Gelora Jember Menggema ke Nusantara: MAKI Jatim Tegakkan Tonggak Besar Zero Bullying Demi Masa Depan Pendidikan Bermartabat
WARTAPENASATUJATIM | Jember, 15 November 2025 — Alun-Alun Kabupaten Jember pagi ini menjelma menjadi ruang penuh energi, harapan, dan persatuan. Ribuan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat memenuhi area sepanjang mata memandang, menyatukan suara dalam satu komitmen: menghapus perundungan dari dunia pendidikan. Deklarasi Akbar Anti-Bullying yang diprakarsai oleh MAKI Jatim (Masyarakat Anti Korupsi Indonesia) tidak hanya mencetak sejarah, tetapi juga mengukuhkan Jember sebagai kabupaten pertama di Jawa Timur yang berani mendeklarasikan diri menuju Zero Bullying.
Dipimpin langsung oleh Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis untuk membentuk lingkungan pendidikan yang aman, manusiawi, dan berkeadaban. Dukungan penuh hadir dari berbagai tokoh penting, di antaranya Ibu Ghyta Eka Puspita (Istri Bupati Jember), Kepala Dinas Pendidikan Jember Hadi Mulyono, serta perwakilan SCTV semuanya bersatu dalam misi mulia menyelamatkan generasi penerus bangsa dari tindak perundungan.
Lebih dari 8.245 pelajar dari PAUD hingga SMA/SMK memadati alun-alun, menjadikan momentum ini sebagai gelombang kesadaran terbesar yang pernah tercatat di Jember. Sorak semangat para peserta menjadi bukti bahwa generasi muda siap berdiri di garis depan memerangi segala bentuk intimidasi.
Dalam orasinya yang menggugah, Heru Satriyo menyulut antusiasme peserta:
“Hari ini kalian adalah pelopor dan pelapor bullying di Kabupaten Jember! Hari ini kita wujudkan Kabupaten Jember Zero Bullying! Tidak ada bullying di Kabupaten Jember!”
Sorakan dan tepuk tangan menggema, memantulkan semangat kolektif yang tak terbendung.
Sebagai langkah nyata, MAKI Jatim meluncurkan nomor pengaduan resmi bullying: 081337463972. Kanal cepat tanggap ini disiapkan untuk siswa, guru, dan masyarakat sehingga setiap laporan dapat ditindaklanjuti dengan sigap dan profesional. Terobosan ini menjadi bukti bahwa MAKI Jatim tak hanya menggugah hati, tetapi juga membangun sistem perlindungan yang konkret.
Sebelum deklarasi puncak dibacakan, ribuan peserta mendapatkan edukasi mendalam mengenai berbagai bentuk bullying: mulai dari kekerasan fisik, penghinaan verbal, penyingkiran sosial, hingga cyberbullying yang kerap menyasar pelajar di ruang digital. Edukasi ini membuka mata banyak pihak bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab moral untuk tampil sebagai penolong, pelapor, dan penjaga lingkungan sekolah.
Puncak acara pecah ketika seluruh peserta mengangkat tangan serempak membacakan lima poin Deklarasi Anti-Bullying, yaitu:
1. Menolak seluruh bentuk perundungan: fisik, verbal, maupun cyberbullying.
2. Menyebarkan energi positif dan mengajak lingkungan pendidikan menjauhi perilaku intimidatif.
3. Menghargai perbedaan dan memperkuat sikap peduli demi harmoni sosial.
4. Menjadi pelopor dan pelapor untuk menghentikan tindakan kekerasan dan ancaman.
5. Mewujudkan sekolah ramah anak sebagai pilar Generasi Emas 2045 yang berkarakter Pancasila.
Banyak pendidik merasa terinspirasi. Salah satunya Siti Yulaikah, Wakil Kepala Kesiswaan SMPN 2 Jember, yang menyampaikan apresiasinya:
“Acara ini sangat menginspirasi. Ini menjadi teladan bagi siswa-siswi agar masa tumbuh kembang mereka benar-benar aman, nyaman, manusiawi, dan bebas dari perundungan.”
Sebagai penanda komitmen bersama, ribuan orang kemudian menandatangani kain putih sepanjang 50 meter, simbol tekad kuat untuk menjaga dunia pendidikan dari kekerasan dalam bentuk apa pun. Kain itu kini menjadi saksi sejarah bahwa Jember telah mengambil langkah besar menuju perubahan.
Para peserta pulang membawa sertifikat, namun lebih dari itu, mereka membawa kesadaran baru bahwa transformasi hanya mungkin terjadi bila seluruh elemen masyarakat berdiri bersama.
