat dahaga datang, kesombongan luruh. Yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa kita ini fakir di hadapan-Nya.

    Makrifat adalah ketika hati tidak lagi melihat amal sebagai kebanggaan, tetapi sebagai kesempatan untuk mendekat.

    Ketika paket ta’jil diberikan, hati yang terjaga tidak berkata, “Aku telah memberi.”
    Ia berkata, “Allah telah menggerakkan.”

    Ketika senyum penerima terlihat, hati yang sadar tidak merasa berjasa.
    Ia justru merasa ditolong untuk membersihkan diri dari cinta dunia.

    Di sanalah makrifat tumbuh:
    Saat amal tidak lagi menjadi panggung diri, tetapi menjadi jalan sunyi menuju ridha Ilahi.

    Sebagai gerakan yang konsisten menyuarakan perlawanan terhadap korupsi, Masyarakat Anti Korupsi Indonesia memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai bulan ritual, tetapi sebagai madrasah kesadaran.

    Korupsi lahir dari hati yang merasa memiliki.
    Kejujuran lahir dari hati yang merasa diawasi.

    Dalam maqam makrifat, manusia hidup dalam muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, Maha Mengetahui, bahkan atas bisikan terdalam.

    Jika kesadaran ini bersemayam, maka integritas bukan lagi kewajiban yang dipaksakan hukum. Ia menjadi kebutuhan ruhani. Ia menjadi napas kehidupan.

    Menjelang Maghrib, langit memerah keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat tanpa suara.

    Barangkali yang terlihat hanyalah pembagian makanan di tepi jalan.
    Namun yang terjadi sesungguhnya adalah latihan jiwa.

    Latihan untuk tidak melekat pada dunia.
    Latihan untuk mencintai tanpa pamrih.
    Latihan untuk menyadari bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah perjalanan pulang.

    Karena pada akhirnya, hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, tetapi pada seberapa bersih hati saat kembali kepada-Nya.

    Dan makrifat adalah saat kita mengerti:
    Tidak ada amal yang sampai kepada Allah, kecuali yang lahir dari hati yang mengenal-Nya.

    Di tepi Jalan Menganti itu, 1.250 paket ta’jil mungkin telah habis terbagi.
    Namun cahaya yang ditanam cahaya kesadaran, cahaya keikhlasan, cahaya tauhid semoga terus menyala, bahkan setelah Ramadhan berlalu. (Bgn)***

  • Daerah

    Progres Pengadaan Tanah Bendungan Bagong Terus Berlanjut, 95,59 Persen Sudah Terealisasi

    WARTAPENASATUJATIM | TRENGGALEK –Pada tanggal 24 Februari 2026, pemerintah kembali melakukan pembayaran ganti kerugian untuk sejumlah 34 bidang tanah dengan total luas 41.150 M².

    Pembayaran ini merupakan bagian dari upaya percepatan pengadaan tanah untuk proyek Bendungan Bagong yang sangat dinantikan.

    Dengan adanya realisasi pembayaran tersebut, progres pengadaan tanah Bendungan Bagong saat ini telah mencapai 95,59%.

    Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat yang terdampak dan juga bagi tim pelaksana proyek.

    Namun, masih ada sisa 3,41% tanah yang belum bebas, yang berarti masih ada beberapa proses yang harus diselesaikan sebelum proyek ini dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

    Proyek Bendungan Bagong sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional yang diharapkan dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama dalam hal penyediaan air dan pengendalian banjir.

    Dengan progres yang sudah sangat baik, diharapkan proyek ini dapat segera selesai dan memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. (Yuyun)***

  • Militer

    Danrem Danny Alkadrie Hadiri Buka Puasa Bersama di Kodim 0830/Surabaya

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Dalam rangka mempererat tali silaturahmi di bulan suci Ramadan, Komando Distrik Militer (Kodim) 0830/Surabaya menggelar kegiatan buka puasa bersama yang berlangsung di Markas Kodim (Makodim) 0830/Surabaya, Kamis (26 Februari).

