• Nasional

    Kementerian Agama Republik Indonesia Tetapkan 1 Syawal 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026

    WARTAPENASATUJATIM | JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akhirnya menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

    Keputusan ini diumumkan usai sidang isbat yang digelar pada Kamis (19/3/2026), sekaligus menjawab penantian umat Islam di seluruh Indonesia.

    Berbeda dari euforia penantian Lebaran, proses penetapan tahun ini justru menegaskan peran penting observasi ilmiah dalam menentukan awal bulan Hijriah.

    Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa keputusan diambil secara hati-hati dan berdasarkan data yang terverifikasi.

    Dalam sidang tersebut, pemerintah tidak berjalan sendiri. Sejumlah unsur turut dilibatkan, mulai dari pakar falak, astronomi, hingga Majelis Ulama Indonesia dan perwakilan organisasi Islam.

    Hal ini menjadi bukti bahwa penentuan hari besar keagamaan merupakan hasil sinergi lintas elemen bangsa.

    Fokus utama sidang isbat tahun ini terletak pada hasil rukyat atau pemantauan hilal yang dilakukan secara serentak di 117 titik di seluruh Indonesia.

    Tim yang diterjunkan telah bekerja sejak sore hari untuk memastikan keakuratan hasil pengamatan.

    Namun hasilnya menunjukkan fakta yang sama di seluruh wilayah: hilal tidak terlihat. Kondisi ini dilaporkan dari berbagai titik pemantauan, baik di wilayah barat seperti Aceh hingga wilayah timur seperti Papua.

    Ketiadaan hilal tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan.

    Tim pusat Kementerian Agama memastikan seluruh laporan telah diverifikasi sebelum dibawa ke forum musyawarah.

    Dengan tidak terpenuhinya kriteria visibilitas hilal, maka bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari. Maka Idul Fitri pun ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

    “Dengan demikian berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026,” tegas Menag Nasrudin

    Keputusan ini sekaligus menggarisbawahi bahwa pendekatan ilmiah melalui hisab dan rukyat tetap menjadi rujukan utama pemerintah dalam menjaga keseragaman penetapan kalender Hijriah nasional.

    Di tengah dinamika perbedaan metode penentuan, pemerintah berharap hasil sidang isbat ini dapat diterima sebagai pedoman bersama.

    Lebaran pun diharapkan menjadi momentum memperkuat kebersamaan umat Islam di Indonesia dalam suasana penuh kedamaian dan persatuan. (Red)

  • SOSIAL

    Hari Ke – 29 MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil, Merajut dan Meraih Kemenangan Sejati Idul Fitri

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 19 Maret 2026 — Di penghujung bulan suci Ramadan, waktu seakan melambat, memberi ruang bagi manusia untuk merenung lebih dalam.

    Bukan sekadar menghitung hari menuju akhir, tetapi menyelami makna perjalanan spiritual yang telah dilalui. Ramadan tidak hanya hadir sebagai rutinitas ibadah, melainkan sebagai cermin kehidupan memantulkan kembali siapa diri kita, sejauh mana hati telah dibersihkan, dan seberapa tulus kita dalam mencintai sesama.

    Ramadan adalah ruang sunyi yang berbicara. Ia mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar menahan, tetapi memahami.

    Bahwa dahaga bukan sekadar menunggu, tetapi merasakan. Dan dari sanalah lahir kesadaran terdalam: bahwa hidup bukan tentang apa yang dimiliki, melainkan tentang apa yang mampu dibagikan.

    Pada hari ke-29 Ramadan 1447 Hijriah, di tengah denyut kehidupan yang tak pernah berhenti di Jalan Ahmad Yani Surabaya, tepat di depan Kantor Dinas Perhubungan Jawa Timur, sebuah peristiwa sederhana berlangsung. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan makna yang begitu dalam dan menyentuh.

    Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar aksi berbagi dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.

    Tetapi sejatinya, yang dibagikan hari itu bukan hanya makanan untuk berbuka.

    Yang mengalir dari tangan ke tangan adalah kepedulian. Yang berpindah bukan sekadar bungkusan, melainkan rasa. Dan yang hadir di tengah hiruk-pikuk kota adalah kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendiri selalu ada ruang untuk berbagi, selalu ada kesempatan untuk peduli.

