SOSIAL
MAKI Jatim 1000 Ta’jil, 1000 Jalan Makrifat di Hari Ke-17: Ketika Tangan Berbagi Menjadi Jalan Hati Mengenal Tuhan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 7 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa rahasia yang tidak semua mata mampu melihatnya, tetapi dapat dirasakan oleh hati yang terbuka. Ia bukan sekadar bulan ibadah, bukan pula hanya waktu untuk menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah perjalanan ruhani yang membawa manusia kembali kepada hakikat dirinya sebagai makhluk yang lemah di hadapan Sang Maha Kuasa.
Di bulan inilah manusia diajak untuk memahami satu kebenaran yang paling dalam: bahwa semua yang dimiliki di dunia hanyalah titipan dari Allah SWT. Harta, jabatan, kekuatan, bahkan kehidupan itu sendiri hanyalah amanah yang suatu saat akan kembali kepada Pemiliknya.
Sore itu, di sepanjang Jalan Ahmad Yani Waru, tepat di depan pos polisi seberang Terminal Bungurasih, suasana Ramadhan terasa hidup dalam bentuk yang sederhana namun sarat makna. Kendaraan terus melintas, manusia berjalan dengan berbagai urusan dunia mereka. Namun di tengah kesibukan itu, hadir sebuah pemandangan yang menggetarkan hati: tangan-tangan yang terulur untuk berbagi.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali melaksanakan kegiatan sosial dengan membagikan 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menjalankan ibadah puasa.
Sebanyak 250 paket mie goreng dengan telur dadar, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon dengan isian blewah, serta 250 paket gorengan ote-ote besar dibagikan kepada para pengendara, pekerja jalanan, dan masyarakat yang melintas menjelang waktu berbuka.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah makanan sederhana. Namun bagi mereka yang memahami rahasia Ramadhan, setiap paket ta’jil yang dibagikan sesungguhnya mengandung pelajaran spiritual yang sangat dalam.
Dalam jalan makrifat, memberi bukan hanya sekadar perbuatan sosial. Memberi adalah proses penyadaran diri bahwa manusia hanyalah perantara dari rezeki Tuhan.
Apa yang berada di tangan manusia bukanlah miliknya. Ia hanyalah amanah yang dititipkan oleh Allah agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.
Ketika seseorang memberi dengan hati yang tulus, pada saat itulah ia sedang belajar mengenal sifat Allah yang Maha Pemurah.
Ketika tangan manusia menjadi jalan turunnya kebaikan, di saat itulah hati mulai menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak dalam kehendak Tuhan.
Ketua MAKI Koordinator Wilayah Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan berbagi ta’jil ini merupakan bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.
Namun syukur sejati, menurutnya, tidak cukup hanya diucapkan dengan kata-kata.
Syukur harus hidup dalam tindakan. Ia terlihat dalam kepedulian terhadap sesama. Ia tumbuh dalam empati terhadap mereka yang membutuhkan.
“Ketika kita berbagi kepada orang lain, sesungguhnya kita sedang belajar memahami bahwa rezeki yang kita miliki bukan semata-mata karena usaha kita, tetapi karena rahmat Allah,” ungkapnya.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang kontemplasi moral yang sangat penting. Sebagai organisasi yang berdiri dengan semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas sejati lahir dari kesadaran spiritual manusia.
Korupsi tidak hanya lahir dari sistem yang lemah, tetapi dari hati yang kehilangan kesadaran kepada Tuhan.
Ketika manusia lupa bahwa setiap langkahnya berada dalam pengawasan Allah, keserakahan mulai tumbuh. Namun ketika hati hidup dalam kesadaran Ilahi, kejujuran tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang berat, melainkan menjadi kebutuhan batin yang menjaga kehormatan diri.
Menjelang waktu berbuka, langit Waru perlahan berubah warna. Cahaya jingga senja menggantung di ufuk barat, menghadirkan keindahan yang menenangkan jiwa.
Orang-orang yang berpuasa menunggu azan Magrib dengan penuh harap. Sementara para relawan terus membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi ketulusan.
Senyum kecil muncul di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana. Namun ada kebahagiaan yang lahir dari hati yang bersyukur.
Karena sesungguhnya kebahagiaan sejati tidak selalu lahir dari hal-hal besar. Ia sering hadir dalam kebaikan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan.
Ta’jil yang dibagikan di Jalan Ahmad Yani Waru sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak ia memiliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Ramadhan datang untuk mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia hanyalah perjalanan sementara. Semua yang dikumpulkan manusia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan.
Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan tetap hidup sebagai cahaya yang tidak pernah padam.
Dan di antara langkah manusia yang melintas di jalan itu, tersimpan sebuah pelajaran yang sangat dalam: bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang atau ibadah yang terlihat besar.
Kadang jalan menuju makrifat justru hadir melalui tindakan sederhana memberi makan orang yang lapar, menghapus dahaga orang yang berpuasa, dan menebarkan kasih kepada sesama manusia.