    Kegiatan tersebut dihadiri oleh Komandan Korem (Danrem) 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Danny Alkadrie, bersama Ibu Ketua Koorcab Rem 084/BJ PD V/Brawijaya Ny. Nining Danny Alkadrie Kehadiran Danrem beserta rombongan disambut hangat oleh jajaran Kodim 0830/Surabaya.

    Danrem menyampaikan bahwa momentum buka puasa bersama ini bukan hanya sebagai ajang kebersamaan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat soliditas dan sinergitas antar satuan serta keluarga besar TNI di wilayah Surabaya.

    “Melalui kegiatan ini, kita berharap terjalin komunikasi yang harmonis serta semakin memperkokoh kebersamaan dalam mendukung tugas pokok TNI AD, khususnya di wilayah teritorial,” ujar Danrem.

    Acara diawali dengan pemberian santunan kepada anak yatim piatu, tausiyah singkat menjelang waktu berbuka, sholat magrib berjamaah kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan buka puasa bersama seluruh prajurit serta Persit Kartika Chandra Kirana. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan tersebut.

    Kegiatan buka puasa bersama ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan antara pimpinan danh anggota, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. (Bgn)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Nandur Becik Bagi 1000 Tajil di By Pass Juanda Sidoarjo

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 26 Februari 2026 – Ramadhan adalah musim di mana langit terasa lebih dekat dan doa-doa melayang lebih ringan. Ia hadir bukan sekadar mengganti nama bulan, melainkan menggugah kesadaran terdalam manusia: bahwa hidup adalah amanah, dan setiap detiknya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

    Pada hari kedelapan yang penuh keberkahan, nilai itu menjelma menjadi gerak nyata. Di Jalan Raya By Pass Juanda, di depan Klinik Sheila Medika, relawan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri menyapa para pengguna jalan dengan senyum dan doa. Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang melintas, menjadi oase kecil di tengah perjalanan panjang menjelang waktu berbuka.

    Sore itu, yang terlihat bukan sekadar aktivitas sosial. Yang terasa adalah denyut keikhlasan. Satu per satu bingkisan berpindah tangan: lontong balap petis lengkap dengan tahu dan lento, kurma manis pengingat sunnah, es sirup melon dengan blewah yang menyegarkan, serta aneka gorengan sederhana yang akrab di lidah rakyat. Namun sesungguhnya, yang berpindah bukan hanya makanan melainkan doa dan harapan.

    Ramadhan mengajarkan bahwa tangan yang memberi dan tangan yang menerima sama-sama dimuliakan. Yang satu belajar tentang syukur dalam kecukupan, yang lain belajar tentang syukur dalam penerimaan. Di antara keduanya, Allah menghadirkan keberkahan yang tak kasat mata.

    Puasa adalah jalan sunyi untuk membersihkan jiwa. Ia melatih kesabaran, mengikis kesombongan, dan menumbuhkan empati. Saat perut terasa kosong, hati justru diisi dengan kesadaran bahwa segala nikmat bersumber dari-Nya. Saat tenggorokan mengering, jiwa diingatkan bahwa tanpa rahmat-Nya, manusia tak memiliki apa-apa.

    Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ini merupakan wujud rasa syukur atas karunia Allah SWT. Baginya, berbagi adalah bentuk ibadah sosial ikhtiar kecil untuk menghadirkan manfaat di tengah masyarakat.

    “Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya bersih dalam ibadah pribadi, tetapi juga jujur dan peduli dalam kehidupan sosial,” ujarnya.

    Sebagai organisasi yang konsisten menyerukan integritas dan perlawanan terhadap korupsi, MAKI memandang bulan suci sebagai momentum muhasabah bersama. Korupsi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga pelanggaran nurani. Ia mencederai amanah dan merusak kepercayaan dua hal yang dalam Islam dijunjung sebagai nilai suci.

    Ramadhan adalah madrasah takwa. Di dalamnya, manusia diajak menghidupkan muraqabah kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi. Ketika kesadaran itu bersemayam dalam dada, kejujuran tidak lagi menjadi beban, melainkan kebutuhan. Integritas tidak lagi dipaksakan oleh aturan, tetapi tumbuh dari iman.