    Di antara deru kendaraan dan langkah yang tergesa, para relawan berdiri dengan senyum tulus yang tidak dibuat-buat. Mereka memberi tanpa merasa lebih tinggi, berbagi tanpa mengharap kembali. Sebab dalam kedalaman makna Ramadan, memberi bukanlah kehilangan melainkan menemukan.
    Menemukan makna diri. Menemukan ketenangan.
    Menemukan Tuhan dalam wajah-wajah yang mungkin selama ini terlewatkan.

    Setiap paket ta’jil yang dibagikan setiap butir nasi, setiap kurma, setiap teguk minuman menjadi jembatan sunyi antara manusia dan Sang Pencipta. Bisa jadi, dari satu paket sederhana itu, lahir doa yang tulus. Ada hati yang kembali hangat. Ada harapan yang kembali menyala setelah hampir padam.

    Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Namun lebih dari itu, syukur sejati adalah kesadaran bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan, dan sebaik-baik titipan adalah yang memberi manfaat bagi sesama.

    Dalam sudut pandang yang lebih dalam, kepedulian sosial bukan sekadar aktivitas berbagi. Ia adalah jalan penyucian jiwa. Ia adalah cara Tuhan menghadirkan diri-Nya bukan hanya dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam setiap tindakan kebaikan yang dilakukan dengan tulus.

    Senja perlahan turun, langit Surabaya berpendar jingga, seakan memberi isyarat bahwa setiap pertemuan pasti akan berujung perpisahan. Ramadan pun demikian ia akan pergi, meninggalkan kenangan, pelajaran, dan nilai yang tak ternilai.
    Namun yang terpenting, nilai itu tidak boleh ikut pergi.

    Di momen itulah, senyum para penerima menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan. Kadang, ia hadir dari hal sederhana dari perhatian kecil, dari uluran tangan, dari rasa yang tulus.

    Tanpa panggung. Tanpa gemerlap. Tanpa sorotan. Hanya hati yang bekerja. Dan justru di situlah letak keindahan sejatinya. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang melepaskan melepaskan ego, keserakahan, dan jarak antar manusia. Ia mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut hatinya kepada sesama.

    Karena perjalanan menuju Ilahi tidak hanya ditempuh melalui doa yang dipanjatkan, tetapi juga melalui cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

    Di ujung Ramadan ini, satu pelajaran kembali mengetuk kesadaran kita:
    Bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah cahaya.

    Dan cahaya itu tidak akan pernah padam, selama masih ada hati yang rela menyalakannya untuk sesama, untuk kehidupan, dan untuk Tuhan. (Bgn)***

  • Kepolisian,  Kriminal

    Mengerikan, Besi Anti Karat Pelindung Tiang Pancang Jembatan Suramadu Dicuri, Diperlukan Biaya Miliaran Rupiah Untuk Perbaikan

    WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan Madura – Polres Bangkalan berhasil menangkap 7 orang nelayan yang diduga melakukan pencurian besi antikarat di bawah Jembatan Suramadu yang berfungsi sebagai pelindung tiang pancang jembatan.

    Komplotan pelaku pencurian ini berasal dari Gresik dan Bangkalan. Para pelaku ini mengaku telah melakukan aksi pencurian sebanyak 21 kali, sehingga menyebabkan kerugian sebesar Rp92 juta.

    Besi antikarat yang dicuri sangat vital, karena berfungsi melindungi tiang pancang jembatan dari korosi air laut.

    Kasat Reskrim AKP Hafid Dian Maulidi mengkonfirmasi penangkapan tersebut. Saat ini para tersangka ditahan di Mapolres Bangkalan dan dijerat Pasal 363 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara.

    Pakar konstruksi dari ITS memperingatkan bahwa jembatan Suramadu memerlukan perlindungan ekstra, karena korosi bisa memicu retak kolom dan kegagalan bentang. Biaya perbaikan diperkirakan bisa mencapai miliaran rupiah.

