Seni dan Budaya
- Artikel, Bisnis, Daerah, Ekonomi, Keamanan, Kesehatan, Nasional, nelayan, Opini, Pendidikan, perkebunan, Pertahanan, pertanian, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL, Tumbuhan, Uncategorized, Wisata
DARI DESA TERTINGGAL MENJADI DESA MANDIRI

Jawa Barat wartapenasatu.comFestival Cikondang Nanjeur: Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Wujudkan Desa Mandiri, Sejahtera, dan Berbudaya
Pangalengan, Kabupaten Bandung – Kampung Adat Cikondang menjadi pusat perhatian masyarakat Jawa Barat dengan digelarnya Festival Kampung Adat Cikondang (Cikondang Nanjeur Uleman) pada 8–9 November 2025. Kegiatan ini tidak hanya menampilkan kekayaan budaya Sunda, tetapi juga menjadi momentum penting dalam upaya pengentasan desa tertinggal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui peluncuran program strategis nasional.
Festival dibuka pada Sabtu (8/11) dengan kegiatan Bhakti Sosial yang meliputi pembagian beras murah dan pengobatan gratis bagi warga. Program ini disambut antusias masyarakat sekitar, karena dinilai langsung menyentuh kebutuhan dasar mereka. Kegiatan sosial tersebut menjadi bentuk nyata semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang masih kuat di tengah masyarakat adat Sunda.
Puncak acara berlangsung pada Minggu (9/11), ditandai dengan Launching Sakola Budaya Sunda dan Peresmian Lumbung Kesejahteraan Rakyat Desa. Kedua program tersebut menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun kemandirian ekonomi serta melestarikan budaya lokal. Festival juga menampilkan beragam kesenian tradisional seperti Beluk, Wawacan, dan Trawangsa yang memperkaya suasana dan menunjukkan kekayaan seni warisan leluhur.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula pendataan dan penandatanganan prasasti Lumbung Kesejahteraan Rakyat oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) H. Yandri Susanto, S.Pt., M.Pd., bersama Ketua Umum Yayasan Lumbung Kesejahteraan Rakyat (LKR) Ibu Indri Wolff. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam menjadikan Desa Cikondang sebagai percontohan pembangunan desa tertinggal berbasis ketahanan pangan dan kearifan budaya lokal.
Acara tersebut turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Bupati Bandung Dadang Supriatna, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Ketua PT LUBKITA Stanley Wolff, Ketua Apdesi A. Anwar Sadat, serta Tuan Rumah Fery Radiansyah. Kehadiran para pejabat dan tokoh ini menjadi bukti sinergi lintas sektor dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat desa dan pelestarian budaya.
Sebagai bentuk kepedulian sosial, Yayasan Lumbung Kesejahteraan Rakyat bersama PT LUBKITA memberikan bantuan simbolis berupa 1.000 karung beras ukuran 5 kilogram untuk warga Cikondang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat sekaligus memperkuat nilai kebersamaan dan solidaritas sosial.
Dalam sambutannya, Menteri Desa PDTT Yandri Susanto menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat Cikondang yang tetap menjaga warisan budaya sambil berinovasi dalam pembangunan ekonomi. “Desa adat seperti Cikondang ini harus menjadi contoh bahwa kemandirian dan kesejahteraan bisa tumbuh dari akar budaya sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Fery Radiansyah selaku penggagas kegiatan menegaskan bahwa Festival Cikondang Nanjeur bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga langkah konkret menuju kemandirian ekonomi berbasis lokal. “Cikondang bukan sekadar menjaga tradisi, tapi menjemput masa depan dengan kearifan lokal,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap semangat Cikondang Nanjeur dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia untuk terus maju tanpa kehilangan identitas budayanya.
BY:NokSrie
Heru Satriyo dan 10 November: Dua Api yang Tak Pernah Padam
WARTAPENASATUJATIM | Surabaya – Tiga frasa dalam judul di atas bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah paradoks yang menggelitik nurani, memantik tafsir, dan menautkan makna antara sejarah, usia, serta rasa syukur yang membuncah.
Tiga kisah dalam satu napas perjuangan: Hari Pahlawan, Berkah 52 Tahun, dan Sosok yang meneladani semangat kepahlawanan itu sendiri.
Tanggal 10 November selalu menjadi penanda suci bagi bangsa Indonesia. Hari di mana teriakan “Merdeka atau Mati!” menggema, dan pekik takbir “Allahu Akbar!” mengguncang langit Surabaya.