Dengan kobaran semangat yang menyala dari Alun-Alun Jember hari ini, kabupaten ini resmi berdiri sebagai pelopor gerakan anti-bullying di Jawa Timur. Jember mengawali babak baru perjalanan menuju masa depan pendidikan yang lebih aman, beradab, dan bermartabat.
Jember siap! Zero Bullying!
MAKI Jatim Telisik Penggunaan APBD Sidoarjo Rp20 Miliar untuk SPPG MBG: Potensi Konflik Kepentingan Disorot
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 14 November 2025 — Alokasi dana Rp20 miliar dari APBD Kabupaten Sidoarjo untuk pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menimbulkan tanda tanya besar terkait transparansi dan tata kelola anggaran. Program yang merupakan mandat Pemerintah Pusat melalui Badan Gizi Nasional ini sejatinya ditujukan untuk memperkuat layanan gizi di sekolah afirmasi, kawasan pinggiran, serta wilayah dengan masalah gizi kronis. Namun, mekanisme bisnis berbasis profit yang melekat pada operasional SPPG justru membuka ruang potensi penyimpangan.
Berdasarkan perhitungan biaya teknis, satu unit SPPG dengan dapur dan peralatan lengkap membutuhkan anggaran Rp1,2 hingga Rp1,5 miliar. Dengan demikian, suntikan dana Rp20 miliar dari APBD Sidoarjo diperkirakan mampu membiayai pembangunan sedikitnya 13 hingga 14 unit SPPG. Setiap unit nantinya akan menerima pendapatan dari dua sumber: penggantian biaya penyediaan makanan MBG per siswa dan biaya sewa resmi yang dialokasikan oleh Pemerintah Pusat.
Skema pendanaan ganda inilah yang dinilai memerlukan perhatian khusus. Pasalnya, meski bersifat program publik, operasional SPPG membuka peluang profit bagi pihak pengelola. Pertanyaan mendasar pun muncul: siapa yang akan ditunjuk sebagai pengelola 13–14 SPPG tersebut, bagaimana mekanisme pembagian keuntungan, dan apakah ada potensi konflik kepentingan dalam proses penunjukannya?
Tanpa pengawasan yang memadai, ruang untuk praktik KKN, penyimpangan anggaran, hingga tumpang tindih kepentingan sangat mungkin terjadi. Apalagi jika keuntungan dari SPPG yang dibiayai dana publik justru mengalir ke kelompok tertentu atau tidak kembali kepada pemerintah daerah sebagaimana prinsip dasar pengelolaan keuangan negara.
Ketua MAKI Koorwil Jawa Timur, Heru, menegaskan bahwa lembaganya telah menyiapkan langkah investigasi awal. Tim Litbang dan investigasi MAKI Jatim resmi ditugaskan untuk menelaah secara mendalam struktur anggaran, proses perencanaan, serta potensi kerawanan dalam proyek pembangunan SPPG di Sidoarjo.
“Telaah terhadap Pemkab Sidoarjo akan menjadi entry point bagi MAKI Jatim untuk menelusuri kabupaten dan kota lain yang juga mengalokasikan APBD untuk pembangunan SPPG MBG. CATAT ITU,” tegas Heru.
MAKI Jatim menekankan bahwa program pemerintah yang memadukan tujuan sosial dan unsur profit, seperti SPPG MBG, harus memiliki standar transparansi yang jauh lebih ketat agar tidak menjadi celah praktik koruptif. Lembaga tersebut memastikan pemantauan akan terus dilakukan demi menjamin bahwa setiap rupiah APBD digunakan sesuai koridor akuntabilitas dan kepentingan publik.
Sport Center Rp16 Miliar Bojonegoro Disorot: Dugaan Abaikan K3, Pekerja Terancam Nyawa di Proyek Raksasa
WARTAPENASATUJATIM | BOJONEGORO — Proyek pembangunan Sport Center Bojonegoro yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp16,171 miliar dari APBD Tahun Anggaran 2025 kini menjadi sorotan publik. Bukan hanya karena nilainya yang besar, namun juga karena dugaan kelalaian terhadap aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang dinilai mengancam keselamatan para pekerja.
Di lapangan, sejumlah pekerja tampak melakukan aktivitas di ketinggian tanpa mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm proyek, rompi keselamatan, maupun tali pengaman. Kondisi tersebut dianggap bertentangan dengan UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta PP Nomor 50 Tahun 2012 mengenai Sistem Manajemen K3 (SMK3).
Proyek berskala besar ini dilaksanakan oleh PT Jaya Etika Tehnik (PT JET) sebagai penyedia jasa, dengan CV BSK bertindak sebagai konsultan pengawas. Berdasarkan kontrak pekerjaan Nomor 640/963/FL.BTB/412.205/2025 tertanggal 6 Agustus 2025, masa pengerjaan ditetapkan selama 135 hari kalender.