    Daftar tersangka pencurian:
    – Dari Gresik: Adi (27), Misyan (32), Fata (40), Budi, SA (40)
    – Dari Bangkalan: Muhid (32), Arip (40)

    Polres Bangkalan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kasus pencurian yang menghebohkan ini. (Houget)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Menyapa Lewat Santunan, Senyum Anak Yatim dan Haru di Bangsalsari Jember

    WARTAPENASATUJATIM | Jember, 19 Maret 2026 – Menjadi hari yang penuh makna, bukan hanya bagi mereka yang menerima, tetapi juga bagi mereka yang memberi dengan sepenuh hati.

    Bertempat di Sekretariat MAKI Bangsalsari, Kabupaten Jember, sebuah kegiatan sosial yang sarat nilai kemanusiaan berlangsung dengan khidmat, hangat, dan menyentuh relung hati terdalam.

    Di tempat yang sederhana itulah, MAKI Koordinator Wilayah Kecamatan Bangsalsari menghadirkan sebuah momen istimewa: santunan bagi 100 anak yatim piatu serta anak-anak dari keluarga kurang mampu, yang selama ini menjalani kehidupan dengan segala keterbatasan.

    Mereka datang dengan langkah sederhana, namun membawa harapan yang besar harapan untuk diperhatikan, dihargai, dan dirangkul dalam kasih sayang.

    Kegiatan ini dipimpin oleh Mas Rawi, yang lebih dikenal luas sebagai Kyai Samber Langit.

    Sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat ini hadir dengan ketulusan yang begitu terasa.

    Tidak ada jarak antara pemimpin dan yang dipimpin, tidak ada sekat antara yang memberi dan yang menerima yang ada hanyalah rasa kemanusiaan yang mengalir tanpa batas.

    Sejak pagi hari, suasana sekretariat telah dipenuhi dengan energi yang berbeda.

    Wajah-wajah anak-anak yang awalnya tampak malu dan penuh keraguan perlahan berubah menjadi ceria.

    Senyum mulai merekah, tawa mulai terdengar, dan kehangatan mulai terasa. Dalam setiap bingkisan santunan yang diberikan, terselip doa, harapan, dan kasih sayang yang tak ternilai.

    Santunan yang disalurkan bukan sekadar bantuan materi. Lebih dari itu, ia adalah bentuk perhatian yang mampu menguatkan jiwa-jiwa kecil yang tengah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.

    Bagi mereka, hari itu adalah pengingat bahwa mereka tidak sendiri bahwa masih ada tangan-tangan yang siap menggenggam dan hati-hati yang peduli.

    Suasana haru semakin terasa ketika kegiatan berlanjut dengan pemberian bingkisan kepada 9 janda lanjut usia.

    Dalam usia yang senja, mereka tetap bertahan menjalani hidup dengan penuh kesabaran.

    Paket sembako dan kue kering yang diberikan menjadi simbol kepedulian yang sederhana namun penuh arti.

    Dengan mata berkaca-kaca dan senyum penuh syukur, mereka menerima bingkisan tersebut seolah menerima pelukan hangat dari masyarakat.

    Di tengah suasana yang penuh emosi itu, Kyai Samber Langit menyampaikan pesan yang begitu dalam.

    Ia menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata dari kepedulian sosial yang harus terus dijaga dan dirawat.

    Menurutnya, kemanusiaan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang kita lakukan untuk orang lain.

    Beliau juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan rasa empati dan semangat berbagi.

    Karena sejatinya, kekuatan sebuah komunitas terletak pada kemampuannya untuk saling menguatkan, terutama kepada mereka yang paling membutuhkan.

    Kegiatan berlangsung dengan lancar, penuh kekhidmatan, dan sarat makna. Tidak ada kemewahan yang ditampilkan, namun justru dalam kesederhanaan itulah terpancar keindahan yang sesungguhnya keindahan dari hati yang tulus, dari niat yang ikhlas, dan dari kebersamaan yang hangat.

    Hari itu, Bangsalsari tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan sosial, tetapi juga menjadi saksi hidup bahwa kemanusiaan masih tumbuh subur di tengah masyarakat. Bahwa masih ada harapan di tengah keterbatasan, masih ada cahaya di tengah kegelapan.

    Dan dari kegiatan sederhana ini, tersampaikan sebuah pesan yang begitu kuat: bahwa satu kebaikan yang dilakukan dengan tulus, mampu menghadirkan sejuta arti bagi mereka yang membutuhkan.