Dari bambu runcing, darah, dan doa, lahirlah kisah heroisme yang abadi dalam perjalanan Republik tercinta. Hari itu bukan hanya milik sejarah tetapi milik hati setiap insan yang masih menyimpan bara semangat juang.
Namun bagi Heru Satriyo, tanggal itu memiliki makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya mengenang para pahlawan, tetapi juga mensyukuri anugerah kehidupan karena pada 10 November 52 tahun silam, seorang bayi lahir dari rahim Almarhumah Soekantinah dan tangis haru Almarhum Mas Ngabehi Bambang Susilo. Bayi itu diberi nama Heru, bermakna Hero sang Pahlawan, dan Satriyo, simbol kesatria yang teguh memegang nilai kebenaran.
Kini, waktu telah menorehkan garis-garis kehidupan di wajahnya, tapi semangat itu tak pernah pudar. Heru MAKI, demikian ia dikenal, memimpin Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur dan Indonesia Timur.
Tegap dalam langkah, teguh dalam prinsip, dan tulus dalam pengabdian baik sebagai pemimpin, Suami bagi Ibu Dwi Yulis, ayah dari enam anak, maupun kakek dari empat cucu yang menjadi sumber inspirasinya.
Di balik kesibukan menegakkan integritas dan memberdayakan masyarakat, Heru Satriyo tak pernah berhenti belajar dan berbagi. Ia adalah sosok yang tak letih mengejar “Matahari” simbol semangat tanpa henti, api yang tak padam oleh waktu.
Kami, dari insan media dan rekan seperjuangan, hanya mampu merangkai kata penuh syukur dan bangga. Kami telah belajar dari keteladanan beliau: tentang arti kejujuran, kesetiaan, dan perjuangan yang tidak menuntut pamrih.
Di hari istimewa ini, kami haturkan doa tulus:
Selamat Ulang Tahun ke-52, Ketua Heru Satriyo, S.Ip
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, kebijaksanaan, dan umur yang penuh berkah.
Semoga semangat juang tak pernah redup terus haus akan ilmu, kebaikan, dan pengabdian.
Semoga langkahmu selalu terarah untuk menegakkan keadilan, menebar manfaat, dan menuntun kami menjadi bagian dari perjuangan suci melawan korupsi.
Dan semoga setiap detik kehidupanmu menjadi saksi bahwa semangat pahlawan tak hanya lahir di medan perang, tetapi juga di hati mereka yang terus berjuang menegakkan kebenaran.
Selamat Hari Pahlawan. Selamat Ulang Tahun ke-52, Heru Satriyo Sang Pahlawan dalam Zaman yang Berbeda.*** (Bgn)
- Artikel, Keamanan, Kesehatan, mancanegara, Nasional, Opini, Pendidikan, Pertahanan, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL
Bersama LUBKITA Festival Kampung Adat Cikondang 2025
Jawa Barat wartapenasatu.com
Bersama LUBKITA Festival Kampung Adat Cikondang 2025, Wujud Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan Rakyat

Cikondang Nanjeur, Uleman Budaya Sunda Bangkit di Tanah Adat
Bandung, 8–9 November 2025 —
Kampung Adat Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, kembali menjadi pusat perhatian dengan digelarnya Festival Kampung Adat Cikondang (Cikondang Nanjeur Uleman). Kegiatan ini menjadi ajang besar yang memadukan nilai budaya, sosial, dan ekonomi rakyat dalam satu rangkaian acara yang meriah.Festival ini dibuka pada Sabtu (8/11) dengan kegiatan Bhakti Sosial, Beras Murah, dan Pengobatan Gratis bagi masyarakat sekitar.
Kegiatan sosial tersebut menjadi wujud nyata kepedulian terhadap warga desa, sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi ruh masyarakat adat Sunda.
Puncak acara berlangsung pada Minggu (9/11) dengan menghadirkan berbagai kegiatan budaya seperti Kesenian Beluk, Wawacan, dan Trawangsa. Kehadiran kesenian tradisional ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol pelestarian budaya leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Acara dibuka dengan sambutan dari Tuan Rumah Fery Radiansyah, diikuti oleh berbagai tokoh penting seperti Ketua PT LUBKITA Stanley Wolff , Ketua Apdesi A. Anwar Sadat,Ketua Umum Yayasan Lumbung Kesejahteraan Rakyat (LKR) Ibu Indri Bupati Bandung Dadang Supriatna, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Menteri Desa dan PDTT Yandri Susanto. Kehadiran para pejabat ini mempertegas dukungan pemerintah terhadap pengembangan desa adat dan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Dalam rangkaian acara tersebut juga dilakukan Launching Sakola Budaya Sunda sebagai pusat pendidikan dan pelatihan kebudayaan lokal. Selain itu, diresmikan pula Lumbung Kesejahteraan Rakyat, program pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan desa yang mandiri dan berbudaya.