    Menjelang Maghrib, langit memancarkan cahaya keemasan. Kendaraan berhenti sejenak. Beberapa pengendara menengadahkan tangan, memanjatkan doa sebelum berbuka. Dalam hening yang singkat itu, seolah-olah waktu ikut bersaksi: bahwa kebaikan sekecil apa pun tidak pernah sia-sia.

    Barangkali yang dibagikan hanyalah makanan sederhana. Namun yang ditebar adalah kasih sayang. Yang dihidupkan adalah persaudaraan. Dan yang dicari hanyalah ridha Allah SWT.

    Ramadhan mengingatkan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada jabatan atau harta, tetapi pada ketakwaan. Bukan pada seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan pada seberapa tulus yang disalurkan.

    Di hari kedelapan itu, seribu paket ta’jil menjadi simbol bahwa ketika iman menyala, kepedulian pun menyebar. Bahwa di tengah dunia yang sering gaduh oleh kepentingan, masih ada hati-hati yang memilih untuk memberi.

    Dan pada akhirnya, setiap langkah kecil menuju kebaikan adalah jejak menuju ampunan-Nya. (Bgn)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim di Hari Ketujuh Bagi 1000 Paket Tajil di Kota Malang: Ketika Iman, Integritas, dan Kemanusiaan Menyatu

    WARTAPENASATUJATIM | Malang, 25 Februari 2026 – Ramadhan turun ke bumi bukan hanya sebagai pergantian bulan, tetapi sebagai peristiwa langit yang mengetuk pintu hati manusia. Ia hadir membawa cahaya yang menembus kesibukan, meneduhkan kegaduhan, dan menghidupkan kembali nurani yang mungkin lama terdiam. Di Surabaya, bulan suci menjelma menjadi denyut spiritual yang terasa di setiap sudut kota.

    Fajar menyingsing dengan lantunan ayat-ayat suci. Siang berjalan dalam kesabaran. Dan senja menutup hari dengan doa-doa yang mengambang di cakrawala. Ramadhan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan pulang menuju fitrah menuju hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan kesadaran bahwa manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah SWT.

    Pada hari ketujuh yang sarat keberkahan, Jalan Kepanjen di depan Kantor Bupati Malang menjadi saksi bagaimana iman diterjemahkan dalam tindakan nyata. Relawan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur berdiri dengan wajah-wajah tulus, membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.

    Di antara deru kendaraan dan langkah yang bergegas, tangan-tangan terulur dengan penuh kelembutan. Sebanyak 250 paket lontong soto ayam lengkap dengan kerupuk udang dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon berisi blewah, serta 250 paket jajanan tradisional dibagikan dengan tertib. Sederhana dalam bentuk, namun agung dalam makna.

    Karena sejatinya, Ramadhan mengajarkan bahwa nilai amal tidak terletak pada kemegahan, tetapi pada keikhlasan. Setiap bingkisan yang berpindah tangan adalah saksi niat. Setiap senyum yang terukir adalah cermin syukur. Dan setiap doa yang terucap lirih adalah jembatan antara bumi dan langit.

    Puasa adalah madrasah ketakwaan. Ia melatih manusia menundukkan ego, meredam kesombongan, dan menyadari betapa rapuhnya diri tanpa pertolongan Allah. Dalam rasa lapar, tumbuh empati terhadap mereka yang kekurangan. Dalam rasa haus, lahir kesadaran bahwa setiap teguk air adalah rahmat yang tak ternilai.

    Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ungkapan syukur atas nikmat yang Allah SWT anugerahkan. Syukur, dalam ajaran Islam, bukan hanya ucapan yang meluncur dari lisan, tetapi amal yang hidup dalam tindakan nyata.

    “Berbagi adalah cara kita menjaga hati tetap hidup. Kita hanya perantara dari rahmat Allah,” ungkapnya.

    Sebagai lembaga yang konsisten menyuarakan integritas dan keadilan, MAKI memaknai Ramadhan sebagai momentum penyucian nurani. Dalam pandangan iman, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap amanah Ilahi. Ia lahir dari hati yang lalai, dari jiwa yang lupa bahwa setiap perbuatan diawasi oleh Yang Maha Melihat.