Di situlah rahasia Ramadhan menemukan maknanya. Bahwa jalan menuju Tuhan tidak selalu berada di langit yang jauh, tetapi sering kali hadir di bumi yang kita pijak, dalam tangan yang memberi, dalam hati yang ikhlas, dan dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***
GEN Z TIDAK GENGSI, SAATNYA JADI RAJA PANGAN DIGITAL BERSAMA LASKAR GIBRAN
Jakarta wartapenasatu.comGebrakan ‘LASKAR GIBRAN’ di Istana: Lawan Pengangguran Gen Z Lewat Digitalisasi Kebun & Ternak!
JAKARTA 6 Maret 2026 – Sebuah gerakan revolusioner baru saja diledakkan dari jantung pemerintahan. Bertempat di lingkungan Sekretariat Negara RI, Ketua Umum Laskar Gibran Leonardo Sirait berkolaborasi bersama Ketua Umum Koperasi Lumbung Kita, Indriyani, bersama Ketua Umum Yayasan Lumbung Kita Sejahtera, Stenly Wolf, resmi menggodok proyek besar: sebuah aplikasi digital yang dirancang khusus untuk menyulap sektor perkebunan dan peternakan menjadi “tambang emas” baru bagi Generasi Z.
Bukan sekadar wacana di atas kertas, pertemuan strategis ini menjadi sinyal kuat bahwa sektor pangan sedang dipersiapkan sebagai mesin tempur utama melawan angka pengangguran. Gagasan segar ini pun langsung disodorkan sebagai masukan krusial bagi Wakil Presiden RI, MAS GIBRAN RAKA BUMING RAKA,menekankan bahwa masa depan kedaulatan pangan nasional ada di tangan anak muda yang melek teknologi.
Indriyani menegaskan, selama ini ada tembok besar yang membuat Gen Z enggan melirik sektor pertanian. Melalui aplikasi yang tengah dikembangkan, ia ingin merobohkan stigma “kotor dan melelahkan” tersebut. “Sudah saatnya generasi muda melihat sektor perkebunan dan peternakan sebagai peluang masa depan. Jika dikelola dengan teknologi dan manajemen modern, sektor ini bisa menjadi sumber ekonomi yang sangat kuat,” tegas Indriyani dengan nada optimis.
Ekosistem digital ini diproyeksikan bakal menjadi jembatan canggih yang mengintegrasikan lahan, pemilik modal, peternak, hingga tenaga kerja muda dalam satu genggaman. Dengan sentuhan teknologi, profesi petani dan peternak bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional, melainkan karier profesional yang bergengsi dan memiliki nilai tawar ekonomi tinggi di pasar global.
Di sisi lain, Stenly Wolf menyoroti bahwa kunci dari ledakan gerakan ini adalah kolaborasi lintas organisasi. Ia menilai, tanpa sinergi yang solid, inovasi digital hanya akan menjadi pajangan. Stenly percaya bahwa keterlibatan berbagai elemen akan mempercepat lahirnya gerakan ekonomi berbasis pangan yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru dalam waktu singkat.
Untuk memastikan gerakan ini tak sekadar menjadi tren di dunia maya, mereka Berkolaborasi Yayasan Lumbung sejahtera Kita dan Koperasi LUBKITA organisasi kepemudaan LASKAR GIBRAN (Laskar Gagah Berani) yang dikomandoi oleh Leonardo Sirait. Organisasi ini dipasang sebagai “motor penggerak” di lapangan yang bertugas membakar semangat para pemuda untuk terjun langsung ke sektor produktif dan mengaplikasikan teknologi pertanian secara nyata.
Gerakan ini merupakan respons konkret atas tantangan bonus demografi Indonesia. Dengan mengawinkan semangat militan anak muda dan kecanggihan teknologi, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan kemandirian ekonomi yang selama ini diidam-idamkan. Gen Z kini ditantang untuk tidak lagi hanya menjadi konsumen, melainkan pemain kunci di sektor pangan nasional.
Visi besar ini bermuara pada satu titik: Indonesia Emas 2045. Jika ekosistem perkebunan dan peternakan berbasis digital ini berjalan mulus, pengangguran bukan lagi menjadi momok menakutkan, melainkan batu loncatan bagi lahirnya sumber daya manusia unggul yang siap membawa Indonesia menjadi raksasa ekonomi dunia.
“Bukan Sekadar Protes, LSM-NIL Sodorkan Kajian Teknis Spesial ke Polda Banten dan Gakkum KLHK”
Wartapena satu. Com-Banten
Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Swadaya Masyarakat Nusantara Indah Lingkungan (DPP LSM-NIL) kembali menunjukkan kelasnya sebagai organisasi yang intelektual, matang, dan sangat menghargai supremasi hukum. Dalam menyikapi dinamika aktivitas pertambangan di Desa Pagintungan, Banten, LSM-NIL memilih menempuh jalur elegan melalui surat resmi kepada jajaran institusi tertinggi negara, mulai dari Polda Banten, Mabes Polri, Kementerian LHK, hingga Kementerian ESDM RI.