Menurut Fery Radiansyah selaku penggagas kegiatan, festival ini menjadi momentum untuk mengangkat kembali nilai-nilai adat Sunda sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa. “Cikondang bukan hanya tentang menjaga tradisi, tapi juga tentang menjemput masa depan dengan kearifan lokal,” ujarnya.
Dengan konsep yang memadukan kebudayaan, sosial, dan ekonomi rakyat, Festival Kampung Adat Cikondang menjadi simbol kebangkitan budaya Sunda yang tetap lestari di tengah arus modernisasi. Semangat Cikondang Nanjeur diharapkan mampu menginspirasi desa-desa adat lainnya untuk terus menjaga jati diri bangsa.
Sebagai simbolis bansos beras untuk warga Cikodong ,Bandung jawa barat Bapak Stanley wolff dan Ibu Indri wolff memberikan bantuan beras kepada warga yang akan di distribusikan hari ini 200 karung dengan ukuran 5 kg
BY: NOKSRIE
Kapolres Toba Buka Lomba Dance Kontemporer: Sinergi Polri dan Pelestarian Seni
Kapolres Toba Buka Lomba Dance Kontemporer: Sinergi Polri dan Pelestarian Seni
Toba, wartapenasatu.com – Kapolres Toba, AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga, S.I.K., secara resmi membuka perlombaan Dance Kontemporer di Sopo Parsaoran Nauli, Tambunan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, pada Kamis, 6 November 2025. Acara ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara Polres Toba dan Pemerintah Kabupaten Toba dalam memperingati Hari Pahlawan 2025, sekaligus upaya melestarikan seni tari di tengah perkembangan zaman.

Perlombaan yang berlangsung selama tiga hari, mulai dari 6 hingga 8 November 2025, ini diikuti oleh 37 peserta dari berbagai kategori, mulai dari pelajar tingkat SD, SLTP, SLTA, SMK, hingga kategori umum. Para peserta diberi kesempatan untuk menampilkan kreativitas seni gerak tari mereka di hadapan dewan juri yang terdiri dari Peri Sagala, Togi Hutagaol, Magdalena Tambunan, dan Rio Ave Sitompul.
Suasana meriah dan penuh semangat menyelimuti Sopo Parsaoran Nauli saat babak penyisihan berlangsung. Setiap tim tampil dengan koreografi yang dinamis, kostum yang memikat, serta energi yang membara, sukses menciptakan atmosfer spektakuler yang memukau para penonton. Riuh tepuk tangan dan sorakan membahana setiap kali tim peserta menyelesaikan aksi mereka di atas panggung, menambah semarak acara tersebut.
Bupati Toba, Effendi Napitupulu, yang diwakili oleh Asisten I Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat, Eston Sihotang, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Polres Toba dalam menggelar lomba tari kontemporer ini. Ia menekankan bahwa kegiatan ini adalah cara efektif untuk melestarikan budaya seiring dengan modernisasi. Selain itu, ia berharap kegiatan ini dapat menginspirasi kolaborasi lebih lanjut antara pemerintah daerah dan Polres Toba dalam bidang olahraga dan seni.
Kapolres Toba, AKBP V.J. Parapaga, S.I.K., juga menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya atas partisipasi masyarakat serta dukungan dari berbagai pihak. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya sekadar memperingati Hari Pahlawan, tetapi juga sebagai momentum untuk mempererat kebersamaan seluruh elemen bangsa dalam menjaga keamanan dan ketertiban.
Lebih lanjut, Kapolres Toba menjelaskan bahwa konsep perlombaan ini dirancang dengan memasukkan unsur-unsur pesan Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) dan visualisasi pahlawan super (superhero). Hal ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada para peserta mengenai pentingnya tertib berlalu lintas dan menjauhi segala bentuk kriminalitas.
Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat lahir bibit-bibit unggul di bidang seni tari yang mampu membawa nama baik Kabupaten Toba di kancah yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengembangkan kreativitas dan mencintai seni budaya bangsa.
Lembaga Kesultanan Bangkalan Menilai Penganugerahan Gelar untuk Bupati Bangkalan dan Wakilnya Hanya Sebuah Lelucon: “Darah Leluhur Tak Bisa Dibeli”
WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan – Penganugerahan Gelar Kehormatan kepada Bupati Bangkalan Lukman Hakim dan wakilnya Moh. Fauzan Ja’far beberapa pekan lalu, muncul kritikan pedas dari lembaga resmi pemangku Kesultanan Kraton Bangkalan. Pemberian gelar tersebut dinilai mencederai pranata adat dan nilai sejarah leluhur.