    Bahwa kepedulian, sekecil apa pun, adalah cahaya yang tak akan pernah padam selama masih ada hati yang mau berbagi. (Bgn)***

  • Uncategorized

    Jelang Lebaran, Cara Berbeda Pengacara Surabaya Bangun Kedekatan dengan Insan Pers

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Ada pula nilai kebersamaan yang dibangun melalui komunikasi dan silaturahmi, seperti yang tergambar dalam pertemuan hangat antara seorang Praktisi Hukum dan Insan Pers di Surabaya.

    Rabu (18/03/2026), Yuli Susilowati SH, MH membuka ruang dialog santai di kantornya yang berada di Perumahan Alana Regency Gunungsari, Surabaya Barat.

    Dalam suasana yang sederhana namun penuh keakraban, beberapa Insan Pers hadir memenuhi undangan untuk berbincang ringan sekaligus mempererat hubungan.

    Berbeda dari kesan formal yang kerap melekat pada profesinya, perempuan yang akrab disapa Bunda Yuli ini justru menunjukkan sisi komunikatif dan bersahaja.

    Ia menyambut para tamu dengan penuh kehangatan, menciptakan suasana diskusi yang terbuka tanpa sekat.

    Topik yang dibahas pun beragam dan mengalir alami. Mulai dari persoalan kesehatan, kondisi kamtibmas, hingga isu-isu aktual baik di tingkat nasional maupun internasional.

    Obrolan yang berlangsung santai tersebut menjadi cerminan pentingnya sinergi antara praktisi hukum dan media dalam memahami dinamika sosial yang berkembang.

    Waktu yang berjalan hampir dua jam terasa singkat karena suasana yang cair dan penuh canda.

    Pertemuan yang dimulai sejak pukul 11.30 WIB itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan untuk kembali bersilaturahmi usai Lebaran.

    “Saya lebih memilih dialog terbuka daripada prasangka, karena kebenaran hanya lahir dari keberanian untuk bicara.” pingkas Bunda Yuli

    Momen ini menjadi gambaran bahwa di tengah kesibukan dan perbedaan peran, kebersamaan tetap bisa terjalin melalui komunikasi yang hangat.

    Ramadan pun menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat relasi, tidak hanya secara profesional, tetapi juga secara personal. (Red)***

  • Uncategorized

    Sentuhan Kasih di Bulan Berkah, LSM Merah Putih Surabaya Gelar Santunan Akbar untuk Kaum Dhuafa

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA –
    Di Bulan Yang Penuh Berkah Bulan Suci Ramadhan, Kembali LSM MERAH PUTIH Surabaya Melaksanakan Baksos dan buka puasa bersama Anak Yatim. Di Hotel Fave Tunjungan Jalan Pregolan. Surabaya, pada Rabu (18/3/26)

    Kegiatan berbagi Baksos dan buka bersama kepada anak yatim sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas di bulan suci Ramadan.

    Kegiatan ini dilaksanakan dengan membagikan sembako dan santunan kepada 50 anak yatim, disaat menjelang waktu berbuka puasa

    Aksi tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena dinilai sangat membantu dan membawa keberkahan

    Ketua LSM MERAH PUTIH Surabaya Ibnu Hajar mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat berbagi di bulan Ramadan, serta mempererat tali silaturahmi antar masyarakat meningkatkan rasa empati terhadap sesama, khususnya anak yatim.

    “Kami ingin menanamkan nilai solidaritas di tubuh organisasi sekaligus membangun hubungan harmonis dengan masyarakat. Kebersamaan dan kepedulian adalah fondasi utama dalam setiap kegiatan kami,” ujar Ketua LSM MERAH PUTIH

    Alhamdulillah, lanjutnya, nampak anggota LSM MERAH PUTIH terlihat antusias dalam kegiatan buka puasa bersama dengan penuh senyum.

    “Selain berbagi makanan berbuka, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat kebersamaan antar anggota dan masyarakat,” ungkapnya

    Ia berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus dilakukan secara rutin, tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga dalam berbagai momentum lainnya.