    Ramadhan hadir untuk menghidupkan kembali kesadaran itu. Ia menanamkan muraqabah—rasa diawasi oleh Allah dalam setiap langkah. Ketika keyakinan itu bersemayam kuat, integritas tumbuh tanpa paksaan. Ia mengalir dari takwa. Ia bersemi dari cinta dan takut kepada Allah SWT.

    Menjelang adzan Maghrib, langit Surabaya berpendar jingga keemasan. Waktu seakan melambat. Doa-doa terangkat bersama hembusan angin senja. Di tengah riuh kota, ada keheningan yang suci hening yang menyatukan manusia dengan Tuhannya.

    Mungkin yang dibagikan hanyalah makanan untuk berbuka. Namun yang sesungguhnya disebarkan adalah kasih sayang. Yang ditegakkan adalah nilai kemanusiaan. Dan yang dituju adalah ridha Allah SWT.

    Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bukan tentang menumpuk harta, melainkan menguatkan makna. Bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara, dan setiap amal kebaikan adalah bekal menuju keabadian.

    Di bawah langit senja yang bersaksi, terpatri pesan yang tak lekang oleh waktu:
    Bahwa iman tanpa tindakan adalah hampa.
    Bahwa keikhlasan adalah mahkota kemuliaan.

    Dan bahwa setiap kebaikan, sekecil apa pun, akan kembali sebagai cahaya di hari ketika tak ada lagi yang tersisa selain amal dan rahmat-Nya. (Bgn)***

  • Kepolisian,  Kriminal

    Polri Ungkap Misteri Jasad Perempuan di Jabung

    WARTAPENASATUJATIM | MALANG – Polres Malang berhasil mengungkap misteri jasad perempuan tanpa busana dengan tangan terikat dan mulut tersumpal di Sungai Kedung Winong, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

    Pengungkapan kasus tersebut juga diback up oleh Bareskrim Polri dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Timur (Jatim).

    Identitas korban terungkap setelah Polisi menggunakan metode Scientific Crime Investigation (SCI) melalui tes DNA dengan pembanding keluarga yang melaporkan kerabatnya hilang di Polsek Kedungkandang, Kota Malang.

    Hingga akhirnya diketahui bahwa korban adalah HMZ (17), warga Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk yang dilaporkan hilang sejak 11 Februari 2026.

    Hal itu disampaikan oleh Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi saat konferensi pers dan dihadiri Kasatresmob Bareskrim Polri, Kombes Pol Teuku Arsya Kadafi serta Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur di Mapolres Malang, Selasa (24/2/26).

    “Berdasarkan identifikasi secara scientific, korban adalah HMZ, perempuan 17 tahun warga Kabupaten Nganjuk yang diduga kuat meninggal karena dibunuh,” ujar AKBP Taat.

    Kapolres Malang menyatakan, setelah dilakukan penyelidikan intensif, Polisi mengarah kepada satu orang tersangka berinisial YDF (22), warga Kecamatan Jabung.

    “Satu tersangka kami amankan pada hari Minggu (21/2) malam di rumah kos wilayah Kota Malang,” tambah AKBP Taat.

    Penangkapan dilakukan tim gabungan Satreskrim Polres Malang, Satresmob Bareskrim Polri, dan Subdit Jatanras Polda Jatim.

    Sementara itu Kasatreskrim Polres Malang AKP Hafiz Prasetia Akbar mengatakan hubungan pelaku dan korban bermula dari perkenalan sekitar tiga bulan lalu di Nganjuk dan berlanjut melalui media sosial.

    Pada 11 Februari 2026, keduanya bertemu dan melakukan perjalanan ke Malang.

    “Pengakuan tersangka motifnya dipicu cekcok terkait biaya perbaikan kendaraan korban yang sempat rusak. Tersangka emosi dan mencekik korban hingga tidak sadarkan diri,”ungkap AKP Hafiz.

    Dikesempatan yang sama, Kasatresmob Bareskrim Polri, Kombes Pol Teuku Arsya Kadafi mengatakan dukungan Bareskrim Polri dilakukan untuk mempercepat penyelidikan dan pengungkapan kasus ini.