Hingga Oktober 2025, progres pembangunan baru mencapai 35 persen, dengan target selesai pada akhir Desember 2025. Namun di tengah upaya mengejar progres, muncul kekhawatiran mengenai dugaan lemahnya penerapan standar keselamatan kerja yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Lokasi proyek yang berada di sisi timur kawasan perkantoran DPRD Bojonegoro itu memiliki total luas 2.498,12 meter persegi, terdiri dari lantai 1 seluas 1.775,04 m² dan lantai tribun 723,08 m², dengan dukungan daya listrik 41.500 VA. Melihat spesifikasi dan skalanya, proyek ini dikategorikan investasi besar yang semestinya dibarengi dengan disiplin K3 yang ketat.
Namun sejumlah pihak menilai implementasi K3 di lapangan masih jauh dari ideal. Kritik juga muncul terhadap pengawasan di lokasi pekerjaan. Sejumlah pihak menilai pengawas lapangan perlu melakukan tindakan lebih tegas dalam memastikan pekerja mematuhi standar keselamatan sesuai regulasi yang berlaku.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal FSP-KSPI, Siswo Darsono, menyampaikan keprihatinannya atas lemahnya kepatuhan K3 di sejumlah proyek daerah.
“Keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya tanggung jawab perusahaan, tapi juga bagian dari perjuangan serikat pekerja,” tegas Siswo, Kamis (13/11/2025).
“K3 harus menjadi budaya. Bukan formalitas administratif.”
Ia juga menekankan pentingnya peran serikat pekerja dalam mengawasi penerapan SMK3 di setiap proyek, terutama yang menggunakan dana publik.
“K3 harus menjadi agenda utama. Dengan pemahaman dan kepatuhan yang baik, kita bisa memastikan pekerja pulang dengan selamat setiap hari,” ujarnya.
Situasi ini memunculkan kegelisahan masyarakat, mengingat proyek tersebut menggunakan dana APBD dalam jumlah besar. Publik mendesak pemerintah daerah agar tidak hanya fokus pada percepatan penyelesaian konstruksi, tetapi juga menjamin keselamatan seluruh tenaga kerja.
Dengan menguatnya dugaan pelanggaran K3, kini perhatian tertuju pada Pemkab Bojonegoro dan Dinas PKPCK. Keduanya didorong untuk segera melakukan evaluasi mendalam terhadap pelaksana proyek, konsultan pengawas, serta memastikan penerapan K3 sesuai regulasi.
Keselamatan kerja bukan sekadar persyaratan administratif di balik setiap proyek pembangunan, ada nyawa pekerja yang harus dilindungi.
Kelalaian sekecil apa pun dapat berubah menjadi tragedi yang tak termaafkan.Tim Lemdiklat Polri Kaji Implementasi Diktukba di SPN Polda Jatim
WARTAPENASATUJATIM | MOJOKERTO – Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Jawa Timur menerima kunjungan kerja dari Tim Pengkajian Gabungan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri, Kamis (13/11/2025).
Kunjungan ini difokuskan untuk melakukan evaluasi dan pengkajian mendalam terhadap pelaksanaan Pendidikan Pembentukan Bintara (Diktukba) Polri serta kontribusi hasil didik Tahun Anggaran 2025.
Tim pengkaji yang hadir terdiri dari Widyaiswara Madya Sespim Lemdiklat Polri, Brigjen Pol Budi Indra Darmawan, S.I.K., M.M.; Kabagjiandiklat Rojianbang Lemdiklat, Kombes Pol Satria Rizkiano, S.I.K., M.Si., M.M.; dan Kasubbagjiandikbangspes Bagjiandiklat Rojianbang Lemdiklat Polri, AKBP Juli Isnanywati, S.H.
Para pejabat di lingkungan Polri itu juga didampingi oleh peneliti kajian Diktukba, Dr. Sandi Budi Iriawan, M.Pd., dan peneliti hasil didik, Fauziah Roshafara, S.Stat. M.Stat.
Rombongan tim, yang sebelumnya melaksanakan pendalaman serupa di Polres Mojokerto Kota, tiba di SPN Polda Jatim dan disambut langsung oleh Kepala SPN Polda Jatim, Kombes Pol Agus Wibowo, S.I.K., beserta jajaran Pejabat Utama (PJU) dan perwakilan siswa Diktukba.
Dalam sambutannya, Kepala SPN Polda Jatim, Kombes Pol Agus Wibowo, S.I.K., menyambut hangat kedatangan tim pengkaji.
Ia menegaskan kesiapan SPN Polda Jatim untuk mendukung penuh proses evaluasi demi kemajuan institusi pendidikan Polri.
