SOSIAL

  • SOSIAL

    Legiun Veteran Republik Indonesia Cabang Kota Surabaya Berbagi Takjil, 800 Paket Ludes Dalam Hitungan Menit

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya Metropolitan – Hari Rabu (11/03/2026) tepat menjalani ibadah puasa Ramadhan ke-22 menurut hitungan kalender Masehi dan Keputusan Pemerintah RI, Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Cabang Kota Surabaya bersama Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (PiVeri) menggelar acara berbagi takjil untuk masyarakat umum dan pengguna jalan yang sedang melintas di depan Gedung Markas Cabang Kota Surabaya di Jalan Raya Mastrip Surabaya.

    Tidak menunggu lama, dalam hitungan menit sebanyak 800 lebih paket takjil habis dibagikan kepada masyarakat dan para pengguna jalan.

    Hadir dalam acara berbagi takjil tersebut Kolonel Purn. Gitoyo SE, MM selaku Ketua DPC LVRI Kota Surabaya, Charles Tumbel dan beberapa tokoh senior Pemuda Panca Marga (PPM) yang juga ikut aktif membagikan paket takjil.

    Kolonel Purn. Gitoyo SE. MM (Foto/Dok: Hoeget)

    Kepada awak media yang menemuinya, Gitoyo menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang bersedia bahu membahu mempersiapkan acara ini.

    Gitoyo juga menyampaikan bahwa acara berbagi takjil tidak hanya sekedar membagikan makanan saja, namun bagi keluarga pejuang kemerdekaan, bisa menjadi nostalgia bahwa saat masa perjuangan dahulu mereka juga menjadi bagian tradisi berbagi itu, sebagai pejuang mendapatkan dukungan dan bantuan logistik (makanan/bahan makanan dan minuman) dari rakyat.

    Senada dengan Gitoyo, Charles Tumbel salah satu tokoh senior PPM mengajak kepada semua pihak terutama para generasi muda untuk terus menebar kebaikan dan mempererat silaturrahmi antar warga masyarakat.

    Setelah acara berbagi takjil dilanjutkan dengan acara berbuka puasa bersama dengan menu Bakso Solo dan Bakmi goreng. (Houget)***

  • Daerah,  Hiburan,  Kepolisian,  Kesehatan,  Politik,  SOSIAL

    Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Toba dalam Rangka Perayaan HUT Toba ke 27 Tahun.

    Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Daerah Kabupaten Toba dalam Rangka Perayaan HUT Toba ke 27 Tahun.

    Toba, wartapenasatu.com, Kabupaten Toba telah berusia 27 tahun pada tanggal 9 Maret 2026. Perjalanan Kabupaten Toba diawali dari lahirnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Toba Samosir dan Kabupaten Daerah Tingkat II Mandailing Natal yang diresmikan pada tanggal 9 Maret 1999 oleh Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia di Kantor Gubernur Sumatera Utara.

    Perjalanan panjang ini telah melalui berbagai dinamika, mulai dari pemekaran beberapa kecamatan, pemekaran desa bahkan pemekaran Kabupaten, yaitu Kabupaten Samosir. Pasca berdirinya Samosir sebagai Kabupaten, nama Kabupaten Toba Samosir dinilai tidak lagi relevan hingga akhirnya nama Kabupaten Toba Samosir dirubah menjadi Kabupaten Toba melalui Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2020 tanggal 24 Februari 2020 tentang Perubahan Nama Kabupaten Toba Samosir menjadi Kabupaten Toba di Provinsi Sumatera Utara. Peraturan Pemerintah tentang perubahan nama tersebut diserahkan yang mewakili Menteri Dalam Negeri bersamaan dengan Hari Jadi ke-21 Kabupaten Toba Samosir.

    Sekda Toba, Paber Napitupulu, menceritakan perjalanan sejarah Kabupaten Toba sejak awal terbentuknya hingga saat ini dalam Rapat Paripurna HUT ke-27 di gedung DPRD Toba, Senin (9/3/2026) pagi, menggambarkan tonggak-tonggak penting yang telah membentuk Toba menjadi seperti sekarang.

    Bupati Toba, Effendi Sintong P. Napitupulu, didampingi Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, dan jajaran Forkopimda, menyampaikan harapannya kepada awak media agar Kabupaten Toba bisa semakin berbenah menuju Toba Mantap dan semakin sejahtera.