Salah satu tokoh Keturunan dan Pemangku Kesultanan di Bangkalan menyebut bahwa gelar yang diberikan itu tidak memiliki dasar silsilah dan diduga menyalahi tatanan dinasti Keraton Madura.
“Darah leluhur tidak bisa dibeli. Gelar kebangsawanan itu hanya untuk mereka yang memiliki trah kerajaan. Ini hanya con-locon (lelucon),” tegasnya saat ditemui di kediamannya. Selasa (28/10)
Sebagai lembaga resmi pemangku Kesultanan ia menjelaskan bahwa Keraton Bangkalan resmi dibubarkan oleh pemerintah Belanda pada 22 Agustus 1885. Sehingga, sistem monarki atau kerajaan dan pemberian gelar kebangsawanan tidak lagi berlaku.
“Kalau sudah bubar, lalu atas dasar apa gelar kebangsawanan bisa muncul lagi? Siapa yang berwenang? Ini jelas sudah menabrak pranata adat dan trah kebangsawanan,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menyebut adanya dugaan bahwa gelar tersebut diperoleh melalui transaksi.
“Saya mendapat informasi gelar itu beli. Entah siapa makelarnya,” ujarnya.
Sementara itu Bupati Lukman menyebut gelar tersebut adalah sebagai bentuk komitmen menjaga Adat dan Budaya.
“Alhamdulillah, gelar kehormatan ini saya terima bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi sebagai bentuk komitmen kita bersama menjaga adat-budaya, persaudaraan, dan kemajuan Bangkalan,” ujar Lukman.
Namun pernyataan itu justru dianggap kontradiktif oleh para pemangku Kesultanan karena dinilai mengabaikan akar sejarah.
“Bangkalan bukan panggung sandiwara adat. Kalau bicara budaya, pahami sejarahnya. Darah leluhur tak bisa dibeli,” pungkasnya.
Keprihatinan mendalam juga disuarakan oleh kalangan keluarga Dinasti Cakraningrat Sembilangan terkait proses penganugerahan itu. Pemberian gelar tersebut dianggap sinyal darurat yang harus ditanggapi sangat serius.
Sebagai Pengurus Hukum Adat Dinasti Madura, menegaskan bahwa sorotan ini muncul bukan tanpa alasan, melainkan karena proses tersebut dinilai sudah melabrak sejumlah pranata adat Keraton Madura Barat yang kokoh.
“Saya harus menekankan, gelar dalam pandangan tradisi Madura sejati bukanlah sekadar tempelan atau pelengkap nama yang bisa diberikan sembarangan. Ia adalah lambang sakral, cerminan dari tanggung jawab moral dan sosial yang seyogianya diwariskan atau diberikan berdasarkan kaidah leluhur yang tidak boleh diganggu gugat,” ujar beliau dengan nada tegas. (Kamis, 7/11)
Atas kejadian tersebut, amat disayangkan adanya pihak yang terlalu terburu-buru dalam memberikan penilaian dan mengusulkan penganugerahan gelar.
Ini menunjukkan adanya kerentanan dalam memahami makna historis dan nilai spiritual dari gelar tersebut.
“Keprihatinan utama kami adalah, apakah proses ini sudah benar-benar berfokus pada penelusuran silsilah yang akurat serta penilaian terhadap kontribusi nyata yang telah diberikan kepada adat dan budaya Madura? Atau, jangan-jangan, kita justru terlalu menonjolkan aspek seremonial dan publikasi semata?” ucapnya tegas.
Pihak keluarga Dinasti Madura khawatir, tanpa dasar adat yang kuat dan legitimasi silsilah yang jelas, gelar-gelar semacam itu berisiko besar untuk kehilangan makna dan martabatnya di mata masyarakat.
“Kami sangat mengkhawatirkan masyarakat akan menganggap gelar-gelar ini sebagai simbol yang kurang bernilai, yang pada akhirnya hanya akan mengindikasikan kurangnya pemahaman mendalam terhadap sejarah dan tata nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur Dinasti Cakraningrat,” lanjut beliau.
Mereka juga menjelaskan penting untuk diingat, bahwa kehormatan sejati tidak dapat dicari dengan mudah, pun tidak dapat diberikan tanpa landasan yang kuat.