“Merupakan suatu kehormatan bagi SPN Polda Jatim menerima kunjungan Tim Pengkaji Gabungan Lemdiklat Polri. Kami sepenuhnya terbuka dan siap mendukung seluruh rangkaian kegiatan pengkajian ini,” ujar Kombes Pol Agus Wibowo.
Ia menambahkan, kegiatan ini sebagai bagian krusial dari continuous improvement (perbaikan berkelanjutan).
Masukan dan temuan dari tim akan menjadi acuan strategis bagi kami untuk memastikan proses pendidikan di SPN Polda Jatim selaras dengan standar mutu yang ditetapkan, demi melahirkan Bintara Polri yang profesional, presisi, dan siap melayani masyarakat.
Mewakili tim, Kombes Pol Satria Rizkiano menjelaskan maksud dan tujuan spesifik dari kunjungan tersebut.
Ia menekankan bahwa pengkajian ini bertujuan untuk memotret secara objektif implementasi kurikulum dan dampaknya terhadap kualitas lulusan.
“Terima kasih atas sambutan hangat dari Ka SPN dan jajaran. Kehadiran kami di sini adalah untuk melaksanakan mandat pimpinan Lemdiklat Polri, yakni mengkaji secara komprehensif implementasi Diktukba T.A. 2025,” jelas Kombes Pol Satria.
Menurut Kombes Pol Satria, fokus tim pengkajian adalah menganalisis efektivitas penerapan tujuh standar Diklat, mengukur indeks kualitas pendidik, serta melihat sejauh mana pemanfaatan teknologi digital dalam proses belajar mengajar.
Tim pengkajian juga ingin menangkap secara langsung indeks persepsi peserta didik dan kepuasan mereka terhadap penyelenggaraan pendidikan di SPN Polda Jatim ini.
“Data ini sangat vital untuk perumusan kebijakan pendidikan Polri ke depan,” kata Kombes Pol Satria.
Sesuai agenda, tim pengkaji segera melaksanakan serangkaian kegiatan metodologis.
Proses diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam yang dilaksanakan secara simultan namun terpisah dengan tiga kelompok responden yakni Pejabat Utama SPN, para Tenaga Pendidik (Gadik)/Gadikan dan Pengasuh, serta perwakilan Siswa Peserta Didik (Serdik).
Tidak berhenti di situ, tim melanjutkan studi dokumen secara teliti.
Berkas-berkas terkait implementasi tujuh standar Diklat, data engagement pendidik, dan pemanfaatan teknologi digital ditelaah secara mendalam.
Tim juga melaksanakan observasi langsung di lingkungan SPN untuk meninjau proses belajar mengajar di kelas dan fasilitas yang tersedia di SPN Polda Jatim, mulai dari barak, dapur, ruang makan hingga dojo atau tempat latihan beladiri Polri.
Kesalahan Ejaan Nama Diduga Pengaruhi Energi Tubuh Pasien Stroke di Nginden Surabaya
Surabaya, 11 November 2025 | MWPS Jatim —Kasus menarik datang dari wilayah Nginden II, Surabaya, di mana seorang perempuan bernama Dian Fitri Retnosari (42 tahun) kini menjalani masa pemulihan setelah terserang stroke selama dua bulan terakhir. Kondisi ini menjadi perhatian sejumlah pemerhati kesehatan alternatif, karena diyakini berkaitan dengan getaran energi nama yang keliru secara ejaan.
Menurut hasil penelusuran praktisi DetokRapith Totok Saraf Anatomy Surabaya, nama “Dian Fitri Retnosari” mengandung susunan huruf yang menimbulkan frekuensi tumpang tindih pada sistem saraf dan peredaran darah bagian kiri tubuh. Ejaan nama yang tampak sederhana tersebut ternyata menyimpan vibrasi berat dari huruf “R-T-N” yang secara simbolis menahan aliran energi vital di area kepala dan leher.
Akibatnya, pasien mengalami kelumpuhan sebagian serta kesulitan berbicara setelah sebelumnya sempat mengeluhkan sakit kepala dan kesemutan pada sisi kiri tubuh.
“Nama yang salah ejaan bisa mengubah getaran tubuh. Kadang beda satu huruf saja bisa memicu arah energi tubuh jadi berlawanan. Dalam kasus ini, huruf-huruf keras seperti ‘T’ dan ‘N’ muncul berulang kali, menyebabkan tekanan energi di otak bagian belakang,” ungkap seorang terapis dari tim DetokRapith Totok Saraf Anatomy Surabaya, yang menangani pasien secara home care.