Langkah strategis ini mencakup pengiriman permohonan atensi kepada Kapolda Banten, yang diperkuat dengan komunikasi formal kepada Irwasda dan Propam Polda Banten, serta dukungan eskalasi data kepada Kabareskrim Polri dan Kadiv Propam Polri.

Kepemimpinan Bijak: Mengutamakan Praduga Tak Bersalah
Ketua Umum LSM-NIL, Michael, dalam pernyataannya sangat mengedepankan etika dan semangat kemitraan dengan pemerintah. Dengan tutur kata yang santun dan jauh dari kesan menghakimi, Michael memposisikan LSM-NIL sebagai penyambung lidah masyarakat yang tetap tunduk pada koridor prosedur hukum yang berlaku.
Kami hadir membawa niat baik dan kerendahan hati untuk menyampaikan data awal dari lapangan. Sangat penting bagi kami untuk tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah terhadap PT. AUM. Kami memandang data investigasi ini sebagai bahan masukan konstruktif bagi Bapak Kapolri, Bapak Kapolda, dan para Menteri untuk diverifikasi lebih lanjut secara profesional sesuai wewenang institusi masing-masing,” ujar Michael dengan tenang dan penuh wibawa (06/03/2026).
Fokus Investigasi: Memberi Ruang bagi Otoritas Berwenang
LSM-NIL menyodorkan dokumen komprehensif berisi analisis spasial dan bukti visual yang menunjukkan adanya indikasi aktivitas pengerukan lahan seluas ± 1 Hektar. Namun, Michael menegaskan bahwa kajian ini disampaikan secara objektif sebagai referensi akademis, tanpa sedikit pun niat untuk mendikte pihak manapun.
Berdasarkan kajian teknis tim kami, ditemukan indikasi administratif terkait batas koordinat izin. Namun, kami sepenuhnya menyerahkan otoritas penilaian dan validasi akhir kepada tim ahli dari Kepolisian serta kementerian terkait. Kami ingin memberikan ruang seluas-luasnya bagi institusi negara untuk bekerja secara mandiri dan objektif tanpa merasa diintervensi,” tambah Michael.
Sebagai bentuk tanggung jawab intelektual, LSM-NIL menyusun permohonan tersebut dengan merujuk pada instrumen hukum terbaru yang berlaku pada tahun 2026, yang menekankan pada keseimbangan ekonomi dan kelestarian alam:
Pasal 158 UU No. 3 Tahun 2020: Terkait prosedur koordinat resmi pertambangan.
Pasal 98 UU No. 32 Tahun 2009 jo. UU No. 6 Tahun 2023 (Cipta Kerja): Mengenai pemeliharaan kriteria baku kerusakan lingkungan.
PP No. 39 Tahun 2025: Regulasi terbaru mengenai penguatan teknis pengawasan dan komitmen reklamasi.
Prinsip Strict Liability: Tanggung jawab terhadap pengelolaan risiko dampak lingkungan secara komprehensif.
Sinergi Transparan dan Dukungan Pengawasan Internal.

Keputusan Michael menyurati lini pengawasan internal seperti Irwasum, Irwasda, dan Propam dipandang sebagai wujud dukungan tulus LSM-NIL terhadap transparansi dan profesionalisme penegakan hukum di Indonesia.
“Kami memiliki kepercayaan yang sangat besar terhadap profesionalisme Polri dan jajaran kementerian. Sinergi ini kami bangun semata-mata agar fungsi pengawasan berjalan maksimal, demi memastikan keamanan warga Desa Pagintungan serta kelestarian alam Banten tetap terjaga dengan cara-cara yang bermartabat,” tutupnya.
Takwa Tanpa Jeda, Ikhlas Tanpa Tapi: Pondok Ramadan SMPN 2 Kwanyar Ajarkan Ibadah dan Kepedulian Sosial
WARTAPENASATUJATIM | Bangkalan – SMP Negeri 2 Kwanyar menggelar kegiatan Pondok Ramadan sebagai bagian dari pembinaan karakter religius bagi para siswa selama bulan suci. Kegiatan yang mengusung tema “Takwa Tanpa Jeda, Ikhlas Tanpa Tapi” ini dilaksanakan selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Maret 2026.
Program Pondok Ramadan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman pembelajaran keagamaan yang lebih mendalam kepada para siswa.
Tidak hanya melalui teori di kelas, kegiatan ini juga menekankan praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal ibadah dan kepedulian sosial.
Selama kegiatan berlangsung, siswa mengikuti berbagai agenda keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an yang dilaksanakan secara rutin.

Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat meningkatkan kedekatan dengan Al-Qur’an sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca kitab suci.
Selain tadarus, para siswa juga mendapatkan materi mengenai keutamaan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan.
Materi tersebut disampaikan oleh para guru untuk menanamkan pemahaman tentang makna kesabaran, pengendalian diri, serta nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah puasa.
Pembelajaran tentang ibadah sholat juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Para siswa dibimbing untuk memahami tata cara sholat yang benar serta pentingnya menjaga konsistensi dalam menjalankan ibadah wajib sehari-hari.