    Kami juga mengajak masyarakat untuk terus menebar kebaikan dan memperkuat solidaritas sosial. Aksi sederhana seperti berbagi ini menjadi bukti bahwa kepedulian dan kebersamaan masih tumbuh subur di tengah masyarakat Surabaya”tandasnya.(Andi amr)

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Bagi 1.000 Tajil Bukan Sekadar Ta’jil: Tentang Hati yang Belajar Peduli di Ujung Ramadan

    WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 18 Maret 2026 — Di penghujung Ramadan, waktu seakan tidak lagi sekadar bergerak menuju akhir, melainkan mengajak manusia kembali, kembali pada asal, pada makna, pada kesadaran terdalam tentang siapa diri ini sebenarnya.
    Ramadan adalah cermin.

    Ia tidak hanya memantulkan lapar dan dahaga, tetapi juga memperlihatkan wajah batin yang sering tersembunyi di balik kesibukan dunia. Dalam diamnya puasa, manusia belajar bahwa yang paling hakiki bukanlah apa yang dimiliki, melainkan apa yang dirasakan dan dibagikan.

    Di titik inilah makrifat bersemi ketika ibadah tidak lagi sekadar ritual, tetapi menjelma menjadi kesadaran akan kehadiran Ilahi dalam setiap denyut kehidupan.

    Pada hari ke-28 Ramadan 1447 Hijriah, di tengah hiruk-pikuk Jalan Ahmad Yani Surabaya, sebuah peristiwa sederhana terjadi, namun mengandung makna yang dalam. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat.

    Namun sejatinya, yang dibagikan bukan sekadar makanan.

    Yang mengalir di sana adalah rasa. Yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain adalah kasih. Yang hadir di antara mereka adalah kesadaran bahwa manusia hidup tidak sendiri.

    Di antara deru kendaraan dan langkah-langkah yang tergesa, para relawan berdiri dengan senyum yang tidak dibuat-buat.

    Mereka memberi, tanpa merasa lebih. Mereka berbagi, tanpa menghitung kembali.
    Sebab dalam makrifat, memberi bukanlah kehilangan. Justru di situlah manusia menemukan dirinya.

    Setiap nasi, setiap kurma, setiap teguk minuman berbuka menjadi perantara sunyi antara hamba dan Tuhannya. Sebab bisa jadi, di balik satu paket sederhana itu, ada doa yang terangkat. Ada hati yang disentuh. Ada harapan yang kembali hidup.

    Ketua MAKI Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa rasa syukur harus diwujudkan dalam tindakan. Namun lebih dari itu, syukur sejati adalah ketika hati menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan, dan sebaik-baiknya titipan adalah yang memberi manfaat.

    Dalam perspektif makrifat, kepedulian bukan sekadar aksi sosial. Ia adalah jalan penyucian jiwa. Ia adalah cara Tuhan mengajarkan manusia untuk melihat-Nya bukan hanya di langit, tetapi juga di wajah-wajah yang membutuhkan.

    Senja pun turun perlahan. Langit Surabaya berpendar jingga, seolah mengisyaratkan bahwa setiap pertemuan akan berujung perpisahan. Ramadan pun demikian ia akan pergi, tetapi nilai yang ditinggalkannya tidak boleh ikut hilang.

    Di momen itu, senyum para penerima menjadi saksi bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari perhatian yang tulus.

    Tanpa panggung. Tanpa sorotan. Hanya hati yang bekerja.

    Dan di situlah letak keindahannya. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan, tetapi tentang melepaskan melepaskan ego, keserakahan, dan jarak antar manusia. Ia mengajarkan bahwa semakin dekat seseorang kepada Tuhan, semakin lembut ia kepada sesama.

    Karena pada hakikatnya, perjalanan menuju Tuhan tidak hanya ditempuh dengan doa, tetapi juga dengan cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

    Di ujung Ramadan ini, satu pelajaran kembali mengetuk kesadaran:
    bahwa kebaikan, sekecil apa pun, adalah cahaya.