    Bupati Toba, Efendi SP Napitupulu, membuka diri untuk menerima saran dan masukan konstruktif dari semua pihak, agar Toba bisa terus berkembang dan menjadi lebih baik di masa mendatang. “Kami ingin bekerja sama dengan seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan Toba yang lebih maju dan sejahtera,” tambahnya.

    Dalam rapat paripurna tersebut turut hadir Bupati dan Wakil Bupati Toba, jajaran Forkopimda, pimpinan dan Anggota DPRD Toba, Sekda Toba, para pimpinan OPD, Ketua TP. PKK Kabupaten Toba, Staf Ahli TP. PKK Kabupaten Toba, Ketua Bhayangkari Kabupaten Toba, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Toba, mantan Bupati dan mantan Wakil Bupati Toba Ormas dan OKP, LSM, insan pers dan tamu undangan lainnya.
    (Kaperwil MWPS Sumut : t.rait)

  • SOSIAL

    Lebih Dari 300 Bungkus Takjil Dibagikan DPC HIPAKAD Surabaya Di Depan Gedung Dewan Harian Daerah (DHD) Juang 45

    WARTAPENASATUJATIM – Surabaya Metropolitan – Di bawah guyuran hujan yang membasahi seputaran Jalan Mayjen Sungkono Surabaya, pada Selasa (10/03/2026) DPC Hipakad Surabaya menggelar acara berbagi takjil untuk masyarakat umum dan pengguna jalan yang melintas disana.

    Kegiatan yang digelar di depan Gedung Dewan Harian Daerah (DHD) 45 Jawa Timur ini dimulai pukul 17.00 WIB dan tidak sampai 15 menit seluruh paket takjil sudah ludes dibagikan.

    Turut hadir dalam acara tersebut Babinsa Koramil Sawahan dan Satgas DPD Hipakad Surabaya.

    Adapun kesuksesan penyelenggaraan acara bagi takjil ini berkat bantuan dari berbagai pihak seperti : Toko Roti Suzana Bakery, Dr. H. Fadjar Budianto, SH., MH., SpN selaku Sekretaris Umum DHD 45 Jawa Timur, Ayam Bakar Pak D, WarKop Nyonya-e, Psikolog, Sosialita dan beberapa pihak yang tidak mau dipublikasikan.

    Kepada awak media yang menemuinya, Agung Wicaksono SE, selaku Ketua DPC HIPAKAD Kota Surabaya mengatakan apresiasi yang setinggi tingginya kepada semua pihak yang telah membantu kelancaran acara ini.

    “Terima kasih yang tak terhingga atas dukungan Suzana Bakery dan Sekretaris DHD 45 Jawa Timur, Ayam Bakar Pak D, ibu Psikolog, mbak Sosialita dan para pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu,” ujar Agung yang didampingi Houget Ary selaku Kepala Bidang Humas DPC HIPAKAD Kota Surabaya.

    Senada dengan Agung, Houget menegaskan bahwa momen ini bukan sekadar berbagi makanan saja, melainkan salah satu bentuk pengabdian dan kepedulian kepada sesama.

    Adi Ganjar selaku Sekretaris DPC HIPAKAD Kota Surabaya mengatakan bahwa di Bulan Puasa Ramadhan 1447 H yang penuh berkah ini, mengajak semua pihak untuk terus menebar kebaikan dan mempererat tali silaturahmi.

    “Semoga aksi kecil ini memberikan manfaat bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah”, kata Adi menutup sesi wawancara, dan mengajak semua awak media untuk berbuka puasa bersama mereka.

    Segenap keluarga besar DPC Hipakad Surabaya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 H. (Houget)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim di Hari Ke – 20 Istiqomah di Persimpangan Jalan dan Persimpangan Hati: Rajut Keberkahan Ramadan Raih Maghfirah

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 10 Maret 2026 — Ramadan selalu datang membawa sesuatu yang lebih dalam dari sekadar perubahan tanggal di kalender. Ia hadir sebagai ruang perenungan, mengajak manusia berhenti sejenak dari perjalanan panjang mengejar dunia.

    Di bulan ini, manusia diajak kembali melihat dirinya dengan jujur. Menyadari bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana manusia mampu memberi makna bagi sesamanya.