Tak hanya itu, para siswa juga dibekali pengetahuan mengenai zakat, khususnya zakat fitrah.
Melalui materi ini, siswa diajak memahami pentingnya berbagi kepada sesama, terutama kepada masyarakat yang membutuhkan.
Kegiatan Pondok Ramadan juga diselingi dengan penyampaian hikayat Nabi dan Rasul. Kisah-kisah tersebut disampaikan sebagai sarana pembelajaran moral agar para siswa dapat meneladani sikap sabar, jujur, dan penuh kasih sayang yang dimiliki para Nabi.
Dalam kegiatan yang bersifat praktik, para siswa diajak membuat kreasi parsel Lebaran yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat kurang mampu.
Selain itu, siswa juga terlibat langsung dalam kegiatan berbagi takjil serta pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah.
Kepala SMPN 2 Kwanyar, Rakhmad Adhi Hartyanto, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman nyata kepada siswa tentang makna ketakwaan dan keikhlasan berbagi.
“Sesuai dengan tema, Ramadan kali ini kami fokus memberikan pengalaman belajar tentang ketakwaan ibadah serta indahnya keikhlasan berbagi. Anak-anak belajar membuat kreasi bingkisan Lebaran untuk dibagikan kepada masyarakat tidak mampu, mereka juga belajar mengumpulkan zakat fitrah, mendata masyarakat miskin di sekitar dan mendistribusikannya sendiri dengan didampingi guru,” ujarnya. (Azis)***
Seribu Ta’jil di Hari Ke – 16, Spirit Ramadhan dan Makrifat Kemanusiaan MAKI Jatim di Leces Probolinggo
WARTAPENASATUJATIM | Probolinggo, 6 Maret 2026 — Ramadhan selalu datang membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pergantian waktu. Ia hadir seperti cahaya yang mengetuk pintu batin manusia, mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berlari mengejar dunia, tetapi juga tentang berhenti sejenak untuk menengok ke dalam diri: siapa kita, dari mana kita berasal, dan kepada siapa kita akan kembali.
Dalam perjalanan spiritual manusia, Ramadhan adalah madrasah sunyi yang mengajarkan makna keikhlasan. Ia melatih manusia menahan yang halal agar hati mampu menjauhi yang haram. Lapar mengajarkan kesabaran. Dahaga menumbuhkan empati. Dan dalam kesunyian itulah jiwa mulai menyadari sebuah kebenaran hakiki: bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Yang Maha Memiliki.
Sore itu, di sepanjang Jalan Raya Leces, Kabupaten Probolinggo, denyut kemanusiaan terasa hidup dalam kesederhanaan yang penuh makna. Lalu lintas tetap berjalan seperti biasa, kendaraan berlalu-lalang, masyarakat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Namun di antara hiruk pikuk itu, ada getaran yang lebih lembut getaran kepedulian yang lahir dari hati yang tersentuh oleh spirit Ramadhan.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur kembali menebarkan kebaikan melalui kegiatan sosial pembagian 1.000 paket ta’jil kepada masyarakat yang tengah menanti waktu berbuka puasa.
Sebanyak 250 paket nasi rawon lengkap dengan daging dan tempe disiapkan sebagai hidangan berbuka. Selain itu, 250 paket kurma turut dibagikan, bersama 250 botol es sirup melon yang menyegarkan dengan isian blewah, serta 250 paket berisi lima jenis kue basah yang menambah kehangatan suasana berbuka di penghujung hari ke-16 Ramadhan.
Bagi mereka yang menerima, mungkin itu hanyalah makanan sederhana untuk berbuka. Namun dalam pandangan yang lebih dalam, setiap paket yang dibagikan sesungguhnya adalah bahasa cinta yang tak terucap. Ia adalah bentuk kepedulian yang menjembatani hati manusia satu dengan yang lain.
Sebab dalam hakikat makrifat, memberi bukan sekadar tindakan sosial. Memberi adalah cara manusia menyadari bahwa dirinya hanyalah perantara. Bahwa rezeki yang ia genggam bukanlah miliknya, melainkan amanah yang dititipkan Tuhan agar sampai kepada tangan yang membutuhkan.
Ketika tangan memberi dengan tulus, sesungguhnya hati sedang belajar mengenal sifat Tuhan Yang Maha Pemurah. Ketika seseorang berbagi tanpa pamrih, di saat itulah jiwa sedang berjalan mendekati cahaya makrifat.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah SWT berikan.
Namun syukur sejati tidak pernah berhenti pada kata-kata. Syukur adalah tindakan nyata. Ia hidup dalam kepedulian, tumbuh dalam empati, dan terlihat dalam kesediaan manusia untuk menjadi jalan turunnya rahmat bagi sesama.
Bagi MAKI, Ramadhan juga menjadi ruang refleksi moral yang mendalam. Sebagai lembaga yang berdiri dalam semangat melawan korupsi, mereka memandang bahwa integritas bukan hanya soal hukum, tetapi juga soal kesadaran spiritual.