    Dan cahaya itu tidak pernah padam selama masih ada hati yang mau menghidupkannya. (Bgn)***

  • Hiburan

    Dari Surabaya untuk Indonesia: Joker Law Usung Misi Besar Musik Anak Lewat Ayu Syifa Zara

    WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Pembuatan video klip artis cilik Ayu Syifa Zara menjadi salah satu langkah nyata dalam menghadirkan karya musik anak-anak yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan relevan dengan dunia mereka.

    Proyek ini diproduseri oleh Joker Law, yang memiliki visi kuat untuk menghidupkan kembali warna musik anak-anak di Indonesia dengan pendekatan yang lebih modern, segar, dan tetap mempertahankan nilai-nilai positif.

    Sejak tahap perencanaan, Joker Law telah merancang konsep yang matang dengan mengusung tema keceriaan, persahabatan, dan kebebasan berekspresi.

    Ia menyadari bahwa di tengah dominasi musik dewasa, anak-anak sering kali tidak memiliki cukup ruang untuk menikmati lagu yang sesuai dengan usia mereka.

    Oleh karena itu, proyek ini bukan sekadar produksi video klip, melainkan sebuah gerakan kecil untuk memberikan ruang yang layak bagi anak-anak agar bisa bernyanyi, bermain, dan menikmati musik yang memang diciptakan untuk mereka.

    Dalam proses produksinya, Joker Law menggandeng videografer Rafi Kurniawan yang dikenal memiliki sentuhan visual yang hangat dan sinematik.

    Kolaborasi ini menghasilkan konsep visual yang penuh warna, ceria, dan menggambarkan dunia anak-anak secara alami.

    Setiap adegan dirancang dengan detail, mulai dari pemilihan lokasi yang ramah anak, wardrobe yang penuh warna, hingga pengaturan pencahayaan yang lembut namun hidup, sehingga mampu memperkuat suasana menyenangkan dalam video klip tersebut.

    Untuk menambah dinamika dan energi dalam video, beberapa model cilik berbakat turut dilibatkan, di antaranya Cello, Ajeng, Nayra, dan Zoya.

    Kehadiran mereka memberikan nuansa kebersamaan yang kuat, menampilkan interaksi yang hangat, penuh tawa, dan spontanitas khas anak-anak.

    Setiap momen yang terekam terasa natural, seolah menggambarkan keseharian anak-anak yang penuh imajinasi dan kegembiraan.

    Ayu Syifa Zara sebagai pemeran utama tampil dengan penuh percaya diri dan pesona khas anak-anak.

    Ia tidak hanya bernyanyi, tetapi juga mampu menghidupkan cerita dalam video klip dengan ekspresi yang tulus dan penuh energi.

    Penampilannya menjadi pusat perhatian sekaligus pengikat seluruh elemen dalam video, menjadikan karya ini terasa utuh dan menyenangkan untuk ditonton.

    “Tujuan utama kami adalah memberikan ruang bagi anak-anak untuk bisa bernyanyi dan mendengarkan lagu sesuai dengan umur mereka,” ujar Joker Law.

    Pernyataan ini menegaskan bahwa proyek ini memiliki misi yang lebih besar dari sekadar hiburan, yaitu membangun ekosistem musik anak yang sehat dan berkualitas di Indonesia.

    Di balik produksi video klip ini, tersimpan pula sebuah langkah besar yang sedang dipersiapkan oleh Joker Law, yaitu peluncuran album terbarunya yang hingga kini masih dirahasiakan.

    Album tersebut direncanakan akan segera rilis dalam waktu dekat dan diyakini akan membawa warna baru dalam industri musik tanah air.

    Proyek ini menjadi semacam pembuka jalan sekaligus gambaran awal dari konsep besar yang akan dihadirkan dalam album tersebut.

    Dalam pengerjaannya, album ini melibatkan beberapa pencipta lagu ternama seperti Ahmad Sofyan, Bang Yus, dan Pranata.

    Masing-masing dari mereka menghadirkan karakter musik yang berbeda, mulai dari nuansa ceria khas lagu anak, hingga sentuhan modern yang membuat lagu-lagu tersebut tetap relevan dengan perkembangan zaman.

    Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan harmoni yang unik dan memberikan pengalaman musikal yang berkesan bagi pendengarnya.

    Seluruh proyek ini berada di bawah naungan Harum Entertainment Indonesia, yang dipimpin oleh Madik Riski Mahardika.