Diketahui, pasien sempat aktif sebagai ibu rumah tangga dan belum pernah memiliki riwayat hipertensi berat sebelumnya. Namun, dalam dua bulan terakhir, kondisi tubuhnya terus menurun hingga akhirnya didiagnosis mengalami stroke non-hemoragik.
Penelusuran Life DETOX and Luck Hacks yang dilakukan oleh praktisi menunjukkan bahwa energi nama pasien hanya mencapai 42 persen, di mana keseimbangan antara kepala dan jantung terganggu akibat beban emosi lama yang tidak terlepaskan. Koreksi nama disarankan agar sistem energi tubuh dapat pulih secara bertahap melalui terapi saraf dan pernapasan sadar.
Kasus ini membuka mata banyak pihak bahwa nama bukan sekadar identitas, melainkan juga frekuensi hidup yang dapat memengaruhi kesehatan dan keseimbangan energi seseorang. Para ahli terapi di Surabaya mengingatkan pentingnya memastikan ejaan nama sesuai dengan getaran positif, terutama bagi pasien dengan riwayat stres atau penyakit saraf.(Dodo)
Home Care DetokRapith Totok Saraf Anatomy Tangani Pasien Gagal Ginjal dan HNP T12 di Surabaya
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 10 November 2025 — Tim DetokRapith Totok Saraf Anatomy Surabaya kembali melakukan layanan home care terapi panggilan untuk pasien penderita gagal ginjal yang kini juga mengalami HNP torakal 12 (saraf terjepit di punggung bawah). Kondisi pasien dilaporkan tidak dapat berjalan dan memerlukan pendampingan intensif di rumah.
Terapi dilakukan langsung oleh Terapis Rijendanel, yang dikenal berpengalaman dalam penanganan saraf anatomi dan gangguan sistem gerak tubuh. Pasien mendapatkan terapi di rumah dengan metode detoks saraf lembut yang menyesuaikan kondisi organ vital, terutama karena pasien tengah menjalani hemodialisis dua kali seminggu.
Menurut Rijendanel, benjolan keras di area pinggang kanan pasien bukan sekadar masalah otot biasa. “Pada penderita gagal ginjal yang juga mengalami HNP torakal, otot sekitar tulang panggul sering mengeras akibat kompensasi saraf yang terjepit. Penanganannya tidak boleh asal ditekan atau dipijat kuat,” ujarnya.
Program home care DetokRapith kini aktif menjangkau wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, membantu pasien yang sulit datang ke klinik karena keterbatasan mobilitas. Terapi dilakukan langsung di rumah pasien dengan observasi anatomi menyeluruh, difokuskan pada pelemasan saraf, stabilisasi tulang punggung, dan detoks energi tubuh.
Pendekatan ini dinilai efektif karena mempertimbangkan hubungan antara kondisi saraf, ginjal, dan sistem peredaran darah, yang kerap saling memengaruhi pada pasien kronis.
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang edukasi dan layanan DetokRapith Totok Saraf Anatomy, tim MWPS Jatim mencatat bahwa tempat terapi ini berlokasi di Jl. Bangkingan IX Blok XI No. 38, Surabaya, dan melayani setiap hari pukul 10.00–19.00 WIB.(Dodo)
Totok Saraf Anatomi DetokRapit Surabaya Pulihkan Nyeri Pinggang dan Lutut Ibu 64 Tahun Setelah Bertahun-Tahun Suntik dan Terapi Gagal
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, November 2025,
Perjalanan panjang penyembuhan kadang tidak semudah yang dibayangkan. Itulah yang dialami Ibu Nuruliyah (64), warga Situbondo, yang selama bertahun-tahun berjuang melawan nyeri pinggang dan lutut kanan akibat pengapuran dan gangguan saraf tulang belakang. Meski telah menjalani berbagai terapi dan suntikan di beberapa tempat, keluhannya tak kunjung hilang — hingga akhirnya ia mencoba terapi totok saraf anatomi di Surabaya pada Sabtu sore, 8 November 2025.Menurut penuturan keluarganya, Ibu Nuruliyah sudah beberapa kali menjalani perawatan medis konvensional, mulai dari obat anti nyeri, fisioterapi, hingga suntikan pelumas sendi. Namun, efeknya hanya sementara. Rasa nyeri di punggung bawah sering kambuh, terutama saat berdiri lama atau saat hendak bangun dari duduk. Lutut kanannya pun terasa kaku dan sulit diluruskan.
Kondisi tersebut membuat aktivitas sehari-harinya terganggu. Jalan kaki hanya sebentar sudah terasa berat, dan tidur pun tidak nyenyak karena nyeri menusuk di punggung bawah. “Sudah ke mana-mana, disuntik pun cuma reda sebentar, nanti kambuh lagi,” ujarnya lirih saat ditemui tim MWPS di ruang terapi Totok Saraf Anatomi DetokRapit Lifehacker Surabaya, sebuah pusat terapi yang berlokasi di kawasan Bangkingan IX blok xi no 38, Surabaya Barat, yang dikenal menangani kasus saraf kejepit, nyeri lutut, dan kelumpuhan pasca stroke.