Korupsi lahir ketika manusia kehilangan kesadaran bahwa setiap perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Ketika makrifat memudar, hati menjadi gelap oleh keserakahan. Namun ketika kesadaran Ilahi tumbuh dalam jiwa, kejujuran tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi kebutuhan batin.
Amanah bukan lagi sekadar tanggung jawab, tetapi kehormatan yang dijaga dengan sepenuh kesadaran bahwa setiap langkah manusia berada dalam pandangan Allah.
Menjelang waktu berbuka, langit di atas Probolinggo perlahan berubah warna. Jingga senja menggantung indah di ufuk barat, seolah menjadi lukisan alam yang menenangkan hati. Waktu terasa melambat. Orang-orang yang berpuasa menunggu dengan penuh harap, sementara para relawan membagikan ta’jil dengan wajah yang dipenuhi keikhlasan.
Senyum-senyum kecil merekah di wajah para penerima. Tidak ada kemewahan di sana, namun ada kebahagiaan yang tulus. Karena sesungguhnya kebahagiaan paling murni sering lahir dari hal-hal sederhana yang dilakukan dengan hati yang bersih.
Ta’jil yang dibagikan di Jalan Raya Leces sore itu menjadi saksi bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, tetapi dari seberapa besar ia mampu memberi.
Dan di sanalah Ramadhan menemukan maknanya yang paling dalam: mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai makhluk yang saling mencintai, saling menolong, dan saling menguatkan.
Pada akhirnya, semua perjalanan hidup manusia akan bermuara pada satu tujuan: kembali kepada Tuhan dengan hati yang bersih.
Segala yang dikumpulkan dunia akan tertinggal. Jabatan akan berlalu. Kekayaan akan berpindah tangan. Namun setiap kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan menetap sebagai cahaya yang abadi.
Di antara langkah manusia yang melintas di Jalan Raya Leces Probolinggo, sore itu terselip pelajaran sunyi yang sangat dalam:
bahwa mengenal Tuhan tidak selalu harus melalui kata-kata panjang,
tetapi bisa melalui satu tindakan sederhana
memberi makan orang yang lapar,
menghapus dahaga orang yang berpuasa,
dan menebarkan kasih kepada sesama.Di situlah makrifat menemukan jalannya.
Dalam tangan yang terulur,
dalam hati yang ikhlas,
dalam cinta yang mengalir tanpa batas. (Bgn)***MAKI Jatim dan Ormas Laskar Jahanam Menebar Ta’jil, Menuai Rahmat: Perjalanan Makrifat Ramadhan di Kota Jember
WARTAPENASÀTUJATIM | Jember, 5 Maret 2026 — Di setiap datangnya Ramadhan, langit seakan menurunkan tirai kelembutan yang tak kasatmata. Ia bukan sekadar pergantian waktu, melainkan panggilan pulang bagi jiwa-jiwa yang lama tersesat dalam riuh dunia.
Ramadhan adalah madrasah sunyi, tempat manusia diajak menyelami dirinya sendiri, hingga akhirnya menemukan Tuhannya dalam cahaya makrifat.
Di jantung Jember, tepatnya di kawasan Jalan Pierre Tendean Sumbersari Jember (Depan Kantor Ormas Laskar Jahanam Jember) denyut kemanusiaan bergetar dalam irama yang khusyuk.
Kendaraan melintas seperti biasa, manusia berlalu-lalang dalam kesibukan masing-masing. Namun di balik itu semua, ada getar yang lebih dalam getar cinta yang menjelma menjadi amal.
Sebanyak 1.000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang menanti adzan maghrib.Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong dan soto ayam, lengkap dengan kentang goreng, bihun dan irisan gobis plus sambal, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon isian blewah, serta 250 paket 2 jenis kue basah.
Sebab Ramadhan tidak pernah berbicara tentang kemewahan. Ia berbicara tentang kesadaran. Tentang bagaimana setiap butir nasi yang berpindah tangan adalah pengingat bahwa rezeki hanyalah titipan. Setiap teguk yang membasahi dahaga adalah pesan lembut bahwa segala nikmat bersumber dari Yang Maha Memberi. Dan setiap senyum yang merekah di wajah penerima adalah cermin rahmat-Nya yang mengalir melalui tangan-tangan hamba.
Puasa adalah latihan ruhani: menahan diri dari yang halal agar jiwa mampu menjauhi yang haram. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, melainkan ruang hening tempat hati belajar mendengar bisikan Tuhan. Dahaga bukan sekadar keringnya tenggorokan, melainkan madrasah empati agar manusia merasakan getir kehidupan saudaranya. Dari sanalah makrifat tumbuh kesadaran bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga dalam naungan kasih Ilahi.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT. Namun syukur sejati bukanlah kalimat yang berhenti di lisan. Ia adalah gerak. Ia adalah amal. Ia adalah kesediaan menjadi perantara turunnya rahmat bagi sesama. Ketika tangan memberi dengan ikhlas, sejatinya ia sedang menerima cahaya yang lebih besar di dalam dadanya.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas, MAKI memaknai Ramadhan bukan hanya sebagai momentum sosial, tetapi juga cermin makrifat.
Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan kaburnya kesadaran akan pengawasan Ilahi. Ketika manusia lupa bahwa Allah Maha Melihat, ia berani menyimpang.
Namun ketika makrifat tumbuh ketika setiap napas disadari berada dalam penglihatan-Nya maka kejujuran bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Amanah bukan sekadar tanggung jawab, melainkan kehormatan.
Menjelang azan maghrib, langit senja di atas Kaliwates memerah dalam semburat jingga yang syahdu. Waktu seakan melambat. Doa-doa terangkat dalam diam. Hati-hati yang berpuasa bergetar oleh harap.
Ta’jil yang sederhana itu menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan gemerlap untuk bermakna. Yang kecil di mata dunia bisa menjadi besar dalam timbangan langit.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan menuju kesadaran. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan. Pulang dari lupa menuju ingat.
Segala yang digenggam dunia akan terlepas, namun segala yang diikhlaskan karena-Nya akan menetap sebagai cahaya abadi.
Di antara derap langkah senja Kota Jember, terselip pesan yang tak terucap namun terasa: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, melainkan dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya dan seberapa luas ia mencintai sesamanya.
Dan di situlah makrifat bertemu kemanusiaan
dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur,
dalam zikir yang lirih dan kasih yang mengalir,
dalam iman yang bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi. (Bgn)***- AGAMA, Artikel, Bisnis, Daerah, Ekonomi, Hiburan, Nasional, Opini, Pendidikan, Seni dan Budaya, SOSIAL, Wisata
Puncak Perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili Menghadirkan Perpaduan Budaya yang Meriahkan Jakarta

Warta Pena Satu, Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar perayaan Cap Go Meh pada Selasa, 3 Maret 2026. Acara yang berlangsung di kawasan Pancoran Cinatown Point Mall, Taman Sari, Jakarta Barat, ini berlangsung meriah dengan menampilkan keharmonisan budaya Tionghoa dan Betawi. Ratusan masyarakat khususnya warga Tionghoa mulai memadati kawasan Glodok Pancoran, sejak pukul 15.00 WIB. Acara puncak yang di mulai pukul 16.30 WIB ini dibuka dengan akulturasi budaya yang apik,menampilkan tari seni khas budaya Betawi dan Ondel-ondel dan atraksi egrang yang dipadukan dengan pertunjukan naga (liong) serta atraksi barongsai.
Perayaan Cap Go Meh di Jakarta tahun ini menjadi simbol tradisi keberagaman dan toleransi dikemas secara istimewa dengan menghadirkan akulturasi budaya yang harmonis. Kolaborasi budaya ini menjadi simbol persatuan sekaligus upaya merawat keberagaman masyarakat di Ibu Kota.
Sejumlah tokoh penting ikut menghadiri perayaan tersebut. Selain para tokoh adat Tionghoa, acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Turut hadir mendampingi unsur Forkopimda DKI, yakni Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri dan Pangdam Jaya Mayjen TNI Deddy Suryadi, serta tampak para mantan gubernur hadir Fauzi Bowo, Sutiyoso, hingga Anies Baswedan. Hadir pula Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan serta Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Irene Umar yang duduk bersama jajaran Pemprov DKI Jakarta lainnya untuk menikmati kemeriahan pesta rakyat tersebut.
Dalam sambutannya, Pramono Anung memberikan apresiasi tinggi kepada panitia penyelenggara dan komunitas Tionghoa atas kontribusinya terhadap perkembangan Jakarta. Ia juga menilai perayaan Cap Go Meh ini menunjukkan kehidupan harmonisasi keberagaman di Jakarta yang berjalan baik. Karena itu, ia pun mengajak seluruh masyarakat Jakarta untuk bersama-sama menjaga Jakarta.
“Saya yakin sebentar lagi wajah jakarta mudah-mudahan akan menjadi lebih baik,”ujarnya, kembali Pramono menegaskan komitmennya untuk melanjutkan berbagai pekerjaan yang belum tuntas di pemerintahan sebelumnya.
Gubernur pun mendoakan, perayaan Cap Go Meh di Tahun Kuda Api ini dapat membawa keberuntungan, keamanan, dan kedamaian.
Sementara Ketua Panitia Penyelenggara Cap Go Meh, Anwar Budiman menyampaikan apresiasi kepada Pemprov DKI atas dukungannya terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Menurutnya, perayaan Cap Go Meh bukan hanya sekadar tradisi, melainkan juga simbol keberagaman, toleransi, dan kolaborasi.
“Kami berharap perayaan Cap Go Meh tahun ini membawa keberkahan, kemajuan ekonomi masyarakat, serta mempererat tali persaudaraan antarwarga,” tandasnya.
Selamat merayakan Cap Go Meh tahun 2026. Semoga perayaan ini membawa kedamaian, kebahagiaan, kesehatan, keberuntungan bagi kita semua.