    Dengan dukungan penuh dari label, proses produksi hingga distribusi dirancang secara profesional agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas.

    Harapannya, karya ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perkembangan industri musik anak di Indonesia.

    Melalui video klip Ayu Syifa Zara ini, Joker Law bersama tim ingin menyampaikan bahwa musik anak-anak masih memiliki tempat yang penting dan layak untuk terus dikembangkan.

    Dengan konsep yang kuat, kolaborasi yang solid, dan semangat untuk menghadirkan karya berkualitas, proyek ini diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus awal dari kebangkitan kembali musik anak-anak di tanah air. #jokerlaw (Andi amr)***

  • Militer

    Dandim Tulungagung Apresiasi Peran Insan Media

    WARTAPENASATUJATIM | Tulungagung – Komandan Kodim 0807/Tulungagung Letkol Arh Hanny Galih Satrio, S.I.P., M.Han., memberikan piagam penghargaan kepada sejumlah insan media tepat usai pelaksanaan upacara bendera di halaman Makodim 0807/Tulungagung, Jl. Jaksa Agung Suprapto No. 17, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (17/03/2026).

    Piagam penghargaan tersebut diberikan kepada insan media dari berbagai platform di wilayah Tulungagung sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dalam menyampaikan informasi yang edukatif, informatif, serta berperan aktif dalam membangun opini publik yang positif di tengah masyarakat.

    Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan, mencerminkan kuatnya sinergi antara TNI, khususnya Kodim 0807/Tulungagung, dengan para awak media di wilayah Tulungagung.

    Dalam keterangannya, Dandim 0807/Tulungagung menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam mendukung tugas-tugas TNI di wilayah, terutama dalam publikasi kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

    “Media merupakan mitra strategis TNI dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Kami mengapresiasi dedikasi rekan-rekan insan media yang selama ini telah berperan aktif dalam menyebarluaskan informasi yang edukatif dan membangun,” ujar Dandim Tulungagung.

    Ia juga berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus ditingkatkan, sehingga sinergi antara TNI dan media semakin solid dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    Pemberian piagam penghargaan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Kodim 0807/Tulungagung dalam memperkuat kemitraan dengan media, guna menjaga transparansi informasi serta membangun komunikasi publik yang sehat dan konstruktif.

    Melalui momentum ini, insan media diharapkan terus menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipercaya oleh masyarakat. (Bgn)***

  • Militer

    Korem 081/DSJ Salurkan Zakat Fitrah Hampir 1 Ton Beras

    WARTAPENASATUJATIM | Madiun – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Korem 081/DSJ Kembali menyalurkan zakat fitrah pada Ramadan tahun ini, Selasa (17/3/2026). Di banding tahun lalu, zakat fitrah yang disalurkan tahun ini lebih banyak hingga mencapai hampir 1 ton beras.

    “Total zakat fitrah yang kita salurkan tahun ini sebanyak 990 kilogram. Selain zakat fitrah kita juga menyalurkan zakat mal dan infaq,” kata Kabintal Rem 081/DSJ Kapten Cba Toni Budiarto.

    Toni menyebut, zakat fitrah yang disalurkan tesebut berasal dari personel Korem 081/DSJ beserta keluarganya yang berhasil dihimpun.

    Dalam proses penyalurannya, Korem 081/DSJ menerapkan berbagai cara agar bantuan dapat tepat sasaran. Salah satunya dengan berkeliling Kota Madiun untuk menyerahkan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.

    “Zakat fitrah yang berhasil dihimpun kami berikan langsung kepada masyarakat, seperti tukang becak, petugas kebersihan, pemulung, penyandang disabilitas, dan lainnya,” jelasnya.

    Selain dibagikan secara langsung kepada individu, zakat juga disalurkan ke sejumlah lembaga sosial, seperti panti asuhan, yayasan, dan pondok pesantren.

    Toni berharap, zakat yang disalurkan dapat memberikan manfaat serta menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

    “Sesuai tujuannya, semoga zakat ini dapat membantu dan memberikan kebahagiaan bagi saudara-saudara kita dalam menyambut Hari Kemenangan,” pungkasnya. (Bgn)***

Wartapenasatu.com @2025