    Menurut Kombes Pol Arsya, perkara yang menjadi atensi Kepolisian tersebut membutuhkan penanganan cepat, sehingga dapat segera diungkap secara terang benderang.

    “Bapak Kabareskrim sangat konsen terhadap perkara berkaitan dengan nyawa, harta benda, kekerasan, maupun penggunaan senjata api,” ujar Kombes Arsya. (Bgn)***

  • Kepolisian,  Kriminal

    Polres Mojokerto Amankan Residivis Curanmor yang Sempat DPO

    WARTAPENASATUJATIM | MOJOKERTO – Satreskrim Polres Mojokerto Polda Jatim akhirnya berhasil menangkap seorang residivis berinisial S (38) spesialis pencurian kendaraan bermotor (curanmor) jenis pikap.

    Tersangka yang merupakan warga Tutur Kabupaten Pasuruan itu ditangkap Polisi setelah sempat buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

    Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Aldhino Prima Wirdhan mengatakan, tersangka S(38) diketahui terlibat dalam pencurian satu unit Mitsubishi L300 warna hitam milik warga Dusun Balonglombok, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto.

    Peristiwa itu terjadi pada, Senin (3/11/2025) sekitar pukul 04.00 WIB saat mobil di parkir di halaman rumah.

    Pengungkapan kasus bermula dari penangkapan pelaku lain berinisial AM oleh Polres Pasuruan Polda Jatim.

    “Dari hasil pemeriksaan, kami memperoleh informasi yang mengarah pada keterlibatan tersangka S,” kata AKP Aldhino, Rabu (25/2/26).

    Tim Resmob Polres Mojokerto Polda Jatim kemudian bergerak dan berhasil menangkap pelaku pada, Rabu (18/2/2026) sekitar pukul 03.20 WIB di sebuah rumah di wilayah Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.

    AKP Aldhino menyebut aksi pencurian dilakukan secara berkelompok.

    “Dua pelaku lain, yakni B dan SBR hingga kini masih buron dan telah masuk DPO,” ujar AKP Aldhino.

    Atas perbuatannya, tersangka S dijerat Pasal 477 Ayat (1) huruf e dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP tentang pencurian dengan pemberatan yang dilakukan secara bersama-sama pada malam hari.

    “Ancaman hukuman maksimal Tujuh tahun penjara,” pungkas AKP Aldhino. (Bgn)***

  • Kepolisian,  Kriminal

    Ada Apa LP Lebih Satu Bulan Terapkan “Pasal 466-KHUP” Korban Luka Berat, APH Polsek Kenjeran “MASUK ANGIN”

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Buntut laporan penganiayaan Ana Fitria, warga jln Gedung Cowek Tegal 1, Surabaya, di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Polsek Kenjeran Resor Polres Pelabuhan Tanjung Perak, Jln Nambangan 7, yang sudah satu bulan lambat tidak ada eksen proses penangkapan terhadap pelaku, kini menyeruak terdengar di telinga awak media.

    Berdasarkan laporan kepolisian (LP) nomor : LP/B/41/I/2026/SPKT/Polsek Kenjeran/Polres Pelabuhan Tanjung Perak-Polda Jawa Timur, Pada Hari Jumat 06 Januari 2026, sekitar pukul 13.00 Wib (siang hari), Lisyeroh selaku orang tua korban (Ana Fitria) warga jln Gedung Cowek Tegal 1, melaporkan atas peristiwa penganiayaan terhadap anaknya ke Polsek Kenjeran (red), Wilayah Hukum Polres Tanjung Perak (KP3), awak media mencoba mengkonfirmasi keluarga Korban yakni Lisyeroh selaku orang tuah korban mengatakan, Penganiayaan tersebut terjadi di jln Nambangan No : 47, tepatnya CV. Puncak Pangan Abadi dimana dia (Ana Fitria) bekerja,” ucapnya.

    Masih lanjut kata Lisyeroh, Kronologis kejadian pada hari Jumat (06/01/2026) sekitar jam 10.00 Wib, kejadian yang dilakukan pelaku (Mila Rohani) dengan cara diduga menyiram Air Panas, dan sehingga mengalami luka bakar serius (kulit tubuh melepuh merah).