MAKI Jatim Bagikan 1000 Tajil Hari Ke-14 di Kota Jember Saat Cahaya Makrifat di Senja Ramadhan Ketika Tangan Memberi Menjadi Jalan Menuju Ridha Ilahi
WARTAPENASATUJATIM | Jember, 4 Maret 2026 — Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang lalu pergi dalam hitungan waktu. Ia adalah panggilan langit yang mengetuk pintu hati, mengajak manusia kembali kepada asalnya: sebagai hamba yang lemah di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Di bulan suci inilah tabir dunia disingkap perlahan, dan jiwa diajak menyelami samudra makrifat mengenal diri, mengenal Tuhan, dan memahami bahwa hidup hanyalah perjalanan menuju-Nya.
Di kawasan Kaliwates, Kabupaten Jember, menjelang belokan ke Roxy Mall Jember, suasana senja Ramadhan menghadirkan pemandangan yang sarat makna. Di tengah lalu lintas yang tetap berdenyut, ada denyut lain yang lebih dalam: denyut keikhlasan. Tangan-tangan terulur bukan sekadar membagikan makanan, tetapi membagikan doa, harapan, dan cinta yang lahir dari kesadaran Ilahiah.
Sebanyak seribu paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat oleh Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur. Paket sederhana—mie goreng dengan telur dadar, kurma, es sirup melon berisi blewah, dan jajanan tradisional menjadi simbol bahwa kebaikan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari keikhlasan niat. (Bgn)***
MAKI Jatim Nandur Becik 1000 Tajil Menuju Makrifat Dalam Gerak Kemanusiaan: Menyibak Rahasia Ilahi di Bulan Ramadhan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 3 Maret 2026 — Ramadhan tidak pernah sekadar hadir sebagai pergantian bulan dalam hitungan kalender. Ia turun laksana embun cahaya, menyentuh dedaunan jiwa yang lama merindukan kesegaran Ilahi.
Di bulan inilah manusia diajak menyelami samudra makrifat mengenal dirinya sebagai hamba, dan mengenal Tuhannya sebagai Sumber dari segala yang ada.
Di jantung kota Sidoarjo, tepat di kawasan Alun-Alun Sidoarjo, di hadapan Monumen Jayandaru, denyut kemanusiaan bergetar dalam irama yang khusyuk.
Langkah-langkah manusia bersilang di antara kendaraan yang melintas, namun di atas semuanya, ada getar sunyi yang lebih dalam: getar cinta yang menjelma dalam tindakan.
1000 paket ta’jil dibagikan kepada masyarakat yang tengah bersiap menyambut maghrib. Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket nasi campur lengkap, 250 paket kurma, 250 botol es sirup melon berisi blewah, serta 250 paket jajanan tradisional. Sederhana dalam rupa, namun agung dalam makna.
Sebab pada hakikatnya, Ramadhan bukan tentang apa yang tampak oleh mata, melainkan tentang apa yang bergetar dalam dada.
Setiap nasi yang berpindah tangan adalah saksi bahwa rezeki hanyalah titipan. Setiap teguk yang melepas dahaga adalah pengingat bahwa segala nikmat berasal dari Yang Maha Memberi.
Dan setiap senyum yang terbit di wajah penerima adalah cermin rahmat-Nya yang mengalir melalui tangan-tangan hamba.
Puasa adalah latihan menahan diri dari yang halal, agar jiwa mampu menolak yang haram. Lapar bukan sekadar kosongnya perut, melainkan ruang sunyi tempat hati belajar mendengar bisikan Tuhan.
Dahaga bukan sekadar keringnya kerongkongan, melainkan madrasah kesadaran agar manusia merasakan getirnya kehidupan saudaranya.
Dari sanalah lahir empati buah dari makrifat yang menyadari bahwa seluruh manusia adalah satu keluarga dalam naungan kasih Ilahi.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Namun syukur sejati bukan hanya ucapan yang terucap, melainkan amal yang bergerak. Syukur adalah kesadaran bahwa kita hanyalah perantara bahwa Allah memilih sebagian tangan untuk menjadi jalan turunnya rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas, MAKI memaknai Ramadhan sebagai cermin makrifat yang jernih.
Korupsi tidak sekadar pelanggaran hukum, melainkan kaburnya kesadaran bahwa Allah Maha Melihat.
Ketika manusia lupa akan pengawasan Ilahi, ia berani menyimpang. Namun ketika makrifat tumbuh dalam hati ketika setiap helaan napas disadari berada dalam penglihatan-Nya maka integritas bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Kejujuran menjadi ibadah. Amanah menjadi kehormatan.
Menjelang adzan maghrib, langit senja memerah dalam semburat jingga yang syahdu.Waktu seakan berhenti sejenak. Doa-doa terangkat dalam diam, dan hati-hati yang berpuasa menggigil oleh harap.