    Puasa mengajarkan kesederhanaan yang sering dilupakan. Ketika manusia menahan lapar dan dahaga, ia belajar memahami perasaan orang lain yang mungkin setiap hari hidup dalam kekurangan. Dalam keadaan itulah empati tumbuh, dan hati menjadi lebih peka terhadap penderitaan sesama.

    Ramadan perlahan mengingatkan manusia bahwa hidup tidak pernah berdiri sendiri. Setiap orang terhubung oleh benang kemanusiaan yang sama.

    Apa yang kita miliki hari ini pada hakikatnya hanyalah titipan. Rezeki, kesempatan, bahkan kesehatan adalah amanah yang suatu saat akan dipertanyakan bagaimana manusia menggunakannya.

    Sore itu, kehidupan berjalan seperti biasa di Pertigaan Albatros Jalan Raya Juanda, Sidoarjo. Kendaraan melintas tanpa henti, para pengendara bergegas pulang, dan aktivitas kota tetap bergerak dalam ritme yang sibuk.

    Namun di tengah arus lalu lintas itu, hadir sebuah pemandangan sederhana yang memancarkan makna yang lebih besar.

    Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang sedang menanti waktu berbuka puasa.

    Paket-paket tersebut dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, serta masyarakat yang melintas di kawasan tersebut. Isinya sederhana namun penuh makna: nasi putih dengan sambal goreng ati dan tahu serta irisan telur dadar, kurma, es sirup melon dengan potongan blewah yang menyegarkan, serta aneka gorengan seperti lumpia, tahu bakso, dan siomay basah.

    Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan untuk berbuka. Tetapi bagi mereka yang memahami nilai kemanusiaan, setiap paket yang dibagikan adalah bentuk kepedulian yang nyata.

    Ia bukan sekadar makanan, tetapi simbol bahwa di tengah kesibukan dunia, masih ada tangan-tangan yang bersedia berbagi.

    Dalam kehidupan sosial, tindakan memberi sering kali terlihat sederhana. Namun sesungguhnya di situlah nilai kemanusiaan menemukan maknanya.

    Memberi bukan hanya tentang jumlah yang diberikan. Memberi adalah tentang kesediaan hati untuk peduli terhadap orang lain.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menjelaskan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

    Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan. Syukur harus diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat bagi orang lain.

    “Ketika kita memiliki kemampuan untuk berbagi, di situlah kesempatan untuk menunjukkan rasa syukur itu hadir. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk memperkuat kepedulian sosial,” ujarnya.

    Bagi MAKI, kegiatan ini juga memiliki makna yang lebih luas. Sebagai organisasi yang bergerak dalam semangat melawan korupsi, mereka meyakini bahwa perubahan sosial tidak hanya bergantung pada hukum, tetapi juga pada kesadaran moral masyarakat.

    Kejujuran, integritas, dan kepedulian adalah nilai-nilai yang harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

    Menjelang waktu berbuka puasa, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menyelimuti kota dengan suasana yang tenang.

    Para relawan terus membagikan ta’jil kepada pengendara yang melintas. Senyum-senyum kecil terlihat di wajah para penerima.

    Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada perayaan besar. Namun ada kebahagiaan yang sederhana.

    Sebab sering kali, kebahagiaan yang paling tulus lahir dari perhatian kecil yang diberikan dengan hati yang ikhlas.

    Ta’jil yang dibagikan di persimpangan jalan itu menjadi pengingat bahwa nilai kemanusiaan masih hidup di tengah masyarakat.

    Bahwa di balik kesibukan dan dinamika kehidupan kota, masih ada ruang bagi kepedulian dan kebersamaan.

    Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang ibadah pribadi. Ia juga tentang bagaimana manusia memperkuat hubungan dengan sesamanya.

    Karena dalam kehidupan ini, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari apa yang dimilikinya, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi manfaat bagi orang lain.

    Dan di tengah lalu lintas yang terus bergerak di Jalan Raya Juanda sore itu, sebuah pelajaran sederhana kembali terasa nyata:

    bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu memiliki kekuatan untuk menghadirkan harapan.