“Kehormatan sejati itu hanya bersemi dari pemahaman yang tulus terhadap adat, ketulusan hati, dan keterikatan yang sah dengan akar budaya leluhur kita,” pungkasnya.
Oleh karena itu, mereka berharap agar penegakan pranata adat terus dijaga dengan ketat. Apabila kaidah-kaidah leluhur terus-menerus diabaikan, mereka khawatir hal ini tidak hanya akan mengurangi nilai warisan Dinasti Cakraningrat, tetapi juga secara keseluruhan dapat merusak martabat Darah Biru Madura, dan pada akhirnya, gelar kehormatan yang diberikan akan kehilangan seluruh makna historisnya.
“Kami mengajak semua pihak untuk kembali merenungkan dan menghormati tradisi ini.” tutupnya.*** (Azis).
Jurnalis: Abdul Azis
- Alutsista, Artikel, Bisnis, Daerah, Ekonomi, hukum, Keamanan, Kesehatan, Nasional, Opini, Pendidikan, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL
“Ari Sumarni Pimpin GBNN Jakarta Barat, Targetkan Soliditas dan Integritas Jaga Stabilitas Negara”
Jawa Barat wartapenasatu.com
Jakarta Barat Miliki Garda Bela Negara Nasional Baru, Siap Jaga Kedaulatan NKRI
BOGOR – Garda Bela Negara Nasional (GBNN) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jakarta Barat resmi dilantik dan dikukuhkan pada 5-6 November 2025. Acara yang berlangsung di Hotel Palm Cisarua, Bogor, ini menandai dimulainya masa bakti kepengurusan baru periode 2025-2030.
Ketua Umum GBNN, Bapak Fahria Alfiano, Berharapan besar kepada seluruh anggota. Beliau menekankan pentingnya peran GBNN dalam membantu kepemimpinan Bapak Prabowo Subianto dan Mas Gibran, serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Saya berharap seluruh anggota GBNN dapat mengemban tugas dengan sebaik-baiknya. Kita harus menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta mendukung program-program pemerintah demi kemajuan Indonesia,” ujar Bapak Fahria Alfiano dengan penuh semangat.
Ibu Ari Sumarni, yang terpilih sebagai Ketua DPW GBNN Jakarta Barat, juga menyampaikan komitmennya untuk memimpin organisasi ini dengan amanah, beradap, konsisten, dan berintegritas. Beliau berharap seluruh jajaran yang berada di bawah komandonya dapat tetap solid dan bersatu, meskipun menghadapi berbagai tantangan yang dapat mengganggu stabilitas negara.
“Kita harus tetap solid dan bersatu, meskipun ada banyak ‘preming’ atau gangguan yang mencoba memecah belah kita. Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, kita pasti bisa mengatasi semua rintangan,” tegas Ibu Ari Sumarni.
GBNN sebagai organisasi yang memiliki visi untuk menanamkan nilai-nilai bela negara kepada seluruh masyarakat, diharapkan dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang kuat, maju, dan berdaulat. Dengan kepengurusan baru di Jakarta Barat, GBNN siap berkontribusi secara nyata dalam menjaga keamanan dan ketertiban wilayah, serta meningkatkan kesadaran bela negara di kalangan masyarakat.
Acara pelantikan dan pengukuhan ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah, yang semakin mempererat tali silaturahmi antara pengurus dan anggota GBNN. Semangat baru dan harapan besar terpancar dari wajah seluruh peserta, siap mengemban amanah dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
BY:NokSrie
JSEF Volume III 2025: MAKI Jatim Sukses Gelar Pameran UKM/UMKM Terbesar di Jawa Timur, Ribuan Pengunjung Padati Fairway Ninemall
WARTAPENASATUJATIM | SURABAYA – Gelaran Jatim Super Exhibition Fair (JSEF) Volume III 2025 yang diinisiasi oleh MAKI Jatim kembali mencatatkan kesuksesan besar.
Acara yang digelar di Fairway Ninemall Surabaya sejak 31 Oktober hingga 2 November 2025 ini berhasil menarik ribuan pengunjung, menegaskan bahwa potensi UKM/UMKM Jawa Timur kian berdaya saing dan diminati masyarakat luas.
Kesuksesan spektakuler JSEF Volume III tak lepas dari Komando Visioner Heru Satriyo, Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, serta kepemimpinan tangguh dari ketua panitia yang akrab disapa Mbok Mak.
Dengan perencanaan matang dan pelaksanaan disiplin, seluruh rangkaian kegiatan JSEF berjalan tertib, meriah, dan memenuhi ekspektasi tinggi MAKI Jatim serta seluruh peserta.