    Dalam hal yang berkaitan tersebut di atas, tim awak media mencoba mengkonfirmasi penyidik Polsek Kenjeran Resor Polres Pelabuhan Tanjung Perak yakni Aiptu Achwan, W.R,.SH di ruang kerjanya beralibi mengatakan Selasa (24/02/2027) kemaren, terduga terlapor sudah kami panggil via telpon belum sepat hadir awalnya.

    “Dan kami panggil lagi via telpon saat di mintain KTP untuk proses kelengkapan penyidikan juga tidak bisa hadir dengan alasan “masih sakit”,” ujar Achwan.

    Terpisah, awak media mencoba menemui pemerhati publik terkait ahkli hukum tindak pidana yakni Ongkye Wibosono, SH, Rabo (25/02/2026) mengatakan, kalau penganan Aparat Penegak Hukum (APH), khusnya Polsek Kenjeran Resor Polres Pelabuhan Tanjung Perak seperti itu (satu bulan tidak kejelasan kongkrit), maka patut di duga “SDM”nya dalam penganan perkara,” ujarnya.

    Sebetulnya perkara ini mudah menurut saya, lanjut kata Ongkye, kenapa kok sampai satu bulan tidak ada tindakan secaranyata, visum sudah, korban (Ana Fitria) mengalami luka serius (cacat permanen), bukti laparon dengan pasal yang disangkakan jelas kata gori pidana berat (pasal 466-KHUP).

    “Kalau merujuk pasal yang disangkakan ini, berbunyi “Pasal 466 UU No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP Baru mengatur tindak pidana penganiayaan. Ayat (1) menyatakan penganiayaan diancam pidana penjara maksimal 2 tahun 6 bulan atau denda kategori III.,” tegasnya.

    Masih kata Ongkye Wibosono, SH, Pasal ini (pasal 466-KHUP) juga termasuk KHUP Baru yang mencakup perbuatan merusak kesehatan, serta menjatuhkan hukuman lebih berat jika mengakibatkan luka berat (ancaman 5 tahun) atau kematian (ancaman 7 tahun).

    “Kalau melihat Foto korban (Ana Fitria) dengan luka begitu parah, luka akibat penyiraman air panas oleh pelaku (Mila Rohani) seharusnya APH Polsek Kenjeran yang menangani segerah melakukan penangkapan pelaku,” ulasnya.

    Perlu saya sampaikan sebagai pencerahan aturan hukum, sambung Ongkye, Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2009 pernah mengatur batas waktu penyidikan berdasarkan tingkat kesulitan perkara, yaitu 120 hari untuk perkara sangat sulit, 90 hari untuk perkara sulit, 60 hari untuk perkara sedang, dan 30 hari untuk perkara mudah.

    “Jadi untuk perkara sudah jelas menurut Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2009, seharusnya APH gak pakek lama melakukan pengnakap sekaligus menahan terduga pelaku, belum ada penahan menurut istilah dunia media “Masuk Agin”,” katanya.

    Sanksi bagi Polisi, masih sambung kata Ongkye Wibosono, SH, laporan di kepolisian lebih dari satu bulan tidak ada keseriusan penanganan bisakah aparat kepolisian di sanksi, dan jika terbukti lalai, anggota tersebut dapat dijatuhi hukuman mulai dari teguran tertulis, mutasi bersifat demosi (dipindah ke jabatan lebih rendah), hingga penundaan kenaikan pangkat

    “Atau melapor ke Divisi Propam (Profesi dan Pengamanan), Jika penyidik terkesan membiarkan laporan Anda, Anda bisa melaporkannya ke Propam atas dugaan pelanggaran kode etik atau ketidakprofesionalan,” tutup pemerhati publik terkait ahkli hukum tindak pidana.

    Hingga berita ini unggah, pihak keluarga korban kecawa atas kurang responya laporan yang sudah berjalan satu bulan lebih dalam penanganan perkaranya oleh pihak APH Polsek Kenjeran Resor Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. (Bgn)***

  • Uncategorized

    MAKI Jatim Nandur Becik di Hari Ke-enam Ramadhan, Cahaya yang Menuntun Jiwa Menuju Ridha-Nya

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA — Ramadhan kembali menyapa umat manusia sebagai bulan yang bukan sekadar pergantian waktu, melainkan peristiwa ruhani yang agung. Di kota Surabaya, hari-hari di bulan suci terasa berbeda.