Ta’jil yang sederhana menjadi saksi bahwa cinta tidak memerlukan kemewahan untuk bermakna. Yang kecil dalam pandangan dunia bisa menjadi besar dalam timbangan langit.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang. Pulang dari kesibukan dunia menuju kesadaran ruhani. Pulang dari keserakahan menuju keikhlasan.
Pulang dari lupa menuju ingat. Segala yang kita genggam akan lepas, dan segala yang kita ikhlaskan akan menetap sebagai cahaya.
Di antara derap langkah senja Alun-Alun Kota Sidoarjo, terselip pesan yang tak terucap namun terasa: kemuliaan manusia tidak diukur dari apa yang ia miliki, tetapi dari seberapa dalam ia mengenal Tuhannya dan seberapa luas ia mencintai sesamanya.
Dan di situlah makrifat bertemu kemanusiaan dalam sujud yang khusyuk dan tangan yang terulur; dalam zikir yang lirih dan kasih yang mengalir; dalam iman yang bukan hanya diyakini, tetapi dihidupi. (Bgn)***
MAKI Jatim di Hari ke-12 Berbagi Sebagai Zikir Sosial: Ketika Iman Menjadi Kemanusiaan
WARTAPENASATUJATIM | Sidoarjo, 2 Maret 2026 — Ramadhan kembali hadir bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai taman ruhani tempat jiwa-jiwa belajar mengenal dirinya dan Tuhannya.
Pada hari kesebelas yang sarat keberkahan itu, denyut kehidupan terasa lebih lembut, seakan semesta ikut berzikir dalam diam.
Hiruk-pikuk dunia meredup, digantikan getar iman yang menyelinap pelan ke relung hati terdalam.
Di antara lalu-lalang kendaraan di Jalan Raya By Pass Juanda, tepat di depan Klinik Sheila Medika, tangan-tangan yang tergerak oleh kasih membagikan seribu paket ta’jil kepada masyarakat yang melintas.
Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Koordinator Wilayah Jawa Timur menghadirkan 250 paket lontong sayur manisah lengkap dengan tahu, cecek, dan kerupuk; 250 paket kurma; 250 botol es sirup melon berisi blewah; serta 250 paket jajanan jadul yang terbungkus sederhana namun sarat makna.
Namun Ramadhan tak pernah berhenti pada angka dan jumlah. Ia menembus apa yang tak kasat mata.
Setiap paket yang berpindah tangan bukan sekadar makanan pembuka, melainkan saksi bahwa harta hanyalah titipan, dan manusia hanyalah penjaga sementara dari amanah-Nya.
Memberi dalam bulan suci bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan laku ibadah jalan sunyi menuju makrifat, mengenal bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Puasa melatih sabar dalam menahan lapar dan dahaga; berbagi menumbuhkan ikhlas dalam melepaskan kepemilikan.
Ketika sabar dan ikhlas bersatu, lahirlah kesadaran bahwa hidup bukan tentang mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memaknai sedalam-dalamnya.
Lapar yang ditahan melembutkan hati agar mampu merasakan getirnya kehidupan orang lain. Dahaga yang dijaga menjadi jembatan empati, agar manusia tak lagi berjalan sendiri dalam egonya.
Ketua MAKI Korwil Jawa Timur, Heru Satriyo, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah wujud syukur atas nikmat Allah SWT.
Syukur yang hakiki tidak berhenti pada ucapan, tetapi menjelma menjadi tindakan. Sebab setiap kesempatan untuk berbagi sejatinya adalah panggilan Ilahi bahwa Allah memilih sebagian hamba-Nya menjadi perantara rahmat bagi yang lain.
Sebagai lembaga yang menyerukan integritas dan keadilan, MAKI memahami bahwa Ramadhan adalah cermin besar bagi jiwa.
Korupsi bukan hanya soal pelanggaran hukum, melainkan kegagalan hati menjaga kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Ketika makrifat memudar, keberanian untuk menyimpang tumbuh.
Namun ketika kesadaran ketuhanan berdenyut dalam setiap helaan napas, integritas lahir sebagai buah ketakwaan bukan karena takut padamu manusia, melainkan karena malu kepada-Nya.
Menjelang adzan Maghrib, langit senja menunduk dalam semburat jingga. Doa-doa bergetar di bibir yang berpuasa.
Wajah-wajah penerima ta’jil memancarkan syukur yang tulus. Yang diterima mungkin hanya makanan sederhana, tetapi yang terasa adalah sentuhan kasih rasa dihargai sebagai sesama makhluk Allah yang dimuliakan.
Pada akhirnya, yang bernilai di sisi-Nya bukanlah banyaknya yang dibagikan, melainkan beningnya niat yang tersembunyi di dalam dada.
Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah menyadari bahwa segala yang kita genggam hanyalah titipan, dan segala yang kita ikhlaskan akan menjadi cahaya yang menerangi jalan kembali.
Di antara derap langkah senja Raya By Pass Juanda Sidoarjo, terselip pesan makrifat yang hening namun agung: kemuliaan manusia tidak terletak pada apa yang ia kumpulkan, tetapi pada apa yang ia relakan demi ridha-Nya. (Bgn)***