Kepemimpinan Solid dan Kolaboratif Jadi Kunci Keberhasilan
Dalam penyelenggaraan kali ini, Heru Satriyo menegaskan bahwa keberhasilan JSEF Volume III merupakan buah dari sinergi dan kerja keras seluruh panitia. Ia menilai, koordinasi yang baik dan semangat gotong royong menjadi faktor penting yang mengantarkan acara ini pada kesuksesan.
“Keberhasilan penyelenggaraan JSEF Volume III 2025 sesuai dengan ekspektasi bersama. Ini adalah hasil kerja kolektif seluruh personel panitia yang berdedikasi. Kami berharap agenda-agenda MAKI ke depan, baik pameran maupun event lain, dapat terus sukses seperti gelaran ini,” ujar Heru Satriyo.

Sementara itu, sosok Mbok Mak, sebagai Ketua Panitia, menjadi figur inspiratif di balik layar kesuksesan acara ini. Dikenal tegas namun bersahaja, ia mampu menggerakkan seluruh tim dengan keteladanan dan ketekunan luar biasa menjadikan JSEF Volume III 2025 tidak hanya terlaksana dengan baik, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi peserta dan pengunjung.
Ajang Ekonomi Rakyat yang Menyatukan Inovasi dan Silaturahmi
Lebih dari sekadar pameran, JSEF Volume III 2025 menjadi wadah interaksi dan kolaborasi bagi pelaku UKM/UMKM dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Para peserta tidak hanya menampilkan produk unggulan, tetapi juga saling bertukar pengetahuan, strategi pemasaran, serta peluang kolaborasi lintas sektor.
Acara ini juga diwarnai dengan berbagai kegiatan interaktif, mulai dari talkshow inspiratif, workshop bisnis, hingga sesi networking yang mempertemukan pelaku usaha dengan calon mitra dan investor potensial.
Antusiasme pengunjung menjadi bukti bahwa produk lokal Jawa Timur semakin digemari dan memiliki daya tarik kompetitif di pasar modern.
MAKI Jatim Dorong UMKM Naik Kelas dan Siap Bersaing Secara Global
Melalui JSEF Volume III 2025, MAKI Jatim menegaskan komitmennya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah berbasis kewirausahaan rakyat.
Program ini diharapkan mampu menjadi katalis untuk melahirkan lebih banyak pelaku UMKM mandiri, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan digital.MAKI Jatim percaya bahwa dengan pendampingan berkelanjutan, pelatihan manajemen, serta fasilitasi pemasaran, pelaku UMKM dapat memperluas pasar hingga level nasional dan internasional.
“Kami ingin JSEF menjadi ruang yang nyata bagi UMKM untuk berkembang. Bukan sekadar pameran, tetapi juga wadah belajar, berjejaring, dan memperluas peluang usaha,” ungkap Heru menambahkan.
Sinergi Pemerintah, Swasta, dan Komunitas untuk Ekosistem UMKM yang Kuat
Kesuksesan JSEF Volume III 2025 juga mencerminkan sinergi produktif antara pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
Dengan dukungan lintas sektor ini, ekosistem UMKM Jawa Timur terus tumbuh positif dan berkontribusi signifikan terhadap pemulihan serta pertumbuhan ekonomi daerah.
Selain menghadirkan peluang ekonomi, JSEF juga menjadi simbol kemandirian dan kreativitas masyarakat Jawa Timur.
Produk-produk yang ditampilkan mulai dari kuliner, fashion, kriya, hingga teknologi kreatif mencerminkan kekayaan budaya lokal yang dipadukan dengan inovasi modern.Momentum Kebangkitan UMKM Jawa Timur
Dengan suksesnya penyelenggaraan JSEF Volume III 2025, MAKI Jatim sekali lagi membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi rakyat adalah pondasi utama kemajuan daerah.
Event ini tidak hanya menampilkan potensi luar biasa pelaku UKM/UMKM, tetapi juga menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk terus mendukung ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
Ke depan, MAKI Jatim berkomitmen menjadikan JSEF sebagai agenda tahunan unggulan yang semakin besar dan berdampak luas, baik secara ekonomi maupun sosial.