    Hiruk-pikuk jalan raya dan padatnya aktivitas seakan melunak oleh getar ayat-ayat suci, doa-doa yang terangkat, serta hati-hati yang berusaha kembali kepada fitrah.

    Pada hari keenam Ramadhan yang penuh keberkahan, suasana di Jalan Raya Ahmad Yani tepat di depan Kantor Dinas Peternakan Jawa Timur menjadi saksi bagaimana nilai keimanan menjelma dalam tindakan nyata.

    Di lokasi itu, relawan dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.

    Tangan-tangan yang memberi dan tangan-tangan yang menerima bertemu dalam suasana haru. Senyum yang terukir bukan sekadar ekspresi sosial, melainkan pancaran rasa syukur.

    Sebanyak 250 paket sayur manisah bersantan tahu, tempe, dan cecek; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon dengan isian blewah; serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, tahu isi, dan dadar jagung dibagikan dengan tertib dan penuh kelembutan.

    Namun Ramadhan mengajarkan bahwa makna sesungguhnya tidak terletak pada jumlah yang dibagikan, melainkan pada niat yang melandasi. Setiap paket ta’jil yang berpindah tangan membawa doa yang tak terdengar, harapan yang tak terucap, dan keyakinan bahwa Allah SWT Maha Melihat setiap kebaikan sekecil apa pun.

    Ramadhan adalah madrasah kesabaran. Ia melatih manusia menahan lapar dan dahaga bukan karena ketiadaan, tetapi karena ketaatan. Dalam rasa haus itu, manusia belajar bahwa dirinya lemah. Dalam rasa lapar itu, ia menyadari bahwa segala nikmat hanyalah titipan. Puasa mematahkan kesombongan, melembutkan hati, dan membersihkan jiwa dari karat duniawi.

    Berbagi di bulan suci bukan sekadar aksi sosial, melainkan wujud penghambaan. Allah SWT berfirman bahwa harta dan anak hanyalah ujian.

    Maka ketika sebagian rezeki dilepaskan dengan ikhlas, sesungguhnya yang sedang dilakukan adalah menguatkan ikatan dengan Sang Pemberi Rezeki.

    Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Syukur, dalam ajaran Islam, bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan amal nyata.

    “Setiap kesempatan berbagi adalah panggilan dari Allah. Kita hanya perantara dari rahmat-Nya,” ujarnya.

    Sebagai lembaga yang konsisten menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin besar bagi jiwa. Dalam pandangan iman, korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap amanah Allah. Ia lahir dari hati yang lupa akan pengawasan Ilahi.

    Ramadhan hadir untuk menghidupkan kembali kesadaran itu. Ketika seorang hamba yakin bahwa Allah Maha Mengawasi setiap gerak dan niat, maka integritas tidak lagi dipaksakan. Ia tumbuh dari takwa. Ia bersemi dari rasa takut dan cinta kepada Allah SWT.

    Menjelang adzan Maghrib, langit Surabaya berpendar jingga. Kendaraan melambat, tangan-tangan menengadah, dan doa-doa terbisik lembut. Di antara riuh kota, ada ketenangan yang tak terlihat oleh mata, tetapi terasa dalam dada.

    Barangkali yang dibagikan hanyalah makanan sederhana. Namun yang ditanam adalah benih kasih sayang. Yang ditegakkan adalah nilai kemanusiaan. Dan yang diharapkan adalah ridha Allah SWT.

    Ramadhan mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak kita mengumpulkan, tetapi seberapa tulus kita mengikhlaskan. Ia mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan, dan setiap amal kebaikan adalah bekal menuju kehidupan yang kekal.