    Sebab ketika manusia saling peduli, di situlah nilai kemanusiaan menemukan makna yang paling sejati. (Bgn)***

  • SOSIAL

    MAKI Jatim Rajut Kemakrifatan di Hari Ke – 19, Bagi 1000 Tajil Untuk Kepedulian Sosial

    MAKI Jatim Rajut Kemakrifatan di Hari Ke – 19, Bagi 1000 Tajil Untuk Kepedulian Sosial

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 9 Maret 2026 — Ramadan tidak pernah datang hanya sebagai pergantian bulan dalam perjalanan waktu. Ia hadir seperti panggilan langit yang lembut, mengetuk kesadaran manusia yang sering tenggelam dalam kesibukan dunia. Di bulan inilah manusia diajak berhenti sejenak, menundukkan hati, dan kembali menapaki jalan sunyi untuk mengenal dirinya sendiri.

    Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah perjalanan batin yang membawa manusia lebih dekat kepada hakikat kehidupannya. Dalam keheningan puasa, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tertutup oleh hiruk-pikuk dunia suara hati yang bertanya dengan jujur: dari mana aku datang, untuk apa aku hidup, dan kepada siapa aku akan kembali.
    Puasa mengajarkan manusia tentang kerendahan hati.

    Lapar melatih kesabaran. Dahaga menumbuhkan empati. Setiap detik yang dilalui dalam keadaan berpuasa adalah latihan untuk membersihkan jiwa dari kesombongan dan keserakahan.

    Di bulan ini manusia diingatkan pada satu kebenaran yang sering dilupakan: bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap saat, semuanya berasal dari Tuhan yang suatu hari akan memanggil manusia kembali kepada-Nya.

    Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Pemuda Surabaya, tepatnya di kawasan Taman Apsari di depan Kantor Grahadi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa. Kota tetap bergerak dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.

    Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir sebuah getaran yang lebih halus dari sekadar suara mesin kendaraan getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadan.

    Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.

    Seribu paket tersebut dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas di kawasan itu. Paket-paket tersebut terdiri dari 250 porsi nasi putih dengan botok pindang pencit dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.

    Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa. Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa kasih yang tidak diucapkan dengan kata-kata.

    Ia adalah jembatan sunyi yang mempertemukan hati manusia dengan hati manusia lainnya.
    Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara dari rahmat Tuhan.

    Rezeki yang berada di tangan seseorang sesungguhnya bukan miliknya sepenuhnya. Ia adalah amanah yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan. Ketika seseorang memberi dengan tulus, sesungguhnya ia sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah.

    Dan ketika tangan memberi tanpa pamrih, jiwa manusia sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya ditemukan dalam doa dan ibadah, tetapi juga dalam perbuatan baik yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

    Namun menurutnya, syukur yang sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.

    “Syukur bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.

    Bagi MAKI, Ramadan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka percaya bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi dari kesadaran spiritual manusia.

    Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.

    Menjelang waktu berbuka, langit di atas Surabaya perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang tenang dan meneduhkan.

    Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap. Sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan ketulusan.

    Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.

    Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.

    Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.

    Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.

    Dan di sanalah Ramadan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.

    Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.

    Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.

    Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Pemuda Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.

    Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama.

    Di situlah makrifat menemukan jalannya. Dalam tangan yang terulur. Dalam hati yang ikhlas. Dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)

  • Artikel,  Daerah,  hukum,  Opini,  SOSIAL

    Tegaskan Supremasi Hukum, Ketua Umum LSM-NIL”Michael” Siapkan Gugatan Ganda Terkait Dugaan Pelanggaran Tata Ruang di LEBAK

    Wartapena satu. Com-Banten

    Senin, 09/03/2026,Ketidakjelasan sinkronisasi antara aktivitas lapangan dengan regulasi daerah memicu langkah hukum serius dari Lembaga Swadaya Masyarakat Nusantara Indah Lingkungan (LSM-NIL). Ketua Umum LSM-NIL, Michael, secara resmi menyatakan akan segera melayangkan gugatan hukum berlapis terhadap pihak-pihak terkait guna menjaga integritas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lebak.

    “Michael”menegaskan bahwa LSM-NIL tidak akan berhenti pada upaya administratif semata. Strategi “Double Track” tengah dipersiapkan melalui tim hukum lembaga:

    1. Gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH) di Pengadilan Negeri: Ditujukan atas kerugian imateriil dan pelanggaran norma kepatutan dalam berinvestasi yang diduga menabrak Pasal 33 Perda Kab. Lebak No. 7 Tahun 2023.