Terapis Rijendanel, yang menangani langsung kasus ini, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya pengapuran sendi lutut kanan dan spondilosis lumbal — kondisi penyempitan tulang belakang bagian bawah yang menekan saraf ke tungkai. Ia menuturkan bahwa kasus semacam ini sering dialami oleh pasien usia lanjut yang sudah lama mengandalkan obat atau suntikan pereda nyeri.
“Kalau jalur sarafnya masih tertutup, terapi apapun hasilnya hanya sementara. Maka yang kami lakukan adalah membuka blok sarafnya dulu, baru tubuh bisa memulihkan diri dengan alami,” terang Rijendanel, yang juga dikenal dengan pendekatan Life DETOX & Luck Hacks, sistem penyembuhan berbasis anatomi, saraf, dan energi tubuh.
Proses terapi dilakukan secara bertahap, dimulai dari pelemasan otot-otot lumbar, pembukaan sirkulasi darah di area punggung bawah, hingga penyeimbangan jalur saraf antara tulang belakang dan lutut. Meski baru satu kali terapi, Ibu Nuruliyah mulai merasakan perubahan yang cukup nyata. “Pinggang saya rasanya lebih enteng, lutut juga sudah enggak terlalu nyeri,” katanya sambil tersenyum.
Di sela sesi terapi, Rijendanel menegaskan bahwa penyembuhan alami membutuhkan waktu dan kedisiplinan pasien. Ia juga menyarankan agar pasien menjaga postur tubuh, tidak sering jongkok, dan memperbanyak peregangan ringan di rumah. “Terapi itu bukan hanya tentang pijatan, tapi tentang bagaimana kita bantu tubuh mengenali kembali fungsinya,” ujarnya.
Menariknya, metode yang digunakan di tempat tersebut bukan hanya menitikberatkan pada perbaikan fisik, tetapi juga sinkronisasi energi tubuh agar keseimbangan saraf dan hormon dapat kembali stabil. Pendekatan inilah yang kini banyak menarik pasien-pasien usia lanjut dari luar kota, termasuk Situbondo, Gresik, dan Sidoarjo.
Kini, setelah bertahun-tahun mencari kesembuhan ke berbagai tempat, Ibu Nuruliyah akhirnya bisa kembali bergerak dengan lebih ringan. Ia berharap hasil terapi ini menjadi awal pemulihan totalnya. “Saya baru pertama ke sini, tapi rasanya beda. Badan lebih hangat, nyerinya berkurang, dan saya bisa tidur nyenyak malam ini,” tuturnya penuh harap.(Dodo)
Totok Saraf Anatomi Bantu Pasien Kembali Berjalan Normal Usai Saraf Kejepit
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 6 November 2025, Seorang pria berusia 52 tahun, Pak Hadi, warga Taman Sepanjang, Sidoarjo, akhirnya bisa kembali berjalan normal setelah menjalani terapi totok saraf anatomi di DetokRapit Totok Saraf Anatomi Surabaya.
Sebelumnya, ia mengalami saraf kejepit di pinggang selama hampir enam bulan hingga membuat kakinya sering kesemutan dan sulit menapak.
“Awalnya cuma pegal biasa di pinggang, tapi makin lama kaki kanan saya mati rasa. Mau berdiri saja rasanya seperti ditarik dari belakang,” ujar Pak Hadi saat ditemui usai terapi, Selasa (5/11). Ia mengaku sudah menjalani pengobatan medis dan konsumsi obat pereda nyeri, tapi hasilnya tidak signifikan.
Menurut Rijendanel, terapis utama DetokRapit, kondisi Pak Hadi disebabkan oleh penekanan saraf L4–L5 di tulang belakang bagian bawah, yang menyebabkan aliran darah ke kaki terganggu. “Kasus seperti ini bukan sekadar pegal, tapi sumbatan saraf serius. Kalau tidak segera dibuka, bisa berisiko kelumpuhan,” jelasnya.
Proses terapi dilakukan dengan metode Totok Saraf Anatomi Spinal, yaitu kombinasi antara tekanan presisi di titik saraf dan pembukaan jalur darah dari punggung bawah hingga telapak kaki.
Teknik ini bertujuan untuk melepaskan penjepitan dan mengembalikan komunikasi antara otak dan saraf perifer.