    Di bawah langit senja itu, tersirat pesan yang abadi:
    Bahwa berbagi adalah cahaya iman.
    Bahwa keikhlasan adalah mahkota ketakwaan.
    Dan bahwa setiap langkah kebaikan, sekecil apa pun, akan menemukan jalannya kembali kepada-Nya. (Bgn)***

  • Uncategorized

    MAKI Jatim Bongkar Jejak Dana Gelap di Balik Renovasi Cabdin Jember–Lumajang

    WARTAPENASATUJATIM | Jember – Renovasi besar-besaran di Kantor Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Wilayah Jember–Lumajang mendadak menjadi sorotan. Di tengah minimnya informasi publik soal sumber pembiayaan, MAKI Jatim mempertanyakan asal-usul anggaran perombakan kantor yang berada di bawah Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tersebut.

    Sorotan menguat pasca pelantikan Iwan sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jember–Lumajang melalui Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas (SPMT) per 1 Januari 2026.

    Berdasarkan pemantauan tim Litbang MAKI Jatim pada Selasa (24/2/26), perubahan fisik kantor tampak signifikan: ruang pimpinan direnovasi, ruang staf disekat ulang dengan PVC board baru, serta kursi dan meja diganti hampir menyeluruh.

    Perombakan dinilai kontras dibandingkan kondisi sebelumnya. Namun yang memantik tanda tanya, tidak ditemukan jejak alokasi rehabilitasi kantor tersebut dalam DIPA Tahun Anggaran 2025.

    Penelusuran melalui SIRUP LKPP maupun laman LPSE Provinsi Jawa Timur juga tidak menunjukkan paket pengadaan yang relevan. Sementara itu, realisasi APBD 2026 pada awal tahun umumnya belum berjalan efektif hingga akhir triwulan pertama.

    Jejak Anggaran: Tak Tercatat di DIPA, Muncul Dugaan “Partisipatif”

    Ketua MAKI Jatim, Heru, menyebut pihaknya tengah menelusuri dugaan penggalangan dana berbasis narasi “partisipatif” kepada SMA/SMK di wilayah Jember dan Lumajang.

    Dugaan awal mengarah pada kemungkinan adanya “urunan” yang sumbernya disebut-sebut berasal dari sisa dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

    “Jika benar ada penggalangan dana dari sekolah, apalagi bersumber dari BOS, maka harus dijelaskan secara terbuka dasar hukumnya, mekanismenya, dan akuntabilitasnya,” tegas Heru.

    MAKI Jatim juga mengendus potensi persoalan dalam pengelolaan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dana BOS.

    Dugaan yang beredar menyebut adanya sisa dana yang secara administratif telah dilaporkan terserap, namun secara faktual masih tersimpan.

    Jika temuan ini terkonfirmasi, implikasinya bukan hanya soal tata kelola, tetapi berpotensi menyentuh aspek pidana.

    Langkah Hukum dan Tekanan Publik

    MAKI Jatim menyatakan telah menghimpun bukti awal untuk ditelaah bidang hukum internal. Surat tugas khusus telah ditandatangani guna mempersiapkan langkah pelaporan ke aparat penegak hukum apabila ditemukan unsur pelanggaran.

    Selain jalur hukum, MAKI Jatim membuka opsi aksi demonstrasi di kantor Cabdin Jember sebagai bentuk kontrol sosial.

    Bahkan, penyegelan simbolis disebut sebagai kemungkinan langkah moral jika penggunaan anggaran dinilai tidak transparan.

    Klarifikasi Ditunggu, Transparansi Dipertaruhkan

    Hingga laporan ini disusun, belum ada pernyataan resmi dari Cabang Dinas Pendidikan Jember–Lumajang maupun dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur terkait sumber anggaran renovasi tersebut.

    Klarifikasi menjadi krusial. Pengelolaan dana pendidikan terutama BOS merupakan instrumen strategis untuk menjamin kualitas layanan pendidikan. Setiap rupiah yang dikelola wajib dapat ditelusuri jejaknya, dapat diuji akuntabilitasnya, dan terbuka bagi publik.

    Kasus ini kini berada di titik krusial: apakah renovasi tersebut memiliki dasar anggaran yang sah dan transparan, atau justru membuka babak baru dugaan penyimpangan tata kelola pendidikan? Publik menunggu jawaban bukan asumsi, melainkan penjelasan resmi yang bisa diuji. (Bgn)***

Wartapenasatu.com @2025