    2. Gugatan Pembatalan KTUN di PTUN Serang: Menargetkan pembatalan izin-izin administratif (PBG/NIB) yang diduga terbit melalui prosedur yang cacat substansi (error in substantia), mengingat lokasi tersebut adalah Kawasan Peruntukan Industri (KPI), bukan kawasan peternakan.

    Kami melihat adanya pengabaian prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam operasional PT SDM di Desa Nameng. Jika izin terbit di atas zona yang tidak sesuai, maka secara yuridis izin tersebut bersifat ‘Void ab Initio’ atau batal demi hukum sejak awal,” tegas Michael dalam pernyataan intelektualnya.

    Langkah tegas ini didasari oleh bukti tertulis dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lebak yang menyatakan tidak pernah memberikan rekomendasi teknis maupun validasi sertifikat standar bagi perusahaan tersebut.

    “Michael”menyoroti bahwa pemaksaan operasional di zona yang tidak tepat merupakan bentuk pembangkangan terhadap UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, khususnya terkait sanksi pidana tata ruang pada Pasal 69 yang mengancam pelanggar dengan pidana penjara dan denda signifikan.

    Meskipun menempuh jalur litigasi, Michael tetap menekankan pentingnya asas Praduga Tak Bersalah (Presumption of Innocence) hingga adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (Inkracht).

    Gugatan ini bukan bentuk resistensi terhadap investasi, melainkan edukasi publik bahwa investasi harus berdiri di atas pilar hukum yang kokoh. Kami ingin memastikan Kabupaten Lebak tidak menjadi hutan rimba regulasi di mana izin bisa muncul tanpa kesesuaian tata ruang yang valid, tambah “Michael.”

    LSM-NIL memberikan kesempatan terakhir melalui Somasi II sebelum berkas gugatan didaftarkan secara resmi di pengadilan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan DPMPTSP dan Bupati Lebak sebagai bagian dari upaya pembersihan maladministrasi di tingkat daerah.

  • SOSIAL

    Giat posko ramadhan di kelurahan warakas jakarta utara

    Wartawan pena satu jakarta 8 maret 2026…dalam giat piket ramadhan tahun ini adalah bentuk giat untuk meminimalisir atau gangguan kamtibmas di wilayah kelurahan warakas jakarta utara

      Dalam giat piket kali ini melibatkan stakeholder atau semua aliansi  yang ada di kelurahan warakas jakarta utara diantaranya adalah forum RW, forum RT, KMK,, FKDM, POL PP, BABINSA, BABINKAMTIBMAS, MITRA JAYA, POKDAR TAGANA, KSB, Bang Japar, satlinmas bahkan lurah, sekkel dan kasipem pun ikut hadir.

    Alhamdulillah dalam giat kali ini setiap            malam kita lingkar wilayah dan masuk             ke setiap gang besar dan gang kecil . untuk memantau wilayah, dan alhamdulillah pada giat kali ini wilayah aman dan kondusif

    By MASRIL

    D

     

  • AGAMA,  SOSIAL

    PERADI Jakarta Timur Bagikan Takjil kepada Pengguna Jalan di Pulomas

    JAKARTA, Warta Pena Satu— Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) Jakarta Timur membagikan takjil kepada para pengguna jalan di depan sekretariat mereka di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (6/3/2026).

    Kegiatan sosial tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPC PERADI Jakarta Timur, Johannes Oberlin L. Tobing, bersama puluhan pengurus dan anggota organisasi advokat tersebut.

    Dalam kegiatan itu, para pengurus membagikan paket takjil berisi makanan dan minuman kepada masyarakat yang melintas, khususnya mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

    Johannes mengatakan kegiatan berbagi takjil ini merupakan bentuk kepedulian sosial PERADI kepada masyarakat, sekaligus mempererat hubungan antara advokat dan masyarakat.

    “Kami ingin berbagi kebahagiaan di bulan suci Ramadhan. Semoga apa yang kami lakukan ini bisa membantu masyarakat yang sedang dalam perjalanan agar dapat berbuka puasa tepat waktu,” ujarnya.