Selama terapi berlangsung, Pak Hadi sempat merasa hangat menjalar ke paha dan betis. Lima belas menit kemudian, sensasi kesemutan di kaki mulai berkurang. Setelah sesi pertama selesai, ia sudah mampu berdiri tanpa rasa nyeri menusuk di pinggang.
“Rasanya kayak kaki saya hidup lagi,” ujarnya dengan wajah lega.
Rijendanel menegaskan bahwa totok saraf anatomi bukan pijat biasa. Terapi ini berbasis ilmu anatomi tubuh dan sistem saraf yang terhubung ke seluruh organ vital. “Kami tidak hanya memijat, tapi membaca pola saraf pasien, lalu mengembalikan sirkulasi darah dan energi tubuh secara alami,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan, saraf kejepit sering muncul karena duduk terlalu lama, postur salah, stres berat, dan kurang olahraga peregangan. “Kalau dibiarkan, bisa menjalar ke organ vital seperti ginjal, prostat, atau sistem reproduksi,” katanya.
Kini, setelah dua kali terapi, Pak Hadi sudah bisa berjalan tanpa tongkat dan mulai kembali beraktivitas ringan di rumah. Ia berencana melanjutkan sesi ketiga minggu depan untuk pemulihan total.
“Saya baru tahu kalau jalur saraf bisa diperbaiki lewat totok anatomi. Tidak perlu operasi, yang penting sabar dan rutin,” ucapnya.
DetokRapit Totok Saraf Anatomi Surabaya, berlokasi di Jl. Bangkingan IX Blok XI No. 38, Surabaya, menerima pasien dengan berbagai keluhan saraf, seperti kesemutan, saraf kejepit, migren, hingga pasca stroke. Klinik ini buka setiap hari pukul 10.00–19.00 WIB dan dapat dihubungi melalui WhatsApp wa.me/6285180980474.
Bagi Rijendanel dan timnya, setiap terapi bukan sekadar menyembuhkan tubuh, tapi mengembalikan keyakinan pasien untuk hidup normal lagi.
“Saraf yang sehat adalah pintu awal untuk tubuh yang kuat,” tutupnya.(Dodo)
Terapi MWPS: Solusi Nyeri Kepala, Wajah Tegang, dan Saraf Kaku
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 6 November 2025 Siang itu, suasana ruang terapi di DetokRapit Totok Saraf Anatomi Surabaya terasa tenang. Aroma minyak terapi berpadu dengan denting halus alat stimulasi saraf. Di salah satu kursi pasien, tampak seorang pria berusia 46 tahun duduk sambil memegangi tengkuknya. Dialah Pak Agung, warga Perumahan Delta Sari, Sidoarjo, yang datang dengan keluhan klasik MWPS, singkatan dari Migren, Wajah, Pundak, dan Saraf.
Sudah lebih dari sebulan Pak Agung merasakan pusing berdenyut di sisi kiri kepala, pundak berat, dan wajah sering terasa kaku
“Kalau malam, nyut-nyutan sampai ke mata. Pundak kanan juga rasanya seperti ditindih batu.
”ujarnya. Ia sudah sempat ke klinik umum dan mengonsumsi obat pereda nyeri, namun hasilnya hanya sementara.
Menurut Rijendanel, terapis utama di DetokRapit, kondisi Pak Agung termasuk kategori MWPS kronis — kombinasi gangguan sirkulasi darah, ketegangan otot servikal, dan stres saraf jangka panjang. “Saraf leher bagian atas (C2–C4) punya hubungan langsung dengan wajah dan otak. Kalau jalurnya tersumbat, efeknya bisa ke migren, wajah kaku, bahkan kesemutan di tangan,” jelasnya.

Saat pemeriksaan anatomi dilakukan, ditemukan ketegangan ekstrem di otot trapezius dan levator scapula. Dengan teknik Totok Spinal Release, Rijendanel membuka jalur saraf menggunakan tekanan bertahap. Titik-titik vital di sekitar leher, bahu, dan pangkal kepala disentuh perlahan, sambil menjaga ritme napas pasien agar tetap stabil. Menit ke-10 terapi, Pak Agung mulai merasakan sensasi hangat menjalar ke kepala. Otot yang tadinya kaku mulai melunak. Setelah 25 menit, warna wajahnya kembali segar. “Tadi rasanya kayak kepala saya dibuka sumbatnya,” ucapnya lega sambil memutar leher kanan-kiri tanpa nyeri.
Rijendanel menjelaskan bahwa terapi MWPS bukan sekadar pijatan, tapi penyelarasan sistem saraf, peredaran darah, dan energi tubuh bagian atas. Banyak pasien, katanya, tidak sadar kalau keluhan migren dan pundak berat sebenarnya berasal dari leher yang “macet” secara anatomi dan bioenergi.