Melalui kerja keras, inovasi, dan kolaborasi semua pihak, Jawa Timur siap menjadi barometer kebangkitan UMKM Indonesia.*** (Bgn)
- Bisnis, Daerah, Ekonomi, Internasional, Keamanan, Nasional, Opini, Pendidikan, Pertahanan, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL
Menata Ulang Sejarah Lokal, AJ Susmana Dorong Dekolonisasi Narasi Bangsa
JAKARTA wartapenasatu.com
Jakarta — Dalam upaya memperkuat identitas nasional dan membebaskan diri dari warisan kolonialisme, AJ Susmana menekankan pentingnya dekolonisasi narasi sejarah lokal. Gagasan tersebut ia sampaikan dalam tulisan berjudul “Konstruksi Naratif: Menata Ulang Sejarah Lokal Menjadi Cerita yang Bermakna” yang mengajak masyarakat untuk meninjau kembali sejarah dari sudut pandang bangsa sendiri, bukan dari kacamata kolonial.
Menurut AJ Susmana, bangsa Indonesia sebagai bekas negara kolonial perlu membangun narasi positif agar mampu melepaskan diri dari mentalitas terjajah. “Kita perlu kisah yang menumbuhkan kebanggaan dan keberanian, agar bangsa ini tidak terus-menerus merasa inferior akibat penjajahan yang panjang,” ujarnya dalam tulisannya.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks perjuangan kebangsaan, kisah kadang dapat mendahului fakta. Artinya, narasi yang kuat mampu membangkitkan semangat dan rasa percaya diri, meski fakta sejarah belum sepenuhnya sempurna. Pendekatan ini dianggap perlu untuk menyalakan kembali keberanian melawan penjajahan dan menumbuhkan optimisme nasional.
Dalam tulisannya, AJ Susmana mencontohkan bagaimana sejarah kejayaan kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Majapahit dan Sriwijaya menjadi sumber inspirasi penting. Walaupun belum seluruh fakta tentang dua kerajaan itu terungkap sempurna, semangat dan kisah kejayaan mereka tetap menjadi api penyemangat bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lemah, melainkan bangsa yang mampu berdaulat.
Ia menilai, masa lalu yang baik seperti kisah Majapahit dan Sriwijaya seharusnya dijadikan bahan narasi yang membangun. “Narasi sejarah yang kuat akan membuat kita tidak kehilangan akar dan tradisi, sekaligus menjadi pondasi kemajuan manusia,” tulisnya. Pandangan ini menegaskan bahwa sejarah lokal bukan sekadar catatan masa lampau, tetapi sumber nilai untuk membangun masa depan.
AJ Susmana juga menyinggung pentingnya kisah perjuangan kemerdekaan sebagai bagian dari proses dekolonisasi. Cerita-cerita perjuangan nasional yang penuh keberanian dan pengorbanan dapat menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bangsa ini lahir dari semangat perlawanan, bukan pemberian.
Ia menutup pandangannya dengan menyoroti keberadaan berbagai monumen perjuangan nasional yang berdiri di seluruh penjuru negeri — dari kota besar hingga tingkat kecamatan. Monumen tersebut, katanya, bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga penanda bahwa semangat melawan penjajahan masih hidup dalam setiap jiwa anak bangsa. “Dari sejarah, kita belajar untuk terus berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat,” pungkas AJ Susmana
Sumber:Kebudayaan Rakyat - Artikel, Bisnis, hukum, Keamanan, Nasional, Opini, Pendidikan, Pertahanan, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL
Sekjen Laskar Gibran Dafit Fitria Bangun Saduk Hadiri Kongres Projo ke-3, Tegaskan Komitmen Kawal Program Prabowo–Gibran
Jakarta Wartapenasatu.com
Sekretaris Jenderal Laskar Gibran Hadiri Kongres Projo, Janjikan Dukungan untuk Agenda Prabowo-Gibran
JAKARTA – Dafit Fitria Bangun Saduk S.E., M.M., Sekretaris Jenderal Laskar Gibran, menghadiri Kongres Projo ke-3, menandakan keselarasan yang kuat antara kedua organisasi. Kongre
s yang diadakan di Jakarta ini mempertemukan anggota Projo dari seluruh Indonesia untuk membahas strategi dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap pembangunan nasional.Dafit Fitria Bangun Saduk menekankan dukungan Laskar Gibran yang tak tergoyahkan kepada rakyat dan dedikasi mereka untuk bekerja selaras dengan Projo. “Kami berdiri teguh bersama rakyat, dan kongres ini adalah bukti komitmen bersama kami,” katanya. “Laskar Gibran siap mendukung dan menjadi garda terdepan untuk program-program Prabowo dan Gibran.”
Kongres Projo menjadi platform bagi berbagai organisasi afiliasi untuk menyampaikan solidaritas dan membahas upaya kolaborasi. Pidato utama dan diskusi panel menyoroti pentingnya persatuan dan tindakan strategis dalam mencapai tujuan bersama. Kehadiran Dafit Fitria Bangun Saduk menggarisbawahi pentingnya keterlibatan pemuda dalam membentuk masa depan bangsa.