    Meski sempat diguyur hujan, para pengurus tetap antusias melanjutkan kegiatan pembagian takjil hingga selesai.

    Kegiatan berbagi tersebut juga menjadi momentum kebersamaan bagi para anggota PERADI Jakarta Timur untuk memperkuat solidaritas sekaligus menebarkan semangat berbagi kepada masyarakat.

  • SOSIAL

    Nandur Becik 1000 Tajil di Hari Ke – 18 MAKI Jatim Antara Lapar dan Kasih, Ramadhan Mengajarkan Manusia Mengenal Tuhan Lewat Sesama

    WARTAPENASATUJATIM | Surabaya, 7 Maret 2026 — Ramadhan tidak pernah sekadar datang sebagai pergantian bulan dalam penanggalan waktu. Ia hadir seperti bisikan langit yang lembut, mengetuk pintu kesadaran manusia yang sering terlelap dalam hiruk pikuk dunia. Bulan ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang perjalanan sunyi manusia kembali mengenal dirinya sendiri.

    Dalam keheningan Ramadhan, manusia mulai mendengar suara yang selama ini tenggelam oleh kesibukan dunia: suara hati yang bertanya dengan jujur siapakah aku sebenarnya, dari mana aku berasal, dan kepada siapa kelak aku akan kembali.

    Ramadhan adalah madrasah jiwa. Ia mendidik manusia dengan cara yang tidak selalu terasa oleh logika, tetapi sangat dalam dirasakan oleh hati.

    Lapar bukan sekadar ujian fisik, tetapi latihan kesabaran. Dahaga bukan hanya rasa kering di tenggorokan, melainkan jalan untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan.

    Di dalamnya, manusia diajak menyadari satu hakikat yang sering terlupakan: bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan. Harta, jabatan, kekuasaan, bahkan napas yang dihirup setiap detik, semuanya berasal dari Sang Maha Pemilik yang suatu saat akan memintanya kembali.

    Sore itu, denyut kemanusiaan terasa hidup di sepanjang Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Kendaraan berlalu-lalang seperti biasa, roda kehidupan kota Surabaya tetap berputar dalam ritme kesibukan yang tak pernah berhenti.

    Namun di tengah arus lalu lintas yang padat, hadir sebuah getaran yang lebih lembut dari sekadar suara mesin kendaraan: getaran kepedulian yang lahir dari hati yang disentuh oleh spirit Ramadhan.

    Di tempat itulah Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil bagi masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.

    Sebanyak seribu paket dibagikan langsung kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas. Paket-paket tersebut terdiri dari 250 porsi nasi capcay bakso dengan oseng ati dan sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah yang menyegarkan, serta 250 paket gorengan berisi donat, ote-ote, dadar jagung, dan tahu isi.

    Bagi sebagian orang yang menerimanya, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk melepas lapar setelah seharian berpuasa.

    Namun dalam makna yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tidak diucapkan dengan kata-kata.

    Ia adalah jembatan sunyi yang menghubungkan hati manusia dengan hati manusia lainnya.

    Dalam perspektif makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah kesadaran spiritual bahwa manusia hanyalah perantara.

    Rezeki yang berada di tangan seseorang pada hakikatnya adalah amanah Tuhan yang harus mengalir kepada mereka yang membutuhkan.

    Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal salah satu sifat Tuhan: Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah.

    Dan ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, jiwanya sedang melangkah perlahan menuju cahaya makrifat cahaya yang membuat manusia memahami bahwa Tuhan tidak hanya dikenal melalui doa, tetapi juga melalui perbuatan.

    Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT.

    Namun menurutnya, syukur sejati tidak berhenti pada ucapan di bibir. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata yang membawa manfaat bagi sesama manusia.

    “Syukur bukan sekadar kata-kata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat ketika manusia bersedia menjadi jalan turunnya rahmat bagi orang lain,” ujarnya.

    Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dalam semangat melawan praktik korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi juga dari kesadaran spiritual manusia.

    Korupsi pada hakikatnya lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika kesadaran Ilahi memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan.

    Namun ketika kesadaran itu kembali hidup dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin.

    Menjelang waktu berbuka, langit di atas kawasan Waru perlahan berubah warna. Semburat jingga senja menggantung di ufuk barat seperti lukisan langit yang menenangkan hati.

    Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap, sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang memancarkan keikhlasan.

    Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Tidak ada pesta besar. Namun ada kebahagiaan yang jernih kebahagiaan yang lahir dari ketulusan.

    Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering muncul dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
    Ta’jil yang dibagikan di jalan itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.

    Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.

    Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.

    Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan tulus akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.

    Di antara langkah-langkah manusia yang melintas di Jalan Ahmad Yani Surabaya sore itu, tersimpan pelajaran sunyi yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang.

    Kadang Ia hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama.

    Di situlah makrifat menemukan jalannya.
    Dalam tangan yang terulur. Dalam hati yang ikhlas. Dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***

  • Ekonomi,  Loker,  SOSIAL

    ​”Bantu Ibu Rumah Tangga & Mekanik Nganggur, Yayasan Lumbung Kita Sodorkan Aplikasi Sakti ke Meja Wakil Presiden

    Jakarta wartapenasatu.com

    Sowan ke Mas Wapres, Yayasan Lumbung Kita & Laskar Gigih Berani Sodorkan Aplikasi ‘Sakti’ Lawan Pengangguran!

    JAKARTA – Gerakan nyata menuju Indonesia Emas 2045 makin kencang ditiupkan dari markas Wakil Presiden RI. Pada Jumat (6/3/2026), Ketua Umum Yayasan Lumbung Kita Sejahtera, Bapak Stenly Wolf, bersama Ketua Koperasi Lubkita, Ibu Indriyani, bertandang langsung menemui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pertemuan strategis ini juga memboyong organisasi Laskar Gigih Berani di bawah komando Bapak Leonardo Sirait untuk mempresentasikan program pemberdayaan berbasis aplikasi digital.

    ​Audiensi ini menjadi momentum krusial untuk memperkenalkan sebuah platform yang bukan sekadar aplikasi biasa, melainkan jembatan harapan bagi masyarakat yang haus akan peluang kerja. Mas Wapres Gibran Rakabuming Raka menyambut positif inisiatif ini, menilai bahwa inovasi digital yang menyentuh akar rumput adalah kunci untuk menggerakkan roda ekonomi rakyat secara masif di seluruh penjuru negeri.

    ​Aplikasi ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan sosial yang nyata di lapangan. Bayangkan seorang ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara ekonomi namun tetap ingin memprioritaskan waktu bagi sang buah hati. Melalui sistem ini, peluang usaha mikro bisa dijalankan dari rumah, memberikan ruang bagi para ibu untuk berdaya tanpa harus meninggalkan peran utama mereka di keluarga.

    ​Tak hanya itu, aplikasi ini juga membidik para kepala keluarga yang memiliki keahlian teknis namun minim peluang. Sosok-sosok dengan skill otomotif mumpuni yang selama ini “menganggur” karena keterbatasan akses, kini diberikan panggung untuk mendapatkan proyek atau pekerjaan tambahan. Program ini memastikan bahwa keahlian terpendam masyarakat tidak lagi sia-sia hanya karena kurangnya ruang dan koneksi.

    ​Sinergi antara Yayasan Lumbung Kita, Koperasi Lubkita, dan Laskar Gigih Berani menciptakan kekuatan tempur ekonomi yang unik. Leonardo Sirait menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya siap menjadi mesin penggerak yang memastikan teknologi ini tidak hanya berhenti di layar ponsel, tapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat kelas bawah yang selama ini sulit menembus pasar kerja formal.

    ​Target yang dipasang pun sangat ambisius dan berani: Aplikasi ini direncanakan akan menyisir 32 provinsi di seluruh Indonesia! Dengan cakupan nasional yang luas, gerakan ini diprediksi akan menjadi salah satu pilar penting dalam menekan angka pengangguran dan menciptakan kemandirian ekonomi yang merata dari Sabang sampai Merauke.

    ​Dukungan hangat dari Mas Wapres Gibran menjadi bahan bakar tambahan bagi tim Lumbung Kita untuk segera tancap gas. Kolaborasi ini membuktikan bahwa ketika teknologi bertemu dengan empati dan dukungan pemerintah, visi Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar slogan, melainkan langkah nyata yang sedang dibangun hari ini demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.

Wartapenasatu.com @2025