“Kalau dibiarkan, bisa berlanjut jadi vertigo, kesemutan kronis, bahkan stroke ringan,” tambahnya. Oleh karena itu, terapi MWPS juga sekaligus berfungsi sebagai detoks saraf stres — membuang sumbatan energi akibat tekanan pikiran.
Usai terapi, Pak Agung tampak lebih tenang. Ia diminta menjaga postur saat bekerja di depan komputer dan melakukan peregangan ringan setiap dua jam. “Saya baru sadar, ternyata stres dan posisi duduk bisa separah ini efeknya ke saraf,” katanya sebelum pulang.
Kini, DetokRapit Totok Saraf Anatomi Surabaya menjadikan MWPS sebagai salah satu program unggulan. Banyak pasien dari Sidoarjo, Gresik, hingga Jombang datang untuk penanganan serupa. Klinik ini beralamat di Jl. Bangkingan IX Blok XI No. 38, Surabaya, buka setiap hari pukul 10.00–19.00 WIB, dan dapat dihubungi melalui WhatsApp wa.me//6285180980474.
Tubuh manusia selalu jujur. Rasa sakit hanyalah pesan bahwa ada jalur yang tersumbat. Dan lewat tangan-tangan terlatih, pesan itu diterjemahkan menjadi pemulihan satu tekanan lembut, satu napas lega, satu kehidupan yang kembali lancar.(Dodo)
Kehilangan Sosok Istri Tercinta Kholifatus Shiddiqiyyah
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dengan hati yang berduka mendalam, kami menyampaikan kabar duka atas berpulangnya ke Rahmatullah, Ibu Dra. Ec. Indrarini DG, MM, istri tercinta dari Kholifatus Shiddiqiyyah, Bapak Dasaad Gustaman, SH. Beliau menghembuskan napas terakhirnya pada hari Minggu tanggal 26 Oktober 2025 di Surabaya, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar, kerabat, dan seluruh murid Kholifatus Shiddiqiyyah. Kepergian sosok yang dikenal sebagai pendamping setia ini merupakan kehilangan besar bagi komunitas.
Almarhumah Ibu Indrarini DG, MM dikenal sebagai sosok yang teduh, santun, dan penuh kasih. Sebagai seorang istri dari Kholifatus Shiddiqiyyah, beliau senantiasa mendampingi dengan penuh kesabaran dan ketulusan, memberikan dukungan moral dan spiritual dalam setiap langkah perjuangan Bapak Dasaad Gustaman, SH. Kehadiran beliau selalu menjadi penyejuk dan sumber kekuatan bagi keluarga.
Sebagai wujud penghormatan dan cinta kasih yang mendalam, seluruh murid-murid Kholifatus Shiddiqiyyah tumpah ruah hadir dalam prosesi persemayaman dan penghormatan terakhir terhadap almarhumah. Suasana duka menyelimuti, namun diwarnai oleh lantunan doa yang mengiringi jenazah, menunjukkan betapa besar rasa hormat dan bakti para murid kepada sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual mereka.
Semasa hidupnya, almarhumah juga dikenal aktif dalam mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan dan sosial yang digagas oleh Kholifatus Shiddiqiyyah. Beliau menunjukkan dedikasi yang luar biasa, baik dalam urusan rumah tangga maupun dalam melayani kebutuhan komunitas, menjadikannya teladan dalam kesederhanaan dan keikhlasan.
Seluruh hadirin, kerabat, dan para murid memanjatkan doa terbaik bagi almarhumah. Semoga segala amal ibadah, pengabdian, dan kebaikan yang telah beliau lakukan semasa hidupnya diakui oleh Allah SWT sebagai amalan Sholihah yang diterima di sisi-Nya, dan beliau ditempatkan di tempat terbaik di Jannah-Nya.
Duka ini tentu meninggalkan lubang yang dalam bagi Bapak Dasaad Gustaman, SH dan seluruh keluarga yang ditinggalkan. Doa dan harapan tak henti dipanjatkan agar Kholifatus Shiddiqiyyah dan keluarga besar diberikan ketabahan, kesabaran, serta kekuatan iman untuk menghadapi cobaan berat ini, sebagaimana janji Allah bahwa setiap kesulitan pasti akan diiringi dengan kemudahan.
Akhir kata, atas nama keluarga besar dan seluruh murid Kholifatus Shiddiqiyyah, kami mengucapkan terima kasih atas segala ucapan belasungkawa, doa, dan dukungan yang telah diberikan. Selamat jalan Ibu Dra. Ec. Indrarini DG, MM. Semoga Allah merahmatimu dan mengumpulkanmu bersama orang-orang yang beriman.Al-Fatihah.