Selama acara tersebut, Dafit Fitria Bangun Saduk berinteraksi dengan para pemimpin dan anggota Projo, bertukar ide dan menjajaki potensi sinergi antara kedua kelompok. Diskusi difokuskan pada bagaimana Laskar Gibran dapat berkontribusi pada inisiatif Projo, terutama di bidang-bidang yang berkaitan dengan pemberdayaan pemuda dan pengembangan masyarakat.
Komitmen Laskar Gibran untuk menjadi “garda terdepan” bagi program Prabowo dan Gibran mencerminkan pendekatan proaktif mereka terhadap kemajuan nasional. Dengan bekerja sama dengan Projo, mereka bertujuan untuk memperkuat dampak mereka dan memastikan bahwa kebijakan pemerintah dilaksanakan secara efektif dan sesuai dengan harapan masyarakat.
Kongres diakhiri dengan semangat baru dan peta jalan yang jelas untuk kolaborasi di masa depan. Partisipasi Dafit Fitria Bangun Saduk dipandang sebagai langkah penting dalam mempererat hubungan antara Laskar Gibran dan Projo, membuka jalan bagi upaya bersama dalam memajukan agenda nasional.
Dengan keberhasilan Kongres Projo ke-3, Laskar Gibran, di bawah kepemimpinan Dafit Fitria Bangun Saduk, siap memainkan peran penting dalam mendukung visi Prabowo dan Gibran untuk Indonesia, bekerja sama dengan Projo untuk mewujudkan aspirasi bersama mereka bagi bangsa.
BY:NOK SRIE
- Artikel, Bisnis, Ekonomi, hukum, Internasional, Keamanan, mancanegara, Nasional, Opini, Pendidikan, Pertahanan, Politik, Seni dan Budaya, SOSIAL
Pemuda Bersatu, Budaya Maju: JAKER Gelar Diskusi Kebangsaan di HB Jassin
Jakarta wartapenasatu.com
Pemuda adalah Kunci! JAKER Gelar Diskusi Kebangsaan untuk Gali Potensi Generasi Muda dalam Memajukan Budaya Nasional
Jakarta – Di tengah semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER) mengambil langkah nyata dengan menggelar Diskusi Kebangsaan pada 3 November 2025. Bertempat di Ruang Aula PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, acara ini mengusung tema krusial “Peran Pemuda dalam Mendorong Kebudayaan Nasional yang Maju Adil dan Makmur.”
Annisa, Ketua Umum JAKER, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi fondasi penting untuk menggali kembali akar persatuan bangsa. Semangat yang dulu diinisiasi oleh para pemuda 97 tahun silam, diharapkan dapat kembali membara dalam diri generasi muda saat ini.
“Diskusi ini adalah upaya kita untuk mengembalikan semangat Sumpah Pemuda sebagai landasan utama persatuan. Kita akan menggali kembali nilai-nilai luhur budaya Nusantara, terutama gotong royong, yang menjadi kunci untuk mewujudkan keadilan sosial,” ujar Annisa.
Diskusi Kebangsaan ini akan menghadirkan sejumlah tokoh penting sebagai pembicara, antara lain Nasruddin Djoko Surjono (Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip DKI Jakarta), Assoc.Prof. Dr. Tuti Widyaningrum.,SH.,MH (Akademisi), Sonny Laurentius (JAKER), dan M. Rijal yang mewakili kalangan mahasiswa. Mereka akan membahas peran strategis pemuda dalam memajukan kebudayaan nasional yang berkeadilan dan berkemakmuran.
Selain diskusi, acara ini juga menjadi momentum bagi Annisa untuk menyampaikan pesan khusus kepada para pemuda Indonesia. Melalui sebuah puisi, ia mengajak generasi muda untuk terus berjuang melawan ketidakadilan dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.
“Hai pemuda anak kandung nusantara, jangan tidur di mata yang tidak mengantuk, hanya untuk cepat bermimpi,” demikian salah satu bait puisi Annisa yang penuh semangat. Ia juga mengingatkan agar pemuda tidak terjebak dalam kepentingan oligarki, melainkan bangkit dan yakin bahwa Indonesia yang kaya ini mampu memberikan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyatnya.
Acara Diskusi Kebangsaan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi para pemuda untuk bertukar pikiran, merumuskan gagasan, dan bersama-sama membangun kebudayaan nasional yang lebih maju, adil, dan makmur.BY:Nok Srie
